
Saling pandang sesaat, Pelangi pelan-pelan bergumam.
"Wah, luar biasa, kerajaan tertua." Lirih Pelangi pelan. terasaloang hanya menatap diam saja ke depan Gowa.
"Bagaimana bisa ada Gowa di sini? Ini bekas bangunan kerajaan dan di dalamnya juga Gowa seperti ini? Sungguh mencegankan." Lanjut Pelangi terkejut.
"Ayo masuk?" Ajak Bilntang tiba-tiba bergerak maju mendekati mulut Gowa.
Serempak mereka berdua beranjak.
"Hussst." Desis Bintang pelan.
"Sepertinya ada yang aneh di Gowa ini." Lirih Bintang memberitahu Pelangi.
"Iya, aku pun merasakannya, ada hawa-hawa kurang segar." Gumam Pelangi menanggapi.
"Waspada." Sapa Bintang sambil melangkah menyisiri dalam Gowa.
Makin mereka maju, semakin terasa gemuruhan di langit-langit Gowa. Perlahan-lahan mereka melangkah sambil memerhatikan sekitarnya. Gowa itu gelap pekat, hanya di pandunya langkahnya dengan pantulan cahaya yang bersumber dari lubang Gowa.
Saaat sedang berjalan melihat ke atas terus, ke langit-langit Gowa mencari sumber suara yang memekik telinganya.
Kakinya tak di sadarinya menyetuh genangan air, yang menimbulkan bunyi percikan air.
Dari suara percikan itu, tiba-tiba suara gemuruh berhenti tak kedengaran lagi. Tapi, itu hanya sesaat saja habis itu sebuah suara keras terdengar seakan-akan memecahkan gendang telinganya.
Suara tersebut bersamaan dengan puluhan makhluk yang keluar dari dalam Gowa itu.
Puluhan makhluk itulah yang menghasilkan suara yang sungguh memekikkan telinga ke dua sahabatan itu.
"Awas apa itu?" Teriak Pelangi spontanitas mengingatkan Bintang yang masih sementara menata langkah kakinya.
Bersamaan suara teriakan Pelangi, yang meneriaki Bintang, seekor hewan yang berbentuk kelelawar, terbang menukik menyerang keduanya.
Serangan kelelawar yang tiba-tiba itu, dapat di hindari oleh Bintang.
Bintang dan Pelangi pun bergerak menghindari dari amukan kelelawar tersebut. Makin mereka menghindar semakin buas kelelawar itu menyerang tanpa ampun.
Kelelawar itu bergerak cepat, bahkan dengan cepat memancing kawanan lainya untuk beramai-ramai menyerang dua makhluk yang asing di mata mereka.
__ADS_1
Yang sudah berani-berani mengusik ketengan mereka dalam Gowa.
Bintang dan Pelangi berusaha menghindar sambil terus maju ke dalam Gowa yang paling dalam.
"Wah, sepertinya kelelawar ini tau ke mana arah kita pergi." Desah Pelangi sambil mengikuti langkah kaki Bintang yang bergerak cepat menghindar.
Saat hendak maju lari ke depan, ternyata tiga ekor kelelawar telah menunggu di hadapanya sambil mengeluarkan pekikan keras.
Wajah kelelawar itu tampak marah, hitam kulitnya, giginya tajam, matanya melotot tajam seakan menerkam mangsa di depanya.
Tanpa menunggu waktu, tiga kelelawar yang telah tampak siap di depan langsung berhambur menerkam.
Kelelawar itu terbang secepat kilat dengan sayap mengapak-ngapak mencari sasaran.
Bintang dan Pelangi menghindar, mencari sudut-sudut agar tak dapat sambaran gigitan kelelawar.
"Awas Pelangi di sampingmu?" Teriak Bintang mengingatkan tiba-tiba dari serangan kelelawar dari arah samping. Plp a
"Kelelawar ini tambah banyak." Pekik Bintang.
"Makin kita terbawa ke dalam paling gelap, makin mereka sangar memangsa kita." Desah Bintang.
Sambil berfikir sambil menghindar, seekor kelelawar tak terduga hendak mengigit dari arah belakang Bintang. Bintang yang tak tau ada kelelawar hendak menerkamnya yang terus saja mengajak Pelangi berbicara agar tenang menghadapi kawanan kelelawar tersebut.
Melihat seekor kelelawar membahayakan Bintang, Pelangi bergerak cepat dengan pedangnya menyabetkannya pada bagian tubuh kelelawar, hingga tubuh kelelawar terbelah dua.
Belum sampai dua detik Pelangi mengiriskan pedangnya, puluhan ekor kelelawar lainya kembali menyerbu ke arah Pelangi.
Seakan tau bahwa Pelangi membahayakan kawanannya, maka sebagian besar kelelawar berhambur menuju ke Pelangi untuk menyerangnya. Sedangkan Bintang hanya dua ekor saja yang menyerangnya.
Walau Pelangi berusaha menghindar ke mana-mana tetap saja tak bisa menghindari amukan kawanan kelelawar. Kelelawar itu sepertinya marah besar sebab salah satu temanya telah mati terbunuh.
Pekikan keras keluar dari dalam mulut kelelawar, gemuruh panjang itu mungkin pertanda bahwa panggilan pada teman-temanya.
Kelelawar itu berkumpul dalam satu titik lalu membentuk bulatan besar. Mungkin itu adalah bagian dari strategi penyerangan mereka pada sasaranya.
Usai membentuk strategi, kelelawar itu kembali dengan cepat menyerang satu arah yaitu menuju ke Pelangi. Kawanan kelelawar tersebut sepertinya bisa membaca pikiran sampai cara menyerang pun mereka gunakan.
Puluhan kelelawar menyerbu Pelangi, dengan buasnya mereka menyerang dengan suara pekikan keluar dari mulutnya masing-masing.
__ADS_1
Sambil memekik keras sambil menyerang.
Melihat Pelangi sedang terpojok ke arah tembok Gowa. Bintang dengan segera melompat lalu melepaskan sebuah pukulan petir yang membuat seluruhnya kelelawar terjatuh seketika.
Tapi pukulan Bintang hanya membuatnya mati beberapa detik saja, habis itu bangun lagi satu persatu lalu kemudian menyerang lebih buas lagi. Lebih buas dari sebelumnya.
Berkali-kali Bintang melepas pukulan, berkali-kali pula kelelawar itu mati lalu bangun kembali.
Kelelawar yang pernah di belah dua oleh Pelangi sekarang malah ikut menyerang. Padahal jelas-jelas kelelawar itu mati dan tak bergerak-gerak lagi.
"Sepertinya mereka tidak mati-mati Bintang." Desah Pelangi dari samping Bintang.
"Iya sepertinya mereka tak mati, walau terkena sabetan pedang. Yang tadinya terkena hantaman pedangmu malah justru hidup kembali." Gumam Bintang sambil mengatupkan rahangnya berfikir mencari cara untuk mengalahkan kawanan kelelawar itu.
"Lantas bagaimana kita mengalahkan makhluk ini?" Tanya Pelangi dengan ngos-ngosannya.
Pelangi mulai kelelahan melawan kawanan kelelawar itu yang terus menerus menyerang tanpa memberi jeda.
"Kita harus melarikan diri dari sini, kita harus keluar, sepertinya Gowa ini bukan cuma puluhan saja kelelawarnya akan terapi ratusan ekor kelelawarnya. Dari lubang-lubang kecil yang berada di langit-langit Gowa bermunculan puluhan ekor kelelawar lainya. Dan makin kita membunuhnya maka akan menambah kemarahan saja pada kawanan kelelawar itu." Terang Bintang mengajak Pelangi keluar dari dalam Gowa.
"Ingat baik-baik jika aku melepas pukulan ke arah kelelawar maka kau harus segera menuju ke lubang Gowa." Tukas Bintang memberitahu sambil bersiap-siap melepas pukulan berdentum ke arah kelelawar.
Ketika melihat ada kesempatan, Bintang segera melepas pukulan keras kearah kelelawar, ratusan kelelawar berjatuhan mendapat pukulan dari Bintang.
Kesempatan tersebut langsung digunakannya oleh Pelangi untuk berhambur keluar disusul oleh Bintang.
"Bintang Gowa ini telah tertutup lubangnya. Kelelawar itu telah menutupnya lubangnya kembali." Teriak Pelangi di ujung lubang Gowa.
"Waduh sial."Lirih Bintang.
"Lihat batu-batu penutupnya! Periksa cepat perekatnya." Teriak Bintang kepada Pelangi sambil memasang kuda- kuda membentuk formasi bertahan.
"Pelangi bagaimana?" Tanya Bintang tergesa-gesa.
"Belum saya temukan tanda-tanda perekatnya." Ketus Pelangi sambil terus memeriksa perekatnya.
"Coba lakukan langkah kedua?" Perintah Bintang tergesa-gesa sebelum kelelawar kembali menyerang.
"Apa itu?"Tanya Pelangi segera.
__ADS_1
"Tempelkan tanganmu ke dinding-dinding tembok, lalu coba rasa-rasa di mana patahannya." Ucap Bintang tergesa kepada Pelangi.