
Dua tahun yang lalu.
Desember, bulan di mana cuaca mendung berhijab lebih mendominasi Indonesia. Singkatnya Desember adalah, hari di mana puncaknya musim penghujan.
Curah hujan di bulan itu tidak menentu, contoh malam ini. Padahal petang tadi bintang masih menterang di langit. Namun, ba'da isa tadi, hujan tetiba menguyur kawasan Menteng dan sekitarnya.
Kompleks perumahan Airin dan Julian pun ikut kena. Namun, beruntunglah hujan turun bertepatan dengan pulangnya Julian dari kantor. Saat ini laki-laki itu sudah berada di kamar. Duduk di atas ranjang dengan tubuh bagian bawah yang hanya ditutupi oleh sebuah handuk dan untuk bagian atas, dia tidak mengenakan apa-apa.
Saat ini, Julian tengah membaca sebuah berita di situs web menggunakan ponselnya. Mata laki-laki itu fokus memandangi layar hp, tapi sebuah suara seperti benda jatuh membuat dia mengalihkan pandangannya ke kamar mandi.
Julian melempar ponslenya dan langsung berlari dengan tergopoh-gopoh mendekati ke pintu kamar mandi. Dia meraih gagang ponselnya dan langsung mendorong lawang itu hingga sosok Airin yang tengah terduduk di atas lantai, menjadi objek pertama yang matanya lihat.
"Maaf, aku tadi hanya terpeleset." Julian yang tadinya panik, langsung berwajah datar saat melihat ekspresi tersenyum yang Airin keluarkan. Sungguh, dia benci wanita yang sok seperti istrinya itu, dia membencinya.
"Kau kuminta untuk siapkan air saja tidak becus. Memang kau wanita tidak berguna sama sekali." Julian mendorong pintu ke dalam, membuat jalan masuk ke kamar mandi terbuka sangat lebar.
"Aku sudah menyiapkannya kok, tapi saat hendak keluar, aku terpeleset. Maaf." Airin masih berbicara dengan senyum saat, Julian masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah yang seperti mendekat ke arahnya.
Dalam hati wanita itu berharap, Julian memang mendekat padanya lalu, membantunya berdiri. Namun, realitanya berbeda. Laki-laki itu malah meleeatinya dan memilih membuka handuk, kemudian masuk ke dalam bathtub yang sudah berisikan air panas.
"Enyahlah dari sini, Rongsokan." Ternyata Julian tetaplah Julian dan Airin tetaplah Airin. Dua orang yang tinggal serumah tapi memiliki banyak perbedaan sifat.
"Jangan manja. Bukankah tadi kau bilang baik-baik saja? Jadi, berdiri sendiri dan keluar," imbuh Julian sembari memperhatikan Airin dari kaca yang ada di depan.
Laki-laki itu melihat kalau saat ini Airin sedang bersusah-payah untu berdiri. Julian tidak tersenyum atau pun menampilkan kemarahan, selain wajah yang sangat-sangat datar.
"Hah, iya. Aku baik-baik saja. Kalau begitu aku permisi dan maaf karena membuat, Mas khawatir." Karena rasa nyeri di pergelangan kaki kirinya, Airin keluar dari kamar mandi dengan langkah tertatih.
Beberapa jam setelah kejadian itu. Malam semakin larut, hujan di luar belum juga reda. Namun, beruntunglah hanya rintikan saja yang diturunkan oleh langit karena jika ada sekelabat kilat dan gemuruh, mungkin Julian sudah meringkuk di atas kasur sembari membekap dirinya dengan sebuah selimut.
__ADS_1
Namun, lihat. Karena tidak adanya Kilat dan suara gemuruh, Julian saat ini tengah bersimpuh di sisi sofa, yang ada di dalam kamarnya, tempat di mana Airin merebahkan diri.
Julian tetaplah Julian. Kalian tahu kan, kalau laki-laki itu adalah simbol keanehan dari segala hal yang aneh. Jadi, lihat sekarang. Tadi dia begitu acuh tak acuh melihat Airin yang teratur. Alih-alih membantunya, dia malah mencela dan bahkan membiarkan wanita itu bergerak sendiri.
Namun, saat itu berbeda dengan saat ini. Buktinya, di saat Airin tertidur, dia malah masih terjaga. Padahal besok ada rapat, tapi laki-laki itu sedari jam sepuluh tadi menunggu istrinya untuk terlelap agar bisa menjalankan tugasnya, yaitu, mengurut kaki wanita itu.
"Kau memang tidak berguna dan selalu menyusahkan diriku, Rongsokan jelek." Biarpun saat ini dia mencela, kedua tangannya sudah sedari tadi mengurut pergelangan kaki Airin, yang tidur menyamping menghadap kanan, menghadap ke dirinya yang tidak berhenti memandangi wajah damai sang istri.
***
Masa sekarang ....
Julian terkekeh saat mengingat kejadian itu. Sungguh, ingatan-ingatan itu bisa di bilang adalah suatu kenangan romantis bukan? Iya, 'kan?
Entah kalian mau menilai itu kenangan seperti apa, tapi bagi Julian itu adalah sebuah ingatan Romantis. Setelah kembali dari rumah Airin, dia hanya duduk di ruang tamu. Kenapa? Karena dari tempat itu, dia bisa mendengar suara tawa Airin yang terdengar sangat bahagia.
Sesaat Julian termenung memikirkan tentang "pakah Airin pernah tertawa dengan begitu lepasnya saat bersamaku?"
"Kalau begitu aku akan menjemputmu malam nanti, kan?" Julian menaikkan kedua alis matanya saat suara laki-laki yang dulu mengusik rumah tangganya, terdengar mengucapkan kata pamit.
"Sudah mau pulang kah?" gumam Julian, tapi laki-laki itu tetap diam di tempat. Dia tidak beranjak karena takut tidak diacuhkan lagi.
Dia tetap diam, walau tadi mendengar suara Airin yang mengatakan akan mengantar si laki-laki itu ke depan.
"Sialan!" Pada akhirnya Julian mengumpat dan setelah itu, dia berdiri lalu beranjak keluar dari rumah yang dibelinya malam kemarin.
Julian menghentikan lagkahnya tepat di teras rumah dan saat ini sorot matanya fokus melihat Airin yang tengah berdiri di ambang gerbang rumah.
Dari sini, Julian melihat jelas gimana lebaran senyum Airin. Dia memang sudah sering melihat itu, bahkan selalu, tapi entah kenapa lengkungan bibir itu terlihat sangat berbeda. Julian merasa kalau tarikan kedua sudut bibir itu sangatlah asing di matanya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa nanti malam hubungi aku jika kau itu ke sini." Julian mendengar nada bicara Airin yang riang seperti biasanya. Mirip seperti putri Sofia, kartun kesukaan wanita itu.
Julian tetaplah Julian. Dia berorasi mengeluarkan kata benci dam tidak suka kepada wanita itu, tapi anehnya dia juga tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh mantan istrinya itu.
Julian tersadar dan senyum kecil di bibirnya perlahan menghilang saat mendapati kedua manik hitam Airin menatapnya dengan tatapan asing.
Tidak ada pembicaraan, karena dua orang itu saat ini tengah saling menatap dalam jarak yang terbilang cukup jauh. Julian berada di teras dan Airin beras di gerbang rumahnya.
"Berhenti menatapku dan pergi masuk ke dalam. Apa kau gisak takut terlambat beker-" Airin sempoyongan karena sepertinya tadi dia menginjak sebuah paving blok yang dibekap lumut. Wanita itu berteriak panik dan langsung terjatuh dengan posisi terduduk.
Julian membulatkan mata. Dia tanpa sadar berlari keluar dari area rumahnya dan langsung masuk ke pekarangan rumah Airin, dengan mendorong kasar gerbang yang tadi di tutup oleh wanita itu.
"Kau memang tidak berguna, ceroboh!" Julian mencela, tapi waktu itu berbeda dengan sekarang. Mungkin saat itu dia hanya diam, tapi saat ini dia langsung membopong tubuh Airin dan membawa wanita itu masuk ke dalam rumah.
Bersambung.....
...Semoga suka dengan part ini yah. Lope lope full...
Btw, aku bawa rekomendasi novel lagi nih. judulnya, "Istri Kecil Dosen Muda" dari kakak "Susi similikiti" ceritanya kek gini yah👇.
Seoarang mahasiwi polos,cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya yang tak lain dengan dosennya sendiri yang begitu dingin. Tapi siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.
Bagaimanakah sikap mereka di kampus?
Akankah mereka saling mencintai?
Apakah sang Dosen akan menerima jika dia tau jati diri gadis itu yang sebenarnya?
__ADS_1
Kalian wajib mampir yah.