Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Kebohongan Ace


__ADS_3

"Mama, Rangga aku pulang," teriak Ace dari pintu rumah sambil membuka sepatu yang dia pakai.


Tidak ada sahutan. Ace melangkah masuk ke dalam kamar sang mama dan melihat mama Rina yang juga sedang hendak keluar dari kamar. Ace merentangkan tangannya untuk memeluk mama tercinta.


"Rangga Mana ma."


"Tadi disini. Mungkin keluar sebentar."


Ace menuntun mama Rina untuk kembali ke tempat tidur. Ace dapat melihat jika raut wajah mama nya tidak seceria kemarin ketika mengetahui dirinya sudah mendapatkan pekerjaan.


"Ada apa ma. Ada masalah?" tanya Ace. Mama Rina menarik nafas panjang.


"Rangga butuh uang untuk membayar uang sekolah nak. Darimana kita mendapatkan uang sebanyak itu. Mama tidak ingin Rangga putus sekolah. Tapi mama tidak bisa berbuat apapun."


Ace merasa kasihan melihat mamanya yang terlalu sering menangis karena keadaan mereka. Mama Rina memang tidak terbiasa hidup susah hanya karena pengkhiatan suaminya yang tidak lain papa kandung Ace dan Rangga yang menyebabkan wanita itu harus hidup susah seperti saat ini.


Orang yang baru saja ditanya kini sudah muncul di depan pintu dengan wajah yang sedang menahan marah.


"Rangga. Kamu dari mana dan kamu kenapa. Ada masalah?" tanya Ace. Tangan Rangga terlihat mengepal dengan Gigi yang merapat.


"Aku ingin menghancurkan pak Hardi mbak. Dia sudah menghina keluarga kita."


"Apa maksud kamu. Apa kamu baru saja dari rumah Pak Hardi?" tanya Ace bingung. Pria muda itu menganggukkan kepalanya.


Ace yang bisa melihat masih ada kemarahan di wajah adiknya menarik Rangga keluar dari kamar mamanya. Kesehatan mama Rina tidak bagus untuk mendengar hal hal yang berat. Ace sangat yakin jika ada sesuatu yang tidak beres antara Rangga dan Pak Hardi.


"Coba ceritakan pada mbak. Apa yang sebenarnya terjadi," kata Ace lembut setelah mereka berada di kamar Rangga.

__ADS_1


"Mama bilang. Mbak akan tinggal di rumah majikan mu. Aku berinisiatif meminjam uang kepada pak Hardi untuk membayar uang sekolah ku. Tapi pak Hardi tidak memberikan kecuali kita setuju menyerah kan rumah ini kepada dia. Aku tidak setuju lalu pak Hardi mengatakan jika bukan karena dirinya. Kita sudah tidak hidup lagi dan sudah membusuk di dalam tanah karena mati kelaparan."


Ace juga tersulut amarah mendengar cerita dari Rangga.


"Benar dia mengatakan seperti itu?" tanya Ace memastikan. Rangga menganggukkan kepalanya. Darah muda pria itu mendidih mendengar penghinaan pak Hardi dan berniat melawan pak Hardi tapi tarikan bibi Rosma membuat perkelahian itu tidak terjadi. Rangga juga mendengar nasehat Bibi Rosma hingga dia meninggalkan rumah rentenir kejam itu.


"Dia juga memberikan waktu dua minggu untuk melunasi semua hutang kita. Kalau tidak, dia akan mengusir kita dengan cara paksa dari rumah ini," kata Rangga membuat Ace semakin takut. Dua minggu adalah waktu yang sangat singkat untuk melunasi hutang ratusan juta.


"Tidak, tidak. Rumah ini tidak bisa jatuh ke tangan pak Hardi," kata Ace dan berkali kali menggelengkan kepalanya.


Pak Hardi terkenal dengan rentenir yang sangat kaya di sekitar lingkungan mereka. Dia memiliki tanah kosong yang luas dan rumah kontrakan. Semua itu berasal dari hasil usaha rentenir. Tapi itu semua bukan dari hasil bunga yang dipinjamkan kecuali dengan merampas jaminan pinjaman dengan paksa. Seperti rumah Ace yang mempunyai harga jual senilai satu milyar. Tapi pak Hardi akan memaksa keluarga Ace menyerahkan rumah itu dengan hutang yang hanya ratusan juta saja. Tidak ada penambahan biaya yang diberikan oleh Pak Hardi jika Ace bersedia memberikan rumah itu kepada dia.


"Benar mbak. Aku juga tidak mau. Bagaimana kalau kita meminta bantuan papa?" tanya Rangga.


"Jangan," jawab Ace cepat.


"Jadi bagaimana donk mbak," kata Rangga gelisah. Dia tidak rela harus terusir dari rumah itu.


"Percaya padaku. Dan jangan bertindak gegabah. Kamu tidak percaya padaku dan lihat hasilnya. Mbak pulang untuk mengantarkan uang yang kamu perlukan."


"Benar mbak?. Mata Rangga berbinar dan Ace menganggukkan kepalanya. Ace menyodorkan uang dua juta yang telah dia sisibkan tadi dari bonus pemberian Hans kepada Rangga.


"Terima kasih mbak." Ace menganggukkan kepalanya.


"Dan ini untuk uang jajan kamu," kata Ace lagi memberikan dua lembar uang merah. Rangga semakin berbinar matanya karena baru kali ini mendapatkan uang jajan sebanyak itu.


"Terima kasih mbak."

__ADS_1


"Jangan langsung habis. Belajar berhemat," kata Ace.


"Mbak, rumah kita tidak akan jatuh ke tangan pak Hardi kan," kata Rangga lagi. Ternyata uang yang sudah di tangannya tidak sanggup mengalihkan pemikirannya tentang rumah mereka.


"Tidak. Apapun akan aku lakukan demi rumah ini," kata Ace.


Sebenarnya Ace tidak akan rela memberikan tubuhnya kepada Tuan Hans tapi demi kenyamanan adik dan mamanya. Ace harus berkorban.


"Jika aku terpaksa memberikan tubuhku kepada Tuan Hans. Semoga nanti ada yang bisa menerima masa lalu ku," batin Ace. Malam ini dia sudah siap melayani tuan Hans demi rumah itu.


"Mama, uang sekolah Rangga sudah beres ya. Ini uang untuk jaga jaga ma. Jika mama ada keluhan. Ajak Rangga ke rumah sakit," kata Ace dan memberikan uang yang sama jumlahnya dengan uang sekolah Rangga.


"Bukankah kamu sudah mendapatkan gaji diawal satu bulan penuh. Jadi mengapa, ini Masih ada?" tanya mama Rina penasaran. Ace adalah anak gadisnya. Wanita itu takut, putrinya jual diri di luar sana apalagi Ace tidak pulang setiap hari ke rumah. Naluri seorang ibu itu memang kuat. Ketakutan mama Rina memang begitu lah kenyataannya. Ace akan menjual tubuhnya berkedok pelayan bagi tuan Hans.


Ace bingung untuk menjawab karena jika harus mengatakan yang sebenarnya tidak akan mungkin. Ace memutar otak mencari jawaban supaya sang mama tidak mencurigai.


"Bibi Santi yang meminjamkan kepada aku ma. Dengan syarat bulan depan harus dibayarkan."


Akhirnya Ace membawa nama Bibi Santi untuk menutupi kebohongannya.


"Benar begitu. Kamu tidak melakukan yang aneh aneh di luar sana kan?" tanya mama Rina penuh selidik.


"Iya ma. Percaya padaku. Majikan kami itu adalah pengusaha kaya. Rumahnya sangat luas. Gaji Bibi Santi saja tiga kali lipat dari gajiku ma. Bibi Santi sudah lama bekerja di Sana. Aku juga kalau betah akan dinaikan gaji ma," kata Ace semakin membuat kebohongan baru. Surat perjanjian kerjanya hanya satu bulan dan tidak tahu apakah diperpanjang nantinya tapi Ace sudah bercerita tentang kenaikan gaji.


"Apakah majikan mu masih muda?" tanya mama Rina lagi.


"Tidak ma. Sudah sangat tua. Istrinya lebih muda dari majikan laki laki."

__ADS_1


Untuk mencegah mama Rina curiga akhirnya Ace mengatakan jika majikannya sudah tua dan beristri. Berbeda dengan Hans yang masih muda dan juga status duda. Ace berkata seperti itu supaya mama Rina percaya dengan apa yang dia katakan..


__ADS_2