Pelabuhan Hati Airin

Pelabuhan Hati Airin
Chapter 14. Mengunjungi Keluarga Airin.


__ADS_3

Layaknya bulan Desember pada umumnya. Saat ini, ibu kota tengah dibekap oleh awan mendung, tapi dari jam satu tadi tidak ada sedikit pun tanda-tanda akan turunnya hujan dan cuaca tak menentu seperti ini, sudah berlangsung selama tiga hari terkahir ini.


"Maaf Mbak, ini ada orang namanya Tuan Raka mau bertemu dengan mbak Airin. Diizinin apa enggak nih, Mbak?"


Airin yang tengah memandangi langit kelabu di siang menjelang sore ini, langsung menganggukkan kepalanya, "Persilahkan dia masuk, Wi."


"Baik Mbak."


Airin langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Wanita itu masih setia menatap awan yang saat ini sedang mengarak-arak ke Utara, "Ini bagaiamana aku mau jawab yah. Aku tahu Raka itu tulus, tapi entah kenapa aku enggak bisa menganggap dia lebih dari teman gitu. Mau nolak takut buat dia kece-"


"Kamu dari dulu enggak berubah yah. Masih sering ngomong sendiri."


Airin melebarkan senyum dan dia langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah pintu masuk. Wajahnya nampak kaget, tapi dia dengan cepat menyunggingkan senyum untuk menyamarkannya.


"Raka, silahkan duduk." Airin berjalan ke arah sofa yang ada di ruangannya. Dia juga tadi menunjuk untuk mempersilahkan laki-laki itu untuk menuju ke sana.


Raka yang mendengar itu tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya dan langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja sang sahabat sekaligus wanita yang dia cintai. Katanya sih gitu.


"Maaf yah, Tuan. Tadi salah Tuan juga sih enggak bilang-bilang kalau temennya Mbak e Airin. Aku 'kan jadi tahan."


Setelah duduk, Raka langsung mengarahkan pandangan matanya ke Dewi yang saat ini masih berdiri di ambang pintu masuk ruangan bosnya.


"Enggak apa-apa. Aku itu cuma mau ngetes sesibuk apa sih sekarang wanita bernama Airin Wirgantara." Seperti biasa, Raka bicara dengan full senyum. Bahkan laki-laki itu langsung tergelak.


"Aku mah masih biasa aja, Raka!" Airin memerah malu. Dia juga spontan memukul lengan otot bagian kiri milik, Raka.


Sementara Dewi yang ada di ambang pintu terenyuh, "Mbak Airin mah udah jadi terkenal sekarang, Tuan. Semua desain baju yang dia keluarkan langsung diserbu tuh sama orang+orang. Apa lagi kalau dimodelin Pak Farhan. Beh beda banget." Ternyata salah satu pekerja Airin itu ikut memuji dan bahkan kata-kata yang dia keluarkan jauh lebih parah bikin memerahnya dibadingkan, Raka.


Airin tersenyum malu dan menatap kesal ke arah Dewi. Padahal, dia itu senang digituin, "Dewi bisa aja kamu. Dari pada di sini ngomong enggak jelas. Mending kamu ke cafe depan dan beliin Americano untuk Bos besar dari luar negeri ini dan-"


"Berikan bosmu ini Kapucino." Raka menyela, membuat Airin tertegun, "benerkan?" imbuhnya dengan tersenyum dan dua alis yang diturun naikkan.

__ADS_1


"Iya, Americano dan Kapucino. Cepet sana!" Airin tersenyum kikuk dengan pandangan yang melirik ke arah Raka.


"siap komandan!" Dewi langsung pergi dan memberikan waktu untuk dua orang itu bicara.


***


"Bagaimana kakimu?" Setelah kepergian Dewi beberapa saat lalu, Raka langsung membuka obrolan dengan membahas soal kaki.


Airin yang mendengar itu memperlihatkan kaki kanannya yang terbalut sepatu putih. Maklum saat ini dia juga mengenakan jeans warna putih, dipadukan outerwear wanita warna cokelat dengan dalaman kaos warna putih, dan terkahir hijab yang berwarna senada dengan outerwearnya. Sungguh sangat pas di tubuh wanita itu.


"Udah agak mendingan. Tiga hari terkahir ini sering diurut kok, walau tukang urutnya agak-"


"Agak apa? Profesional yah?" Tiba-tiba suara laki-laki yang sangat-sangat Airin kenali terdengar dan benar saja.


Saat Airin melihat ke pintu, wajah Julian kelihatan. Bahkan setelan kantor laki-laki itu yang juga berwarna seperti milik Airin, masih melekat di tubuhnya. Bisa dipastikan kalau Julian tidak pulang ke rumah dan langsung ke sini.


Laki-laki itu memang memakai pakaian yang berwarna sama dengan milik Airin. Seperti celana kain warna cokelat, lalu diikuti jas juga berwarna yang sama, kemudian dalaman kemejanya berwarna putih. Yang beda mungkin cuma sepatu pantofelnya yang malah berwarna cokelat.


"Selamat siang menjelang sore semua." Layaknya dia anggap seperti kantor sendiri, Julian tanpa sopan santun langsung nyelonong masuk dan parahnya. Dia langsung duduk di sofa panjang tepat di samping, Airin.


Keranjang buah yang dia bawa dia letakkan di atas meja yang ada di depan mereka, "Kamu sudah selesai kerja, 'kan?" tanya kepada Airin yang saat ini sedang memamerkan wajah yang tidak kelihatan bahagia.


"Aku belum suruh masuk loh. Kamu punya sopan santu dikit."


"Udah itu enggak perlu. Kantor ini 'kan bakalan nyantu juga sama milikku jika kita beneran ru-"


Raka tiba-tiba berdahem, membuat kata-kata Julian terhenti, "Selamat sore, Tuan Julian. Senang bertemu dengan Anda lagi," ujar Raka memberi sapaan yang mungkin membuat Julian sadar, kalau ada dia di sini juga.


"Selamat sore, tapi mohon maaf. Aku sepertinya tidak merasa senang bertemu dengan Anda." Julian bicara terang-terangan, membuat Airin menginjak kaki kanannya, "maksud saya. Saya itu senang bisa bertemu dengan Anda."


Raka hanya tersenyum sepertihalnya sikap yang selalu dia keluarkan. Lihat, laki-laki itu sungguh kelihatan ramah dan jujur, Julian paling benci dengan modelan orang kayak gini.

__ADS_1


"Bagaimana kehidupan Anda di Amerika. Apa istri eh maksud saya, Apa Anda sudah punya istri atau gimana?"


Raka sesaat mengernyitkan dahi, tapi dengan cepat dia menyunggingkan senyum, "Sialnya, saya masih jomblo dan sedang berusaha membuat seorang wanita jatuh hati."


Sekarang giliran Julian yang mengernyit, tapi laki-laki itu juga langsung menyunggingkan senyum dan tanpa diduga, dia tiba-tiba saja menggenggam tangan kiri Airin yang berada di sebelahnya, "Oh, wanita yang bisa punya anak, 'kan?"


Raka melebarkan pupil matanya dan mimik wajahnya tiba-tiba berubah serius dan sedikit berbeda dari dia yang biasanya jika di depan Airin, "Maksud Anda? Tolong, bicaralah yang jelas. Bukankah semua wanita pasti bisa punya anak. Itu pun akan terjadi jika kita sudah menikah."


Julian menyeringai, "Iya, itu maksud Saya. Semua wanita pasti bisa punya anak, tapi tidak sedikit juga wanita yang tidak bisa memiliki anak, seperti ...."


"Jaga bicara Anda, Tuan Julian Pranata!" Raka yang selalu tenang, tiba-tiba meninggikan suaranya dan sedetik kemudian dia tiba-tiba memejamkan mata, "maaf, aku sedikit terbawa suasana."


Airin yang mendengar itu memicingkan mata untuk melihat Raka. Dia sampai tidak sadar kalau saat ini tangan Julian masih menggenggam jemarinya.


"Sepertinya saya juga salah, karena sudah memprovokasi Anda."


"Provokasi? Kenapa bisa Raka terprovokasi?Dia 'kan tidak punya istri?"


Raka langsung membuka mata. Kepanikan terlihat sangat jelas di sana, tapi beruntunglah saat ini Airin sedang fokus melihat ke arah Julian, yang saat ini sedang menyeringai dengan pandangan melirik ke arah Raka.


"Aku juga tahu, itu tap-"


"Airin, bagaiamana kalau sekarang kita langsung ke rumah keluargamu?" Raka memotong perkataan Julian. Laki-laki itu bangkit dari duduknya, "aku sudah sangat rindu dengan semua yang ada di sana. Jadi, bagaimana?"


"Tentu saja, ayok. Aku juga ke sini karena ingin menjemput Airin. Pagi tadi juga, aku yang mengantar dia ke kantor dan sore harinya dia bilang akan mengajakku ketemu dengan mertua. Maaf, maksudnya mantan mertua." Julian menjawab dan laki-laki itu juga langsung bangkit.


Dari sanalah Airin sadar kalau ternyata tangannya dari tadi digenggam oleh jemari besar Julian, "Kalau begitu, ayok." Julian menarik Airin untuk berjalan lebih dulu, lalu Raka mengikuti dari belakang.


"Eh, kalian pergi terus kopi ini untuk siapa?" Dewi yang baru saja tiba diambang pintu, langsung dibuat bingung oleh mereka semua yang tiba-tiba bangkit.


"Kamu minum saja. Bagikan ke pegawai lain juga boleh dan ingat, kalian pulang jam lima yah. Jangan lupa kunci tokonya dengan benar." Perkataan Airin langsung teredam oleh pintu lift yang sudah tertutup.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2