
"Bagus, amati baik-baik jika ada tanda-tandanya ikan itu menjauh dari badan kapal maka pastikan sampai sejauh mungkin ketika sudah jauh barulah dapat kau matikan semua lampu kecuali yang tersisa lampu pemandu dalam kapal ini. Kita tidak boleh memasuki mulut lorong jika lampu sementara menyala."
"Oke siap."
Sepuluh menit, dua puluh menit, satu jam hingga dua jam lebih masih saja ikan hiu itu mengejar. Tampak kelihatan di layar monitoring sepuluh titik telah mengikuti arus belakang kapal pesawat. Sedang jaraknya dengan lubang mulut tak jauh lagi, tinggal satu jam lagi.
"Bagaimana Pelangi?"
"Masih. Ikan hiu itu masih terus mengejar."
"Tapi di kaca transparan ini tidak kelihatan ikan-ikan itu!"
"Iya ikan itu tidak berada di sekitar kapal ini, tapi agak sedikit jauh, ikan-ikan itu mengikuti arus kapal. Lihatlah di layar monitoring, beberapa titik yang terlihat bergerak-gerak di layar itu, itulah ikan-ikan hiu yang terus mengejar kita."
"Oh begitu."
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"
Bintang berfikir beberapa saat mencari akal agar ikan hiu menjauh, tidak mengikutinya sampai ke mulut lorong. Sebab jika ikan itu masuk juga mengikut ke mulut lorong nantinya akan berbahaya dari misinya. Semua akan kacau balau.
"Bagaimana Bintang? Kita semakin dekat dengan lubang itu."
"Bisa dimatikan semua mesin pesawat? Jika bisa maka coba matikan untuk sementara waktu saja, kita lihat apa reaksi ikan itu. Bila ada kelainan buruk, seperti akan menyambar atau menggigit badan pesawat maka segera lepas tembak."
"Baik."
Sejurus kemudian Pelangi mengambil langkah mematikan mesin pesawat. Seketika seluruhnya mesin mati. Tak bergerak di tempatnya, mengambang di dalam air. Terlihat beberapa ekor ikan hiu berlari ke sana kemari di samping pesawat mencari buruannya. Yang tadinya dia ngikuti alur arus sekarang arus itu tidak ada lagi kecuali gelap dan air yang tenang tak bisa memberinya petunjuk.
Bintang dan Pelangi dapat melihatnya dari dalam pesawat yang sedang kebingungan mencari jejaknya. Setengah jam ikan-ikan itu berkeliaran baru dapat pergi.
"Pelangi saat kau hidupkan mesin pesawat, kau langsung tancap gas jangan perlambat lari kapal jika lambat maka ikan-ikan itu akan bergerak lebih cepat dan mengganas memangsa kapal ini!"
"Iya aku mengerti."
__ADS_1
"Berapa menit lagi sampai di lubang lorong itu?"
"Tiga puluh menit lagi. Jika kita tancap gas maka tak sampai sepuluh menit kita sudah berada di depan mulut lorong."
"Baik, percepat saja bila sudah berada depan mulut lorong, jangan langsung masuk, kita harus menelitinya lebih dulu agar kenyamanan kita terjaga. Kita tidak tahu pasti soal mulut lorong itu makanya kita harus berhati-hati memasukinya."
"Benar Bintang. Nanti akan ku coba pesawat ini berlari secepatnya dan akan ku berhentikan tepat depan lorong."
Kemudian Pelangi mengaktifkan mesin pesawat dan menggunakan kesempatan itu untuk pergi dari terkaman para ikan hiu itu.
Ketika semuanya nyala, lalu Pelangi mencoba melarikan secepat kilat namun saat tiba depan lorong bukanya berhenti malah tertarik ke dalam lubang. Seakan-akan mulut lorong itu memunyai kekuatan dahsyat yang bisa menarik benda-benda di sekitarnya. Awalnya Pelangi mencoba menahan pesawatnya tapi tak bisa dikendalikan nya sebab mulut lorong memiliki kekuatan yang super besarbesar hingga seluruh kekuatan dalam pesawat tersebut dikerahkan oleh Pelangi tetap tak mampu menahan tarikannya.
"Pelangi kenapa pesawat seperti terbentur ke dinding-dinding tembok?"
"Pesawat lagi tertarik ke dalam mulut lorong Bintang, saya tidak bisa menahan pesawat ini untuk bertahan di mulut lorong. Ada kekuatan yang sepertinya menarik kita. Kuatkan sabuk pengamannu Bintang! Saya tidak bisa mengendalikan pesawat ini."
"Jadi bagaimana?"
"Biarkan saja, matikan semua mesin kapal. Kita ikuti apa maunya, sepertinya ini tidak membahayakan kita."
"Iya betul. Coba lihat di layar monitoring posisi kapal!"
"Di layar ini tak menampilkan apa-apa, semua alat detektornya tak berfungsi Bintang, mungkin ada benda di sekitar sini yang mematikannya atau ada kemampuan lain yang bisa menghisap fase satunya. Kalau fase satu detektor ini tak berfungsi maka semuanya akan mati total tak bisa berguna sebab itu adalah daya kuncinya, penggeraknya."
"Oh, rupanya saling berkaitan juga ini."
"Iya."
"Kenapa tidak lagi bergerak ini?"
"Iya Bintang, sepertinya kita sudah tak terseret lagi. Mesin pesawat juga sudah bisa. Layar monitoring juga sudah bisa berfungsi."
"Coba lihat kita sudah di bagian mana?"Desak Bintang kepada Pelangi.
__ADS_1
"Segera Bintang membuka program lalu melacak posisi kapalnya. Sebuah tanda besar melintang di layar monitoring."
"Tanda apa itu?"Tanya Bintang penasaran.
"Aku tidak tahu juga tanda apa itu, sepertinya ada di depan kapal kita ini. Garis itu pas dengan posisi kapal ini."
"Apa ya kira-kira? Coba buka penutup kaca transparan! Mungkin bisa kita melihatnya dari dekat."
Kemudian Pelangi membuka penutup kaca transparan, tak lama kemudian, terlihat sebuah naga besar telah melintang di depan kapal pesawat. Sangat besar Naga itu mengalahkan ukuran badan pesawat bahkan tiga kali lipat besarnya.
"Wah naga?"Desah Pelangi terkejut.
"Matikan pesawat cepat!"Bisik Bintang segera.
Tampak di layar kaca se-ekor naga raksasa telah melintang di depan pesawat, Pelangi terkejut hampir saja tak bisa mengendalikan pesawatnya.
"Naga Raksasa?"Lirih Bintang sambil memerhatikan dengan teliti ekor naga itu sampai kepalanya.
"Bintang jangan berfikir macam-macam ini bukan naga biasa yang biasa kau taklukkan. Sekali kita melangkah kita akan binasa. Pesawat ini saja bisa ambruk jika naga itu mengamuk." Gumam Pelangi mengingat sahabatnya Bintang.
Bintang tak menyangga ucapan Pelangi, semakin ia memerhatikan seluruh tubuh naga raksasa itu.
"Kita tidak akan dapat melewati lorong ini jika naga ini tidak pergi!" Ketus Pelangi.
Ketika satu jam diperhatikannya dengan seksama, baru Bintang dapat melihat dengan jelas Naga itu. Naga yang pernah di taklukkanya di Langit.
"Pelangi buka pintu pesawat! Saya mw keluar menyuruhnya pergi dari depan kapal."
"Serius Bintang? Kita bisa ambruk nanti jika kau keluar betul-betul."
"Buka saja, akan kualihkan perhatian naga itu jika naga itu sudah mengikuti ku maka kau segera melintas. Oke!"
"Siap."
__ADS_1
Pelangi segera membuka pintu pesawat lalu bersiap-siap menghidupkan mesin kapal mengikuti arahan Bintang. Sedang Bintang berdiri kokoh di atas kapal yang berbentuk piring itu. Ia menatap lekat-lekat Naga itu sebaliknya naga itu juga menatap dengan mukanya yang seram dengan sedikit menggerakkan ekornya bersiap menyambar Bintang. Dan Pelangi di bawah perlahan-lahan menghidupkan mesin pesawat lalu menyenterkan lampu ke ke bagian samping lorong agar lokasi itu terlihat sedikit terang.
Saat terang Pelangi mulai bersiaga sedang Bintang berdiri menatap ke arah Naga itu, setengah jam saling tatap-menatap sang Naga itu yang tadi terperanjat oleh kehadiran anak manusia itu sekarang ketika melihat jelas sosok seorang manusia yang dia kenali, Naga itu berubah perlakuannya jadi ramah, ekornya yang melambai-lambai siap menerkam dan menghalangi lorong sekarang menjauh memberi lintasan pada kapal itu seolah-olah ia mengerti dengan tujuan mereka. Naga itu memberi jalan bagi kapal Pelangi. Melihat semua itu Pelangi tak mau menunggu lagi, segera ia melintas ketika ada ruang untuk melewati naga raksasa itu.