Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Bertemu mama


__ADS_3

Dipaksa oleh tuan Hans untuk menikah pura pura tentu saja membuat Ace tidak tenang. Dia memang butuh uang itu dan pernah sudah siap menyerahkan tubuhnya kepada Tuan Hans. Tapi jika untuk menikah. Tidak pernah terpikirkan oleh Ace. Jika hanya sebagai pelayan tuan Hans. Urusannya antara dirinya dan Tuan Hans. Tapi jika sampai menikah meskipun pura pura pasti melibatkan kedua orang tua mereka.


Setelah pembicaraan antara dirinya dan Tuan Hans juga Randi. Ace tidak bisa memejamkan matanya sama sekali hingga menjelang subuh.


Seperti pertama kali bekerja sebagai pelayan. Ace menjalankan tugasnya pagi itu. Menyiapkan air hangat, pakaian kantor hingga sarapan pagi untuk tuan Hans.


"Bibi, bantu Ace berhias nanti sore. Nanti malam, Aku dan Ace akan ke rumah utama," kata Tuan Hans. Pria itu baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Sebagai pelayan. Ace berdiri di sebelahnya. Siap menjalankan perintah apapun yang keluar dari mulut Tuan Hans.


Bibi Santi yang kebetulan lewat dari meja makan seketika menghentikan langkahnya. Kedua matanya memicing karena kurang mengerti maksud perkataan dari tuannya.


"Ke rumah utama tuan?.


Tuan Hans menganggukkan kepalanya. Bibi Santi semakin tidak mengerti. Tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke rumah utama milik Tuan besarnya itu. Wanita itu memilih menganggukkan kepalanya. Rasa penasarannya saat ini bisa ditanyakan kepada Ace setelah tuan mudanya itu pergi bekerja.


"Nanti siang, akan ada orang yang mengantarkan beberapa gaun. Kamu pilih gaun yang paling cantik dan berkelas," kata Hans sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Baik Tuan," jawab Ace. Ketika Randi menutup pintu mobil. Ace memberikan senyum kepada Randi dan dibalas tersenyum juga oleh pria itu. Ace dan Randi tidak mengetahui jika mereka yang saling berbalas senyum bisa dilihat Tuan Hans dari Mobil.


"Randi, pergerakan mu makin lama makin lambat seperti bebek. Apa kamu tidak tahu waktu sangat berharga," kata Tuan Hans dengan suara yang keras. Randi yang sedang hendak membuka pintu mobil bagian depan. Langsung menggerakkan tangannya dengan cepat membuka pintu mobil itu. Mendapatkan amarah Tuan Hans di hadapan Ace membuat Randi merasa malu.

__ADS_1


"Kalau sudah tahu calon istri orang. Jangan sok tebar pesona kamu," kata Hans kesal setelah mobil bergerak.


"Calon suami pura pura saja. So cemburuan kamu tuan."


Randi ingin mengatakan hal itu kepada Hans tapi sayang dia tidak mempunyai nyali untuk itu. Randi memilih diam dan fokus menjalankan mobil itu.


"Lebih baik menjadi istri daripada menjadi pemuas hasrat laki laki yang bukan suaminya nak," kata Bibi Santi ketika dirinya sudah mendapatkan informasi dari Ace akan tujuan Tuan Hans membawa Ace ke rumah utama.


Bibi Santi sangat senang akan rencana tuan Hans untuk menikahi Ace meskipun pura pura.


"Ini terpaksa aku lakukan bu. Tapi benar juga perkataan Bibi," jawab Ace. Meskipun menikah pura pura menurut Tuan Hans tapi jika pernikahan itu sah di hadapan agama dan negara. Maka pernikahan itu bukan pernikahan pura pura. Jika nantinya, Ace tidak dapat mempertahankan kesuciannya dalam pernikahan. Itu jauh lebih bagus daripada melayani hasrat tuan Hans tanpa adanya ikatan pernikahan.


Tiba di rumah miliknya. Tuan Hans tersenyum puas melihat penampilan Ace. Dia memilih pakaiannya sendiri dengan warna yang sesuai dengan gaun Ace supaya kedua orangtuanya percaya jika Ace adalah pacar yang baik tingkat menjadi calon istri.


Tidak ada perlakuan khusus oleh tuan Hans untuk calon istri pura puranya. Sejak berangkat dari rumah miliknya. Sedikit pun, Hans tidak menunjukkan sikap jika dirinya akan melepaskan status dudanya.


"Ayo masuk, bersikap baik lah di hadapan kedua orangtua ku supaya kamu lulus menjadi colon istriku. Ingat, uang tiga ratus juta itu akan berada di tangan mu. Jika kamu bisa menyakinkan kedua orang tuaku jika kita ini bukan pura pura."


Ace menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti langkah Hans memasuki rumah yang mirip seperti istana.

__ADS_1


"Loh, kok gak digandeng calon istrinya Hans?" kata sang mama menyambut kedatangan Tuan Hans di rumah itu.


"Calon Istriku ini adalah wanita mandiri ma. Jadi tidak perlu dibantu berjalan."


"Kamu ini , bagaimana sih. Bukan masalah mandiri atau tidak mandiri. Pasangan itu harus bisa sedikit romantis. Jika masih pacaran saja tidak romantis. Bagaimana kalau sudah menikah nanti apalagi sudah mempunyai anak."


Ace menundukkan kepalanya. Dia masih mengingat bagaimana wajah datar wanita itu semalam.


"Loh, Hans. Bukankah wanita ini yang duduk di pangkuan kamu kemarin sore?" tanya sang mama itu. Ketika mereka berjabat tangan, Ace menatap wajah wanita itu. Ternyata mama Hans masih mengingat wajah Ace. Ace kembali menundukkan kepalanya. Sedangkan tuan Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Duduk dulu ma. Papa dimana?" tanya Hans. Hans juga menarik tangan Ace dengan lembut supaya duduk bersebelahan dengan dirinya.


"Papa masih mandi. Sebentar lagi akan turun. Sebelum papa turun. Tolong jelaskan mengapa wanita ini yang kamu bawa saat ini. Wanita yang kamu sebut pelayan dan sengaja menggoda kamu demi mendapatkan uang untuk bersenang senang."


Ace memegang dadanya dengan sesak. Walau pun mamanya tuan Hans mengatakan ulang perkataan Hans kemarin sore tetap juga.


"Mama sebenarnya kami berdua adalah berpacaran. Aku mengatakan seperti itu kemarin karena aku takut mama marah karena membawa seorang gadis ke dalam rumah. Maafkan Hans mama."


"Apa tidak ada gadis lain?" tanya wanita itu lagi. Ace sudah merasakan jantungnya hampir melompat dari raganya. Ace berusaha untuk tenang. Ace gelisah bukan karena penolakan itu melainkan memikirkan nasib uang tiga ratus juta.

__ADS_1


__ADS_2