Pelabuhan Hati Airin

Pelabuhan Hati Airin
Chapter 04. Sang Pengganggu


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu yang lama, Farhan dan Airin saat ini sudah berada di sebuah kafe. Djurnal Coffee namanya. Berlokasi di sekitaran Jalan Jendral Sudirman.


Tempat ini cukup dekat dengan Stadion Gelora Bung Karno. Farhan juga memilih tempat ini karena menurutnya nyaman.


Tidak peduli tempat itu bukan sebuah kafe atau restoran bintang lima, asal sudah bisa makan enak. Dia akan singgah. Lebih-lebih saat ini dia sedang bersama dengan Airin dan itu membuat kesenangannya berlipat ganda.


"Sudah sampai, Nona. Jadi, ayok!" Farhan bergerak membuka sabuk pengamannya dan setelah itu, dia langsung keluar dari dalam mobil.


Airin pun sama. Wanita itu dengan cepat bergerak turun dan menyusul Farhan yang sudah berdiri di sisi pintu bagian kemudi.


"Tempat yang bagus," celetuk Airin setelah berdiri di sebelah kiri, Farhan dan saat ini dia melihat suasana Djurnal Coffee yang ternyata cukup ramai di datangi.


"Ini tempat favoritku. Apa lagi kau ke sini pas malam Minggu. Lihat, meja outdoor yang kosong melompong itu." Farhan berucap dengan penuh ekspresi.


Airin yang melihat itu menganggukkan kepalanya sembari mengikuti arah telunjuk Farhan, "Kenapa?" tanyanya dengan nada ingin tahu.


"Full," jawab Farhan dan Airin yang mendengar itu hanya mengangguk kepalanya.


"Lokasinya strategis juga. Aku suka, ayok!" Airin langsung berjalan dan Farhan yang melihat itu ikut mengayunkan langkah.


***


"Wow." Airin sedikit menjerit saat lidahnya berhasil mencecap rasa capuccino yang sangat-sangat berbeda.


Malahan tadi saat dia menyeruput minumannya, Airin sedikit memejamkan mata saking nikmat dan pasnya di lidah.


Farhan yang mendengar dan melihat tingkah wanita yang ada di depannya itu, langsung menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Ada apa, Rin?" tanya laki-laki itu pura-pura penasaran, walau aslinya dia sudah tahu penyebab Airin menjerit seperti itu.


"Ini enek, Han," pujinya dengan nada bicara yang keras dan suaranya itu mampu sampai ke barista dan beberapa pengunjung lainnya yang sedari tadi melirik ke arah kursi mereka.


Iya, sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian dan semua itu karena kehadiran Farhan. Bahkan beberapa saat lalu, atau lebih tepatnya saat ada seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka. Farhan selalu diliatin.


Namun, orang yang jadi pusat perhatian itu malah diam dan terkesan tak peduli, "Benar 'kan yang aku katakan. Makanya, jangan remehan kafe seperti ini." Dengan jumawa, Farhan berucap.


Laki-laki itu bergerak menyelipkan jari telunjuknya ke gagang cangkir dan setelah itu. Dia bergerak mengangkat wadah kopinya.


"Apa lagi kau memesan yang ini, Rin." Farhan berucap dan setelah itu dia langsung menyeruput kopi Bali Kintamani yang sungguh memanjakan lidah.


Sedikit tentang Farhan. Laki-laki berusia dua puluh enam tahun itu adalah seorang penikmat kopi.


Dia betah di sini, karena kopi-kopi yang diracik oleh para barista sangat enak. Persis seperti seorang profesional.


Yang paling tidak bisa Farhan lupakan adalah kopi yang satu ini, Bali Kintamani. Sungguh rasa dan ketebalannya seimbang menurut Farhan. Selain itu, harganya pun terjangkau.


"Kopi apa itu?" tanya Airin penasaran sembari mengintip ke dalam cangkir yang tadi sudah Farhan letakkan kembali ke meja.


"Bali Kintamani," jawab Farhan dan Airin yang mendengar itu mengangguk kepalanya.


Namun, biar sudah mendapatkan jawaban, Airin masih saja penasaran. Sungguh, padahal dulu dia begitu tidak suka mengonsumsi kopi, tapi saat sudah bekerja minuman yang mengandung kafein itulah yang justru menemani dirinya.


"Mau coba?" Farhan tetiba menyeletuk, membuat Airin mengarahkan pandangan untuk melihat wajah laki-laki yang tadi berbicara.


"Enggak. Pasti pahit," jawab Airin dan itu berhasil mengundang tawa Farhan.

__ADS_1


"Jelas pahit dong, Rin. Namanya juga kopi," ujar Farhan dan itu berhasil membuat, Airin kikuk.


Wanita itu menggaruk kepalanya yang tertutup oleh hijab, "Iya, juga yah. Punyaku tadi pahit," celetuk Airin membenarkan perkataan Farhan.


Farhan menggelengkan kepalanya, "Sudah lupakan. Sekarang coba kau mskan itu!"


Airin mengerutkan kening saat Farhan minta dirinya untuk memakan sebuah kue cokelat. Kata laki-laki itu sih, rasanya enak dan pas untuk menjadi pelengkap di saat menikmati kopi di sini.


"Baiklah." Airin meriah sendok dan dia langsung bergerak memotong ujung kue cokelat itu dengan memanfaatkan sisi sendok.


Farhan hanya menonton. Dia saat ini sedang menantikan ekspresi wajah Airin setelah berhasil menikmati kue yang menurutnya sangat nikmat itu.


"Aku coba yah," ujar Airin yang saat ini sudah bersiap-siap untuk memasukkan sepotong kecil kue cokelat yang sudah ada di atas sebaiknya.


"Wah, apakah ini yang dinamakan skandal antara desainer dan model?"


Airin menghentikan gerakannya yang tadi sudah siap memasukkan sendok ke dalam mulut, karena dia mendengar suara yang begitu tidak asing di telinganya.


...T.B.C...


Guys, aku bawa rekomendasi cerita juga nih. judulnya, "Pacarku Seorang Marman Tampan" Karya kak, "Syocan"


Ceritanya seperti ini yah👇



...Tunggu apa lagi? yok cus!...

__ADS_1


__ADS_2