
Tidak ada obrolan serius yang mereka lakukan. Malahan sedari tadi dua orang mantan pasangan suami istri itu hanya diam dan menunggu pesan mereka dibuat. Di luar ramai lalu-lalang orang-orang tidak surut, banyak anak muda yang juga sekadar nongkrong dan berbagi kisah jenaka mereka masing-masing.
Bahkan Julian sampai bisa mendengar suara gelak tawa mereka yang samar-samar dia dengar anak-anak itu membicarakan tentang guru sejarah mereka.
Julian berdahem untuk memecah kesunyian di antara mereka. Airin yang mendengar itu langsung kaget dan salah tingkah. Entah kenapa kalau saat ini dia merasa di posisi yang awkward.
"Untuk kejadian di kuar tadi."
"Hah, yang mana?" Airin yang dilanda kegugupan, langsung dibuat salah tingkah. Dia yang saat ini tidak mengenakan hijab, bergerak menggaruk kepalanya dengan membuang muka ke sisi kiri. Intinya, dia tidak ingin melihat Julian.
"Yang tadi itu, maaf." Julian juga ikut salah tingkah. Sungguh, baru kali ini dia begitu sangat malu dengan hal semacam itu. Entah, dulu saat bersama Clara, Julian merasa baik-baik aja.
"Enggak perlu minta maaf, aku huga enggak inget tadi ada kejadian apa," jawab Airin dengan bergumam, membuat pupil mata Julian membesar karena tidak mendengar apa yang dikatakan mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu bilang apa?" tanya Julian dengan kikuk dan sedikit menyunggingkan senyum gugup. Saat ini dia juga sedang memainkan rak penyimpanan sendok, sumpit, dan garpu. Katanya mau buat sedikit kebisingan agar memecah suasana canggung yang sedang menyelimuti mereka.
Airin lagi-lagi kaget. Dia menoleh cepat ke arah Julian, "Eh, enggak ada. Tadi aku lihat ada ini, apa namanya lu-"
"Ini pesanannya Mbak, Mase." Seorang wanita berlogat Jawa kental menyela omongan, Airin.
Airin tersenyum seolah dia mendapatkan satu alasan untuk menghindari pertanyaan Julian. Sementara Julian. Laki-laki itu langsung meriah mangkuk baksonya, menariknya, lalu kemudian memposisikan mangkok itu berada di hadapannya.
"Makasih ya." Airin dan Julian berucap secara bersamaan, membuat mereka saling menatap dan melemparkan senyum canggung. Sungguh, dua orang dewasa itu saat ini kelihatan seperti remaja yang baru puber. Tapi, entah kenapa keliatan manis. Bahkan beberapa orang yang bisa dibilang enggak muda lagi tersenyum malu-malu. Entah baper atau kenapa yang jelas dia terhibur dengan kelakuan dua orang yang duduk di sebelah mereka.
Airin yang masih canggung langsung mengambil sendok dan garpu itu dari tangan Julian, "Makasih. Tapi, aku bisa ambil sendiri dan kamu enggak perlu repot-repot."
Julian hanya tersenyum. Laki-laki itu meriah botol saos tomat dan dia bersiap untuk menuangkan isinya ke dalam mangkok bakso bening, tanpa ada campuran apa pun di sana. Tidak ada mie juga.
__ADS_1
"Eh, kamu mau apa? Bukannya kamu tidak bisa makan sambel-sambel kayak gini." Julian tidak jadi menuangkan isi saos tomat yang ada di dalam botol.
"Jangan campurin itu. Nanti kamu sakit perut, siapa yang ngurus?" imbuh Airin yang tiba-tiba saja berubah perhatian. Wanita itu bahkan sampai merampas botol saos tomat itu dari tangan mantan suaminya.
Julian tidak melakukan apa-apa. Pria itu hanya tersenyum sembari menopang sisi kanan wajahnya. Ternyata dia memilih untuk memperhatikan Airin yang saat ini mendumel dengan ekspresi wajah yang bersungut-sungut
"Kamu cantik." Tanpa sadar Julian mengeluarkan kata-kata pujian, membuat gerakan Airin yang sedang mengaduk baksonya terhenti. Bahkan beberapa orang yang duduk di sebelah mereka pun, langsung tersedak.
"Mau jadi istriku lagi enggak?" Ini sudah ketiga kalinya Julian meminta dan bednaya dengan yang sebelumnya adalah, dia saat ini terang-terangan mengajak Airin untuk menjalin hubungan suami istri lagi di depan umum.
Airin bersemu merah. Wanita itu memilih bangkit dari duduknya dan kemudian beranjak pergi dari warung bakso itu dengan langkah kakinya yang tidak baik-baik saja.
"Airin, aku becanda." Julian kelabakan dan laki-laki itu langsung bergerak cepat untuk menyusul sang mantan istri yang sudah membaur dengan para pejalan kaki di luar sana. Dia tidak lupa meninggalkan uang seratus ribuan untuk membayar bakso yang belum sama sekali mereka nikmati.
__ADS_1
#Bersambung