
Julian dengan gerakan tergesa merebahkan tubuh, Airin di sofa panjang. Persis di tempat dia tadi duduk dengan, Raka. Sementara Airin, wanita itu masih bingung dengan sikap yang Julian keluarkan. Dia sungguh terkejut dan bahkan tidak habis pikir kalau, laki-laki itu terang-terangan mengeluarkan kelakuan seperti ini.
Setahunya, dulu Julian sangat anti mengeluarkan perhatiannya. Palingan laki-laki itu akan bersikap dingin, tapi anehnya. Jika ada satu kejadian saja yang menimpa Airin hingga menimbulkan bekas atau memberikan suatu luka di tubuhnya, dia awalnya akan diam. Pura-pura tidak acuh dan bahkan parahnya hanya akan melengos pergi. Pernah waktu itu saat usia pernikahan mereka satu tahun.
Kalau tidak salah waktu itu malam di akhir-akhir bulan mei. Saat itu, Airin sibuk di dapur untuk membuatkan kopi sang suami yang tengah lembur di ruang kerja.
Iya, seperti biasa di setiap malam Senin. Dia pasti akan terjaga karena di malam itu, suaminya wajib yang namanya melakukan lembur. Sebelum menikah dengan Julian, Mamah berkata. Kalau istri sangat tidak boleh tidur sebelum suaminya terlelap lebih dulu. Makanya, wanita itu berada di sini, menemani Julian.
Airin bergerak mematikan kompor karena air yang tengah dia rebus, sudah mengeluarkan suara dan menerbangkan uap. Wanita itu bergerak memegangi gagang panci dan entah apa yang dia pikirkan, ia tiba-tiba menuangkan air mendidih itu sebelum berada di atas gelas.
Alhasil, air yang masih mengepulkan uap panas itu tumpah menguyur kakinya. Airin waktu itu menjerit sangat keras karena kulit kakinya, langsung melepuh. Dia bahkan sampai terduduk dan melepaskan pegangannya dari gagang panci.
"Di mana kotak obatnya?"
Lamunan Airin Buya saat dia menangkap suara, Julian yang ternyata masih mencari kotak obat. Sesaat, dia ingin sekali mengeluarkan tawa, karena melihat sifat Julian yang sedang kebingungan di dalam kepanikan.
__ADS_1
"Airin, kau menyimpan kotak obat di mana?" Laki-laki itu sudah tidak lagi mencari. Malahan saat ini, dia tengah berdiri di sisi sofa tempat Airin, duduk dengan kaki kanan yang terlentang.
"Buat apa kau mencari kotak obat? Aku hanya keseleo, Julian, keseleo. Jadi, berhenti bertingkah dan keluar dari rumahku!" Airin memberitahukan dengan sewot.
Julian yang sadar langsung mengeluarkan mimik wajah kebingungan. Dia sepertinya sedang berpikir dan setelah diam begitu lama, laki-laki itu memilih untuk duduk di ujung sofa bagian kanan.
Julian diam, tapi dia bergerak untuk mengangkat kaki kanan Airin yang keseleo, "Apa ini benar-benar sakit?' tanyanya sembari menekan-nekan bagian pergelangan kaki. Airin sontak melongo dengan mulut menganga.
Julian melirik ke arah dan kedua matanya langsung mendapati mimik wajah Airin yang sepertinya sedang menahan nyeri, "Kenapa? Jadi, bener-bener sakit yah?" tanyanya dengan masih berlagak polos dan sialnya, dia juga kembali menekan-nekan pergelangan kaki wanita itu.
Airin hendak memukul dada laki-laki itu, tapi gerakannya kalah cepat dengan tangan Julian yang kembali menaikkan kaki kanannya ke atas sofa dan meletakkannya di atas pangkuan.
Airin diam saat mendapati perangai Julian yang tengah menelisik, persisi seperti seorang dokter profesional. Bahkan gerkana tangan laki-laki itu juga sudah tidak lagi kasar seperti tadi.
"Aku bukan mengurut seperti kau. Jadi, bagaiamana kalau aku panggilkan tukang urut di blok depan?" Julian berucap sembari terus menelisik kaki, Airin.
__ADS_1
Sementara Airin sediri. Dia tiba-tiba menunduk dalam. Bahkan, wanita itu saat ini sudah mengepalkan kedua tangannya, "Kenapa kau menjadi seperti ini, Julian?"
Julian menegakkan kepalanya dan laki-laki itu langsung mendapati sosok Airin yang tengah menatap dirinya dengan sorot mata yang tajam, tapi terkesan penuh kesakitan.
"Apakah kau tidak bisa membiarkan hatiku mencoba untuk berpaling darimu? Sudah cukup kau membuatku jatuh cinta dengan sikap peduli diam-diam yang dulu kau lakukan dan jangan lagi. Jangan lagi memperdulikanku terang-terangan seperti ini," imbuhnya dengan sebutir air mata yang tetiba meluruh.
Julian diam. Laki-laki itu tetiba menghela napas, "Maaf, aku tidak bisa. Dulu aku begitu bodoh tidak mengerti tentang apa yang aku rasakan padamu, tapi sekarang aku sudah mengetahuinya, Rin. Aku sudah mengetahui kalau sanya, aku jatuh cinta padamu. Jadi, sekali lagi aku meminta. Tolong kembalilah. Kita mulai hubungan ini dari awal lagi."
Airin tidak menjawab. Dia justru bergerak menurunkan kaki kanannya dan wanita itu langsung menjatuhkan keningnya tepat ke dada, Julian, "Kau brengsek, Julian. Kau, bajingan," ujarnya sembari bergerak memukul dada laki-laki itu dengan brutal.
"Iya, itu aku," ujar Julian dan Airin yang mendengarnya semakin gencar memukuli dada Julian dan bahkan dia semakin gencar menangis.
...T.B.C...
__ADS_1