Pelabuhan Hati Airin

Pelabuhan Hati Airin
Part 22. Random talk


__ADS_3

Mataram, Nusa Tenggara Barat.


"Kenapa Mas Far selalu memilih kedai kopi?" Dewi yang duduk di depan Farhan menyeletuk.


Farhan yang mendengar pertanyaan itu terenyuh. Dia menghedikkan bahunya tak acuh, "Entah, aku itu seorang maniak kopi. Di mana pun, kapan pun selalu kopi yang akan menjadi menumanku."


Farhan menjawab dengan sekenanya, karena dia memang begitu. Baginya, kopi sudah seperti menjadi bagian hidup ketiganya, setelah Airin. Jika ingin mengulik kenapa Farhan suka kopi. Jawabannya sangat singkat. Dia suka kopi karena Airin.


Sejarahnya begini. Farhan dari kecil, selalu menginginkan Airin. Namun, dia malah tidak pernah beranjak dari zona nyamannya untuk sekedar menyapa orang yang dia sukai. Bahkan waktu kuliah pun, Farhan rela nongkrong di sebuah kafe, untuk melihat Airin yang juga nongkrong di sana.


Berawal dari dia yang hanya ingin melihat senyum, Airin. Farhan jadi suka kopi. Karena jika ingin nongkrong lebih lama, dia harus merelakan diri untuk mengonsumsi kopi jauh lebih banyak dibandingkan Airin yang hanya minum segelas, tapi bisa bertahan sampai satu atau dua jaman waktu itu.


"Berarti, Mas Far ini jauh lebih suka kopi dibandingkan, Mbak Rin ya?" tanya Dewi dengan nada bicara yang biasa saja. Tidak ada canggung lagi yang wanita itu rasakan.


"Enak saja. Kesimpulan dari mana itu? Aku memang suka kopi, tapi itu tidak lebih besar dari orang yang telah membuat aku jatuh cinta kepada cairan hitam itu." Farhan menyanggah kesimpulan Dewi. Bahkan dia sampai mengetok kening perempuan itu dengan menggunakan sendok kecil yang tadi dia gunakan untuk mengaduk kopinya.


Dewi sedikit menjerit kecil, "Bisa jadi, 'kan," cicit wanita itu sedikit melirik ke sisi kanan.


Farhan tertawa dan dia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Minum kopimu itu sebelum dingin."


Setelah sampai di Lombok beberapa jam lalu, Farhan dan Dewi langsung diantarkan ke hotel tempat mereka akan menginap. Setelah sampai di hotel, mereka berdua langsung mampir ke kedai kopi yang tidak jauh dari penginapannya. Lebih tepatnya, Farhan yang mengajak Dewi untuk ikut.


"Siap panutan. Kalau sering diajakin gini, aku mungkin bakalan suka kopi nih." Dewi menyeletuk kembali, membuat Farhan tergelak lebih keras. Seketika suasana kedai kopi Tiang dipenuhi oleh gelak tawa laki-laki itu.


"Itu jauh lebih baik. Kurangi minum teh. Aku kasih tahu saja yah. Kopi memang pahit, tapi cairan kental itu punya cara tersendiri untuk membuatmu menikmati rasa pahit tersebut."


***

__ADS_1


Kereta Gaya Baru Malam.


"Hobi. Apakah ada suatu bidang yang kau gemari?" Julian bertanya, membuat Airin menolehkan kepalanya.


Setelah berbincang cukup lama di tempat duduk. Tepat di jam 12, mereka memilih untuk mengunjungi gerbong restoran. Tadinya mereka berjalan tanpa ada yang mengucapkan sepatah kata pun, tapi ternyata Julian tidak tahan dengan keheningan dan malah memilih untuk memecah kesunyian itu.


"Kapan? Sekarang, dulu, atau-"


"Dua-duanya," potong Julian dengan tersenyum dan itu bersamaan dengan mereka yang telah sampai di gerbong restoran.


Ternyata di sana cukup ramai. Banyak orang yang sudah menduduki kursi dan menikmati beberapa makanan ringan seperti roti yang ditemani oleh secangkir kopi.


Benar. Baru saja masuk, Julian sudah bisa menikmati aroma kopi memenuhi gerbong ini. Ternyata benar, kopi itu minuman paling nikmat jika melakukan perjalanan jauh seperti ini.


"Ayok, kita duduk di sana." Julian dengan sembrono meraih jemari Airin, lalu membawanya untuk duduk ke sebuah kursi kosong, "kalau aku, hobiku dulu melukis. Mungkin faktor keturunan. Papa juga waktu muda dulu sangat hobi melukis. Makanya dia membangun perusahaan busana dan mewariskan semuanya kepadaku. Termasuk hobinya." Sembari duduk, Julian bercerita lebih dulu.


Ternyata mereka masih betah menggunakan sandiwara orang asing yang baru saling kenal. Namun, entah kenapa, dua orang itu terkesan menikmati. Tidak ada rasa awkward lagi. Mereka mengobrol dan membahas hal-hal acak yang kiranya bisa membuat percakapan mereka tidak putus.


Contoh. Julian beberapa saat lalu menceritakan masa kecilnya, lalu kemudian ke masa remajanya, hingga sampai saat dia berada di dunia kerja. Airin yang mendengar itu, entah kenapa langsung merasa kalau dirinya ternyata tidak benar-benar mengenal sosok Julian.


Julian pun begitu. Dia yang mengenal Airin hanya saat menikah, langsung dibuat sadar kalau istrinya ternyata punya banyak kejadian yang bikin geleng-geleng kepala dan sedikit tergelak. Seperti, cerita saat Airin menemukan keong emas lah, digigit semut dan dikira lebah lah, dan masih banyak lagi.


"Kalau aku. Hobiku utamaku dulu ya menggambar. Aku sewaktu SMA hingga kuliah selalu menghabiskan waktu melukis di sebuah cafe favoritku. Tidak ada yang menarik sih di sana, tapi saat menggoreskan ujung pensilku ke atas kertas gambar. Aku selalu mendapatkan kesan menarik. Salah satunya menggambar orang-orang yang berdiri di depan kasir."


Airin ikut bercerita. Dia kelihatan begitu sangat bahagia saat membagi kisah hidupnya, "Apa yang kau takutkan di dunia ini?" tanyanya membuat Julian yang tadi menoleh ke belakang dengan tangan terangkat, langsung merubah pandangan dan melihat ke arahnya.


"Aku takut kelihatan, mama. Bagiku, mama adalah segalanya. Itu sebabnya waktu itu aku yah begitulah. Karena mama memaksa dan mengatakan kau pasangan yang baik, aku jadi menikahimu dan meninggalkan kekasihku."

__ADS_1


"Ralat. Kau menikahi aku dan masih berhubungan dengan kekasihmu itu." Dengan tersenyum, Airin membenarkan perkataan Julian dan entah kenapa, laki-laki itu tiba-tiba berubah kikuk.


Dia menoleh dan ternyata itu bersamaan dengan datangnya seorang pemuda dengan sebuah nampan di pegangan tangannya, "Kopinya, Tuan."


"Terima kasih." Julian menjawab dan sepertinya dia ingin merubah suasana yang entah kenapa tiba-tiba menjadi canggung itu.


"Selamat menikmati dan jika perlu sesuatu, Anda boleh memanggil saya lagi." Pemuda itu berlalu pergi.


Julian menoleh untuk melihat Airin. Wanita itu ternyata masih menatapnya dengan senyum yang tidak berubah, "Kopinya," ujar Julian, membuat Airin menundukkan kepalanya.


"Terima kasih, tapi sepertinya aku belum memberitahukan padamu tentang minuman yang tidak aku sukai."


"Jangan bilang-"


"Iya, aku tidak suka kopi hitam. Tapi, terima kasih yah." Airin tersenyum, membuat Julian semakin kikuk dan merasa jauh lebih canggung.


"Maaf untuk segalanya. Kalau begitu, kita beralih ke obrolan kesukaan. Sekarang katakan, makanan apa yang kau sukai di dunia ini, Nona Wirgantara?" Julian mencoba memecahkan situasi canggung itu, dengan memulai obrolan baru.


Airin yang mendengarnya tiba-tiba tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya, "Aku menyukai banyak sekali makanan. Seperti ...."


Airin mulai menyebutkan aneka makanan dan Julian pun mendengarkan, tanpa ada sedikitpun keinginan untuk menyela ucapan wanita itu.


Julian menikmati pembahasan itu dengan terus tersenyum dan mengatakan ini di dalam hati, aku semakin ingin kamu kembali bersama denganku.


#Bersambung


...Udah yah. lunas. Jangan lupa kasih hadiah yang banyak, Vote yang banyak, dan bantu share juga yah....

__ADS_1


__ADS_2