Pelabuhan Hati Airin

Pelabuhan Hati Airin
Chapter 05. Hujan dan Kenangannya


__ADS_3

...Halo-halo....


...Apa kabar semuanya?...


...Maaf yah karena aku hiatus hampir satu bulan. Sumpah, pas puasa jalan kerja otakku sempit....


...Tapi, aku sudah kembali nih....


...Btw, sebelum ke cerita. Aku ingin mengucapkan Minal'aidzin Walfaidzin mohon maaf lahir dan batin yah....


...moga suka dengan part ini...


..."kata orang hujan itu disukai oleh manusia-manusia galau dan aku percaya itu. Kenapa? karena aku sudah merasakan saat di mana setiap butiran hujan memunculkan ingatan tentang dirinya."...


...Dari, Julian Pranata...



"Wah, apa ini skandal antara desainer dan model?"


Airin menghentikan gerakannya yang tadi sudah siap memasukkan sendok ke dalam mulut, karena dia mendengar suara yang begitu tidak asing di telinganya.


***


Entah kenapa puluhan dialog yang terjadi di dalam Djurnal Coffee tiba-tiba lenyap. Semua itu karena ucapan yang tadi keluar dari mulut, Julian.


Iya, orang yang tadi menyeletuk itu adalah Julian. Saat ini laki-laki itu tengah berdiri angkuh tak jauh dari meja yang diduduki oleh, Airin dan Farhan. Bahkan sudut bibirnya membentuk sebuah smirk tipis yang membuat mimik wajahnya terkesan puas, karena berhasil menarik perhatian.


Sementara di sisi Airin. Saat ini dia tengah diam dengan tangan yang masih tergantung di udara pun kepala belum menoleh untuk melihat ke arah orang yang tadi menyeletuk. Namun, sepertinya dia tidak perlu memindai siapa dia karena dari nada bicaranya, Airin tahu siapa orang itu.


Dia memilih meletakkan kembali sendok yang berisikan potongan kue cokelat ke atas piring. Moodnya hancur. Iya, wanita itu langsung kehilangan mood bersamaan dengan suara bisik-bisik yang mulai memenuhi Djurnal Coffee.


"Skandal apa? Masa iya Farhan kita menyukai wanita seperti itu."

__ADS_1


Satu bisikan dari sekumpulan gadis muda berhasil merambat ke gendang telinga, Airin. Wanita itu menghela napas dan langsung bergerak bangkit dari duduknya.


"Rin-"


"Mau apa kau ke sini?" Entah sejak kapan Airin sudah berdiri di depan Julian dengan air muka yang sungguh sangat merasa terganggu dan tidak suka, "bukankah lebih baik kau menghilang dan jangan pernah menunjukkan diri lagi di depanku, Iyan!" imbuhnya dengan sorot mata tajam.


Sudah cukup dia menjadi sosok baik di depan Julian. Satu tahun berpisah dan satu tahun menghirup udara segar, membuat Airin sadar kalau tiga tahun kebersamaannya dulu dipenuhi oleh kekangan. Airin merasa kalau dulu tempat dia menetap adalah sebuah sangkar yang mengekang dirinya dengan segala tingkah buruk Julian.


Sekarang wanita itu berbeda dengan dulu. Mungkin dulu Airin akan langsung menunduk patuh, jika melihat mimik wajah kesal yang ditunjukkan oleh Julian saat ini. Namun, itu dulu dan semua sudah berlalu. Waktu satu tahun sudah berhasil membuat Airin mengembalikan pribadinya yang dulu sudah dia kubur dalam-dalam.


"Lebih baik kau hilang dari hidupku seperti yang kau lakukan satu tahun terakhir ini, karena jujur. Aku muak dengan kau dan jalan hidup berbelitmu." Setelah mengatakan itu, Airin beranjak pergi. Dia tidak peduli dengan keberadaan Farhan yang sedari tadi hendak bicara padanya.


"Hidupku berbelit juga karena dirimu." Julian bicara dengan sorot mata tajam menghadap ke depan yang di mana di sana, ada bayangan Airin yang tercetak di sebuah dinding terbuat dari kaca.


Julian memutar tubuhnya dan laki-laki itu langsung menangkap sosok Airin yang masih berdiri memunggunginya. Sekarang keadaan Djurnal Coffee semakin sunyi. Tadinya hanya para pengunjung yang diam menyaksikan, tapi ternyata semua barista ikut menghentikan aktifitas seolah, perdebatan yang saat ini terjadi lebih penting dari segalanya.


"Jadi, sudah sepantasnya aku datang dan membawa kembali orang yang sudah membuat hidupku berbelit ini, untuk memintanya bertanggung jawaban dan mengambilkan hidupku dari awal-"


Farhan yang melihat itu mengangkat tangan sedada, "Maaf, aku permisi!" Setelah mengatakan itu, dia berlari meninggalkan Bali Kintamani dengan sejuta rasa pahit dan beberapa lembar uang bayaran di atas meja.


***


Sorenya langit ibu kota Jakarta dibungkam oleh awan mendung. Khususnya di sekitaran Menteng yang di mana, awannya jauh lebih gelap dari daerah-daerah yang lain, seperti langit barat yang sekarang dia lihat.


Langit gelap, segelap apa yang tengah mengerubungi dirinya. Ternyata pilihan satu tahun untuk menjauhi Airin tidak lelah tepat. Seharusnya dia waktu itu tidak mengikuti keinginan keluarganya dan tetap kekeh meminta, Airin kembali.


Jujur, Julian merasa bingung sendiri dengan hidupnya yang tadi Airin katakan berbelit. Dia tidak tahu sejak kapan semua yang harus dia lakukan begitu sangat membutuhkan, Airin. Mulai dari air, makanan, dan segalanya dia bergantung kepada wanita itu, hingga satu tahun terkahir ini dia merasa kebingungan.


Seperti saat bangun tidur, dia akan meneriaki nama Airin. Namun, setelah itu dia sadar kalau wanita yang dia panggil itu telah pergi. Sesaat setelah dia menyadari itu, Julian pasti akan tertawa sumbang dan mencaci dirinya dengan kata "kenapa aku begitu bodoh".


Seperti saat ini. Dia yang masih terbalut pakaian kantor sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia di Taman Menteng. Julian di sana hanya duduk sendiri, di temani es krim mangga yang sudah dari tadi mencair.


"Apa aku sudah sangat melukainya hingga dia begitu marah." Julian bertanya pada embusan angin dan aroma Petrichor yang mulai berterbangan memenuhi Taman Menteng, karena perlahan hujan turun dengan rintik.

__ADS_1


Julian tetap duduk di kursi itu. Tangannya yang tadi menggenggam es krim, sudah sedari tadi melepasnya dan membuat makanan itu tergeletak di atas tanah.


Julian masih diam. Dia tidak peduli kalau saat ini sekujur tubuhnya tengah diguyur oleh rintikan hujan yang semakin lebat.


"Mas, buruan! Hujannya semakin lebat loh."


Julian tersenyum kecut saat suara teriakan Airin beberapa tahun lalu yang meminta dirinya untuk masuk ke rumah lantaran hujan, kembali terngiang di kepalnya.


Waktu itu kalau tidak salah dipertengahan Desember. Saat itu Julian sengaja berjalan pelan, karena ingin terkena air hujan. Namun, karena Airin yang berteriak dengan nada khawatir membuat dirinya terpaksalah kembali dengan cepat.


"Kenapa berteriak, hah? Mau mempermalukanku?"


"Bukan begitu, Mas. Nanti kalau ada geledek gimana? Aku berteriak karena menghawatirkan-"


"Omong kosong!"


Julian terenyuh saat mengingat itu. Jujur, dia merasa malu dengan semua itu. Waktu itu, dia merah hanya karena tidak diizinkan untuk main hujan. Kekanakan sekali.


Julian sebenarnya ingin sekali berdiri di tengah hujan, tanpa ada sedikit pun rasa takut kalau-kalau geledek menyambar. Namun, setiap kali air Tuhan ini jatuh. Dia pasti akan langsung mengasingkan diri ke ruangan tertutup agar tidak melihat sambaran kilat yang selalu saja menjadi pengiring salah satu Rizki Tuhan ini.


"Aku biarkan kali ini kau pergi, tapi dilain waktu aku jamin kau akan kembali masuk ke dalam duniaku." Julian bangkit dari duduknya dan langsung beranjak pergi meninggalkan hujan dan kenangan yang dibawanya.


Bersambung .....


Halo, aku ada rekomendasi karya temen untuk kalian lagi nih. pasti kalian akan ketagihan jika baca. Judulnya, "Suamiku CEO Cilok" Penulisnya, "TieTik"


Ceritanya kek gini yah👇



"Satu, sepuluh, seratus, seribu, dan bahkan sejuta kata maaf mungkin tidak akan bisa membuat luka hati yang telah aku torehkan padamu itu akan tertutup kembali. Tapi, entah kenapa aku hanya bisa mengatakan itu."


Dari Julian untuk Airin

__ADS_1


__ADS_2