
...Apa kabar kalian semua?...
...Dua hari kemarin aku cuti, karena liburan dan begitulah. Tidak nulis lagi dan fokus menenangkan pikiran....
^^^Tapi, kita mulai lagi yuk. Btw, aku liburan ke sebuah pulau yang ada di daerahku. Aku tinggal di Lombok dan liburan ke pulau yang namanya Gili Terawangan. Pulau seperti apa? nanti kita jalan-jalan lewat tulisan yah.^^^
***
"Honey, you just go home. Forget all about children. I want you home now!"
Raka menghela napas kasar. Laki-laki itu meraup wajahnya dengan hanya menggunakan tangan kiri.
"Why are you suddenly like this, Honey? Isn't having children your dream. My dream too. We're halfway there and you-"
"I don't want that anymore. I just want you to come home and we can live together again. I don't want kids, I just want you. Help back"
Suara wanita yang kedengaran takut kemabli keluar dari dalam ponsel, lalu merambat masuk ke gendang telinga Raka.
Raka kembali mendesah, mengeluarkan kepenatan di dalam kepala. Jujur, dia tiba-tiba bingung dengan keinginan istrinya yang berubah. Entah alasannya apa, tapi dari tadi wanita itu meminta Raka kembali pulang dan melupakan tentang anak.
"Is something threatening?" tanya laki-laki itu dan dia hanya mendapatkan bunyi tut yang menandakan, panggilan suara yang sudah diputuskan sepihak.
Raka tiba-tiba meremas ponselnya dan sedetik setelah itu, dia langsung membanting benda pipih tersebut, "Semua gara-gara si sialan itu."
***
Stasiun Senen.
"Bisa duduknya berhadapan? Entah kenapa aku begitu tidak nyaman jika ada seseorang yang duduk di sebelahku." Julian membuka pembicaraan dengan menoleh ke kanan, melihat sosok Airin yang saat ini sedang curut-marut.
__ADS_1
"Nona Airin, bis-"
"Iya, iya. Sok banget sih. Dulu aja saat di mobil, tidak pernah tuh." Dengan mengeluarkan dumelan, Airin pindah tempat duduk menjadi berhadapan dengan Julian.
Wanita itu tentu tidak menghadap ke depan dan memilih untuk menoleh ke arah luar, melihat lalu lalang stasiun Senen yang tidak ada habisnya dikerumuni oleh orang-orang ada tukang cangcimen, ada orang yang menunggu, dan masih banyak jenisnya lagi.
Inilah yang Airin suka di Stasiun. Tidak ada yang menyenangkan selain melihat interaksi orang-orang yang ada di luar mau pun di dalam.
"Kira-kira kereta ini akan tiba di Surabaya kapan yah?" Julian membuka obrolan, membuat Airin melirik sinis ke arahnya.
"Jangan membahas hal yang penting. Urus saja apa yang membuatmu ingin ke sana?" ucapnya dengan sinis dan permainan mulut yang menggambarkan ketidaksukaan.
Julian yang melihat itu terkekeh. Dia tersenyum dan memilih untuk mengubah posisi duduknya menjadi bersandar, "Aku ingin menghadiri pernikahan teman."
"Tidak peduli,' jawab Airin. Wanita itu melihat ke arah Julian dengan sorot mata yang tidak berubah. Dia masih tidak suka dengan keberadaan laki-laki itu di sini, "aku hanya minta kau mengurusi, bukan menceritakannya," imbuh perempuan itu sembari meronggoh tas mininya.
Sementara Julian. laki-laki itu hanya terenyuh. Dia menoleh ke kanan dan kiri, lalu akan berakhir di sosok Airin yang sedang sibuk dengan ponselnya, "Kau ke Lombok buat-"
Perkataan Julian terhenti saat merasakan kereta mulai bergerak dengan perlahan. Laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri, "Sepertinya sudah berangkat."
"Hem ... aku berharap 15 jam ini akan cepat berlalu." Airin menyangga kepalanya, "berada di ruangan yang sama denganmu, membuatku jengah," imbuhnya dengan sedikit melirik ke arah Julian, lalu kembali melihat ke sisi kiri, tepat ke sisi kereta lainnya.
Julian yang mendengar itu tersenyum. Dia memajukan wajahnya dengan kedua tangan diposisikan tepat di atas paha, lalu jari jemarinya saling selip menyelip, "Sungguh? Kalau begitu, aku akan membuat perjalanan yang kau kira membosankan ini menjadi sangat menyenangkan."
Airin melirik Julian. Wanita itu menghela napas dan memperbaiki posisi duduknya, "Tidak. Cukup kau diam dan biarkan aku menikmati ini saja, itu jauh lebih baik."
Julian menghela napas. Laki-laki itu tersenyum dan dia tiba-tiba mengulurkan tangannya, "Begini saja. Selama perjalanan yang memakan waktu 15 jam ini. Kita bertingkah seperti orang yang tidak saling mengenal. Singkatnya, kita berada di satu ruangan ini, karena tidak disengaja."
Airin melirik ke arah laki-laki itu. Dia melihat wajah Julian, lalu turun melihat tangan pria itu, "Itu lebih baik. Jadi, diam dan kau bersikap seolah tidak mengenalku."
__ADS_1
Julian menggelengkan kepalanya, membuat Airin menaikkan satu alis matanya, "Sepertinya kau salah mengerti, Nona. Aku memang mengatakan kalau kita bertingkah seperti orang yang tidak saling mengenal dan kau tahu sendirikan, bagaiamana mereka yang tidak kenal bersikap?"
Airin bingung. Dia memindai wajah Julian yang penuh akan senyum dengan sorot mata yang penuh ketidakmengertian, "Maksudnya?"
"Ya ini ...." Julian menggerakkan tangan kanannya yang masih terulur. Airin melihat ke arah tangan itu, "kau tahukan kalau orang yang tidak saling kenal itu akan memperkenalkan diri. Jadi, bagaimana kalau kita perkenalkan dulu," imbuh Julian dengan senyum yang semakin lebar.
Airin menoleh tak acuh, tapi dia melirik kembali tangan mantan suaminya itu. Saat ini dia merasa bingung antara mau mengikuti permainan aneh ini atau tidak memperdulikannya sama sekali.
"Kenalin, Gue Julian Pranata, asal Menteng, status Duda dan masih singel." Julian memperkenalkan diri dengan tersenyum lebih lebar.
Airin yang mendengar itu semakin membuang pandangannya, tapi saat ini dia sedang menahan sebuah gelak tawa, "Nona, apa kau tidak ingin saling mengenal denganku?" tanya Julian kembali.
Airin masih setia untuk diam dan sesaat setelah itu, dia menghela napas. Wanita itu menegakkan tubuhnya, lalu melihat ke arah Julian yang masih tidak menunjukkan perubahan ekspresi wajah, "Julian yah, Gue Airin Wirgantara, asal asli dari Tanah Abang. Lahir di sana juga."
Airin menjabat tangan besar Julian. Julian tersenyum dan entah mengapa merasa awkward sendiri. Keringat bercucuran di dahinya, "Status?' tanya laki-laki itu dengan sedikit kikuk.
"Janda."
Julian melebarkan mata, "Kamu janda dan aku duda. Apa ini enggak aneh? Maksudku-"
"Ke neraka saja!" Airin memotong dan dia langsung membuang pandangan ke luar, melihat pohon-pohon yang sepertinya mewakili Jakarta untuk mengucapkan kata selamat tinggal untuk dia dan semua cerita yang tersisa di ibu kota itu.
Julian tersenyum, "Mau teh, Nona Wirgantara?"
"Lompat keluar saja, Tuan Pranata!"
Julian tergelak dan begitu juga Airin. Dua orang yang berperan menjadi manusia asing antara satu dengan yang lainnya itu berbagi tawa yang cukup membuat para penumpang bis penasaran dengan mereka berdua.
#Bersambung
__ADS_1