Pelabuhan Hati Airin

Pelabuhan Hati Airin
Chapter 15. Mendung Di Penghujung Hari.


__ADS_3

Tepat jam lima, tiga orang itu sudah masuk ke kawasan perumahan keluarga besar Airin yang ada di daerah Tanah Abang. Dekat kok dengan butik Airin.


"Mau turun sendiri atau aku turunin?"


Airin kaget saat Julian yang sedang membuka sabuk pengamannya, menyeletuk. Sungguh apa laki-laki itu tidak berpikir dulu sebelum bicara.


"Maksudnya, bantu bukain kamu pintu. Kitakan dulu kayak gitu pas masih jadi suami istri, terus ke rumah keluargaku mau pun keluargamu." Julian menoleh dan memberikan senyum yang sangat lebar, seolah gerimis yang ada di luar sana tidak bisa memudarkannya.


"Ogah. Aku punya tangan yang masih berfungsi. Lagian, kamu ngapain sih susah-susah ke sini?" Airin sinis dan langsung keluar dari dalam mobil, untuk menyusul Raka yang sudah berdiri di teras rumah dengan ditemani bang Dafa yang sedang menggendong seorang bocah laki-laki yang dari perawakannya masih berusia setahun lebih beberapa bulan.


Julian yang melihat itu ikut keluar dan dia langsung membuat langkah lebar untuk menyusul Airin. Tidak lupa laki-laki itu membuka jas cokelatnya, lalu menjadikan kain itu payung untuk melindungi kepala Airin dan dirinya.


"Biar enggak basah. Gerimis bikin sakit kepala loh. Kata orang-orang dulu."


Airin tidak menjawab, tapi dia langsung membuang muka. Masalahnya, Julian itu kelihatan manis dan sedikit tampan.


"Cieee roman-romannya ada yang mau balik lagi nih." Setahun ternyata tidak bisa membuat sikap Dafa berubah. Laki-laki itu ternyata masih menjadi seseorang yang suka bercanda.

__ADS_1


"Bibi Iin." Jason, anak dari Dafa dan bocah yang diusia kecilnya sering dipanggil Daya itu, sudah bisa sedikit bicara walau kata-katanya tidak tersusun rapi.


Airin yang mendengar penuturan dari Jason tersenyum. Seperti orang yang mendapatkan sebuah cara untuk mematahkan situasi, Airin memanfaatkan panggilan Jason itu untuk bebas dari situasi awkward dirinya dan juga Julian.


"Jason, ponakan bibi. Kamu apa kabar, Sayang?" Airin berlari kecil dan langsung mengambil alih tubuh Jason yang sudah meminta untuk beralih gendongan.


Julian yang melihat itu langsung menyusul. Dia juga mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Dafa, "Selamat sore, Kak."


"Kamu apa kabar? Baik, 'kan?" Dafa mengangguk dan dia mulai menepuk punggung kekar Julian, "semakin kekar aja nih punggung."


Julian terkekeh dan sedikit kikuk. Ternyata setahun tidak ke sini, membuat dia sedikit canggung, "Baik, Kak."


"Di dalam, sedang siap-siap. Kifa juga sepertinya ke dalam yok. Ngobrol di sana sambil ngopi. Ada pisang goreng juga dong." Dafa meminta para tamunya untuk masuk ke dalam rumah.


***


"Ini kopi untukmu." Dewi langsung dibuat terkejut oleh suara, Farhan yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam gendang telinganya.

__ADS_1


Wanita muda itu tentu langsung menundukkan kepala dan memilin-milin jemarinya karena merasa gugup. Bayangkan, dia saat ini tengah terjebak di Alfamart bersama dengan Fahar si model dan aktor terkenal di ibu kota. Jadi, sudah pasti gugup dan tidak percaya itu dia rasakan.


"Maaf yah, gara-gara mau nganterin aku, Tuan jadi terkena macet." Airin bicara sedikit gugup. Fahar yang mendengar itu tersenyum dan langsung menghela napas.


Sekarang mereka sedang berada di teras Alfamart yang berada di sekitaran Glora. Mereka berdua duduk di kursi besi dan meja besi yang sama dan tentu saja ditemani oleh kopi. Farhan tanpa kopi, bagaikan dia makan tanpa nasi. Tidak lengkap gitu.


"Santai aja. Kopinya di minum, Wi." Sebenarnya ini bukan kali pertama Farhan mengantar Dewi pulang. Mungkin, sudah dari seminggu yang lalu, dia dan Dewi sering pulang bareng.


Hal itu terjadi, karena setiap jam lima sore. Farhan mengunjungi butik Airin, berniat menjemput wanita itu, tapi dia tidak pernah bertemu dengannya. Hanya ada Dewi yang dia temui dan dari pada sia-sia, Farhan memilih untuk mengantar Dewi.


"Satu lagi, berhenti panggil aku Tuan. Emang aku setua itu untuk kau panggil begitu, hah?" Dengan sedikit bernada kesal, Farhan bicara dan Dewi yang melihat itu langsung menegakkan kepalanya, lalu menatap syok ke arah laki-laki yang duduk di sebelah kirinya.


Farhan tergelak saat dia mendapati kedua mata Dewi mendelik, "Kenapa kamu selalu kaget begitu sih? Apa aku menyeramkan, hingga-"


"Enggak, malahan sebaliknya. Kamu itu kelihatan sangat menawan, hingga rasanya mau mati saat- maaf aku lancang." Dewi menyudahi ucapan frontal yang dia lakukan. Farhan yang melihat itu kembali tergelak. Setidaknya bersama Dewi, dia sedikit mampu meredakan hatinya yang menjerit sakit.


Sementara Dewi, wanita itu memerah dan dia mulai salah tingkah, "Kopi," ujarnya sembari meriah gelas kopi bertulisan Bean yang terbuat dari kertas tebal, lalu menyeruputnya.

__ADS_1


Farhan menyudahi tawanya. Laki-laki itu menelisik rintikan hujan yang saat ini turun di depan mereka., "Dewi," panggilnya, membuat Dewi menoleh melihat ke arahnya.


"Seandainya aku mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini ke Airin, itu enggak salah, 'kan?" tanya Farhan dan hujan yang tadinya rintik-rintik, langsung berubah deras. Jam lima yang seharusnya dihiasi oleh bias jingga, malah saat ini kelihatan gelap, segelap dunia di saat petang. Semua itu karena adanya awan mendung yang mengarak-arak sang surya untuk lebih cepat bertolak dari peraduannya.


__ADS_2