
Ini kali pertama kawasan Tanah Abang diselimuti dengan pagi yang cerah. Padahal saat ini bulan sudah masuk Desember dan di langit, matahari sedang bersniar-sinarnya.
Pukul setengah tujuh, Julian saat ini sedang berada di teras rumahnya. Dia saat ini hanya terbalut baju kaos abu-abu dan celana training pendek. Dua tangannya sedang mengangkat barbel kecil.
"Wah rajin banget udah olahraga pagi." Julian menoleh ke kanan dan laki-laki itu mendapati Airin berdiri di teras rumahnya, dengan wajah yang sangat khas sekali seperti orang yang baru bangun tidur. rambutnya di ikat cepol dan bajunya pun masih menggunakan baju tidur dengan gambar kartun beruang sebagai coraknya.
Julian hanya tersenyum. Laki-laki itu tidak ada niatan menjawab dan memilih untuk fokus ke olahraganya. Airin yang diacuhkan sedikit terkejut, tapi dia langsung tersenyum simpul.
"Iya sudah." Wanita itu mendorong gagang kopernya dengan sedikit bertenaga, membuat benda itu menimbulkan suara gesekan dan sedikit benturan.
Julian yang mendengar itu kembali menoleh. Kedua matanya kelihatan membulat saat dia mendapati ada sebuah koper besar berwarna merah yang menemani mantan istrinya di sana.
"Kau mau pergi ke mana?" Laki-laki itu melempar barbel kecilnya ke arah halaman, lalu dia memilih beranjak ke tembok pembatas rumahnya dengan milik Airin, "jangan bilang kamu mau pindah karena aku tinggal di sini?" tebak laki-laki itu sembari menenggerkan kedua tangannya di atas permukaan tembok pembatas.
Niatnya yang tadi ingin jual malah, langsung gagal total. Semua itu karena si koper brengsek yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
Sementara di sisi Airin. Wanita itu tidak menjawab. Sepertinya dia ingin membalas sikap acuh tak acuh yang Julian keluarkan tadi.
"Hai, kamu denger aku, 'kan?" Julian mulai kesal saat Airin mendiamkannya.
"Bagaimana rasanya?" Airin memilih menyeletuk. Dia juga menenggerkan dua tangannya di sisi atas koper. Lebih tepatnya sih, Airin saat ini sedang memegangi gagang koper merah itu.
"Rasa apa?" tanya Julian yang akhir-akhir ini kelihatan sedikit lamban untuk mengolah perkataan orang.
"Rasa tidak dipedulikan. Padahal tadi aku menyapamu loh, tapi sepertinya kamu sok jual mahal yah."
Julian dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak ada yang jual mahal. Hanya saja aku sedikit kesal karena melihat kamu jauh lebih peduli kepada, Raka."
Julian membuat senyum remeh, "Semalam. Kalau enggak peduli apa namanya? Di saat aku pergi, kamu enggak ada tuh niatan menghalangiku."
Airin tersenyum dan entah kenapa dia saat ini sedikit terhibur, "Emang kamu itu siapa hingga aku harus tahan-tahan."
__ADS_1
Julian membulatkan mata terkejut saat mendengar jawaban Airin. Laki-laki itu sepertinya tidak percaya, kalau ternyata dia memang sudah tidak lagi dianggap penting di kehidupan mantan istrinya itu.
"Lagian, biarpun kamu semalam pergi, kita tetap pulang bareng, 'kan? Apa itu masih belum cukup?" Airin tersenyum menggoda, membuat Julian membuang pandangan dan entah kenapa, dia menjadi malu.
Iya, selepas mengobrol begitu panjang dengan Kai. Julian kemabli pulang ke rumah Airin dan ternyata, itu bersamaan dengan berakhirnya makan malam keluarga. Jadi, saat Julian balik, dia sudah mendoaati Airin menunggu di teras. Bahkan dia juga mendoaati wanita itu melambaikan tangan dengan senyum yang sangat lebar.
"Lupakan itu dan sekarang katakan kamu mau ke mana, hingga harus bawa koper begitu?" Julian kemabli menatap Airin dengan sorot mata yang tajam. Bahkan ekspresi wajahnya kelihatan sangat tegas dan juga terlihat sangat menuntut jawaban.
"Mau keluar daerah," jawab Airin sekenanya.
Julian memperhatikan guratan penuh tanya di keningnya, "Ke mana?" tanya laki-laki itu seperti ingin mendapatkan jawaban yang jelas.
"Mau kemana itu urusan aku dan kamu tidak berhak menanyakan itu." Julian melongo.
"Tung-"
__ADS_1
"Bay, bicara denganmu begitu membuang-buang waktu. Jadi, aku masuk dulu Tuan Pranata." Airin berlalu pergi dan saat dia sudah memunggungi, Julian. Wanita itu tiba-tiba cekikikan, lucu banget sih, imbuhnya dalam hati.
#Bersambung