Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Permohonan Tuan Hans


__ADS_3

Hans dan Bibi Santi saling berpandangan. Mereka hanya menemukan beberapa pasang pakaian di dalam tas. Susu, obat dan perlengkapan bayi lainnya yang dikatakan oleh Anita tidak ada di dalam tas bayi. Yang membuat Hans heran. Sepertinya Anita tidak menitipkan Gio dalam kurun waktu beberapa jam melainkan menitipkan anak itu untuk beberapa hari ke depan terlihat dari lumayan banyaknya pakaian Gio yang ada di dalam tas tersebut.


"Ibu seperti apa sih dia. Masa anak sendiri dititipkan seenaknya saja di sini. Tuan, apa Tuan yakin anak ini putra anda?" tanya Bibi Santi sambil memperhatikan wajah anak itu yang tidak ada mirip sama sekali dengan Tuan Hans. Wajah anak itu mewarisi wajah ibunya.


"Putra kandungku atau tidak. Yang pasti anak itu perlu susu dan obat sekarang bi," jawab Tuan Hans. Laki laki itu sibuk mengetikan pesan kepada Randi untuk membeli susu dan obat penurun demam. Gio semakin rewel dan tubuhnya masih demam.


Bibi Santi menatap wajah majikannya. Sebagai asisten rumah tangga yang sudah bertahun tahun bekerja pada keluarga ibu Yanti. Bibi Santi mengetahui sisi baik Tuan Hans. Tuan Hans adalah sosok yang mudah merasa kasihan kepada orang susah. Laki laki itu juga gemar membantu orang yang membutuhkan. Kalau bukan karena perselingkuhan mantan istrinya, tuan Hans tidak akan pernah menjadi laki laki yang berpetualang dari wanita ke wanita yang lainnya.


"Dasar wanita jadi jadian. Apa wanita itu tidak mempunyai perasaan sedikit pun?. Tega meninggalkan anaknya dalam keadaan demam seperti ini. Ibu yang baik itu, jangankan bepergian dalam keadaan anak sakit seperti ini. Makan dan tidur pasti tidak bisa," kata Bibi Santi terus mengomel. Wanita tua itu tidak habis pikir dengan pemikiran Anita yang tega meninggalkan anaknya kepada orang yang belum akrab dengan Gio.


Bibi Santi juga tidak yakin jika Gio adalah putra kandung majikannya itu. Bibi Santi semakin yakin dalam hatinya. Jika ibu Ratih memaksa Tuan Hans menikah secepatnya pasti ada hubungannya dengan Gio.


Tanpa sepengetahuan Bibi Santi. Tuan Hans juga sepemikiran dengan Bibi Santi. Tapi anak itu sudah terlanjur ditinggalkan. Mau tidak mau, dirinya harus menjaga anak itu sampai sore nanti.


"Menunggu Randi datang. Apa tidak lebih baik Gio dikasih makan saja Bibi?" tanya Tuan Hans. Meskipun tidak menginginkan anak itu ada di rumah itu. Tuan Hans tetap memberikan perhatiannya kepada Gio. Tuan Hans merasa sangat kasihan kepada anak kecil itu.


"Tuan, sepertinya demam anak ini karena infeksi ini," kata Bibi Santi sambil menunjukkan kedua area paha anak kecil itu yang memerah. Tuan Hans memperhatikan area paha Gio. Laki laki itu bergidik ngeri melihat area itu yang memerah mengkilap seperti tomat masak.

__ADS_1


"Ya ampun Bibi. Ternyata Anita bukan hanya gagal sebagai istri tapi gagal juga menjadi seorang ibu. Beruntung aku terlepas dari wanita itu bi."


"Benar Tuan. Dan jangan sampai karena keberadaan anak ini. Hubungan Tuan dan Ace semakin rumit. Ace adalah wanita yang baik Tuan. Dia bersedia menjadi pelayan karena terpaksa."


Tuan Hans tertegun mendengar perkataan Bibi Santi. Sejak dirinya ke ruang tamu itu. Dirinya melupakan Ace.


"Titip Gio bi. Aku ke atas dulu."


Tuan Hans menaiki tangga dengan tergesa gesa. Meskipun dirinya belum mendapatkan jawaban dari Ace atas ajakan saling belajar mencintai. Tuan Hans tidak ingin Ace beranggapan jika dirinya saat ini bersama Anita.


"Ace, mengapa tidak turun ke bawah?" tanya Tuan Hans begitu pintu kamar terbuka. Ace yang sedang berbaring di sofa panjang hanya menoleh ke arah tuan Hans kemudian kembali menatap layar ponselnya.


"Untuk apa ke bawah Tuan. Membiarkan aku dihina oleh mantan istrimu yang cantik itu?" tanya Ace sinis. Kata kata penghinaan dari Anita masih terekam dengan jelas di kepalanya. Ace sangat sakit hati karena penghinaan itu tapi yang lebih membuat Ace sakit hati, suaminya itu tidak menegur mantan istrinya.


Tuan Hans terdiam. Mendengar perkataan Ace. Tuan Hans memutar otaknya ke kejadian beberapa jam yang lalu. Tuan Hans merasa bersalah karena tidak membela istrinya tadi.


"Maafkan aku Ace."

__ADS_1


"Tidak perlu meminta maaf Tuan. Aku yang terlalu berlebihan menanggapi perkataan mantan istrimu. Seharusnya aku tidak marah ketika wanita itu menyebut aku babu. Bukankah memang benar jika aku hanya lah seorang babu."


"Ace, jangan berkata seperti itu. Kamu adalah istriku. Kamu bukan babu."


Ace tertawa. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dan duduk. Ace menatap tajam laki laki yang menjadi suami pura puranya itu. Sekarang dia mengakui dirinya adalah istrinya tapi ketika Anita menghina dirinya. Tuan Hans sedikit pun tidak membela dirinya. Ace berpikir jika Tuan Hans malu mengakui dirinya sebagai istri di hadapan mantan istrinya. Ace bisa berpikir seperti itu karena Hans mengajak dirinya menemui Anita tetapi dirinya harus berdandan yang cantik. Ace juga berpikir jika Tuan Hans berniat ingin memanas manasi mantan istrinya dan menundukkan dirinya yang lebih bahagia dibandingkan dengan Anita.


"Stop tuan. Jangan membual. Seorang suami itu tidak hanya bertanggung jawab akan kebutuhan keluarga. Seorang suami itu juga seorang pelindung. Dan aku tidak menemukan hal itu dalam diri Tuan. Seorang suami itu tidak akan membiarkan orang lain menginjak injak harga diri istrinya. Dan hari ini, tuan tidak melarang wanita itu menghina aku."


Hans mengusap wajahnya. Dia tadi memang mendengar perkataan menghina dari mulut Anita. Tapi karena tidak ingin melihat mantan istrinya berlama lama di kamar ini. Tuan Hans mengusir wanita itu. Tuan Hans menyadari dirinya bersalah karena kejadian tadi.


"Maaf kan aku ce. Aku janji jika sekali lagi dirinya menghina kamu. Maka aku yang akan menjadi lawannya. Aku juga ingin kamu bisa berubah penampilan supaya tidak dipandang sebelah mata oleh siapapun ce. Aku siap memberikan dana untuk itu."


"Jangan sok pahlawan tuan. Aku sudah nyaman seperti ini. Jika wanita itu adalah wanita idaman bagi Tuan. Aku siap diceraikan sekarang juga dan aku siap menanggung resiko dari pernikahan sandiwara ini.


"Aku mohon Ce. Sungguh, aku juga ingin mempunyai keluarga yang bahagia. Karena kamu adalah istriku. Aku ingin berbahagia bersama hingga rambut kita memutih."


Ace terdiam mencerna kata kata suaminya. Selama satu minggu ini, tak henti hentinya tuan Hans mengungkapkan keinginannya untuk mereka berdua supaya bisa saling belajar mencintai. Ace masih ragu. Ace khawatir jika ajakan Tuan Hans juga merupakan sandiwara untuk mendapatkan warisan dari kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Ingat wajah mama Rani yang tersenyum bahagia ketika kita menikah dulu Ce. Meskipun aku adalah laki laki. Aku sangat yakin jika mama Rani sangat mengharapkan atau bisa jadi sampai mendoakan supaya anak anaknya tidak Ada pun satu yang memilih perceraian.


__ADS_2