
"Kenaoa kau juga ikut masuk?" tanya Airin saat kembali ke ruang tengah rumahnya sembari membawa tiga teh, satu untuknya, satu untuk Raka, dan satu lagi untuk sang penggangu.
Beberapa saat lalu setelah Airin tersadar kalau laki-laki yang menyinggahi rumah di sebelahnya itu adalah sang penggangu alias Julian alias mantan suaminya yang harus dia jauhi hingga radius berkilo-kilo meter, dia memutuskan untuk mengajak Raka masuk ke dalam rumah. Sialnya, si penggangu juga ikut masuk. Lebih tidak tahu malunya, Julian tanpa permisi juga ikut duduk di sofa.
Airin tadi cengo. Sungguh, dia tidak pernah tahu kalau Julian punya sikap tak tahu malu seperti itu. Dia tahunya laki-laki itu punya sikap acuh tak acuh pada situasi apa pun. Namun, lihat. Dia dengan angkuh dan mimik wajah yang datar duduk di sofa panjang bersebelahan dengan, Raka yang sedari tadi diam dengan sudut bibir menyunggingkan senyum.
Satu tahun ternyata tidak mengubah sikap laki-laki itu. Dia tetap menjadi seorang pria yang tidak pelit senyum, selalu terlihat ceria walau kondisinya saat ini tengah digantung oleh, Airin. Raka dan si penggangu terlihat sangat-sangat jauh berbeda, tapi entah kenapa Airin masih belum bisa menerima Raka.
Dia tidak ragu dengan perasaan laki-laki itu, tapi hanya saja Airin masih sulit membuka hati. Dia tahu kalau Raka serius padanya, tapi Airin tidak bisa serius ke laki-laki itu karena di hati kecilnya masih ada nama Julian Pranata.
Aneh bukan, cinta emang begitu. Entah perasaan itu timbul dengan apa, bagaiamana, kalau sudah cinta yah cinta. Orang-orang juga mengatakan kalau, Cinta itu buta, cinta itu pembodohan, dan cinta itu tai.
"Hai, kenapa berdiri. Duduk. Sini aku bantu!" Seperti biasa, Raka yang sedari tadi diam memperhatikan bergerak meraih nampan yang dibawa oleh Airin.
Kelakuan laki-laki itu membuat, Airin yang diam dengan segala pikirannya langsung tersadar. Alhasil, wanita itu hanya tersenyum kikuk saat melihat Raka meletakkan nampan di meja kecil yang ada di tengah-tengah sofa.
"Maaf, eh terima kasih dan maaf." Layaknya orang dungu, Airin malah bingung harus mengatakan apa. Wanita itu dengan malu-malu duduk di singel sofa yang ada di kiri Raka.
Sementara Raka, dia seperti biasa akan ikut tersenyum melihat Airin yang seperti itu, "Jadi, gimana bisnisnya, Nyonya Airin Wigantara?" tanyanya.
Sesaat setelah mendengar pertanyaan itu, Airin menaikkan kedua alisnya. Namun, beberapa detik kemudian dia tersenyum ke arah Raka.
__ADS_1
"Sepertinya kau salah menyemburkan nama, Tuan Satriawan." Julian tiba-tiba berbicara dengan satu sudut bibir tertarik ke atas.
"Baik dan semua ini karena kamu juga. Jika dulu kamu enggak bantu aku buat maju, mungkin usahaku tidak jadi sebesar ini." Airin menjawab pertanyaan Raka dengan mimik wajah yang masih sama.
Raka tersenyum mendengar itu, "Tidak begitu. Aku hanya membantu sedikit. Usahamu maju karena hasil jerih payahmu," balas Raka dan dua orang itu tanpa sadar mengacuhkan, Julian. Tidak, saat ini Airin dan Raka memang tidak menganggap Julian ada.
Julian yang tahu itu tetiba mengepalkan tangan, tapi dia tidak mengambil tindakan. Dia diam dan melihat interaksi dari mantan istrinya yang kelihatannya sangat bahagia berbicara dengan Raka. Sialnya, wanita itu berlagak seperti tidak menganggap dirinya ada. Terbukti saat dia melihat, Airin tidak pernah melihat ke arahnya.
Sungguh, melihat itu Julian sakit hati sendiri. Bagiamana yah, soalnya baru kali ini laki-laki itu dianggap tidak ada. Padahal orang-orang penting yang ada di Jakarta saja tidak berani melakukan hal ini, tapi lihatlah dua orang yang sibuk berbicara itu.
"Oh iya, bagaiamana keadaan Bapak?" tanya Raka, membuat Julian menaikkan satu alis matanya.
"Kenapa? Kangen? Kalau kangen kita kunjungi beliau saja, gimana? Lagian beberapa bulan ini, aku juga jarang ketemu sama dia," ujar Airin dengan masih mengacuhkan Julian.
Setelah melakukan itu, Julian bangkit. Dia tidak mengatakan apa pun dan malah langsung pergi. Lagian, buat apa pamit? Sedari tadi dia dianggap tidak ada. Jadi, lebih baik pergi juga ya kan. Berada di sana, membuat batin bergemuruh marah.
Airin dan Raka langsung diam melihat gelagat Julian yang seperti itu, "Apa dia baik-baik saja?" bisik Airin dengan nada khawatir.
"Entah, tapi itu pantas untuknya karena dulu dia juga sering melakukan ini padamu, 'kan?" jawab Raka dengan nada yang sedikit tinggi, membuat langkah Julian terhenti di ambang pintu keluar.
Airin yang melihat laki-laki itu berdiri diam langsung diserang oleh degup jantung yang tidak menentu.
__ADS_1
"Terima kasih, ternyata teh buatanmu masih sama seperti dulu, aku menyukainya. Apa lagi aroma lezat dari sup kemarin malam. Itu sungguh mengenyangakanku." Setelah mengatakan itu, Julian benar-benar pergi. Meninggalkan Airin yang membulatkan mata terkejut.
Bersambung.......
...Reader. Aku bawa rekomendasi novel lagi nih. Judulnya, "Gadis Pemimpi" karya kak "Bhebz" Ceritanya kek gini yah👇...
Judul : Gadis Pemimpi
By: Bhebz
Terlahir miskin dengan penampilan yang jauh dari kata cantik membuatnya rendah diri. Dia membatasi pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya walaupun dia mempunyai banyak mimpi.
Perasaan takut dicemooh dan dirundung membuatnya menjadi anak rumahan. Hanya ibu dan ayah yang menjadi teman sekaligus sahabatnya, tempat berbagi cerita dan mimpi.
Hingga suatu peristiwa menyedihkan membuatnya meninggalkan istana dan sarangnya. Cangkang yang paling nyaman yang dia rasakan. Apakah mimpi-mimpinya akan menjadi nyata di luar sana?
Akankah dia berhasil mengubah takdirnya?
__ADS_1
"Beginikah rasanya orang yang tidak dianggap itu?"
Julian Pranata