PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Perang yang Berkecamuk di Istana


__ADS_3

Lihat ke tengah-tengah mereka, mereke seperti gembung air, dari ujung ke ujung mereka tak punya pertahanan yang kokoh. Jika perwira mampu menganalisis penyerangan itu maka dalam hitungan menit saja maka rombongan itu akan kalah."


"Tapi sayangnya dalam istana tidak satu pun perwiranya memahami itu."Desah Bintang.


"Bisa-bisa gerbangnya ambruk."Pelangi menimpali.


"Yah, lambat laun. Kalau penyerangannya terus menerus berlangsung maka bisa jadi gerbangnya akan retak. Andai saja perwiranya pintar mengatur serangan maka benteng itu akan menjadi sebuah kekuatan besar bagi mereka untuk bertahan dan memenangkan pertempuran itu."


Pelangi terus melototi. Begitu pun Bintang mengamati pertempuran.


Berlangsung selama empat jam penyerangan, akhirnya sebuah keretakan terdengar dari kejauhan. Bintang dan Pelangi pun dapat menyaksikan kehancuran itu. Sebuah pintu gerbang rusak oleh pertempuran di depan gerbang.


"Bintang lihat gerbangnya sudah ambruk." Celetuk Pelangi.


"Iya aku sudah melihatnya. Sepertinya kerajaan itu di pimpin oleh seorang perempuan."


"Di mana kau tahu, Bintang? Bahwa kerajaan ini di pimpin oleh seorang perempuan."


"Aku tidak sengaja mendengar percakapan prajurit di balik gerbang. Mereka menyebut seorang ratu."


"Ouh, pantasan saja tidak pintar mengatur strategi perang. Bisa- bisa mereka ditaklukkan oleh penyerang itu. Mereka sudah sebagian merangsek masuk ke istana."


Terlihat dari jarak yang lumayan jauh, istana yang mulai kocar kacir prajuritnya. Berusaha melawan dan mempertahankan kerajaannya.


Teriakan demi teriakan keluar dari dalam istana meneriakkan persatuan semangat berjuangnya.


"Bunuh ratunya!.. Bunuh ratunya... Bunuh.... Bunuh.... Bunuh ratunya."Teriak prajurit dari luar gerbang seraya merangsek masuk ke dalam gerbang sambil terus menyemangati yang lainnya.


"Kita harus memenggal kapala ratu dan menghadiahi kepalanya kepada raja kita."Yang lainya menyambut.


"Bintang kita harus bertindak menyelamatkan ratu itu sebelum mati terbunuh oleh pasukan yang menyerbu ke dalam istana."


Bintang berpikir beberapa menit lalu setuju. "Baik."


Sejurus kemudian dua sejoli itu bergerak maju ke dalam istana melewati atas bangunan sebelah utara. Gerbang yang dilewati oleh para pasukan pemberontak tidak dilewatinya. Ia lewat dari sebelah utara, bangunan di sana sudah roboh lebih duluan sebelum gerbang menyusul terbuka.

__ADS_1


"Pelangi, naik di atas tembok, kita tidak boleh merangsek masuk melewati pintu utama. Jalan satu-satunya supaya cepat sampai ke dalam istana kita harus menaiki tembok ini lalu jalan di atap genteng."


"Baik, Bintang. Aku bisa melakukannya."


"Bagus."


Lantas dua sejoli itu terbang melewati tembok pembatas, dan meniti di atap genteng sampai ke ruang tengah istana.


Di ruang tamu dan pelataran ternyata sudah penuh sesak oleh para pemberontak itu. Mereka menyerang membabi buta, semua di bunuhnya tanpa pilih-pilih. Yang dewasa dan anak-anak di ratakan nya oleh para pemberontak.


"Bintang di sini mereka."Teriak Pelangi memberitahu sejumlah kawanan pemberontak yang telah berhasil menodongkan tombaknya ke prajurit yang melindungi Ratu.


Ratu di belakangnya sudah terlihat pasrah dengan segala keadaan buruk sekali pun. Wajahnya memelas tidak berdaya lagi.


"Bunuh prajuritnya sekarang!"Perintah Sang Ketuanya dari belakangnya.


Dalam hitungan detik, semua prajurit yang melindungi ratu seketika terbunuh.


"Haha.... Haha.. Hahahaha... Haha.. Hahaha. Hahaha. Sekarang kau tidak punya siapa lagi ratu, hah." Sang Ketua terkekeh-kekeh.


"Kau serahkan saja semua kerajaan mu agar kau lepas dari nasib burukmu ini? Bagaimana Ratu?"


"Seret satu dayang-dayangnya bawa ke hadapanku."Kembali perintah Sang Ketua kepada anak buahnya.


Anak buahnya segera melakukannya. Membawa seorang dayang kehadapan ketuanya.


"Penggal kepalanya!" Perintah Sang Ketua dengan wajah sangarnya.


Sedetik kemudian kepala dayang itu terpelanting di lantai. Lepas dari badanya. Bintang dan Pelangi masih mengintai dari atap genteng.


"Sungguh keji perbuatan mereka, Bintang."Geram Pelangi meluap amarahnya saat melihat perlakuan pemberontak itu.


Dua, tiga kali Pelangi ingin turun tapi terus di tahan oleh Bintang. Dihalangi agar tidak gegabah dalam mengambil tindakan.


"Jangan dulu bertindak selama tidak melukai Sang Ratu! Pelangi."

__ADS_1


"Siap."


"Ingat Ratu, sudah tidak satu pun yang bisa kau pertahankan, istana ini sudah hancur total. Prajurit mu sudah musnah seluruhnya, dan istana yang kau sanjung-sanjungkan juga sudah dikepung oleh pasukan ku. Aku memintamu baik-baik menyerahlah sebelum aku menjadikan nasibmu sama dengan prajurit mu yang lain."Bentak Sang Ketua dengan intonasinya yang keras.


Ratu itu tetap diam tidak berbicara. Berkali-kali Ketua pemberontak itu menyeru Sang Ratu namun tetap Sang Ratu diam membisu dengan menggenggam sebilah pisau.


Dayang-dayangnya masih berbaris rapi melindunginya walau tidak punya kekuatan untuk melawan.


"Kurang ajar, sejak tadi saya menghimbau mu kau tetap bersikeras pada diam mu. Anak buah seret dia, bunuh semuanya tanpa tersisa!"Perintah Sang ketua tegas.


Seketika puluhan pemberontak merangsek dengan tombaknya melangkah mendekati RatuRatu, hendak membunuhnya.


Bintang dan Pelangi seketika turun dari atap menghadang pemberontak. Seluruh pemberontak yang merangsek maju terperanjat melihat dua anak muda sedang menghalangi langkah mereka.


Tanpa banyak kata, dan tidak mau tahu. Pemberontak tetap menyerang, Pelangi dan Bintang tidak menghindar sedikit pun, keduanya hanya mematung di tempatnya, menjadi tameng pelindung Ratu.


Keduanya memberi perlawanan, Sang Ratu dan dayang-dayang di belakangnya terkesiap menatap dua anak muda itu yang tiba-tiba datang dihadapannya bagaikan malaikat yang memberikan mereka perlindungan.


Tiga puluh menit bertarung, dua barisan besar dari pasukan pemberontak luruh.


"Sial. Kurang ajarrr. Cepat kalahkan anak monyet itu!"Geram Ketua pemberontak tegas.


Terus penyerangan berlangsung selama empat puluh menit, Bintang dan Pelangi tetap tidak apa-apa hanya pasukan pemberontak saja kalang kabut. Mereka terjungkal-jungkal dan mengaduh kesakitan.


"Sial, hanya kurcaci-kurcaci kecil yang mengalahkan kalian. Mundur!" Teriak komandannya keras. Dan kembali mengatur serangan.


Sang Ketua itu membuat barisan tebal dan siap mengacungkan tombak ke depan. Ratusan pasukannya di arahkannya untuk menyerang dua anak muda itu. Yang telah berani menghalang-halangi pekerjaannya menyelamatkan Ratu.


Bintang dan Pelangi perlahan-lahan mencari tempat yang lebih luas. Agar keduanya leluasa untuk bertarung. Sang Ratu dan seluruh dayang-dayangnya mengikut di belakangnya.


Dua sejoli itu bergeser ke pelataran bangunan istana. di sanalah tempat yang lebih bagus dipilihnya.


Jumlah pemberontak tadi yang hanya ratusan sekarang bertambah lebih besar dan padat. Mereka sudah terlihat seperti lautan manusia di dalam pelataran bangunan.


"Pelangi, siap-siap buat tameng untuk melindungi Ratu dan dayang-dayangnya. Jumlah mereka teramat banyak. Kita harus berhati-hati melawanya jangan sampai kita lengah sehingga Ratu mereka dapati."

__ADS_1


"Siap, Bintang."


"Lindungilah Ratu dengan tameng terbesarmu! Biarkan, aku saja yang melawan ribuan pasukan pemberontak ini."


__ADS_2