
Seperginya Airin dan Julian dari warung bakso itu, terlihat sebuah mobil hitam melaju mengikuti dengan pelan. Di dalam mobil ada Raka. Tadinya, laki-laki itu hendak pergi ke rumah Airin untuk menjenguknya. Akan tetapi, belum sempat dia datang ke kawasan peruntukan, dia .alah jauh lebih dulu melihat Julian dan Airin di kawasan blok E. Parahnya, laki-laki itu melihat saat adegan ciuman yang tidak disengaja tadi.
Layaknya penguntit, Raka saat ini terus saja mengendari mobil dengan pandangan yang tidak lepas dari tingkah Airin dan juga Julian. Laki-laki itu tiba-tiba menginjak pedal rem saat dia mendapati Airin yang berhenti karena tangannya berhasil di cegat oleh Julian.
"Rin, kamu jangan marah gitu dong. Tadi itu aku hanya becanda doang, bener."
Samar-samar Raka mendengar suara Julian yang kedengaran panik. Laki-laki itu terus mengawasi. Dia tidak melakukan apa pun. Di jok samping ada sebuah bingkisan aneka buah. Raka membeli itu di super market dan dia niatnya akan memberikannya kepada Airin.
Akan tetapi, sepertinya dengan terpaksa sekeranjang buah itu akan bernasib tetap berada di jok. Dia bisa saja memberikannya sekarang, tapi entah kenapa hatinya menolak untuk melakukan itu. Malahan saat ini, dia merasa ada suatu hal yang sedang bergejolak di dalam dirinya. Seperti api cemburu, tapi Raka tidak ingin mengakui itu.
"Aku tidak marah, tapi aku malu, Julian! Aku malu. Apa masih belum cukup kamu membuatku keseleo hari ini, hah?"
Kali ini, Raka tidak mendengarnya dengan samar-samar. Malahan suara Airin tadi sangat jelas dia dengar. Padahal, posisinya saat ini lumayan jauh dengan tempat dua orang itu.
"Keseleo? Gara-gara aku? Apa kau itu tidak salah omong? Bukankah tadi pagi kau itu terjatuh gara-gara terlalu sibuk melambaikan tangan untuk melepas kepergian tuh cowok aneh."
Raka mendengar Julian tidak mau disalahkan. Dia tentu saja membantah tudingan yang keluar dari mulut, Airin.
"Dia punya nama, Julian,"
Raka menyeringai saat dia mendengar Airin begitu kerasnya mengeluarkan suara. Bahkan laki-laki itu juga saat ini sedang melihat Airin melayangkan sorot mata yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
__ADS_1
"Terserah. Aku tidak peduli siapa namanya dan di mana rumahnya. Tapi, karena kamu menyalahkanku, berarti aku kudu tanggung jawab bukan?"
Raka menaikkan satu alisnya saat dia mendengar penuturan Julian yang sepertinya, punya maksud tertentu.
"Sialan, apa yang orang itu lakukan?" Raka membulatkan mata terkejut saat dia mendapati, Julian tiba-tiba jongkok di depan Airin. Laki-laki itu semakin tidak tenang, bahkan dia yang tadinya duduk bersandar, langsung duduk dengan tubuh bagian atas yang tegak. bahkan kedua tangannya tiba-tiba mencengkram erat kemudi mobil.
Jujur, Raka saat ini ingin sekali keluar dari dalam mobil, lalu mendekati dua orang itu, dan akan langsung merebut Airin yang sialnya bergerak naik ke punggung Julian, untuk digendong.
"Tumben nurut."
Lagi, samar-samar dia mendengar suara Julian yang serak dan anehnya, gelenyar yang membawa setitik amarah itu kembali dia rasakan memenuhi dadanya. Raka marah, tapi dia tidak tahu apa penyebabnya.
"Pergelangan kakiku sakit. Jadi, terpaksa. Apa lagi ini tumpangan gratis dan satu-satunya yang ada."
***
Seperti kompleks perumahan pada umumnya, menjelang malam suasananya akan sepi. Tidak ada yang bercakap-cakap. Hanya suara jangkrik yang ada di semak belukar dan beberapa bunyi kodok yang bersahutan.
Mungkin suara kendaraan yang lewat akan jarang terdengar, karena mau bagaimana pun ini adalah kompleks perumahan. Definisi kata sepi yang sebenarnya yah ini.
Di sisi Julian dan Airin. Dua orang pasnagan mantan suami istri itu sudah berhenti tepat di depan kompleks perumahan bangunan unit milik, Airin. Di bangunan sebelahnya temapt tinggal Julian. Jadi, bisa dibilang kalau saat ini mereka berdua ads di depan rumah mereka berdua.
__ADS_1
"Makasih atas malam Minggu yang tidak sempurnanya. Aku harap ini pertama dan terkahir kalinya kita keluar berdua." Airin bicara dengan tangan yang sudah memgangi gerbang rumahnya. Di depannya ada Julian yang saat ini tersenyum.
"Kamu tahu enggak kenapa malam Minggu ini enggak ada sempurna-sempurnanya?" tanya Julian dan mendapati mimik wajah tidak mau peduli dari Airin.
"Enggak tahu dan enggak mau tahu. Udah yah. Kamu balik gih ke habitatmu. Besok kamu kerja kan, jadi pergi. Maaf mengusir." Airin terang-terangan meminta Julian untuk cepat-cepat bernajak pergi dari depan gerbang rumahnya. Dia yang dulunya selalu bersikap baik, malah saat ini begitu berani. Bahasa yang dia gunakan pun tidak ada kata sopannya.
"Malam Minggu hari ini tidak sempurna karena Tuhan menginginkan kita untuk menyempurnakannya malam Minggu depan. Jadi, jam delapan aku akan mengajakmu lagi dan aku jamin itu adalah malam Minggu paling indah yang pernah kamu lalui. Jadi, bay calon istri." Julian awalnya akan beranjak pergi, tapi belum dia membuat langkah. Dia tiba-tiba kembali.
"Btw, makasih yah ciumannya. Ternyata mulutmu manis juga. Aku menyesal karena tidak mencicipinya dulu." Airin memerah. Wamita itu langsung berlalu pergi karena merasa malu dan baper.
Julian yang melihat itu tergelak dan dia juga mulai beranjak pergi ke gerbang rumahnya. Namun, saat dia sudah memegangi gagang pagar itu, Julian menoleh ke kiri dan mendapati sebuah mobil hitam bergerak pergi.
Laki-laki itu dengan cepat meronggoh ponselnya, membuka aplikasi kontak dan langsung memposisikan benda pipih itu di depan telinganya.
"Ikuti. Jangan sampai kau kehilangan dia. Cari tahu tentang pria brengsek itu." Entah siapa yang Julian perintahkan, karena setelah mengatakan itu, dia langsung memutus sambungan teleponnya dan beranjak masuk ke dalam rumah.
"Aku tahu ada sesuatu yang kau rencanakan, Sialan. Jadi, berhati-hatilah," gumam laki-laki itu ditengah perjalanannya menuju pintu masuk.
Ternyata di depan pintu masuk, dia masih mendapati keberadaan Airin yang juga ada di depan pintunya. Laki-laki itu melambaikan tangan, membuat Airin membuang mukanya.
"Airin, aku mencintaimu. Kita rujuk lagi kamu mau, enggak?" Untuk yang keempat kalinya, Julian mengeluarkan kata-kata ajakan serius itu dengan berkedok candaan.
__ADS_1
"Rujuk aja sana sama siapa pun. Berhenti menggangguku, Julian." Sudah empat kali juga Airin menolak dengan nada yang tegas tanpa ada sedikitpun unsur candaan di sana.
#Bersambung