
Segera Pelangi memeriksa pembatas batu, ke sana ke mari Pelangi melekatkan tangannya ke jejeran batu yang menumpuk di lubang Gowa.
Tergesa-gesa Pelangi melakukanya, namun tetap tak ada petunjuk untuknya sedangkan kumpulan kelelawar dengan gesit berkumpul lantas menyerang.
Formasi yang dibentuk oleh Bintang berantakan oleh kumpulan kelelawar yang menyerbu.
Serbuan kelelawar itu menyerbu tak beraturan, kadang dari atas kadang dari bawah kadang dari samping kanan kadang lagi samping kiri.
Selang seling kelelawar itu menyerbu. Seolah tahu kelemahan Bintang. Gregetan kelelawar menyerang dengan taring gigi siap menyambar kapan ada kesempatan.
Kelelawar itu selain mengandalkan taring gigi nya yang panjang, juga ia memiliki jaring yang dilepasnya dari sayapnya.
Entah dari mana sumbernya jaring tersebut tetapi jaring itu di lepasnya ketika Bintang lompat ke sana kemarin menghindarinya.
"Bagaimana sudah kau dapat?" Teriak Bintang tersengal-sengal kepada Pelangi di belakangnya sambil melindungi Pelangi dari amukan kawanan kelelawar.
"Belum, aku sudah berusaha. Sepertinya kelelawar ini benar-benar menyatukan pembatasnya dengan tembok Gowa ini Bintang." Ucap Pelangi tergesa-gesa kepada Bintang.
Ketika ucapan Pelangi akan terputus, tak kelihatan kelelawar dari samping kiri telak menganai dada Bintang.
Bintang yang tak sempat memerhatikanya dengan seksama langsung terjerembab.
Bintang terjatuh kemudian diikuti oleh kawanan kelelawar lainya yang menyerbu dengan gigi tarinngnya tapi Pelangi dari belakngnya berusaha melindunginya.
Walau tak terhitung seberapa, tetap Pelangi memberi perlindungan kepada sahabatnya yang sedang terpojok.
Kawanan kelelawar itu selain ingin menyambar dengan giginya, juga melepaskan jaring lewat sayapnya untuk menyekat kedua anak manusia itu yang terus memberi perlawanan.
Makin Bintang terpojok dengan serangan kawanan kelelawar semakin kuat pula Pelangi mengeluarkan kekuatanya untuk melawan kumpulkan kelelawar.
Bintang yang terkena sambaran tendangan kaki kelelawar, tepat di dadanya. Nafasnya seakan susah di tariknya apalagi kelelawar dengan kumpulanya langsung menyerang membabi buta saat Bintang telah terjatuh sempurna.
Di gunakanya kesempatan itu untuk menyerang Bintang oleh kelelawar yang bengis. Namun Pelangi dengan kekuatan sepenuhnya berusaha melindunginya.
Semampunya, Pelangi bertahan melindungi Bintang. Bintang yang masih setengah sadar masih mengerjap-ngerjap matanya. Melihat kiri kanan memastikan apa yang terjadi.
Tendangan kaki kelelawar itu betul-betul melumpuhkan Bintang padahal hanya sekali saja, tendangan berikutnya yang dilayangkanya oleh kumpulan lainya di tangkis sudah oleh Pelangi dari belakangnya.
Tendangan kelelawar itu awalnya di rasanya oleh Bintang baik-baik saja tapi lama ke lamaan membuatnya susah bernafas.
Efek tendangan itu seperti gunung yang menindis dadanya, lama-lama jadi berat, dan membuatnya makin merasakannya. Kalau saja manusia lain yang kena tendangan kelelawar itu mungkin dia sudah tewas menahan jutaan ton yang menindis dadanya.
"Sepertinya kelelawar ini bukan kelelawar biasa seperti kelelawar di luar sana."Lirih Bintang terbata-bata.
"Kita harus hati-hati."Tutup Bintang singkat sambil membentuk formasi lingkaran.
"Minggir kebelakangku Pelangi!"Perintah Bintang segera.
__ADS_1
Setelah Pelangi mundur kebelakang, Bintang perlahan-lahan mengeluarkan Pedangnya dari Belakangnya.
Itulah Pedang Abadi.
Pedang itu di tariknya dari belakangnya dan muncul-muncul saja begitu. Pedang itu secara kasat mata tak ada yang melihatnya. Akan tetapi ketika Bintang mengambilnya dari pungungunnya maka secara tiba-tiba Pedang itu tersebut muncul.
Pedang Abadi itu di genggamnya erat, di keluarkanya dari sarungnya. Ketika keluar sempurna selarik cahaya terang keluar. Lebih terang. Cahaya itu membuat Gowa jadi terang.
Gowa yang tadinya gelap gulita sekarang seperti di gurun pasir, yang terkena panasnya sinarnya matahari.
Terang sekali, namun panasnya tidak ada. Hanya terang saja sehingga semuanya di dalam Gowa kelihatan seluruhnya. Tak ada yang tersembungi.
Pelangi yang menyaksikan terpelongo lalu terkagum, melihat Pedang yang sungguh hebat itu.
Kelelawar yang hendak menerkam seketika mundur dari geraknya dan membentuk barisan, seolah-olah mundurnya memberi rasa hormat kepada Bintang.
Semua kelelawar yang tadinya semraut sekarang berjejer rapi di langit-langit Gowa lantas memberi rasa hormat secara bersamaan kepada Bintang pemegang Pedang Abadi.
Usai memberi hormat kepada Bintang, maka kelelawar itu segera pergi satu demi satu masuk ke lubang-lubang Gowa.
Sedangkan batu yang tadinya menutupi lubang Gowa, menyatukan dengan tembok Gowa sekarang, seketika terbuka.
"Wih sungguh.... Sungguh.... Sungguh luar biasa."Desah Pelangi terkagum-kagum pada kehebatan Pedang tersebut.
Ketika semuanya kawanan kelelawar telah pergi dan pintu Gowa pun telah terbuka lebar maka Bintang kembali menaruh pedangnya.
"Sungguh hebat."Lirih Pelangi kembali sambil mendekati sahabatnya itu.
" Ayo keluar!"Ajak Bintang segera kepada Pelangi.
Mereka pun berdua meninggalkan Gowa tersebut tak lagi melanjutkan perjalannya memeriksa Gowa itu secara detail.
"Kita menuju ke mana?"Tanya Pelangi.
"Ke tengah bangunan."Jawab Pelangi santai.
"Baik."
Sejurus Pelangi mengambil langkah meniti jalanan yang sedikit memunyai rerumputan lebat.
Di antara bangunan itu telah memiliki akar kayu yang memanjat tembok-tembok bangunan dan menutupi bangunan bekas kerajaan itu.
Akar kayu itu sungguh lebat bahkan ada pohon-pohon kayu yang sudah tumbuh di antara bangunan tersebut.
Bangunan itu tidak tampak lagi kalau itu adalah bangunan bekas kerajaan.
Pelangi pelan-pelan melangkah menyisiri bangunan itu yang di tumbuhi banyak rerumputan dan akar kayu yang selang seling di antara bangunan.
__ADS_1
"Tidak ada apa-pa di sini selain bangunan lapuk dan daun sirih memanjat tembok?"Gumam Pelangi melihat kedaan bangunan.
"Sepertinya kita harus kembali ke dalam Gowa tadi."Lirih Bintang seketika.
"Hah, kembali."Desah Pelangi terkejut.
"Iya, kita harus kembali."Ucap Bintang mantap.
"Waduh, bukanya dalam Gowa itu berbahaya buat kita ke sana." Terang Pelangi sedikit protes kepada Bintang.
"Tidak lagi, dalam Gowa itu pasti sudah aman, kawanan kelelawar itu pasti sudah pergi walau pun mereka masih berada dalam Gowa tetap makhluk itu tetap tak akan mengganggu kita lagi."Ujar Bintang menerangkan kepada Pelangi yang memiliki keraguan untuk kembali.
"Tidak usah kita kembali Bintang, bahaya buat kita berdua jika ke sana lagi." Tukas Pelangi meminta kepada Bintang.
"Yakinlah Pelangi, kita tidak akan di ganggu lagi oleh kawanan kelelawar itu. Kawanan kelelawar itu telah masuk ke dalam lubangnya dan itu tak akan keluar lagi." Kata Bintang menyakinkan Pelangi.
Pelangi berfikir sesaat.
Belum lama berfikir, Bintang sudah melangkah duluan memutar langkahnya kembali.
"Baiklah, jika itu maumu." Ucap Pelangi sambil melangkah mengejar Bintang yang sudah duluan pergi.
Bintang memasuki dalam Gowa tanpa keraguan sedikit pun atas serangan balik kawanan kelelawar.
"Betul juga kata mu sepertinya kelelawar itu takut pada kita berdua."Gumam Pelangi sambil melangkah masuk jauh ke dalam.
"Kelelawar itu tidak takut tetapi hanya menaruh hormat kepadamu." Ketus Bintang sekenanya.
"Di mana tau?"Tanya Pelangi tak mau diam.
"Dari lubangnya, kalau sudah tertutup maka itu tandanya kelelawar tak mau lagi keluar, lihat saja ke atas, lubangnya tertutup semuanya."Ketus Bintang sekenanya saja.
"Um, begitu ya, aku baru tahu" Gumam Pelangi sambil mengangguk-ngangguk.
"Pelangi kok ada genangan air dalam Gowa ini?" Tanya Bintang penasaran sambil berjalan pelan-pelan.
"Iya ya, ada juga batu di tengahnya."Ucap Pelangi melihat batuan di tengah-tengah genangan air.
"Kayaknya di di atas batu itu seperti pintu?" Lirih Bintang menangkap bentuk pintu dari atas batuan tersebut.
Di perhatikannya seksama batuan di atas air itu, kemudian nampak sebuah garis pintu yang menggambarkan bahwa itu adalah pintu.
"Ayo ke sana?"Ajak Pelangi mendahului Bintang sambil melangkah.
"Airnya tidak dangkal." Ketus Pelangi tak sabar mendekati pintu itu.
"Hati-hati Pelangi, waspada!"Gumam Bintang memghimbau kepada Pelangi agar berhati-hati melangkah menuju batuan yang berdiri di atas genangan air itu.
__ADS_1