PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Sang Putri Pengatur Siasat Perang


__ADS_3

Usai berbicara demikian, kemudian Incen dan Bao berpelukan lagi lalu pamitan. Beberapa ekor harimau besar dipilih oleh Bao untuk mengantar Incen sampai jantung kota atau pusat kota.


Belum sampai di pusat kota, para tatapan tertuju kepada mayat-mayat yang berserakan di gerbang masuk kota.


Ombu yang tubuhnya belum maksimal kesehatannya, berhambur seketika menjumpai bangkai-bangkai yang berserakan, di susul oleh Raja memastikan rakyatnya.


"Apa yang terjadi? Siapa yang tega-tega berani melakukan ini kepada rakyatku."Geram raja.


Dibalik kesibukan para pendekar dan para petinggi kerajaan membalikkan badan seluruh bangkai dan mengurus para jenazah, perlahan-lahan Putri Incen memerhatikan seksama apa yang terjadi dengan jenazah itu.


Dilihatnya baik-baik sekitar sepuluh menit baru ia mulai paham penyebab kematian para penduduk kota. Tapi Ombu dan para pendekar kerajaan menduga-duga kalau itu adalah perbuatan kerajaan yang bersebelahan dengan kekuasaan negerinya.


"Ini adalah ulah Raja Tiran rajaku. Pastilah mereka pelaku kekejaman tak manusiawi ini. Membunuh tak punya hati, menyerang seenaknya saja tanpa pandang bulu. Membunuh ibu-ibu, para sesepuh dan lebih biadabnya lagi membunuh anak-anak yang tak berdosa."Terang Ombu memberitahu Raja.


"Ombu siapkan pasukan, kita perangi mereka. Apapun yang mereka perbuat dengan kerajaanku sudah melewati batas kemanusiaan." Ucap Raja geram.


"Baik Raja."


"Ayah sepertinya ini bukan karena ulah manusia atau serangan dari Kerajaan Tiran. Jika ini murni serangan dari Kerajaan Tiran maka semua mayat-mayat yang berserakan di sini akan terluka oleh sabetan pedang atau benda tajam. Coba amati seluruhnya bangkai yang berserakan tak satu pun yang terluka Ayah." Ketus Incen pada ayahnya.


"Terus karena apa?"Tanya Raja.


"Pusat Kota ini ayah semuanya di serang oleh kabut beracun. Mungkin mereka mengira bahwa kabut yang mengepung kota ini adalah kabut biasa seperti yang mereka ketahui selama ini, jadi mereka anggap biasa-biasa saja. Tak perlu bagi mereka menghindari kabutnya padahal itu adalah kabut sianida yang sangat mematikan."Terang Incen singkat.


"Kota ini Nak tidak pernah di duduki oleh kabut baik ratusan tahun yang lalu maupun sekarang ini. Itu adalah hal yang mustahil jika terjadi sebab selama ini ayah tidak pernah melihat kabut bermain di pusat kota ini. Kabut-kabut hanya bermain di tengah hutan saja itu pun jauh dari jantung kota ini Nak."Gumam Sang Raja.


"Tidak mungkin ini adalah kabut beracun itu. Dan itu sesuatu yang tidak bisa diterima oleh nalarku putriku. Ini murni kejahatan mereka yang harus di balas dengan tindakan serupa anakku. Selama ini tidak pernah saya mendendam kepada kerajaan Tiran. Tapi kali ini tidak akan kubiarkan mereka dengan tindakan biadab mereka ini. Mereka telah membunuh ribuan nyawa di kota ini, dan itu tak akan kumaafkan."Lanjut Raja penuh amarah.


Putri Incen tahu kalau ayahnya itu benar-benar murka, apapun alasannya atau penjelasannya kepada ayahnya tetap tak akan masuk akalnya lagi. Kemarahan ayahnya susah di bendung, dan itu ia betul-betul ingat bagaimana sifat ayahnya. Kalau marah ya marah tak akan bisa dipadamkan lagi.


"Ombu saya minta kesiapannya, seluruh prajurit yang tersisa untuk disiapkan kita perangi mereka. Apapun resikonya kita harus memerangi kerajaan Tiran."Perintah Sang Raja kepada Penasehatnya.


"Baik Raja."


Seketika Ombu menghimbau dan mengumpulkan seluruh pasukan yang tersisa. Satu hari penuh baru dapat pasukan dua ribu lima ratus orang, jumlah yang sangat minim sekali itu pun di dapat dari sisa prajurit yang melarikan diri dari pusat kota.

__ADS_1


"Bagaimana Ombu pasukan kita?"Tanya Raja.


"Untuk saat ini pasukan yang terkumpul sebesar dua ribu lima ratus orang. Ini di dapati dari para prajurit yang keluar dari pusat kota dan bekas-bekas narapidana. Mereka dengan senang hati akan bergabung, sebab mereka tak mau negerinya dijajah apalagi di depan mata mereka seluruh rakyat kerajaan ini tewas tanpa tersisa. Mereka membantai secara biadab tak berprikemanusiaan. Itulah yang membakar semangat mereka untuk balas dendam atas musibah yang menmpa negerinya."Terang Ombu pada Raja.


"Selain itu juga mereka merasa iba dengan apa yang dialami oleh negerinya. Tak disangkanya kalau negerinya akan diserang oleh pasukan Tiran sampai sekeji itu." Lanjutnya.


"Apa kau yakin di antara mereka para bekas narapidana akan membantu kita sebisa mungkin? Bukanlah mereka para narapidana akan menyimpan dendam dan mungkin saja sebaliknya akan menyerang kita?" Gumam Raja.


"Melihat kesungguhan mereka Tuan Raja sepertinya tidak. Saya melihat mereka benar-benar murka atas apa yang menimpa negerinya. Jiwa kepahlawanan mereka untuk mengabdi kepada bangsanya bangkit dan berapi-api. Ini adalah, karena tindakan tak manusia para pasukan Tiran Tuan Raja."Ujar Ombu memberi penjelasan atas pasukan yang terkumpul.


"Baik, jika begitu tinggal kalian siapkan perlengkapan perangnya. Soal waktunya, kapan kita menyerang ke kota Tiran nanti sy sampaikan. Saya akan memerintah beberapa orang untuk memata-matai terlebih dahulu pada seluruh aktivitas di kota itu termasuk dengan aktivitas pemerintahan nya."Perintah Sang Raja.


"Siap Raja. Kami siap menunggu perintah." Jawab Ombu tegas sambil membukukkan badanya.


"Kalau begitu ayah, izinkan aku juga ikut perang."Pinta Putri Incen.


"Tidak Nak. Kau tidak boleh ikut. Ini urusan para lelaki bukan untuk kaum perempuan."


"Biar urusan lelaki ayah setidaknya aku ikut andil untuk menyemangati para kesatria yang turun bertarung bersama ayah. Aku juga bisa menjaga diri ayah di medan perang."


"Tidak cukup hanya menjaga diri anakku. Di medan laga itu tak pilih pandang, mana yang bisa digibas maka itu akan digibas jika ada perempuan masuk tentu akan berbahaya anakku. Dia akan mati sia-sia oleh lawan. Jadi kau tak usah ikut dalam pertempuran ini. Beberapa prajurit akan memberimu pengawalan dan akan menjagamu di tempat ini bersama para wanita lainya yang masih tersisa. Kalau terjadi sesuatu yang bukan-bukan kepada ayah setidaknya ada kau yang bisa menggantikan posisi ayah sebagai raja anakku."


Sang Raja berfikir sesaat, wajahnya sesekali menengadah ke atas. Ia tahu watak putrinya itu jika sudah bilang demikian maka susah untuk diubah haluanya. Sepuluh menit kemudian barulah ia berbicara lagi.


"Baiklah Nak kalau itu maumu. Ayah akan izinkan tapi kau harus memakai pakaian besi, serba tertutupi oleh pakaian besi agar kenyamananmu terjaga dan terlindungi."


Putri Incen tersenyum bahagia mendengar ucapan ayahnya yang mengizinkannya untuk ikut serta merta dalam agenda besarnya. Walau dalam hatinya berkata bahwa mayat-mayat itu mati bukan karena serangan para pasukan Tiran akan tetapi mati karena kabut beracun itu. Itulah yang tidak diketahui oleh ayahnya namun mengingat kejadian tempo dulu bahwa kerajaan Tiran itu pernah berutang nyawa pada kerajaan ayahnya maka memilihnya diam saja dan ikut andil dalam pertempuran.


Usai pamitan kepada ayahnya, Incen kini menyiapkan segala-galanya mulai dari baju besinya hingga alat-alat perang lainya seperti pedang dan busur.


Ketika semuanya telah siap, Ombu menghimbau kepada seluruh pasukan agar bersiap-siap dan menunggu Raja di halaman pusat kota.


Dua jam menunggu, barulah Sang Raja datang dengan pakaian kebesarannya juga yang ia kenakan. Ombu mengatur barisan lalu memberikan aba-aba ke seluruh pasukan lalu mempersilahkan Sang Raja menyampaikan sepatah kata kepada pasukan dan memberikannya semangat juang untuk bertempur.


"Jumlah kita di pelataran ini, memang terhitung sedikit. Sangat kecil sekali di banding pasukan Tiran yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Tapi saya yakin dengan semangat tempur jiwa perang yang dimiliki oleh saudara-saudaraku semua di pelataran ini maka cukup untuk mengalahkan pasukan mereka yang begitu besar."

__ADS_1


"Persatuan ini, semangat ini, yang kita pupuk secara bersama akan dapat melahirkan, menumbuhkan keberanian pada jiwa kita untuk meraih kemenangan dalam pertempuran ini. Satu hal yang perlu saya sampaikan kepada saudara-saudaraku bahwa semut pun bila di injak dia akan menggigit sekerasnya. Begitupun dengan negeri kita ini jika mereka sudah berhasil menghancurkan negeri kita maka kita pun akan melawan sampai titik darah penghabisan."Tutup Sang Raja memberi semangat sekaligus perintah kepada seluruh pasukannya.


Usai menyampaikan unek-uneknya, Sang Raja pun naik ke atas kudanya dan diikuti oleh seluruh pasukan. Pelataran itu seketika bergemuruh oleh suara kaki kuda yang serempak bergerak secara bersamaan mengikuti gerak komando Sang Raja dan Ombu.


"Uraaaaaaa..... Uraaaa..... Uraaaaa!"Teriak Ombu memberi komando perang sebelum beranjak ke kota Tiran.


Sebelum melangkah maju, empat orang mata-mata datang kepada Ombu memberi penjelasan singkat terkait keadaan kota Tiran dan kondisi pemerintahannya.


"Tuan, pemerintahan Tiran dalam keadaan siap baik siang hari maupun malam hari. Tidak pernah lengah sekali pun, mereka dalam keadaan siap siaga terus menerus. Terjaga dua puluh empat jam. Prajuritnya selain ronda mengelilingi sudut-sudut kota, juga tiap sudut di simpankan prajurit untuk berjaga-jaga sekitar dua puluh orang penjaganya."Lapor empat mata-mata yang diterjunkan memantau terlebih dahulu.


"Huh."Desah Ombu mendengar laporan intelijennya. "Bagaimana ini Raja akankah kita menyerang di saaat mereka dalam keadaan siap untuk berperang?"Lanjut Ombu bertanya kepada Raja.


"Iya, tetap kita akan menyerang akan tetapi kita menunggu tengah malam barulah bergerak menyerang. Karena tengah malam akan membuat mereka dalam keadaan lemas dan tak mungkin mereka punya persiapan secukupnya. Tengah malam adalah waktu istirahat mereka jadi di situlah kita pergunakan untuk menyerang." Terang Raja singkat dan tegas.


"Baik, siap."Patuh Ombu dan menyampaikannya ke seluruh pasukan.


"Pukul dua belas lewat atau masuk jam satu pas kita akan menyerang ke Kotanya, siap?"


"Siap.... Siap."Sambut kebanyakan.


"Uraaaaa.... Uraaaa.... Uraaaa."Teriak Ombu menyemangati.


Kemudian di tunggu-tunggunya jam 1 pas waktu penyerangan. Semua pasukan dalam keadaan siap di atas kudanya masing-masing. Tidak ada lagi yang bersuara baik Raja maupun Ombu selain menantikan jam yang terus berganti hingga jam satu itu tiba.


Ketika berada pada waktu yang dinantinya, Raja pun memberikan isyarat penyerangan. Ombu tidak lagi bersuara lantang tapi cukup memberikan kode kepada seluruh pasukan untuk bergerak secara diam-diam. Kode itu simbol persatuan penyerangan yang semuanya telah mengetahuinya.


Incen pelan-pelan berbicara kepada ayahnya di atas kudanya yang sedang melaju ke titik penyerangan.


"Ayah apa bisa kita menang dalam penyerangan ini?"


"Yakin saja anakku walau kita terhitung sedikit. Dengan keyakinan dalam jiwa kita maka akan mendatangkan keberanian pada jiwa kita anakku. Yakin saja!"


"Saya sudah berusaha ayah, namun dalam hati kecilku selalu ada kata tidak mungkin, itulah yang terbersit terus dalam hati kecilku ayah. Memang ayah jika di timbang-timbang atau di pikir-pikir secara rasional itu sesuatu yang tidak masuk akal ayah. Menyerang dengan jumlah yang kita yang sekarang tidak mungkin ayah. Sangat sedikit ayah. Sedang kekuatan mereka berpuluh lipat kuatnya di banding pasukan kita ini."


"Hum. Apa kau kurang yakin Nak?"

__ADS_1


"Entahlah ayah. Aku tetap berusaha mendampingi pasukan kita untuk memerangi kerajaan Tiran. Mereka sudah menghancurkan negeri kita yang kita cintai."


Tak lama kemudian, muncul bisikan dari barisan paling depan untuk berhenti sesaat mengatur siasat atau strategi penyerangan karna posisi mereka sudah berada di perbatasan kota. Sesuai perkataan Raja atau Ombu akan berhenti tepat di perbatasan kota untuk mengatur sebuah strategi penyerangan.


__ADS_2