
Niat untuk lari dari tugas itu terlintas di kepala Ace dengan berpura pura pingsan. Tapi niat itu terusir sendiri melihat laki laki yang gagah nan tampan yang turun dari dalam mobil. Ini pertemuan ketiga antara Ace dan Hans. Dan Ace bisa mengamati wajah Hans yang masih berjarak dari dirinya. Hanya wanita buta yang tidak bisa melihat ketampanan laki laki itu. Tubuhnya tegap sempurna dengan wajah yang rupawan ditambah dengan tinggi badan yang menjulang tinggi. Mata Ace sampai tidak berkedip memandangi makhluk yang hampir sempurna itu.
Hans berjalan dengan gagah. Pandangannya tertuju kepada gadis yang siap menyambut kepulangan nya. Dia menatap gadis itu sekilas kemudian menyerahkan tas kerjanya tanpa bersuara. Hans mendaratkan tubuhnya di sofa untuk mengusir sedikit lelah akibat bekerja satu harian.
Hans tersenyum puas melihat Ace yang sudah berjalan menuju ruang kerjanya. Meskipun Ace tidak memakai pakaian yang super sexy tapi pakaian Ace saat ini bisa menunjukkan kakinya yang jenjang dan mulus. Ada sesuatu dalam diri Ace yang membuat Hans tertarik pada wanita itu untuk menjadikan sebagai pelayan. Jika ditanya apakah Ace pelayan yang paling cantik diantara pelayan pelayan sebelumnya. Jawaban nya tentu saja tidak. Hans sudah pernah mempekerjakan wanita yang sangat cantik tapi tetap juga dirinya merasa bosan.
Selain cantik, kepolosan Ace lah yang membuat Hans merasa tertantang untuk menjadikan wanita pelayan di ranjangnya. Sikap Ace yang malu malu membuat Hans ingin membuktikan apakah gadis itu benar benar polos atau sengaja berpura pura polos untuk menggoda dirinya supaya penasaran.
Mata Hans tidak bisa berkedip melihat Ace yang keluar dari ruang kerjanya. Ace masih saja bersikap malu malu dengan kepala tertunduk dan kedua tangan yang saling bertautan.
"Mengapa pakai pakaian seperti itu?" tanya Hans tajam. Bukan karena penampilan Ace tidak bisa menggoyahkan iman nya tapi karena dia merasa Ace melawan atas apa yang dia perintahkan. Hans sangat membenci perlawanan.
"Aku lebih nyaman pakai pakaian seperti ini tua dari pada pakaian yang tuan sediakan."
"Kamu berani melawan perintahku?" tanya Hans dengan suara yang meninggi.
"Tidak tuan. Tidak sama sekali. Aku hanya takut masuk angin saja jika memakai pakaian itu. Bagaimana aku bisa melayani tuan jika aku sakit."
"Kebanyakan bicara kamu. Sekarang ganti pakaian kamu dan datang lah ke kamarku. Satu lagi, pakai yang warna merah menyala," kata Hans tajam.
Pria itu berdiri dan melangkah ke kamarnya yang ada di lantai dua. Sedangkan Ace masih mematung di tempat itu karena tidak ingin memakai pakaian kurang bahan itu.
__ADS_1
Tidak ingin mempersulit dirinya karena mendapatkan kemarahan dari tuan Hans akhirnya Ace masuk ke kamarnya. Biarlah dia menurut apapun yang diperintahkan oleh tuan Hans asalkan dirinya mendapatkan uang.
Masuk ke kamar. Ace mengacak pakaian kurang bahan yang masih berserakan di atas ranjang. Sepertinya, nasib baik masih berpihak kepada dirinya karena pakaian warna merah menyala yang diinginkan oleh tuan Hans tidak ada diantara pakaian tersebut.
Ace merapikan semua pakaian itu sebentar kemudian membawa pakaian itu ke kamar tuan Hans. Dia ingin menundukkan jika pakaian warna merah menyala tidak ada diantara pakaian itu. Dia tidak ingin dituduh sebagai pelayan yang suka melawan.
"Apa apaan kamu. Bukannya sudah berganti pakaian. Kamu justru membawa pakaian itu ke kamar ku," kata Hans. Hans masih belun membersihkan tubuhnya terlihat dari pakaiannya yang belum diganti. Ace masih berdiri di depan pintu kamar sang tuan.
"Pakaian yang tuan minta tidak ada diantara pakaian ini tuan."
Hans berdiri dari duduknya dan mendekati Ace. Dia meraih pakaian pakaian itu dengan kasar dan benar saja tidak ada warna pakaian yang seperti dia minta. Lagi pula dia memesan pakaian dengan warna favoritnya tapi mengapa satu pun tidak ada warna yang dia sukai saat ini. Justru warna warna pakaian itu mengingatkan dirinya akan mantan istri yang menyukai warna kuning dan hijau. Warna yang memuakkan bagi Hans setelah gugatan perceraian dari mantan istrinya.
Hanya karena perkara pakaian itu. Hans memijit keningnya kemudian kembali duduk di tepi ranjang. Sedangkan Ace tersenyum dalam hati. Dia berharap, pria itu tidak bergairah melihat dirinya malam ini.
"Buang semua pakaian pakaian itu," perintah Hans.
"Baik Tuan," jawab Ace senang. Itu artinya dia terbebas dari pakaian pakaian haram itu.
"Dan cepat kembali ke kamar ini," kata Hans lagi.
"Baik Tuan," jawab Ace pelan. Dia sudah semangat ingin membuang semua pakaian itu tapi kini tangannya merasa lemah meraih gagang pintu karena ternyata dia akan kembali masuk ke kamar ini.
__ADS_1
"Kalau dijual balik masih bisa ga ya. Atau dikembalikan ke toko nya dengan setengah harga," kata Ace sambil melihat label tag yang masih melekat di pakaian itu. Ace mendadak merasa tidak rela membuang pakaian pakaian karena ternyata harga mahal. Lebih mahal dari pakaian terbaik yang dia miliki.
Ace akhirnya tidak membuang pakaian itu. Dia kembali menyimpannya di dalam kamarnya. Dia berencana membicarakan niat menjual pakaian itu dengan Bibi Santi besok.
"Mengapa kamu lama sekali?" tanya Hans setelah Ace kembali masuk ke kamar sang tuan.
"Maaf tuan," cicit Ace pelan. Dia bergerak mendekati Hans karena laki laki itu melambaikan tangannya menyuruh Ace mendekat.
"Tuan belum mandi. Apakah perlu aku persiapkan air mandian hangat tuan?" tanya Ace pelan. Suaranya terdengar bergetar karena dia sedang gugup.
"Tidak perlu. Lakukan tugas mu terlebih dahulu baru aku mandi setelahnya. Mendekat lah kemari."
Ace merasakan kakinya bergetar. Sepertinya malam ini dia harus menjalankan tugasnya. Siap?. Tentu saja dia tidak siap.
"Jalan mu jangan seperti keong," hardik Hans. Ace tersentak kaget. Dia memegang dadanya.
"Mama, malam ini aku akan menjadi pendosa. Maafkan aku ma," kata Ace dalam hati.
Ace sudah berdiri tepat di hadapan Hans dan pria itu masih terlihat sering memijit keningnya.
"Berbaring lah tuan, sepertinya tuan sangat lelah. Biarkan aku menghilangkan kelelahan mu," kata Ace. Terdengar menggoda. Tapi tidak ada yang tahu jika Ace merasakan jantungnya hampir berhenti berdetak setelah mengatakan itu.
__ADS_1
Hans melepaskan tangan dari keningnya. Dia menatap Ace yang sedang tersenyum kepada dirinya. Dalam hati, Hans membenarkan dugaannya sendiri jika Ace hanyalah berpura pura polos untuk membuat dirinya penasaran.
"Kamu tidak ubahnya seperti pelayan pelayan sebelumnya. Hanya demi kesenangan rela menjadi pelayan ranjang ku. Bersiap lah menerima permainan ku nantinya," kata Hans dalam hati. Menjadikan wanita wanita menjadi pelayan di ranjangnya hanya untuk melampiaskan kemarahan dan dendamnya kepada mantan istrinya.