Pelabuhan Hati Airin

Pelabuhan Hati Airin
Chapter 08. Farhan dan Kisah Takdirnya


__ADS_3

Masih di kawasan Gelora, tapi perumahan yang berbeda dari tempat tinggal Airin. Di kawasan ini dipenuhi oleh bangunan yang bertingkat dengan halaman rumah yang luas.


Contohnya seperti rumah bertingkat nomer 13 belas yang di mana itu adalah tempat tinggal Farhan, sang model sekaligus public figure.


Saat ini Farhan tengah duduk di teras depan rumah. Baju kaos dan celana jeans pendeknya yang basah, menandakan kalau beberapa saat lalu dia sudah melakukan aktidtas mencuci mobil. Hal itu juga terbukti dari mobil Pajero hitam yang terparkir dalam keadaan basah di halaman rumah.


Sedari tadi, Farhan di sana hanya diam dengan sejuta pemikiran yang pastinya tidak jauh dari sosok, Airin. Siapa lagi kalau bukan wanita itu yang menjadi alasannya termenung di pagi hari seperti ini.


Sungguh, dia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu lagi setelah lulus kuliah. Padahal, berita terakhir yang Farhan dengar setelah lulus kuliah, Airin menikah dengan seorang pengusaha muda.


Sungguh, saat mendengar kabar itu Farhan langsung menyerah dengan semua perasaan suka yang dia pendam sedari dia masih menjadi seorang tetangga depan rumah, yang di mana di dipisahkan oleh jalanan kompleks dulu.


Waktu itu kalau tidak salah dua puluh tahun lalu. Saat itu Farhan masih berusia enam tahun dan dia masih tinggal bersama keluarganya di perumahan yang ada di Tanah Abang, Farhan bertemu dengan Airin pertama kalinya di sana.


Dia waktu itu melihat Airin bersama dengan seorang bocah laki-laki yang jauh lebih tua dari dia dan Airin. Saat itu Farhan hanya melihat bocah laki-laki dan perempuan itu dari balik pagar rumahnya.


Di saat dua orang itu bermain, Farhan malah terkurung dibalik jeruji besi pagar rumahnya. Dia waktu itu ingin bergabung, tapi keadaannya yang tidak diperbolehkan keluar dari rumah, memaksa untuk melihat Airin kecil dari halaman. Hal itu berlangsung sampai dia berusia dua belas tahun, karena setelah SMP hingga kuliah. Farhan masuk ke sekolah yang sama dengan Airin, meski dia tidak pernah menyapa wanita itu, Farhan tetap memperhatikan dari jauh.


"Anak mamah lagi ngelamunin apa?" Farhan membulatkan mata saat suara paling merdu milik seorang wanita, merambat masuk ke dalam telinganya, "ayok, jangan bilang ...." imbuh wanita itu sembari duduk di kursi kayu yang ada di sebelah kanan, Farhan.


Farhan yang mendapati keberadaan wanita itu langsung menoleh. Dia tersenyum, "Kayak enggak tahu anak Mamah aja. Kalau aku lagi senyam-senyum sendiri berarti mikirin apa?" Bukannya menjawab, Farhan malah meminta Mamahnya menerka.

__ADS_1


Sesaat wanita yang dipanggil Mamah itu diam dengan pandangan mata menerawang langit-langit teras rumah. Beberapa detik kemudian, wanita itu kembali melihat ke arah Farhan.


"Airin," jawabnya dan sang anak pun tersenyum penuh arti.


Sungguh, mendengar namanya saja Farhan sudah bisa sebahagia itu. Itu baru nama loh, apa lagi kalau wanita itu adalah takdirnya.


Dulu, Farhan sangat percaya dengan yang namanya takdir. Karena kepercayaannya itu, dia dulu tidak pernah mengejar apa pun yang dia inginkan. Bahkan Airin pun dia tidak kejar, karena dulu Farhan bilang gini kepada dirinya.


"Kata Papah, takdir sudah ditentukan oleh Tuhan. Jadi, jika Airin memang takdirku, dia akan datang padaku" kata-kata itulah yang selalu dia ucapkan. Itulah kenapa Farhan hanya melihat Airin dari belakang sembari terus mempercayakan takdir itu.


Namun, Farhan tertampar oleh kenyataan. Saat setelah mendapatkan gelar S1, dia mendapati kabar kalau Airin melangsungkan pernikahan. Saat itu, dia masih percaya dengan takdir.


Farhan waktu itu membisikkan hatinya yang bergemuruh sakit dengan kata-kata "Dia bukan takdirku" hanya itu yang dia katakan untuk menguatkan hati yang perlahan retak.


Sekarang berbeda dengan dulu. Farhan bukan lagi orang yang percaya dengan takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Malahan, Farhan sudah paham kalau takdir itu dibuat oleh tangan kita sendiri. Jika berusaha, takdir yang Papah katakan sudah di tetapkan oleh Tuhan bisa saja berubah.


"Apa ada perkembangan?" tanya Mamah setelah beberapa saat bungkam.


Farhan yang mendengar itu menoleh, "Masih belum. Mamah tahu sendiri kalau aku saat ini masih terbilang orang baru di hidup Airin, meski aku sudah mengenal dia jauh lebih dulu. Tapi, dia baru mengenalku satu tahun terkahir ini," ujarnya dan Mamah yang mendengar itu menepuk pelan bahu tegap Farhan.


"Kalau begitu berjuanglah. Buat dia jatuh cinta, agar Mamah bisa segara melihatmu menikahi seorang wanita sebelum takdir mempertemukan Mamah dengan Papah." Mamah berucap menyemangati anaknya, tapi kata-kata wanita itu menjadi lemah di akhir.

__ADS_1


"Pasti Mah, tapi aku tidak bisa menerima kata-kata Mamah yang terkahir. Persetan dengan takdir, aku tidak akan membuat Mamah jauh denganku." Farhan berucap dengan tegas. Kata-kata itu adalah dialog terkahir dan setelah itu, Farhan memutuskan beranjak pergi untuk berisap-siap berangkat ke tempat syuting.


Bersambung.......



...Aku bawa promosi lagi nih. judulnya, "The Day I Become God" karya dari kakak "haoyi" ceritanya kek gini yah...


Judul : the Day i become a God


Napen: haoyi


Menceritakan Perjalanan seorang anak tanpa bakat bernama Arjuna Daniswara.


Tepat di umurnya yang ke sepuluh tahun Juna mendapatkan sebuah system yang dapat mengetahui segala hal di dunia.


Dan dengan bantuan system yang dia beri nama Eva itu Juna mulai bertambah kuat dan bertemu dengan banyak teman dan musuh.


Akankah juna bisa bertahan melawan musuh musuhnya dan siapakah Eva yang sebenarnya ?....


__ADS_1


"Tidak ada yang namanya takdir sudah ditetapkan oleh tuhan. Jika kita berusaha, pasti takdir itu bisa kita ubah dengan tangan ini."


Farhan.


__ADS_2