
"Semua yang kau beli untuk wanita yah. Seperti parfum, krem wajah, dan bahkan pembalut. Apa kau mens?" Julian bertanya dengan sedikit berbisik. Entah kenapa malam ini dia menjadi orang yang begitu sangat tolol.
Padahal sudah jelas di sini kalau Kai itu laki-laki, tapi lihatlah kata-kata yang dia keluarkan, "Ini memang untuk perempuan."
Kai menjawab dengan datar dan sedikit tak acuh. Setelah mengatakan itu, pemuda itu berlalu ke kasir. Julian yang melihat itu ikut pergi, tapi sebelumnya dia terlebih dulu mendekati lemari es tempat aneka kopi di simpan. Di sana, Julian mengambil dua kaleng Nescafe dan kemudian, dia pergi menyusul mantan adik iparnya itu.
Seperti yang dikatakan laki-laki itu, dia memang langsung pergi dari rumah Airin. Dia melakukan itu hanya untuk menenangkan suasana meja makan yang tegang karena pertikaiannya dengan Raka.
"Pacarmu?" Julian bertanya dengan berbisik tepat di depan telinga Kai.
"Teman," jawab singkat Kai sembari meletakkan belanjaannya di atas meja kasir.
"Ada tambahan? Kami ada promo ini-"
"Hanya itu," sela Kai menghentikan perkataan dari mbak penjaga kasir.
Mbak penjaga kasir itu tersenyum, lalu mulai mentotal belanjaan Kai, "Semuanya jadi 150 ribu."
__ADS_1
Kai langsung menyerahkan uangnya, lalu kemudian pergi keluar dan memilih menunggu Julian di meja warna merah yang ada di luar.
"Hanya ini saja, Mas?" tanya Mbak kasir itu dan Julian hanya menganggukkan kepalanya.
Seperti yang dilakukan kepada belanjaan Kai tadi, Mbak kasir itu mentotal barang yang dibeli Julian, "28 ribu, Mas."
Julian mengangguk dan laki-laki itu langsung menyerahkan uangnya, lalu meraih dua kaleng Nescafe, kemudian berlalu pergi meninggalkan kembaliannya.
"Ini minum dulu." Julian meletakkan satu kaleng Nescafe di atas meja, tepat di sebelah Kai.
Kai tersenyum, "Makasih, Kak," jawab laki-laki itu, membuat Julian menganggukkan kepalanya.
"Yakin, Kak. Orang dia aja udah punya pacar."
Julian tiba-tiba batuk. Laki-laki itu langsung menatap ke arah Kai dengan sorot mata yang terkejut, "Terus, kenapa kamu masih deketin dia?"
"Aku sayang dia, walau dia menyayangiku hanya sebatas teman," jawab Kai dengan nada yang sangat-sangat enteng. Laki-laki itu meneguk minumannya, tanpa memperdulikan tatapan mencela dari mantan kakak iparnya.
__ADS_1
"Kakak pasti mengira aku goblok," tebak Kai sembari melihat ke arah Julian dengan tersenyum sumir, "iya, kuakui kalau aku memang goblok."
"Terus, kenapa kamu enggak ungkapin perasaanmu yang sebenarnya ke dia? Kakak yakin kalau kamu pasti belum ngelakuin itu, iya, kan?"
Kai diam seolah kata-kata Julian tadi benar. Iya, dia memang belum mengakui perasaan yang sebenarnya kepada si temannya ini. Dia dari SMP udah memendam perasaannya sendiri.
"Pasti takut kalau dia juga tidak merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan. terus setelahnya, kalian bubar karena saling canggung. Anak muda sekali yah." Julian kembali menebak dan itu lagi-lagi benar.
Kai hanya bisa diam menatapi tetesan air sisa hujan yang menetes dari atap Alfamart, "Kakak sendiri. Kenapa malah kejer-kejer Kak Airin lagi? Bukankah dulu, Kakak yang minta berpisah."
Julian diam, tapi laki-laki itu mengulas senyum. Dia bergerak meletakkan kaleng Nescafenya, "Jawabannya mudah. Aku jatuh cinta disaat-saat terkahir kepada Kakakmu. Sekarang tujuanku hanya satu, kemabli rujuk dengannya. Kamu mau 'kan, jadi adik iparku lagi?"
#Bersambung
...Okeh. maaf telat up gaes....
...Btw, aku cuma mau kasih tahu kalian....
__ADS_1
...Ayok! Ramaikan sekarang!...