
...Hai, halo temen-teman. btw, aku lagi mencoba untuk up rutin nih. Jadi, tolong feedback kalian yah. love you end stay reading bestie...
"Yakin enggak mau digendong aja?" Julian menoleh saat mendapati Airin yang ternyata masih jalan dibelakang.
Airin yang mendapati tawaran gendongan itu, langsung menatap sinis ke arah Julian. Dia bahkan sampai menghentikan langkahnya yang pincang, untuk melakukan semua itu.
"Modus," ujarnya dengan bernada dan tatapan ngeri melihat ke arah, Julian yang berdiri sedikit jauh di depannya.
Mendapati hal itu, Julian menaikkan satu alis matanya. Dia menghela napas dan memilih memutar tubuhnya untuk berdiri menghadap penuh ke Airin, "Kalau begitu, jalan! Tiga detik kalau kau tidak sampai sini, aku akan menggendongmu dengan paksa."
Airin yang tadinya melanjutkan jalan pincangnya, kembali diam. Dia menegakkan kepala yang dia tundukkan, lalu memberikan tatapan tajam.
"Satu."
Airin semakin melebarkan pupil matanya saat ternyata, dia mendengar Julian benar-benar menghitung, "Jangan bercanda seperti itu, Julian. Sumpah, enggak lucu bang-"
"Dua."
Julian dengan tampang temboknya malah lanjut menghitung, seolah dia tidak perduli dengan kata-kata mau pun ekspresi yang Airin keluarkan. Sementara di sisi, Airin. Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Gila memang kamu ya-"
Airin menjerit saat dia mencoba berjalan dengan normal, tapi kaki kanannya yang terkilir malah ditikam oleh nyeri hingga membuat wanita itu oleng dan hampir jatuh terjerumus ke depan.
__ADS_1
Namun, Julian yang melihat itu dengan sigap berlari dan langsung memposisikan dirinya di depan Airin, membuat wanita itu mendarat tepat di punggung kekarnya.
"Nah kan. Sudah dibilangin, kamunya malah keras kepala." Julian mengomel saat merasakan tubuh Airin menimpa punggungnya.
Sementara wanita yang mendapati omelan itu malah diam mematung dengan posisi kepala yang berada di sisi kiri Julian. Airin bungkam dengan tatapan mata yang tajam melihat wajah Julian yang saat ini masih mengomel, tapi anehnya, dia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu.
Semua suara yang ada di sekitarnya lenyap, termasuk suara Julian. Namun, kondisi itu lenyap saat tiba-tiba dia merasakan tubuhnya melayang dan setelah sadar, dia sudah mendapati dirinya berada di gendongan punggung Julian. Bahkan, dia juga baru menyadari kalau kedus tangannya sudah melingkar cukup lama di leher, Julian.
Sementara di sisi Julian. Laki-laki itu hanya bisa menjerit senang di dalam hati. Dia dengan tampang sok tidak mau peduli, berjalan keluar dari area kompleks. Sekarang tujuan laki-laki itu adalah membawa Airin untuk me hubungi warung bakso yang berada di luar.
***
Seperti malam Minggu pada umumnya. Saat ini ruas jalan yang ada di blok e area pertokoan di tanah Abang, tengah ramai-ramainya. Bahkan di pinggir jalan, terdapat banyak sekali pedagang kaki lima, seperti penjual lalapan, sate, dan juga nasi goreng.
Julian yang dalam keadaan menjadi pusat perhatian, tidak peduli. Malahan dia merasa senang karena dengan menjadi bahan tonton, Airin dapat menyembunyikan wajah di lehernya.
"Turunkan aku, Julian!" bisik Airin dengan sedikit menekan setiap perkataannya.
"Iya, tapi nanti. Bentar lagi kita bakalan sampai kok." Airin tidak bicara lagi dan memilih untuk mengikuti.
Sebenarnya dia ingin sekali turun, tapi karena ada banyak orang di sini. Airin jadi menimang. Jika dia melakukan pemberontakan, otomatis semua orang yang hanya melirik akan berubah menontoni mereka.
"Sekarang turun."
__ADS_1
Airin menegakkan kepalanya. Dia melemahkan lingkaran kedua tangannya di leher Julian agar laki-laki itu bisa menurunkan dirinya, *apa akan berakhir seperti ini? Ini juga jantung, kenapa kau malah berdetak bahagia,* batin wanita itu menggerutu tentang situasi yang terjadi saat ini.
Di sisi Julian. Laki-laki itu menurunkan Airin dengan tak berperasaannya. Dia menarik kedua tangannya yang digunakan untuk menyangga bokong Airin dan itu berhasil membuat si wanita terjun bebas, dengan kaki kanan yang lebih dulu menyapa trotoar.
Airin membulatkan mata. Lagi-lagi dia mendapati sebuah rasa nyeri yang langsung merambat ke sekujur tubuhnya. Sumpah, ini sudah kali ketiga dia mendapati hal seperti ini dan bagi Airin, semua itu sudah kelewatan. Dia harus memberikan pelajaran kepada laki-laki yang saat ini berdiri di depannya, tanpa ada sedikit pun ekspresi bersalah.
"Ayok, di sini baksonya en-"
"Julian!" Airin berteriak memotong perkataan Julian. Bahkan wanita itu langsung mengerakkan kedua tangannya untuk, menyerang wajah Julian.
Namun, tanpa diduga kaki kanannya salah melangkah. Airin oleng dan bersiap jatuh, tapi Julian yang selalu sigap langsung memegangi dua lengan Airin.
Seketika dua orang itu tetiba mendapati kesunyian, walau saat ini lalu lalang kendaraan tidak ada hentinya melaju di ruas jalan Blok E. Parahnya mereka berdua juga mendapati keadaan area pertokoan ini tetiba menjadi sepi. Tidak ada siapa pun selain mereka berdua, hingga Airin tiba-tiba tersadar dan langsung melayangkan tamparan saat merasakan adanya sebuah benda kenyal menempel di atas bibirnya yang tertutup.
"Eh, ma-"
"Maaf, itu salahku."
Julian yang tadinya tidak sengaja menjatuhkan bibirnya ke atas bibir Airin, langsung memotong dengan kata maaf. Laki-laki berstatus duda itu tetiba kikuk dan dengan cepat bergerak memutar tubuhnya.
"Ayok, aku akan mentraktirmu."
Julian salah tingkah dan dia langsung masuk lebih dulu ke area tempat duduk warung bakso, yang sisinya ditutupi oleh spanduk kain.
__ADS_1
...T.B.C...