Pelabuhan Hati Airin

Pelabuhan Hati Airin
Chapter 11. Malam Mingguan


__ADS_3

...Apa kabar kalian? ...


...Btw, sudah berapa Minggu kita tidak bersua? terus apa ada yang masih nunggu nih cerita? semoga aja ada hihihihi....



Malam harinya, Airin tidak jadi pergi. Dia membatalkan acara mengunjungi keluarganya dengan Raka dan memilih duduk diam di beranda rumah.


Kejadian pagi tadi tentu masih membekas di benaknya. Terlebih lagi tadi dia jelas-jelas menyandarkan kepalanya di dada Julian dan meraung di sana. Mengeluarkan kata-kata penuh amarah yang sudah dia tahan selama pernikahan.


Pagi tadi juga, Julian tidak mengeluarkan reaksi apa pun. Dia diam dengan kedua tangan yang memeluk erat, Airin.


"Satu tahun, Rin. Apa waktu segitu masih belum cukup untuk menghukumku?"


Pertanyaan Julian yang belum dia jawab pagi tadi kembali terputar di ingatannya. Airin bukannya tidak mau untuk menjawab, tapi dia bingung harus mengatakan apa. Hatinya dari dulu hingga kini memang masih tidak ads perubahan. Dia masih sedikit cinta, tapi karena takut kejadian itu terulang. Airin menekan perasaan itu dan dia juga tidak segan menolaknya.

__ADS_1


"Malam yang indah, bukan begitu?"


Airin menoleh ke kiri dan obsidiannya langsung menangkap sosok Julian yang berdiri di balik tembok pembatas, "Malam Minggu, mau keluar?" imbuh laki-laki itu dengan seutas senyum yang sangat lebar.


Airin masih diam. Dia sepertinya tidak ingin peduli, "Pergi saja sendiri," ujar Airin sewot dengan memalingkan wajah.


Julian terkekeh. Laki-laki itu bergerak merubah posisi berdirinya menjadi menghadap ke depan. Kedua tangannya juga mulai bersedakap di atas dada, membuat otot tangannya sedikit tercetak. Maklum saat ini dia hanya mengenakan kaos oblong warna abu-abu, baju santai kesukaannya.


"Akan aneh jika aku pergi sendiri. Lagian aku tadi berniat mengajakmu pergi di sekitaran kompleks. Jadi, ayok. Aku mohon." Julian menoleh ke kanan dan mengeluarkan raut wajah yang memelas, tapi itu dibarengi dengan gaya berdiri yang angkuh, pun tidak sesuai seperti nada bicaranya yang katanya memohon.


"Enggak mau!" Airin tetiba berdiri dengan kaki kanan dihentakkan.


"Rin, kau baik?" Julian panik. Laki-laki itu langsung melompati tembok pembatas rumahnya dengan milik Airin yang hanya setinggi pinggang.


Laki-laki itu saat ini sudah berada di halaman rumah Airin dan dia langsung mengayunkan langkah mendekati wanita yang sudah kembali duduk dengan wajah memamerkan kesakitan.

__ADS_1


Julian bertekuk lutut di depan Airin. Dia memegangi pergelangan kaki sang mantan istri dengan sentuhan yang begitu sangat lembut, lalu setelah itu. Dia mengangkatnya perlahan dan meletakkannya di atas pangkuan.


Lagi-lagi Julian berlagak layaknya dokter profesional. Dia mulai periksa sana periksa sini, seolah bisa melihat bagian yang sakit dengan mata telanjangnya.


Airin yang melihat Julian berlagak seperti itu pun kesal sendiri, "Jangan so-"


Airin menjerit kecil dan tangannya reflek menjambak rambut hitam Julian, saat laki-laki itu dengan tanpa hati menekan pergelangan kakinya yang masih terkilir.


"Julian ini sakit loh." Airin menjambak semakin keras rambut Julian, seolah dia ingin memberikan rasa sakit yang sama dengan apa yang saat ini dia rasakan.


"Mau pergi enggak?" Julian sepertinya tidak menyerah. Dia saat ini bahkan tersenyum melihat Airin yang menderita.


"Iya, iya, iya. Tapi, kamu lepas ini dulu, Julian!" Pada akhirnya Airin mengalah.


Julian yang mendengar jawaban iya itu, bersorak girang di dalam hati. Laki-laki itu bangkit dari duduk jongkoknya, "Kalau begitu ayok!"

__ADS_1


"Ayok, ayok. Tunggu bentar ganti baju." Airin bangkit dengan perlahan dan dia juga berjalan masuk ke rumahnya dengan sedikit tertatih. Sial, sepertinya ngilu di pergelangan kakinya semakin terasa.


Sementara Julian sendiri. Setelah masuknya Airin, dia entah kenapa berjingkrak girang sendiri, "Semua aku lakukan demi memperbaiki hubungan kita. Jadi, sedikit pemaksaan demi kebahagiaan bersama, tidak masalah kan?" gumamnya berbisik kepada angin bulan Desember yang membawa aroma-aroma khas hujan yang entah menguyur kota Jakarta bagian mana. Intinya, saat ini Tanah Abang dalam suasana malam yang baik-baik saja.


__ADS_2