
"Dia mau lari dariku yah? Enggak bisa. Setahun itu udah cukup buat kita berpisah." Julian menarik keluar kopernya dari dalam lemari.
Laki-laki itu menidurkan tas besar itu di lantai. Dia membuka zipper kopernya dan dengan gerakan yang begitu cepat, Julian memasukkan beberapa pakaian. Saat ini dia mencoba memasang telinganya setajam mungkin untuk mendengar aktivitas orang di sebelah.
Senyap, Julian keluar dari kamarnya. Laki-laki itu mengintip rumah sebelah dengan posisi tangan berpegangan di sisi ramon pintu masuk rumahnya, "Kopernya masih. Berarti mandi dulu bisa nih."
Dengan kecepatan yang tidak berubah, Julian kembali masuk dan mempersiapkan diri dengan durasi yang jauh lebih cepat dari Airin.
***
Sementara di rumah sebelah, Airin menaikkan satu alisnya saat dia mendengar sedikit kebisingan dari rumah Julian, "Laki-laki itu sedang apa sih? Enggak bisa banget tenang sehari," dumelnya dengan mata membulat.
"Siapa? Apa ada yang menggangunu?" Terdengar suara dari dalam ponsel menyapa gendang telinga Airin.
Airin berjalan keluar dari kamarnya. di pundaknya sudah ada handuk yang tersampir, "Tidak penting. Kita bahas yang penting-penting aja, seperti kamu di mana sekarang?" Airin bertanya dengan sedikit melengkungkan bibir sembari melirik sisi rumah bagian kirinya.
"Masih menunggu keberangkatan. Kamu emang enggak mau berangkat bareng?"
"Aku takut naik pesawat. Nanti kalau sudah sampai di sana, kamu laporan saja. Dewi ikut bareng kamu, 'kan?"
"Iya, ini ada di sebelahku. Mau bicara?"
"Enggak. Kalau begitu udah dulu yah. Inget kabarin aku. Soalnya aku kesan mau pakai kapal, jadi bakalan datang terlambat." Airin menjauhkan ponselnya dan melirik tajam ke sebelah kiri. Wanita itu kelihatan sangat kesal.
Airin menutup ujung bawah teleponnya, "Julian! Apa kau di sana sedang aerobik? Kenapa berisik sekali!"
Bukan jawaban manusia yang Airin dapatkan, tapi telinganya merekam suara seperti barang berbahan aluminium jatuh, "Juli-"
"Diamlah. Kau membuat konsentrasi yogaku kacau!"
Airin melongo saat dia mendengar jawaban laki-laki itu. Terlebih lagi, setelah laki-laki itu menjawab, ada beberapa barang lagi yang jatuh.
Airin membulatkan mata, "Kenapa laki-laki itu jadi aneh? Dulu saat bersamaku dia tidak begitu parah. Dasar, mau kaget dia laki-laki."
Airin memilih tidak peduli dan wanita itu melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi yang dekat dengan dapur. Berisap-siap jauh lebih berguna daripada mengurusi tingkah tetangga yang begitu abstrak. pikiran Airin begitu.
__ADS_1
***
Tepat jam sembilan, saat ini langit tanah Abang tengah diarak oleh awan mendung. Saat ini Airin sudah siap dengan setelan formalnya. Tentu hijab tidak lupa wanita itu kenakan.
"Kalian sudah sampai?" Airin bertanya sembari berjalan dan kedua tangannya pun saat ini sedang meronggoh tas mininya. Jangan tanyakan seperti apa dia membawa ponsel, saat ini wanita itu sedang mengapit benda pipih itu dengan kepala di miringkan hingga tertempel di pundak.
"Kami sedang dalam perjalanan ke ibu kotanya. Kamu kapan sampai? Setahuku akan lama jika kamu menggunakan jalur laut." Suara Farhan menyapa telinga Airin, membuat wanita itu bergerak membenarkan posisi kepalanya.
"Iya, itu lebih baik dan menyenangkan. Aku akan sampai mungkin 2 harian. Jadi, kalian nikmati saja suasana di sana dulu." Airin berjalan cepat ke arah pintu keluar rumahnya.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Hem, kalian juga. Sampai jumpa di sana yah." Airin menutup panggilannya teleponnya, "harus cepat sebelum kehabisan tiket kereta. Semua karena ulah Dewi yang memberitahukan secara mendadak."
Airin memasukkan ponselnya ke dalam tas mini dan dia ganti mengeluarkan kunci rumahnya dari sana, "Lihat saja. Sampai di sana, aku akan memberikan perhitungan kepada gadis itu," dumelnya sembari memutar kunci, untuk mengamankan pintu rumahnya. Setelah selesai, wanita itu berbalik dan betapa bahagianya dia saat mendapati ada mobil taksi yang terparkir di depan rumahnya.
"Apakah ini rezeki anak Soleh? Tuhan memang bermurah hati. Dia tahu waktuku tidak banyak dan membawakan taksi." Dengan derap langkah yang sangat cepat, wanita itu keluar dari pekarangan rumahnya.
Sesampainya di luar, dia kembali disibukan oleh aktivitas menggembok rumahnya, "Pak, Saya terima kasih banget. Entah Ansa muncul dari mana, tapi saat ini saya butuh tumpangan. Tolong antar ke Stasiun Senen."
"Mbak, maaf-maaf ini yah. Di dal-"
Perkataan sopir taksi itu berhenti karena ternyata, untaian kata itu kalah cepat dari gerkana tangan Airin yang membuka pintu, "Selamat pagi. Mau berangkat bareng?"
Airin melongo saat dia mendapati sosok Julian yang menyapanya dengan senyum lebar dan sebuah lambaian tangan, "kebetulan aku mau ke stasiun Senen," lanjut laki-laki itu, membuat Airin ingin membanting pintu dan pergi cari taksi lain.
***
Ternyata, keinginan wanita itu tidak terlaksana. Tadinya dia ingin sok jual mahal dan memilih mencari taksi lain, tapi bujtinya dia saat ini sedang duduk di sebelah Julian.
Tidak ada yang mereka lakukan selain duduk dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Seperti Julian yang sedari tadi main ponsel dan Airin yang hanya diam sembari melihat ke luar, tapi wanita itu sesekali melirik Julian.
Saat ini dia bingung. Entah kenapa akhir-akhir ini, dia dan Julian selalu bersama. Terlepas dari itu, yang membuat Airin bingung adalah, kenapa saat ini Julian dan dirinya punya tujuan yang sama.
"Apa yang kau lakukan?" dengan nada kecil, Airin bertanya.
__ADS_1
Julian yang sedikit menangkap suara itu mengalihkan pandangannya, "Apa?" tanyanya.
"Tidak ada," jawab Airin mencoba acuh dan kembali melihat ke luar. Dia menggigit kuku jari telunjuk kanannya.
Julian yang mendapati itu menghedikkan bahu, seolah ingin mengatakan ya sudah. Itu juga terbukti dari dia yang kembali fokus melihat ke ponselnya.
Lama laki-laki itu fokus melihat layar, tiba-tiba matanya membulat, "Sialan, kenapa tiket ke Surabaya selalu tidak pernah banyak tersisa di jam segini," Julian menyeletuk dengan bola mata melirik Airin, Untuk hari ini, tolonglah keberuntungan berpihak padaku, imbuhnya dalam hati.
"Sisa berapa?" tanya Airin tiba-tiba, membuat Julian bersorak girang di dalam hati. Padahal tadi dia hanya menebak dan ternyata keberuntungan hari ini lebih condong ke arahnya.
"Emapat dan aku bersyukur. Aku kira tadi bakalan habis dan diminta menunggu untuk bes-"
"Tolong pesankan satu untukku." Airin menyela dengan kedua tangan meraih lengan, Julian.
Julian memicingkan mata, "Maaf, aku tidak bisa. Kau aji sjaa yah, aku itu paling benci jika bersama seseorang di kereta. Empat tiket ini akan aku borong. Jadi-"
"Aku akan membayar dua kali lipat. Aku butuh. Jika tidak beranak sekarang, bisa-bisa aku ketinggalan kapal ke Lombok nanti."
"Lombok? buat apa? Apa menghadiri pernikahan?" Dengan sorot mata yang tajam, Julian menelisik, dapat lagi. makasih Tuhan, imbunya dalam hati.
"Kau tidak perlu tahu buat apa, tapi yang jelas aku akan pergi ke Lombok. Jadi-"
"Baiklah. Karena mengingat kamu adalah mantan istriku. Jadi, satu tempat duduk denganmu sepertinya tidak masalah." Dengan sedikit mengeluarkan mimik wajah yang sok, padahal dia dalam hati begitu sangat senang.
"Terima ka-"
"Jangan berterima kasih. Aku memberikan itu karena kamu mantan istriku dan tujuan kita juga sama."
"Maksudnya?" Airin mengeluarkan tatapan mata penuh selidik. Entah kenapa saat dia mendengar itu, ada perasaan janggal yang muncul di hatinya.
"Aku kebetulan akan menghadiri pernikahan temenku di Lombok. Jadi, pergi denganmu sepertinya akan jauh lebih menarik." Julian mematikan ponselnya dan langsung menoleh membuang pandangannya.
Airin saat ini sedang menampilkan wajah penuh marah, "Kau membuntutiku lagi yah?" tebak wanita itu dengan ekspresi yang siap menerkam.
#Bersambung
__ADS_1