Pelabuhan Hati Airin

Pelabuhan Hati Airin
Chapter 06. Dia Yang Baik dan Dia Yang Buruk.


__ADS_3

..."Aku rindu teh hangat dan sup yang kau buat di awal Desember waktu itu. Jadi, bisakah kau kembali dan kita mengulang itu lagi?"...


...Dari Julian Pranata untuk, Airin...



Malamnya, hujan pun menguyur kawasan Tanah Abang dan sekitarnya. Khususnya kompleks perumahan Auri yang berlokasikan dekat Ruko Alfa no. 27 LOS F, Jakarta Pusat, Indonesia dan Airin adalah salah satu penghuni rumah yang ada di sana.


Wanita itu tidak menyewa dan Alhamdulillah dia membeli satu rumah berlantai satu dengan halaman depan yang hanya muat satu mobil. Dia memilih kompleks perumahan itu dengan alasan, sangat dekat dengan petokoan. Lebih-lebih tempat ini hanya berjarak 7 kilometer dari toko butiknya.


Di sebuah rumah yang berada tepat di ujung kompleks, terlihat suasananya masih gelap. Padahal bangunan-bangunan yang ada di sebelah kiri dan depannya sudah terang, karena lampu-lampu semua telah dinyalakan. Hanya satu rumah itu saja yang gelap, tapi saat kilat menyambar area itu akan sedikit menerima cahaya hingga halaman depannya yang sudah terparkir oleh mobil, kelihatan.


Ada mobil berarti di rumah gelap dan terkesan sunyi itu ada penghuninya dan teryata orang yang menempati bangunan itu saat ini tengah meringkuk di dalam kamar, membekap diri dengan selimut, dan membiarkan semua lampu mati.


Di sana tidak ada suara apa pun selain denting jam yang bersahutan dengan rintikan hujan dan suara isak tangis yang keluar dari mulut, Airin.


Orang yang ada di atas ranjang itu adalah Airin. Setelah kejadian di Djurnal Coffee siang tadi, dia langsung kembali pulang. Meninggalkan desain baju yang belum jadi di kantor. Alih-alih memikirkan tentang itu, saat ini dia justru memikirkan perasaan Julian.


Aneh ya. Siang tadi dia begitu keren karena melawan Julian dengan sangat berani. Bahkan lebih kerennya lagi, dia siang tadi mengacuhkan Julian.


Padahal waktu Julian melontarkan kata-kata "hidupku berbelit juga karena dirimu" itu, Airin hampir menangis. Tidak bisa dipungkiri kalau memang dialah yang membuat, Julian seperti itu. Seandainya dulu dia tegas dan tidak menerima perjodohan itu, mungkin dirinya tidak akan pernah mengenal Julian dan semua tingkah jahanam laki-laki itu.


Mungkin jika dia tidak sok jadi wanita kuat, semuanya tidak akan serunyam ini. Dia tidak tahu sejak kapan Julian jatuh hati kepadanya. Padahal dalam menjalani pernikahan, tidak ada kata romantis, lagu romantis, atau bahkan kelakuan romantis yang laki-laki itu lakukan selain, pembabuan. Jadi, bisakah orang jatuh cinta karena sering menjadikan wanita itu seorang pesuruh?


Lebih lagi di sini Airin yang paling bodoh. Dia aneh karena bisa jatuh cinta kepada Julian yang jelas-jelas menjadikannya kacung dan alih-alih seorang istri.


Memang Julian menganggapnya kacung, menganggapnya selayak pembantu, pun barang rongsokan. Airin tidak jatuh cinta karena itu, tapi ada satu sifat yang membuat dia menanamkan benih suka kepada, Julian.


Jangan berpikir kalau Airin cinta karena akting sok sayang yang Julian lakukan jika berhadapan dengan keluarganya, karena itu bukanlah sifat yang Airin maksud. Namun, lakon yang mantan suaminya itu lakukan juga menjadi salah satu poin penting, yang membuat Airin semakin cinta.


Airin mereda suara isak tangisnya saat dia mendapati ada satu notif pesan masuk ke ponslenya yang tergeletak di atas ranjang sebelahnya. Wanita itu meraih benda pipih tersebut, membukanya dan dia langsung masuk ke dalam room chat nomer yang tak tersimpan di kontak ponselnya.


"Aku rindu teh buatanmu, rindu sup hangat yang sering kau buatkan jika sudah masuk bulan Desember. Jadi, pulanglah. Aku memang bejad, tapi sebejad-bejadnya orang, dia masih bisa berubah 'kan?"


Setelah membaca itu, Airin langsung memblokir nomer tersebut. Dia keluar dari room chat dan kedua mata berkabutnya mendapati deretan pesan dari puluhan nomer yang telah terblokir dan semuanya adalah milik Julian. Jadi, bisa kalian bayangkan berapa kali laki-laki itu sudah mengganti nomor.


Airin menghela napas. Ternyata tahun ini sudah memasuki awal Desember yang di mana tinggal beberapa Minggu lagi tahun akan berganti. Namun, Airin tenang karena hal itu. Dia suka Desember karena di bulan-bulan ini bunga Flamboyan akan bermekaran dan dia suka Desember karena di setiap hari pasti aroma Petrichor akan mengerubungi bumi.


Airin tersenyum simpul. Kesedihan yang tadi membekapnya, entah kenapa langsung menghilang saat mendapati pesan singkat dari sang penggangu.

__ADS_1


"Maaf aku masih bingung ingin kembali atau tidak. Tapi, jika kau rindu teh dan sup hangat buatanku. Aku akan membuat itu, karena aku juga suka saat di mana melihatmu memakannya dengan lahap setelah menghina itu."


Airin tersenyum. Dia beranjak dari atas ranjang dengan sedikit menyengir mengingat kejadian saat di mana, waktu itu tepat di malam hujan bulan Desember.


"Eh, Mas. Kau sudah pulang?" Dengan sedikit kaget, Airin berucap saat mendapati Julian yang sedikit kuyup berdiri di sisi meja makan dengan mimik wajah datarnya.


Airin mematikan kompor dan langsung beranjak mendekati suaminya. Airin hendak mengeluarkan tangan untuk bersalaman, tapi Julian jauh lebih dulu melemparkan jasnya tepat ke wajah sang istri.


"Dari luar aku memanggilmu puluhan kali dan apa yang aku dapatkan. Kau asik di sini. Kata tidak berguna emang cocok untuk rongsokan sepertimu."


Julian beranjak masuk ke dapur. Dia melihat ke dalam panci untuk memindai apa yang istrinya itu buat, "Sup, makanan sampah apa ini? Apa kau kehabisan uang untuk membeli bahan makanan yang sedikit menggugah?" Tidak puas dengan perkataan tajamnya tadi, Julian kembali menghina makanan buatan Airin. Padahal laki-laki itu sangat suka dengan sup, tapi jika itu dibuat dari tangan Airin maka apa yang dia sukai langsung dia benci.


Airin sedikit memasukan kata-kata Julian ke dalam hati, tapi biar begitu dia tetap tersenyum. Bahkan dia langsung berjalan mendekati sang suami, menarik otot lengannya, dan langsung menyeret laki-laki itu untuk duduk di kursi meja makan.


"Aku tidak tahu kau membenci sup, tapi Mamaku waktu itu sering kali buat makanan ini jika sudah mendekati musim penghujan. Katanya bisa menghangatkan. Jadi, aku membuatnya. Lagian bukankah kita harus mencicipi dulu sebelum menghina masakan." Airin berujar panjang lebar.


Julian yang mendengar itu bungkam. Bahkan dia tidak melontarkan kata-kata berhenti untuk menghentikan Airin yang saat ini beranjak ke dapur, untuk mengambilkannya sup.


"Makan dan komen rasanya setelah nanti aku kembali dari menyiapkanmu air hangat."


Itu adalah kejadian saat Airin dan Julian baru beberapa bulan menikah. Entah kenapa mengingat itu, Airin tertawa kecil. Padahal di sepenggal memori itu tidak ada yang lucu selain alasan Julian saat, Airin mengetahui kalau supnya habis.


"Dasar Jul-"


Airin menggelengkan kepalanya dan kedua sudut bibirnya kembali terangkat untuk membuat seutas senyum simpul, "teh hangat sepertinya bisa menemaniku membuat desain bajunya. " Setelah itu Airin beranjak pergi dari dalam kamarnya yang gelap.


***


Pagi harinya Airin bangun karena mendapati ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Wanita itu terlihat bangkit dari tidur duduknya dengan kodisi mata yang masih setengah terpejam.


Keasikan menggambar membuat, Airin tak kenal waktu dan malah tidur di meja kerjanya yang dipenuhi oleh puluhan gumpalan kertas.


"Iya sebentar!" Airin berteriak sembari menguap. Dia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk menghilangkan rasa pegal di punggung dan beberapa sendi lainnya.


Airin membuka mata lebar-lebar dengan air muka yang kelihatan kesal saat mendengar ketukan pintu itu semakin brutal. Dia dengan muka masih bangun tidur pun tanpa hijab langsung keluar dari dalam kamar, meninggalkan puluhan sampah kertas yang berserakan dan banyak lagi.


"Siapa sih pagi-pagi udah ngusik ketenangan orang." Dengan bernada sedikit menggerutu, Airin meriah gagang pintu masuk rumahnya. Dia memutar kunci dan setelah terbuka, wanita itu menarik lawang ke dalam.


"Hai, Good Morning." Airin membuka mata sempurna, mimik wajahnya seketika cengo saat mendapati seorang laki-laki mengucapkan selamat pagi dengan wajah cerah.

__ADS_1


Sesaat otaknya berhenti karena entah kenapa wajah laki-laki itu membuat pikirannya langsung kosong, tapi kesadarannya malah kembali seutuhnya.


"Kenapa kau terkejut seperti itu, Rin?" Raka menjentikkan jari, membuat Airin yang menganag langsung sadar dan langsung memperlihatkan senyum sumringah.


"Kau sudah kembali?" tanya Airin dengan nada tidak percaya kepada Raka yang sudah memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana. Sok keren ceritanya, tapi dia memang keren sih.


"Kalau aku belum kembali, mana bisa aku berdiri di depanmu," Raka menjawab dengan penuh gaya. Airin yang mendengar itu semakin tersenyum dan sedetik kemudian dia langsung memeluk, Raka. Sungguh, pelukan rindu yang sangat erat.


"Aku merindukanmu," ujar Airin dan Raka yang mendengar itu tersenyum simpul. Dia bergerak membalas pelukan wanita itu.


"Aku lebih merindukanmu. Setahun tidak melihatmu membuat rasa kangen ini tersimpan dan sekarang meluap," ujar Raka dengan gayanya yang seperti biasa.


"Apakah pantas berpelukan seperti itu di tempat umum?" suara seorang laki-laki yang sinis terdengar dari rumah sebelah kiri, Airin.


Airin yang mendengar suara itu tentu saja langsung mengurai pelukannya dan menoleh ke kiri. Wajahnya kembali dibhat kaget saat di sana, dia melihat Julian tengah berdiri melihat ke area rumahnya dengan pakaian santai.


"Seharusnya aku tidak memilih kompleks perumahan ini, jika tahu tetanggaku seburuk kau," timpal Julian dan laki-laki itu masih menatap sinis ke arah Airin dan juga Raka.


"Sejak kapan kau pindah ke sini?" tanya Airin dengan nada bicara lambat.


Sungguh pertama dia dikagetkan dengan kedatangan Raka dan kemudian disambut oleh Julian yang ternyata menjadi tetangganya. Apakah itu kebetulan?


Bersambung....


Hai, aku bawa cerita baru lagi nih. Horor-horor sedep dan nagih untuk dibaca. Judulnya, "Misteri Kematian Renata" karya dari kakak, "Anisa Mufida"



Renata adalah hantu yang ingin menuntut balas akan kasus kematian tragis yang di alaminya setelah di bully dan di lecehkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Ia meminta bantuan kepada seorang gadis indigo penakut bernama Fanya.


Akan kah Fanya berhasil membantu nya?


Ikuti terus kisah mereka hanya di


*Misteri Kematian Renata*


***


"Sejatinya orang yang sudah disakiti puluhan kali mana mau kembali. Aku pun salah satu bagian dari mereka. Jadi, maaf bagiku tanpamu adalah ketenangan bagiku, untuk saat ini."

__ADS_1


Airin untuk Julian


__ADS_2