
"Wah, ternyata udah rame aja nih rumah." Haidar yang baru pulang langsung kaget saat melihat ruang keluarganya yang penuh, "ada Daya juga. sini, Nak!"
Jason langsung berlari ke pintu masuk rumahnya. kakinya yang kecil begitu kelihatan lincah. Bahkan bocah itu langsung berteriak dan melompat ke tangan kakeknya.
Haidar tentu saja langsung mengangkat tubuh kecil cucunya dan setelah berada di gendongan, laki-laki paruh baya itu tidak lupa memberikan ciuman bertubi-tubi yang membuat Jason menjerit.
"Geli, Kadal." Ditengah rasa geli yang dia rasakan, Jason mengadu. Bocah laki-laki itu emang memanggil kakeknya dengan nama Kadal. Bukan Kadal hewan yah, tapi itu adalah singkatan dari panggilan Kakek Idal.
Awalnya Jason memanggil kakeknya itu dengan panggilan biasa, tapi Haidar yang pikirannya agak miring malah memberikan saran kepada cucunya utuk dia dipanggil dengan, Kadal saja. Estetik katanya.
"Pa, sudah. Nanti Jason kencengin, Papa." Kai yang berada di belakang Haidar menyeletuk dan membuat laki-laki tua itu menoleh sinis ke arah belakang.
"Udah kamu diam aja. Lebih baik ke kamar aja sana. Apa belum puas kamu rusakin permainan catur, Papa?"
Kai berdecak kesal dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah, "Kalau bukan karena Mamah yang suruh, Kai juga enggak mau hujan-hujanan ke rumah Pak Sueb. Apa lagi sampe ketemu anaknya."
"Bilang aja kamu itu suka sama Janah. Cinta kok malu-malu. lemah banget." Kai memilih tidak menghiraukan perkataan ayahnya itu dan dia malah berjalan masuk lebih dalam.
Haidar juga ikut berjalan dan dia berhenti tepat di ruang keluarga. Di sana sudah ada Dafa anak sulungnya, lalu ada Julian mantan menantunya, dan terakhir ada Raka sahabat sekaligus laki-laki yang naksir ke anaknya.
"Udah lama kalian?" tanya Haidar sembari duduk di singel sofa.
"Lama."
"Baru."
Julian dan Raka bicara bersamaan, membuat Haidar melongo dan Dafa malah cekikikan. Sementara mereka berdua langsung saling tetap dengan sorot mata yang begitu sengit. Mungkin jika di animasikan, saat ini mereka tengah saling bertukar laser.
"Mereka lumayan lama, Pah. Lihat aja cangkir kopinya udah kosong." Dafa menengahi dengan masih mengeluarkan kekehan kecil. Jujur saja yah. Dafa saat ini merasa sangat konyol jika melihat Julian dan Raka. masalahnya, dua orang itu sama-sama menginginkan adiknya. Satu adalah sahabat kecil dan satu lagi mantan suami.
__ADS_1
"Oh, maaf yah. Tadinya kami itu berniat bakar-bakar loh di taman belakang. Tapi, karena hujan. Kita makan-makan di dalam aja yah. ngomong-ngomong nih yah, Raka gimana kabar-"
"Daya pengen mama. Anter Daya ke mama, Kadal!" Jason merengek dengan memanggil dirinya menggunakan nama Daya.
"Jason ...." Dafa memperingati anaknya, membuat Jason bersembunyi di balik ketiak kakeknya.
"Kalian ngobrol-ngobrol dulu aja yah. Papa mau ke belakang. Anter si Daya ke mamanya dulu, terus pergi nengokin Jojo bentar." Haidar bangkit dari duduknya dan langsung pergi ke masuk ke dalam rumah. Dia bahkan tidak memperdulikan bibir Dafa yang monyong karena mengomentari panggilan yang dia gunakan untuk, Jason.
"Ternyata Papa enggak ada berubahnya yah, Kak." Julian dan Raka berucap secara bersamaan dan itu, membuat Dafa menatap ngeri kepada dua laki-laki penyanjung adiknya.
"Kalian dari tadi sehati yah. Apa jangan-jangan kalian udah-"
"Maaf, aku masih normal."
Julian dan Raka kembali berbicara secara bersamaan. Mereka berdua yang merasa kesal, langsung saling melayangkan tatapan jauh lebih tajam. Beruntunglah Airin sudah pergi ke dapur. Jika wanita itu masih di sini, mungkin dua orang itu masih tidak akan tenang.
***
Selepas Isa, gerimis yang tadinya turun disekitaran Tanah Abang sudah menjelma menjadi hujan yang lumayan deras. Saat ini, seluruh keluarga Airin sedang berada di meja makan. Termasuk, dua laki-laki itu. Siapa lagi, kalau bukan Raka dan Julian.
"Kenapa kamu enggak ambil ikannya, Julian? Enak loh. Airin yang goreng tadi." Lestari memulai obrolan, membuat semua pasang mata mengarah ke arah Julian yang saat ini duduk di sebelah kiri, Airin.
"Benarkah. Kalau begitu aku-"
"Kamu itu enggak suka ikan. Jadi, jangan bertingkah. Makan aja ini ...." Airin mengambil sepotong daging paha ayam dan langsung meletakkan di sisi piring Julian, "ini juga ...." Airin kembali menyendok tempe yang digoreng dengan kacang panjang, lalu dia letakkan di sebelah ayam.
"Kamu masih ingat? Pantas saja masakannya tidak asing." Tiba-tiba Julian menyeletuk, membuat Raka tersedak dan langsung meneguk minumannya. Airin yang ketahuan, langsung menormalkan sikap dan memilih fokus ke makanannya.
Di sisi keluarga Airin. Mereke, Haidar, Lestari, Dafa, dan Maya mengulum senyum. Jika boleh jujur, mereka itu ingin sekali melihat anaknya dan Julian balik lagi seperti dulu dan memulai kisah yang baru. Namun, dia juga tidak menolak sosok Raka.
__ADS_1
Mereka juga menyukai Raka. Mulai dari tutur bahasanya, cara dia berkomunikasinya, cara dia bersikap, dan banyak lagi. Raka itu intinya anak yang sopan santun, berbeda dengan Julian yang lebih ke seorang laki-laki yang blak-blakan.
"Makasih yah. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa memakan masakanmu lagi. Aromanya tidak berbuah dan semua nampak lezat meski sederhana."
"Jangan lupa juga tentang betapa bajingannya sikapmu itu." Raka mulai bersuara dan tiba-tiba saja, suasana di meja makan berubah tegang, "jujur, aku sangat muak melihat sikap yang kau keluarkan," imbuh laki-laki itu, membuat Airin tersentak dan menunduk diam.
"Setidaknya aku tidak munafik sepertimu." Julian angkat bicara dan matanya langsung menyorot ke arah Raka yang duduk di sebelah kanan, Airin.
"Dulu aku memang bajingan, aku brengsek, tapi itu satu tahun yang lalu. Kau tahu, setiap orang pasti bisa berubah dan aku pun diberikan kesempatan seperti itu," imbuh Julian dan itu berhasil membuat rahang Raka mengetat.
Raka marah bukan karena kata-kata terakhir tadi, tapi dia tersulut lantaran mendengar kata munafik sebelumnya, "Kau menilai aku munafik dari mana?" tanyanya, membuat Julian menyeringai.
Laki-laki itu bangkit dari duduknya, membuat Airin menoleh, "Entah, aku juga tidak tahu. Mungkin yah tahu lebih banyak itu kau sendi-"
"Kai, mau kemana kamu malam-malam gini? Haidar yang tidak sengaja melihat anak bontotnya turun dengan pakaian yang begitu rapi, langsung menyela. Sepertinya laki-laki paruh baya itu berniat untuk menenangkan suasana tegang di meja makan.
"Ke Alfamart bentar." Kai menjawab dengan singkat dan laki-laki remaja yang baru naik ke kelas dua SMA itu langsung nyelonong pergi.
"Abang ikut Kai. Entah kenapa di sini sesak." Julian memilih pergi, membuat Airin melebarkan pupil matanya terkejut.
#Bersambung
...Okeh gaes. Apa kabar kalian? Masih ada yang pantau kisah ini?...
...Okeh, kita mulai rutin lagi yah. Untuk pembukaan, aku kasih lima bab dulu....
...Untuk hari ke depannya, aku bakalan usahain up 2 part perhari. Ini usahain yah, bukan janji....
...Well, selamat datang kembali untukku. Semoga kalian masih setia membaca kisah ini. End, jangan lupa hadiah, vote, komen, dan like kalian....
__ADS_1