
Randi membawa mobil itu dalam diam. Dia tidak berani bersuara melihat atasannya juga enggan mengeluarkan suara. Hans masih terlihat berpikir sejak duduk di dalam mobil. Mungkin memikirkan tentang anak yang diperkenalkan Anita sebagai anaknya.
Randi berkali kali memberikan kode sedang lapar berharap tuannya itu memerintahkan dirinya membawa Mobil itu menuju restoran. Di kafe tadi mereka hanya minum kopi dan Randi juga belum sarapan tadi pagi.
Sama seperti Randi, sebenarnya Hans juga sedang lapar. Saat ini, sudah lewat makan siang dan tadi pagi juga dirinya belum sarapan. Ajakan Eva untuk bertemu hari ini terkesan terdesak ternyata ajakan itu hanya sebagai mediator untuk mempertemukan dirinya dengan Anita.
"Apa tidak sebaiknya kita cari tempat makan tuan?"
Randi memberanikan diri bertanya kepada Tuan Hans. Setiap melewati penjual makanan, perutnya semakin terasa lapar.
"Kamu lapar?"
"Iya tuan."
"Sama."
"Jadi, kita cari tempat makan kan Tuan. Yang terdekat saja ya!"
Randi mendengus kesal, Hans tidak menjawab perkataannya yang ada laki laki itu sibuk menatap layar ponselnya.
"Tuan, ..."
"Diam!. Berisik!"
Randi terdiam. Dia sangat paham jika tuannya mengatakan dua kata keramat itu artinya suasana hati Hans kurang baik. Randi akhirnya menyetir dalam lapar. Dia berharap, Hans memerintahkan dirinya membawa mobil itu ke rumah supaya dirinya bisa berlari ke dapur dan meminta makanan kepada Bibi Santi.
"Belokkan ke kanan!.
Randi membelokkan Mobil itu ke arah kanan meskipun dia bingung karena jalan itu bukan arah jalan ke kantor atau ke rumah. Untuk menemui klien juga rasanya tidak mungkin karena Hans tidak memakai pakaian kantor.
"Berhenti di depan restoran kenangan," kata Hans lagi. Randi mendadak senang karena itu aarti perutnya akan terisi sebentar lagi.
__ADS_1
Randi mengerutkan keningnya melihat restoran itu. Restoran sederhana yang mungkin hanya dikunjungi oleh masyarakat golongan menengah saja. Meskipun begitu, Randi tidak berani protes atau sekedar bertanya.
Kini dua pria itu sudah duduk di paling belakang ruangan itu karena hanya itu meja yang tersisa. Meskipun bangunan restoran itu tidak semewah restoran lainnya. Tapi pengunjungnya tidak kalah ramai dengan pengunjung restoran terkenal di Kota itu.
Hans dan Randi sudah memesan makanan. Mereka berdua tidak sadar jika kedatangan mereka menarik perhatian seorang wanita yang sudah memperhatikan mereka sejak turun dari mobil.
"Ini pesanannya pak," kata wanita itu yang mengantarkan pesanan Randi dan Hans. Merasa mengenal suara itu. Hans menatap wanita itu hingga selesai menata makanan diatas meja.
"Diara," panggil Hans. Wanita itu tersenyum.
"Mas Hans, apa kabar?" tanya wanita itu dengan tersenyum manis. Hans mengamati penampilan wanita itu yang tidak seperti pelayan tapi melayani mereka.
"Apa kehidupan kalian sangat menyedihkan sehingga kamu bekerja sebagai pelayan di restoran ini?" tanya Hans sinis.
"Apa penampilan ku seperti pelayan mas?" tanya wanita itu sambil memamerkan lekuk tubuhnya yang dibalut pakaian ketat. Tatapan Hans terlihat merendahkan Diara.
"Restoran ini milikku mas. Jadi sepantasnya lah aku membantu karyawanku."
"Benar mas. Milik Pak Andra tentu saja milikku. Karena pak Andra adalah suamiku," kata wanita itu bangga. Hans semakin terlihat meremehkan wanita itu.
"Hanya melihat kamu disini, selera makanku hilang apalagi setelah mengetahui restoran ini milik suamimu. Ayo Randi. Kita cari restoran lain yang cocok dengan lidah dan kelas kita," kata Hans sambil beranjak dari duduknya. Wanita itu memundurkan tubuhnya karena berdiri sangat dekat dengan meja. Diara tentu saja marah diperlakukan seperti itu dihadapan para pengunjungnya yang lain.
"Mas, bayar dulu," kata Diara dengan keras. Sepertinya wanita itu memancing perhatian pengunjung lain. Randi yang sedang minum air putih langsung meletakkan gelas itu begitu juga. Dia sudah mencium akan ada perdebatan sengit. Untung saja, dia makan dengan cepat ketika Hans Dan wanita itu tadi berbicara.
Hans membalikkan tubuhnya dan mendekati Diara.
"Bayar katamu?. Kalau aku tidak bersedia membayar. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Hans menantang wanita itu.
"Lihat sekeliling mu mas, mereka sudah merekam sikap sombong mu itu," kata Diara merasa menang. Hans mengedarkan pandangannya. Dan benar kata wanita itu. Beberapa orang sedang mengarahkan kameranya kepada dirinya.
Hans tertawa. Tadinya dia bermaksud ke restoran ini untuk membuktikan jika benar benar restoran ini milik Pak Andra papanya Ace. Hans memang berencana akan menepati janjinya untuk mengembalikan restoran itu kepada mama Rani tapi sebelum itu. Hans memastikan apakah perkataan Ace sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Ternyata benar restoran itu milik Pak Andra.
__ADS_1
"Aku bisa mempermalukan kamu kalau aku mau. Asal kamu tahu Diara. Aku mengetahui sejarah tentang restoran ini. Restoran ini adalah warisan untuk mama Rani mantan istri suami mu itu. Dan restoran ini sebenarnya milik mama Rani. Bukan milik suamimu itu. . Melainkan ke pemilik asli restoran ini. Ini teror pertama bagi kamu. Jika ada video saat ini yang tersebar. Aku akan pastikan jejak mu sebagai pelakor akan diketahui masyarakat luas," kata Hans pelan.
Wajah Diara memucat mendengar perkataan Hans. Rasa bangga yang diperlihatkan di hadapan Hans kini hilang berganti dengan rasa takut. Bagaimanapun, dia tidak ingin jejak sebagai pelakor diketahui masyarakat luas.
Hans tersenyum melihat gelagat wanita itu. Dia semakin yakin jika apa yang diceritakan Ace tentang restoran itu benar. Dan keinginan Hans untuk membantu restoran itu kembali ke mama Rani semakin kuat setelah mengetahui jika Diara yang menjadi wanita penghancur rumah tangga mertuanya.
Hans berjalan tegap meninggalkan Diara dengan wajah ketakutannya. Di sebelahnya Randi terlihat bingung mencerna apa yang dia lihat dan dia dengar tadi.
Setelah Hans dan Randi tidak terlihat lagi di dalam ruangan itu. Diara memukul meja melampiaskan kemarahannya.
"Sial."
Wanita itu merapatkan giginya. Menjumpai Hans ke meja itu ternyata adalah tindakan yang salah. Di sekelilingnya para pengunjung terlihat menggelengkan kepala, mengerutkan kening melihat sikap wanita itu.
"Randi, kita pulang ke rumah sekarang," perintah Hans setelah mereka sudah di dalam mobil. Hans
"Siap tuan."
"Dasar wanita wanita brengsek," gumam Hans sambil menyandarkan tubuhnya. Hari ini seperti hari sial baginya karena bertemu dengan Anita dan Diara. Hans ingin menenangkan dirinya sebentar di rumah sebelum bertemu klien dua jam lagi.
"Bibi, Ace di kamar atas kan. Kalau di dapur. Suruh segera ke atas," kata Hans setelah tiba di rumah.
"Maaf Tuan, sejak tadi pagi. Ace keluar dari rumah dan belum kembali."
"Keluar rumah?. Ace pamit kepada Bibi tadi?"
"Pamit Tuan," jawab Bibi Santi berbohong. Wanita paruh baya itu tidak ingin mengatakan yang sejujurnya kalau Ace tidak pamit. Bibi Santi takut, Hans menilai Ace negative jika mengatakan yang sejujurnya.
"Apa dia memberitahukan hendak kemana bi?"
"Sepertinya ke rumah orangtuanya tuan,"
__ADS_1