
Menteng, Jakarta Pusat.
Seperti biasa, lalu lintas ibu kota siang ini memadat. Khusunya di kawasan Menteng. Saat ini Jalanan dipenuhi oleh ramainya mobil motor yang berlalu lalang.
Hampir sepanjang jalan dipenuhi oleh klakson dan asap knalpot motor. Julian yang melihat dari balik jendela ruang kerjanya yang ada di lantai tujuh, hanya bisa tersenyum.
Entah, laki-laki itu seperti mengejek para pengguna jalan yang lebih memilih memacu mobilnya atau motornya di siang hari yang terik ini.
"Dasar," gumam laki-laki itu dan dia langsung membalik tubuhnya, hingga kedua matanya melihat sosok laki-laki paruh baya yang berwajah tegas dan saat ini tengah duduk di kursi depan meja kerjanya.
Tidak ada yang berubah dari Julian. Laki-laki itu tetap berwajah datar atau bisa dikatakan lebih datar dari setelah berpisah denagn Airin.
Tampan?
Iya, dia masih tampan. Tinggi dan berat badannya masih sama seperti yang dulu dan sorot mata tajamnya juga tidak hilang.
Buktinya saat ini, dia sedang menatap si laki-laki paruh baya dengan sorot mata yang tajam, "Ada perlu apa Anda ke mari?" tanya Julian dingin sembari bergerak duduk di hadapan laki-laki paruh baya, yang justru bergerak bangkit dengan tangan kanan menodongkan pistol ke pelipis, Julian.
"Katakan! Di mana kau sembunyikan putriku!" tuntut laki-laki itu dengan tatapan mata yang tajam dan rahang yang mengetat.
Dari sorot matanya, laki-laki itu seperti sudah terbiasa melakukan apa yang saat ini dia lakukan. Bahkan saat ini dia tidak mengeluarkan ketakutan atau gemetar sedikit pun.
Julian sendiri masih duduk tenang. Dia sungguh tidak merasakan takut walau saat ini ditodong oleh pistol.
"Putri? Siapa?" tanya Julian yang benar-benar tidak tahu ke arah mana laki-laki paruh baya yang tidak dia kenal itu bicara.
"Clara, terakhir kali dia bertemu dengan dirimu, iya, 'kan?" ujar laki-laki paruh baya itu dengan nada dan ekspresi wajah yang masih sama.
Julian yang mendengar itu menaikkan kedua alisnya, "Clara? Putriku? Apa kau ayah dari wanita murahan itu?" tebak Julian dengan nada yang masih santai, "begini, aku tidak peduli kau syahnya atau siapa. Tapi, dengarkan baik-baik. Aku sudah tidak pernah berhubungan dengan wnaita itu lagi. Jadi, enyah dan cari saja sendiri!" imbuh Julian dengan nada tegas dan itu berhasil membuat laki-laki paruh baya itu menarik tangannya kembali.
Laki-laki itu tidak bicara dan dia malah langsung pergi dengan tenang. Julian yang melihat itu menghedikkan bahunya dengan acuh.
__ADS_1
Dia memilih menurunkan pandangannya untuk melihat ke arah bingkai foto yang memperlihatkan sosok, Airin, "Aku akan datang menjemputmu," gumam laki-laki itu sembari membuka laci dan mengeluarkan sebuah cincin.
***
Brooklyn, New York, Amerika.
Malam hari ini Brooklyn Bridge nampak gemulai dengan lampu warna warni yang terpasang di sisi-sisinya.
Brooklyn Bridge adalah sebuah jembatan penghubung antar distrik Brooklyn dengan Manhattan. Malam ini, jembatan itu tidak terlalu ramai karena mungkin jam sudah menunjukkan pukul dini hari.
Jam dua belas malam. Iya, karena perbedaan waktu sebanyak duabelas jam, saat ini kita New York diselimuti gelapnya malam dan sangat berbeda dengan di Jakarta.
Namun, beruntunglah lampu jalan banyak terpasang hingga membuat suasana malam nampak terang.
Di salah satu rumah yang ada di pusat Brooklyn, tepatnya disebuah bangunan persinggahan lantai dua dengan halaman depan nampak luas.
Warna cat dinding putih tapi sedikit kuning, membuat nuansa kuno terpancar keluar dari bangunan itu. Jauh masuk ke dalam rumah, nuansa khas zaman eropa lebih terasa dengan banyaknya seni patung yang menghiasi sudut-sudut ruangan.
Laki-laki berperawakan khas orang Indonesia itu berucap dengan nad ayang tegas. Padahal dia baru saja turun dari lantai dua.
Sementara dari arah sofa yang ada di ruang keluarga, terlihat seorang wanita cantik berwajah khas orang Eropa dengan rambut hitam kecokelatan, memunculkan setengah kepalanya.
Saat ini wanita itu tengah menonton sebuah siaran tv yang menayangkan seorang wanita yang baru saja melahirkan anak.
"Yes, I know. But, somehow I feel scared. (Iya, aku tahu. Tapi, entah kenapa aku merasa takut.)" Wanita yang memiliki garis wajah khas orang Italia itu berucap dengan mimik tersenyum, tapi menyimpan ketakutan.
Laki-laki yang baru saja turun ke lantai satu itu langsung berjalan mendekat ke istrinya. Iya, wanita itu— Annemarie Satriawan adalah istri dari Raka Satriawan.
Iya, Raka. Laki-laki yang sama yang satu tahun lalu mengaku dirinya lajang ke Airin. Sebenarnya, Raka sudah menikah. Bahkan pernikahannya sudah jalan selama empat tahun.
Jadi, St lajang yang satu tahun lalu dia katakan kepada Airin adalah sebuah kebohongan. Namun, tentang persahabatan, mereka memang bersahabat.
__ADS_1
Lalu, untuk kisah cinta. Mereka memang dulu terjebak cinta monyet, tapi itu dulu yah, karena setelah pindah kehidupan Raka berubah drastis.
Raka yang awalnya memang cinta monyet ke Airin lama kelamaan melupakan bocah itu dan setelah menginjak dewasa, dia bertemu dengan Anne dan mereka berdua terlibat perasaan cinta.
Bisa dikatakan Raka dan Anne menikah berlandaskan cinta dan kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Namun, berita tidak enaknya, Anne divonis mandul.
Padahal wanita itu sangat ingin mempunyai anak, tapi Tuhan memainkan takdir hidup mereka.
"Apa yang kau takutkan, Anne?" tanya Raka sembari membingkai wajah sang istri.
Anne menghedikkan bahu, "I don't know, but- (Aku tidak tahu, tapi-)"
"Kau takut aku jbenar-benar jatuh cinta kepadanya, sweetheart?" potong Julian menerka.
Anne diam dan itu pertanda kalau yang dikatakan, Raka tadi benar. Iya, tidak bisa dipungkiri kalau wanita itu sangat takut.
Biarpun Raka mengatakan kalau dia hanya akan berpura-pura, tapi tetap saja Anne takutvsuaminya itu justru yang terjebak. Bagaimana tidak, wanita yang dia ketahui bernama Airin itu adalah mantan pujaan hati masa kecil suaminya. Jadi, bisa jadi kan.
"Anne, Listen. I only love you and always will, sweetheart." Raka berucap dengan sorot mata yang penuh akan kesungguhan.
Anne yang mendengar itu menggelengkan kepalanya dan dia langsung berhamburan masuk ke pelukan sang suami, "I hope so," ujarnya di dalam pelukan sang suami.
Raka yang mendengar kata-kata sang istri yang tersirat akan kekhawatiran itu hanya bisa diam. Dia menepuk punggung Anne penuh sayang, 'aku akan membuatmu bahagia bagaimana pun caranya,'
...T.B.C...
Aku ada bawa rekomendasi cerita nih, guys. Yuk kepoin juga kisah yang judulnya, "After Darkness" karya dari author, "SkySal"
Ceritanya bagus dan pasti bikin nagih.
__ADS_1
Tunggu apa lagi? Yuk kepoin.