PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Istana Megah dan Kehancurannya


__ADS_3

Ketika kerumunan kelelawar itu mendekati badan kapal, dua makhluk raksasa yang sudah terlewati jauh kini datang lalu menelan seluruh kelelawar yang hendak mendekat ke badan kapal. Mereka seketika terhindar dari amukan kelelawar, mereka selamat.


Pelangi terperangah melihatnya.


"Bintang sungguh luar biasa, saat ini kita ditolong oleh naga raksasa itu jika tidak ada naga itu kita bisa kwalahan melawannya."


"Iya."


"Sekarang kita berterimakasih besar atas bantuan naga raksasa itu jika tidak ada dia maka perjalanan kita akan terhambat."Bintang hanya mendengarkan saja.


"Lihat! Naga itu berhasil menelan seluruhnya kelelawar, makhluk itu juga kini membukakan kita akses Bintang."


"Segera jalankan kapalnya Pelangi. Beri lampu kode naga itu sebagai tanda kalau kita akan pergi." Perintah Bintang.


"Baik Bintang."Segera Pelangi mengemudikan pesawat dan memberi penanda kepada makhluk raksasa yang ditinggalkannya.


Satu jam. Dua jam. Berjam-jam Pelangi mengemudikan pesawat menuju titik yang dituju. Namun tak menemukan suatu tanda-tanda ada ujung lorong. Pelangi kembali memasang sengsor untuk mendeteksi situasi lorong.


Lima belas menit tampil sudah di layar monitoring sebuah hasil pemindaian dari sengsor yang di pasang di bawah badan pesawat.


Bintang yang tertidur di kursinya, segera dibangunkannya.


"Bintang lihat ada lorong baru di sebelah kanan. Lima puluh meter dari sini."Lirih Pelangi tergesa-gesa.


"Sepertinya lorong itu baru."


"Baru bagaimana?"


"Lorong itu baru muncul belasan menit lalu. Ini terjadi karena pergeseran tanah liat. Memang secara geografis lorong itu tidak tampil sehingga tidak dapat terdeteksi oleh sengsor kapal."


"Apakah itu mungkin hanya karena pergeseran dapat menghasilkan lubang besar dan panjang?"


"Yah itu sah sah saja. Sebab menurut informasi yang saya dengar puluhan tahun lalu bahwa bukan cuman lorong saja mampu diciptakannya oleh pergerakan tanah liat tapi membuat gunung tinggi yang bisa menghalau perjalanan kita. Dan untung saja yang muncul malah lorong jadi ini bisa kita telusuri semoga ini adalah jalan keluarnya."Tutup Bintang.

__ADS_1


"Jadi bagaimana ini?"Tanya Pelangi memastikan sambil terus mengambangkan pesawatnya.


"Kita coba mengaksesnya."


"Baik."


Lalu Pelangi dengan sigap mengambil langkah, mengaktifkan tombol kuning agar pesawat berjalan dengan berhati-hati menyisiri dalam lorong.


"Sepertinya lorong ini biasa-biasa saja Bintang. Tidak aneh."


"Memang lorong ini seperti lorong lainnya. Tidak ada yang aneh. Walau baru muncul seketika tapi sebenarnya sudah lama terbentuk tiap kali ada pergerakan bawah tanah atau lautan maka lorong ini akan membuka ruangnya. Dan sebaliknya jika lama tidak ada gerak maka lorong ini akan kembali menutup dirinya."


"Oh begitu."


Tiga belas menit kemudian, muncul sebuah sinar di ujung lorong. Sinar itu lama-lama membuat terang mulut lorong. Pelangi tidak lagi melihat ke layar monitoring tapi terpukau dengan apa yang barusan dilihatnya.


Sebuah pemandangan yang menakjubkan. Dia melihat pohon-pohon kayu tinggi dan tertata rapi, gunung-gunung berbaris rapi di bawahnya bunga-bunga mekar nan indah dan bau harum semerbak. Burung-burung beterbangan di bawah awan putih, sampai rerumputan terlihat terlindungi oleh kepakan sayapnya.


"Bintang indah sekali tempat ini. Tak pernah saya melihat tempat seindah ini. Gunung, pohon bunga semunya tertata rapi dan sempurn." Lirih Pelangi.


"Asyik."Sambut Pelangi.


Ketika pesawat terparkir dengan baik. Keduanya pun keluar.


"Bintang apakah ini peradaban yang selama ini tersembunyi?"


"Tidak. Ini adalah klan terjauh. Kenapa terjauh? Karena klan ini unik dia berada di bawah lautan dan bumi. Susah orang-orang mencarinya. Walau beberapa klan di angkasa punya teknologi tinggi tapi selain itu mereka tidak punya keberanian untuk mendatanginya."


"Kita jalan menuju ke arah utara." Lanjutnya kepada sahabatnya Pelangi yang terus mencecarnya dengan pertanyaan tak berguna.


Kemudian mereka menuju ke arah utara. Tidak ada sebenarnya tujuannya tapi Bintang hanya mengikuti arah kata hatinya. Mereka sudah tidak memedulikan tujuan utamanya namun mereka mengubah haluannya untuk berpetualangan. Bintang mengikut kata hatinya kemana hatinya mengarahkannya maka ke situlah ia menapakinya dengan sahabatnya Pelangi.


Tiga jam meniti jalanan. Mengarah ke utara, tiba di sebuah pohon kayu beringin mereka beristirahat sambil memetik beberapa buah apel. Dan memakannya sambil beristirahat.

__ADS_1


Tak jauh dari pohon beringin, keduanya melihat sebuah bangunan megah yaitu sebuah kerajaan besar. Pelangi melototinya Bintang mendongak menyaksikannya.


"Kerajaan ini sungguh megah dan mewah. Pasti pemiliknya juga dermawan dan bijaksana."Gumam Bintang mendesah kagum.


"Betul pasti pemilik Kerajaan ini adalah orang baik."


Selang beberapa lama bercengkrama, mereka pun menyaksikan sebuah rombongan besar datang ke gerbang Kerajaan itu.


Rombongan itu datang dengan jumlah hampir lima ribu orang dengan pakaian lengkap militer.


"Ada apa mereka Bintang?"Pelangi keterangan.


"Sepertinya ada yang aneh? Jangan-jangan mereka hendak membuat perhitungan dengan kerajaan itu." Lanjutnya.


"Iya gelagatnya seperti itu."Jawab Bintang sambil lompat ke pucuk-pucuk kayu yang lebih tinggi untuk memastikan gerangan apa rombongan itu ke depannya.


Di sana ia melihat dengan pasti bahwa rombongan itu datang untuk menyerang kerajaan yang mewah itu.


"Jadi Bintang apa langkah kita selanjutnya?"Desak Pelangi meminta perintah.


"Kita di sini saja dulu, jangan kita ke sana. Biarkan perang berkecamuk. Jangan kita melibatkan diri kepada mereka. Kita tidak tahu pasti siapa yang salah atau benar di antara mereka. Cukup kita memantaunya dari kejauhan saja."


"Baik. Kasihan bangunan megah ini jika dihancurkan oleh pertikaian di antara mereka. Coba saja mereka perang dilokasi terbuka. Di tanah yang tak berpenghuni agar kerusakan bangunan dapat dihindari. Merusak lebih mudah, gampang daripada memperbaiki apalagi membangunnya." Lirih Pelangi bertepuk jidat.


Di depan mereka terlihat dari jarak yang tidak terlalu jauh, berkomando teriakan-teriakan yel-yel perlawanan dan teriakan penyerangan. Dari depan gerbang terlihat semangat para prajurit untuk mengibarkan panji-panji perlawanan. Begitu juga dari dalam gerbang istana bergemuruh suara untuk melawan.


Suara teriakan-teriakan keluar dari dalam istana untuk mempertahankan istananya. Tak hanya satu dua orang saja berteriak dengan kata rela mempertaruhkan darah dan nyawanya demi membela negerinya, pantang surut tak akan lari jika di serang musuh. Itulah teriakan yang terus di dengung-dengungkan oleh seluruh prajurit istana.


"Lihat Bintang prajurit di depan gerbang itu sudah melakukan penyerangan habis-habisan ke dalam istana."


"Percuma Pelangi. Gerbang mereka cukup kuat untuk menahan serangan mereka yang hanya seonggok saja. Penyerang itu terbagi tiga kelompok satu difungsikan untuk melakukan pengrusakan gerbang dan duanya tetap di tempat menunggu aba-aba berikutnya. Itu adalah strategi yang mudah di patahkan."


"Lihat ke tengah-tengah mereka, mereke seperti gembung air, dari ujung ke ujung mereka tak punya tak punya pertahanan yang kokoh. Jika perwira mampu menganalisis penyerangan itu maka dalam hitungan menit saja maka rombongan itu akan kalah."

__ADS_1


"Tapi sayangnya dalam istana tidak satu pun perwiranya memahami itu."Desah Bintang.


"Bisa-bisa gerbangnya ambruk."Pelangi menimpali.


__ADS_2