PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Di Kejar Ikan Hiu


__ADS_3

"Ouh, rupanya ada niatan jahat di balik tujuan mereka berafiliasi ke dua kubu itu."


"Iya ada, saya istirahat dulu Bintang nanti jam lima lewat saya bangun."


Usai makan, Bintang tak tidur sedikit pun, Ia berdiri tegak di samping sambil memandang keluar dari balik kaca transparan. Sedang Pelangi sudah tertidur lelap di lantai Piring.


Satu jam. Dua jam, melewati pakatnya malam. Semakin dekat dengan permukaan air, Bintang makin tertegun dengan burung-burung yang beterbangan di malam hari. Ia melihat burung itu bagaikan daun-daun pohon yang lebat, berkumpul dan beterbangan saat terkena pesawatnya. Awalnya ia mengira itu pohon ketika di tabraknya ternyata burung. Lama di perhatikannya.


‌Ketika waktu menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, Pelangi pun terbangun. Ia terbangun oleh deringan jam dinding pesawat yang di pasang di samping layar monitoring. Jam dinding itu akan berdering tepat ketika waktunya di atur. Bintang menyapanya lebih dulu.


"Kau sudah bangun?"


"Iya. Aku terlalu lelah jadi aku nyenyak tidurnya. Kau tidak tidur Bintang?"Gumam Pelangi sambil mengusap-ngusap matanya.


"Tidak, sepanjang malam aku tak tidur sedikit pun."


"Um."


Selesai mengocek matanya Pelangi segera mendekati tuas kemudi, lalu membuka maps di layar monitoring. Tak berapa menit kemudian tampil posisi Piringnya dengan titik yang dia tuju.


Ketika di lihatnya posisinya tak jauh lagi dengan permukaan air. Pelangi segera ke depan kemudi mengurangi kecepatan nya. Di matikanya semua lampu di badan pesawat agar tak diketahui jejaknya. Kecuali lampu di dalam piring yang tidak dia matikan. Ketika semua lampu sempurna mati total barulah dia mengaktifkan mode siaga, siap untuk di terjunkan ke dasar laut.


"Pelangi tahan dulu! Jangan dulu terjunkan Piring ke dasar laut!"


"Baik."


"Kita lihat dulu beberapa menit saja, jika tidak ada keanehan baru kita terjunkan Piring mencari mulut lorong."


"Oh ya."Gumam Pelangi.


"Coba pastikan ada di mana mulut lorong itu berada!"


Pelangi kembali melihat posisi mulut lorong di dasar laut, sekitar dua puluh meter dari posisi pesawatnya. Posisi yang tepat.


"Kita amat-amati dulu keadaannya, jangan sampai ada pasukan dari Klan lain yang juga bergerak bersama kita!"


"Iya."


Beberapa menit kemudian tak ada tanda-tanda pesawat melintas atau pasukan-pasukan dari Klan lain. Bintang segera menyuruh Pelangi untuk menerjunkan pesawat ke dasar laut menuju mulut lorong yang berada di kedalaman seribu meter dari permukaan laut.


"Kau sudah siap!"Sapa Pelangi kepada Bintang memastikan kesiapan sahabatnya.


"Siap."Jawab Bintang sambil memasang sabuk pengaman di badannya.

__ADS_1


Ketika semuanya telah siap, Pelangi segera mengaktifkan mode landing, selang berapa saat keluarlah baling-baling dari lubang angin pesawat. Lalu Pelangi menerjunkan pesawat ke dasar laut.


Awalnya Bintang kaget oleh getaran pesawat yang bersentuhan dengan air laut tapi hanya sesaat saja habis itu semuanya sudah normal kembali. Pesawat itu berjalan di dalam air bagaikan kapal selam namun kecepatannya berbeda. Lebih cepat pesawat yang berbentuk piring itu daripada kapal selam.


"Berapa jam kita bisa sampai ke mulut lorong Pelangi?"


"Delapan jam Bintang. Kecepatan pesawat agak sedikit lambat dari biasanya. Tidak sama penerbangan di atas udara dengan di dalam laut." Ketus Pelangi.


"Ouh begitu. Kamu bilang tadi hanya sepuluh meter dari depan pesawat? Kenapa bisa memakan waktu delapan jam untuk menempuhnya? Selambat itukah pesawat ini?"


"Bukan. Kau salah paham Bintang. Sepuluh meter itu adalah jarak dari posisi kapal dengan titik terjun atau lokasi permukaan laut yang kita jadikan sebagai pintu akses untuk menuju ke mulut lorong. Mulut lorong itu berjarak seribu meter dari titik akses tadi yang kita lewati."


"Ouh."


"Ternyata kita bisa menambah kecepatan lagi karena Piring ini di bekali tiga baling-baling. Sedang yang kita pakai hanya satu baling-baling induk saja. Saya aktifkan dulu semuanya agar bisa terpakai baling-baling sampingnya."


"Tidak usah Pelangi, begini saja lebih baik sambil melihat keluar jendela. Dengan kecepatan begini kita dapat melihat ikan-ikan yang berenang dan ikan hiu yang bermain di dalam air. Banyak yang bisa kita lihat."


"Oke, baik."


Dari permukaan laut sudah terlihat ikan cakalan yang berkejaran, belum lagi ikan duyun yang bermain di permukaan air. Banyak sekali jenisnya. Membuat Bintang takjub memandang keluar jendela pesawat. Kelompok ikan putih pun ber gerombolan mengikuti lari pesawat akan tetapi kelompok ikan putih itu di kejar-kejar dan di makan oleh ikan paus besar. Sehingga kumpulan ikan putih itu berhamburan saat akan di telan oleh ikan paus, sungguh indah di lihatnya.


Ketika Bintang sedang memandang-mandang ke jendela transparan, tak di sadarinya se ekor ikan hiu mengejarnya dari belakang. Kumpulan ikan putih yang tadinya mengikut-ngikuti badan kapal sekarang di sedot habis oleh ikan hiu, Bintang terperangah yang menyaksikannya.


Usai menyedot kumpulan ikan putih, Ikan hiu itu beralih mengobrak-abrik kapal pesawat. Bintang tak menduga-duga kalau Ikan hiu itu akan mengejar kapalnya.


"Baik."


Sejurus kemudian Pelangi mengaktifkan mode siaga, lalu keluar satu buah baling-baling samping kanan dari lubang udara kapal. Segera Pelangi menaikkan kecepatannya dengan penambahan kecepatan, ikan hiu itu agak tertinggal jauh.


"Syukurlah ikan itu sudah jauh."Lirih Bintang sambil melihat ikan dari kaca transparan.


"Iya, ikan itu sudah tertinggal jauh."


"Pelangi ada batu di depan, hindarkan pesawat dari batu itu!"


"Tidak ada batu di ke dalaman ini, kecuali kita dekat dengan tanah baru ada batu, itu pasti bukan batu."


Seketika Pelangi menghindarkan pesawatnya, ikan hiu itu yang berwarna seperti batu, yang dikiranya batu mengejarnya dengan cepat. Ikan hiu itu lebih besar lagi ukuranya dari pada ikan hiu yang pertama.


"Pelangi ikan itu makin dekat!"


"Baik, saya akan menekan tombol nuklirnya, kita tunggu saja dulu ikan hiu itu mendekat barulah kita menyerangnya."

__ADS_1


Sengaja Pelangi mengurangi kecepatan kapal, lalu Pelangi menekan tombol nuklir kapal. Ikan yang tadinya bersiap-siap menelan kapal justru tertelan nuklir yang di tembakkan oleh Pelangi.


"Pas, mantap!"Ketus Pelangi saat melihat ikan hiu berhasil tertembak.


"Pelangi percepat saja kapalnya, tak usah sedang begini agar kita bisa cepat sampai ke mulut lorong."


Kembali Pelangi menaikkan kecepatan. "Jika kita terus di kejar ikan-ikan raksasa itu maka akan memperlambat kita sampai ke tujuan. Kita harus bisa menempuhnya tepat waktu. Jangan sampai ada pasukan dari Klan lain yang mendahului kita, itu yang kita khawatirkan."


"Setahu saya Bintang, pesawat mereka tidak bisa beroperasi di dalam air jika mereka nekat melakukannya maka sama saja mereka menceburkan diri mereka ke laut."


"Maksudnya?"


"Pesawat buatan Para Klan di atas langit tak bisa berjalan atau berfungsi di dalam laut, jika mereka berani terjunkan maka pesawat mereka akan meledak. Beda dengan Pesawat yang kita gunakan ini di produksi khusus bisa mendarat di mana pun termasuk dalam air ini, itulah bedanya Bintang."


"Oh, suatu kebanggaan buat Klan Oranus. Luar biasa kemajuan Negri yang di pimpin Ratu Balkis." Lirih Bintang memuji pesawat buatanya.


"Sengaja Sang Ratu menyiapkan ini semua agar ketika landing tak lagi pilih-pilih tempat. Pesawat ini juga selain di air juga bisa mendarat di atas ranting kayu seperti pesawat model kepiting tempo hari yang pernah kita gunakan. Namun kelebihan pesawat ini selain bisa mendarat, ia juga bisa mendeteksi benda yang tak terlihat selain itu juga memiliki nuklir yang bisa di gunakan kapan saja."Terang Pelangi menuturkan kelebihan pesawat buatan negerinya.


Ketika sedang berbincang-bincang dengan asyiknya tak mereka sadari sepuluh ekor ikan hiu mengobrak-abrik pesawatnya. Ada yang mencoba menelanya, ada juga yang menggigit kaca transparan dan untung saja kaca transparan itu tebal dan kokoh hingga membuatnya susah.


"Pelangi jangan lepas tembakan! Biarkan saja! Jika kau melepaskan tembakan maka akan mengundang puluhan ekor hiu lainya. Mereka datang mengejar karena melihat darah yang keluar dari daging ikan hiu tadi yang kau tembak makanya mereka agresif mengejar kapal kita. Apakah bisa kita tambah kecepatan?"


"Ya bisa, satu baling-baling lagi belum di keluarkan."


"Kalau begitu tambah saja kecepatan! Jika kecepatan meninggi maka mereka akan kwalahan mengejar kita!"


"Baik Bintang."


"Pelangi mengaktifkan mode siaga lalu keluar lagi satu baling-baling sebelah kiri dari lubang udara pesawat. Volume mulai ditinggikan hingga tersisa lima belas persen.


"Bintang lihat sebelah kanan, mereka makin banyak. Padahal kecepatan sudah tinggi. Pasang sabuk pengaman Bintang jika tidak kau akan terbanting-banting."


"Berapa jam lagi sampai di mulut lorong Pelangi?"


"Sisa satu jam."


"Kalau begitu akali saja, jangan keluarkan tembakan. Oh ya nyalakan semua lampu di badan pesawat agar pesawat terang. Kalau terang dalam air ikan hiu itu akan ketakutan. Mereka takut terang."


"Oke siap, saya coba!"


"Bukankah pesawat ini di bekali dengan detektor?"


"Iya."

__ADS_1


"Bagus, amati baik-baik jika ada tanda-tandanya ikan itu menjauh dari badan kapal maka pastikan sampai sejauh mungkin ketika sudah jauh barulah dapat kau matikan semua lampu kecuali yang tersisa lampu pemandu dalam kapal ini. Kita tidak boleh memasuki mulut lorong jika lampu sementara menyala."


"Oke siap."


__ADS_2