Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Keputusan Ace


__ADS_3

Meninggalkan Gio di rumah mantan suaminya termasuk keputusan yang sangat berani yang pernah dialami oleh Anita sepanjang hidupnya. Tapi demi mendapatkan perhatian mantan suaminya. Anita mengambil keputusan besar itu berharap tuan Hans menerima dan percaya bahwa Gio adalah putra kandungnya tanpa melakukan test DNA.


Anita tidak bepergian kemana mana. Dia berada di kediaman nya yang tergolong mewah. Menjadi istri Tuan Hans selama tiga tahun. Anita berhasil menimbun pundi pundi rekeningnya dengan uang nafkah dari tuan Hans dan juga uang yang dia dapatkan dengan bersengkongkol dengan salah satu karyawan kepercayaan tuan Hans di perusahaan.


Di rumah mewah itu Anita mengingat masa lalunya bersama Tuan Hans. Tidak ada perlakuan mantan suaminya itu yang fatal yang membenarkan dirinya berselingkuh. Alasan karena Tuan Hans gila kerja hanya sebagai pembenaran pengkhianatnya.


Anita merasa bersalah, seharusnya dirinya bersyukur mempunyai suami pekerja keras untuk mencukupi keuangan keluarga. Tapi yang dilakukan Anita justru menghancurkan rumah tangganya sendiri. Andaikan waktu bisa diputar kembali. Anita akan menjadi istri yang penuh cinta, penurut dan berbakti kepada suaminya. Anita benar benar menyesali perselingkuhannya. Dan berharap dengan adanya Gio, Anita berharap bisa menebus kesalahannya menjadi istri yang baik bagi Hans jika laki laki itu bersedia rujuk dengan dirinya.


"Maaf kan aku Hans," batin Anita dengan dadanya yang terasa sesak. Mengingat semua kesalahannya. Anita merasa sedih dan menyesal. Anita memukul dadanya sendiri karena kesalahannya di Masa lalu. Mengingat Hans sudah memiliki istri, kemungkinan rujuk dengan laki laki itu sangat lah kecil.


Anita hanya mampu meminta maaf dalam hati karena dirinya merasa malu untuk meminta maaf langsung kepada Tuan Hans. Dirinya yang dulunya merasa bangga mendapatkan pengganti Hans kini lenyap karena sudah mengetahui siapa sebenarnya suaminya yang sekarang.


Anita tidak ubahnya seperti seorang pelakor dan keberadaan dirinya yang dinikahi hanya secara Siri dan disembunyikan keberadaannya dari istri pertama. Suaminya yang bernama Lian itu ternyata sudah mempunyai istri sebelumnya. Dan Anita mengetahui hal itu setelah menikah dengan Lian. Anita harus rela berbagi waktu dan suami dengan wanita lain.


Tentu saja Anita sedih dan kecewa menghadapi kenyataan itu. Dirinya melepaskan laki laki penyayang dan baik hanya demi laki laki pengobral cinta. Dan yang membuat Anita merasa tertekan karena dirinya harus menunjukkan kepada orang orang bahwa dirinya berbahagia dengan pilihannya sendiri.


Bukan hanya sedih dan kecewa. Anita juga merasa tertipu. Bukan hanya karena Lian yang menyembunyikan status dirinya tapi Anita juga merasa tertipu karena tabungan ratusan juta yang ada di rekening miliknya sudah hampir habis. Lian dengan leluasa tanpa bisa dicegah melakukan penarikan uang dari rekening yang atm nya dipegang oleh laki laki itu.


Anita marah tapi tidak bisa mengungkapkan kemarahan nya di hadapan suaminya. Lian tidak seperti Hans yang bersedia mendengar omelan istrinya. Lian akan menggertak jika Anita bersuara protes atas apapun yang dia lakukan.


"Mas, itu uang pribadi ku. Mengapa kamu menarik uang itu sesuka hatimu," kata Anita pelan. Lian yang baru pulang setelah empat hari di rumah istri pertamanya tidak menjawab. Laki laki itu langsung masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Anita yang mengikuti langkah suaminya hingga ke dalam kamar hanya bisa menahan amarahnya.


"Aku lagi butuh modal nit. Aku ingin menandingi perusahaan mantan suami itu. Aku harus lebih hebat dari dia supaya kamu juga terlihat lebih hebat memilih suami seperti aku."


Anita hanya bisa merapatkan giginya. Selalu begitu alasan suaminya tapi tidak pernah membagi keuntungan dari usaha yang dikelola oleh suaminya itu. Uang nafkah yang diberikan oleh Lian tidak sebanding dengan uang tabungan yang sudah ditarik laki laki itu dari rekening miliknya.


"Ini aku kembalikan atm nya nit. Doakan ya usaha ku lancar. Aku akan mengganti uang kamu nanti. Tidak lama lagi kok."


Anita meraih atm itu dengan sedikit kasar dari tangan Lian. Lewat ponselnya, Anita mengetahui jika saldo di rekeningnya hanya tinggal dua puluh juta saja. Anita ingin menangis kehilangan uangnya tapi tidak bisa dia lakukan di hadapan suaminya. Tidak ada gunanya karena Lian tidak akan perduli bagaimanapun kesedihannya kehilangan uang itu.


Anita ingin berteriak menyesali pernikahannya dengan laki laki itu tapi mulutnya seperti terkunci. Tatapan tajam dari Lian seperti tatapan singa yang siap menerkam jika laki laki itu marah. Meskipun tidak sampai memukul Anita tapi kata kata kasar dari suaminya itu mampu membuat Anita merasa takut untuk mengungkapkan kekecewaan, kesedihan bahkan kemarahannya.


"Nit, bagaimana dengan Gio. Apa mantan kamu itu sudah percaya jika anak itu putra kalian?" tanya Lian tiba tiba.


Anita yang sedang berjalan hendak keluar dari kamar menghentikan langkahnya dengan tangan yang terkepal. Dirinya sangat yakin jika Gio adalah putranya dengan Lian. Hanya test DNA itu yang mematahkan keyakinan dalam hatinya.

__ADS_1


"Dia tidak percaya mas. Aku sudah menyarankan untuk melakukan test DNA supaya dia percaya," jawab Anita.


"Untuk apa test DNA. Sudah sangat jelas itu putra kalian. Aku bersedia memberikan kasih sayang sebagai ayah kepada putramu itu. Tapi mantan suami juga harus bertanggung jawab menafkahi putranya. Katakan itu pada mantan suami mu saat menjemput Gio nanti."


"Aku sudah mengatakan seperti itu mas. Dan Hans hanya akan mengakui Gio putranya jika punya bukti test DNA."


"Silahkan saja. Tapi kamu harus menekan supaya test DNA itu di rumah sakit yang Kita tentukan sendiri."


"Hans bukan laki laki yang bisa ditekan mas. Biarkan dia melakukan test DNA di rumah sakit manapun yang dia inginkan."


"Oo tidak bisa begitu nit. Jangan bodoh kamu. Bagaimana jika Hans memanipulasi hasil test untuk menghindari tanggung jawab."


"Dia tidak mungkin seperti itu mas. Aku mengenal Hans. Dia laki laki yang bertanggung jawab."


"Kamu memuji mantan suami itu?"


Anita merasakan kakinya gemetar mendengar suara Lian yang membentak dirinya. Sikap seperti ini lah yang paling tidak disukai Anita dari suaminya itu. Hal yang biasa bisa membuat laki laki itu marah. Dirinya tidak berniat memuji Hans di hadapan suaminya sendiri. Anita hanya mengatakan yang sebenarnya dan dia rasakan ketika menjadi istri Hans. Hans tidak pernah pelit dalam masalah uang.


"Jemput Gio sekarang juga. Dan minta uang dari mantan suami itu. Dia harus mengganti uang yang selama ini aku keluarkan untuk kebutuhan putra kalian itu sejak dari dalam kandungan."


Mulut Anita terasa terkunci. Dia tidak menjawab perkataan suaminya. Tapi dalam hati Anita berjanji tidak akan membiarkan Lian memeras Hans karena sudah mengeluarkan uang kepada putranya. Meskipun, niat hati Anita ingin rujuk dengan Hans. Dia tidak akan rela, Lian bisa membohongi mantan suaminya itu. Cukup hanya uangnya saja yang sudah dihabiskan laki laki itu. Jangan sampai Lian berhasil memeras Hans.


"Nit."


"Apalagi mas?"


Tidak sadar, Anita menjawab suaminya dengan menunjukkan kekesalan hatinya. Wanita itu langsung menutup mulutnya. Dia takut karena nada suaranya itu. Dirinya mendapatkan kata kata kasar dan nama nama hewan dari Lian.


"Sini, duduk sebentar disini. Aku ingin berbicara serious dengan kamu."


Anita terheran dengan suara lembut suaminya. Tidak biasanya laki laki itu bisa berkata lembut jika dirinya menjawab ketus seperti tadi. Anita menurut. Wanita itu duduk di tepi ranjang dan suaminya juga sudah duduk.


"Nit, aku butuh modal besar. Tabungan ku juga sudah menipis karena aku alakosi kan untuk modal usaha. Bagaimana kalau kita menjual rumah ini saja untuk menambah modal usahaku?"


Lian berkata pelan tapi Anita mendengar kata kata itu seperti tamparan di wajah nya. Lian memang tidak menaki dirinya tapi kata kata itu seperti mendorong dirinya jatuh ke dalam jurang. Lian dengan tega meminta menjual rumah itu. Padahal laki laki itu mengetahui jika hanya rumah itu yang tersisa dari harta gono gini dan kompensasi perceraian dari Hans.

__ADS_1


"Berikan aku waktu untuk berpikir mas."


"Baik. Jangan lama lama berpikir ya sayang. Aku butuh modal secepatnya."


"Berikan aku waktu satu bulan untuk berpikir."


"Kelamaan sayang."


"Menjual rumah bukan keputusan yang mudah mas."


Setelah mengucapkan kata kata itu. Anita keluar dari kamar. Hatinya semakin sesak menyadari jika Lian sepertinya hanya menginginkan materi dari dirinya. Sampai kapanpun, Anita tidak akan membiarkan rumah itu terjual hanya demi menambah modal usaha suaminya yang tidak jelas. Anita berjanji dalam hati jika rumah itu akan diwariskan kepada Gio nantinya.


Anita masuk ke dalam kamar Mandi. Wanita itu menangisi perceraian Dan pernikahannya dengan Lian sekaligus.


Di rumah yang lain. Hans berbaring di ranjangnya dengan menatap langit langit kamarnya. Senyum terlukis di wajahnya. Kata kata Ace yang bersedia menerima Gio jika anak itu terbukti putra kandungnya. Kata kata itu sangat indah terdengar di telinganya melebihi indahnya kata kata pujian yang sering ditujukan kepada dirinya karena ketampanan dan kesuksesannya.


Senyum itu masih saja terlihat di wajah laki laki itu ketika pintu kamar terbuka. Ace yang melihat senyum di wajah suaminya itu hanya bisa berpura pura berbalik menutup pintu karena tidak tahan melihat senyuman manis suaminya itu.


Baru Kali ini, dirinya melihat senyum ketulusan itu dari wajah suaminya.


"Makasih ce."


Entah kapan Hans turun dari ranjang yang jelas kini laki laki itu sudah memeluk Ace dari belakang. Ace menutup pintu itu dengan sempurna kemudian berusaha melepaskan tangan Hans dari perutnya.


"Tuan, tolong lepaskan."


"Biarkan seperti ini ce. Kita harus sering sering melakukan seperti ini. Selama ini kita bersentuhan hanya untuk menjalankan aktivitas ranjang. Aku ingin pernikahan Kita bukan hanya semata mata karena hubungan ranjang dan keinginan mu untuk merebut restoran itu. Aku ingin pernikahan ini berakhir dengan pernikahan yang sesungguhnya yang di dalamnya ada cinta yang tulus dari hati kita masing masing Ce."


Ace terdiam. Jika sebelum sebelumnya Ace menolak ajakan Hans untuk membuka diri berusaha saling jatuh cinta. Tapi kali ini, hati dan mulutnya seakan sulit mengeluarkan suara apapun untuk menanggapi perkataan suaminya itu. Ace membiarkan suaminya itu memeluk dirinya.


"Ce, berbalik lah jika kamu bersedia membuka diri akan pernikahan ini. Aku butuh kepastiaan Ce. Aku tidak bisa berjuang sendiri untuk membawa pernikahan ini ke pernikahan yang sesungguhnya jika kamu tidak mau membuka diri."


Ace menggigit bibirnya, kata kata Hans sangat benar. Pernikahan itu menyangkut dua orang yang sama sama bekerja sama untuk dibawa kemana arah pernikahan itu. Jika dirinya bersikeras menolak ajakan Hans. Ace ragu jika ada seseorang yang bisa menerima dirinya yang janda nantinya. Selain itu, Ace juga merasa berhutang budi kepada Hans karena bersedia membantu dirinya membayar hutang dan berjanji akan mengembalikan restoran itu. Ace menyadari jika dirinya tidak bertemu dengan Hans. Bisa saja dirinya dan keluarga sudah menjadi gelandangan saat ini.


Ace akhirnya membalikkan tubuhnya seperti arahan Hans dengan menundukkan kepalanya. Ace akhirnya bersedia membuka diri akan pernikahan itu.

__ADS_1


__ADS_2