
Sejak penemuan noda lipstick di kemeja milik Tuan Hans. Hubungan Tuan Hans dan Ace semakin merenggang. Ace merasa dirinya dibohongi sedangkan Tuan Hans merasa mulut Ace terlalu tajam menceramai dirinya. Mereka memang masih tidur di kamar yang sama karena kedua orang tua Tuan Hans masih tinggal di rumah tersebut.
Sudah hampir satu minggu, Tuan Hans dan Ace tidak bertegur sapa. Tuan Hans tidak berniat sama sekali untuk memperbaiki hubungan mereka karena bagi laki laki itu. Ace hanya lah seorang pelayan bagi dirinya. Yang membedakan dengan pelayan pelayan sebelumnya adalah ikatan pura pura diantara mereka. Andaikan tidak ada ikatan itu. Tuan Hans pasti sudah mengusir Ace dari rumah itu. Dia tidak suka dengan mulut Ace yang selalu cerewet.
Ace memang memposisikan dirinya sebagai pelayan sesuai kontrak kerja yang pertama. Dan Ace juga berusaha menyadarkan Tuan kubangan dosa itu seperti keinginan mama Ratih. Tapi apa daya, Tuan Hans tidak berminat sama sekali berbicara dengan Ace. Mereka tidak bertegur sapa karena Tuan Hans yang sengaja menghindar. Pulang larut malam dan pagi berangkat bekerja tanpa sarapan terlebih dahulu.
Ace seketika bingung, melanjutkan pernikahan sandirawa itu atau tetap bertahan tanpa tegur sapa rasanya sangat menyiksa bagi Ace.
"Bu, aku harus bagaimana mana bu?" tanya Ace kepada Bibi Santi. Wanita itu menarik nafas panjang. Wanita itu juga tidak tahu harus menjawab apa. Tuan Hans adalah tipe manusia yang tidak bisa mendapatkan perlakuan keras sedangkan perkataan perkataan Ace tentang noda lipstick itu pasti menyakiti perasaan Tuannya.
"Ce, Bibi sudah pernah bilang bukan?. Tuan Hans tidak bisa diperlakukan seperti itu. Kamu boleh marah tapi seharusnya bertanya terlebih dahulu adalah tindakan yang tepat."
Bibi Santi sudah mendengar cerita tentang perdebatan Ace dan Tuan Hans tentang noda lipstick itu.
"Jadi intinya aku yang salah ya bu."
"Aku tidak berkata seperti itu Ace. Tapi ada baiknya kamu bertanya terlebih dahulu. Noda lipstick di kemeja Tuan Hans memang nyatanya adanya tapi kamu tidak seharusnya menyebut wanita yang cocok menjadi istri Tuan Hans adalah wanita buta. Dan kata piala bergilir juga tidak tepat."
Ace menundukkan kepalanya. Karena terlalu menurut pada amarah. Kata kata itu meluncur dari mulutnya.
"Sebaiknya kamu minta maaf nak. Tuan Hans adalah sosok yang lembut dan pemaaf."
"Iya bu."
"Lebih cepat lebih bagus. Tuan masih diatas kan?"
Ace menganggukkan kepalanya. Seperti saran Bibi Santi. Ace akan meminta maaf sekarang juga kepada suaminya itu.
Tiba di kamar, Ace melihat pakaian suaminya yang dipersiapkan olehnya masih diatas ranjang itu artinya tuan Hans masih di kamar mandi. Ace melangkah kakinya menuju pintu yang terhubung ke balkon. Ace akan menunggu suaminya itu disana hingga selesai membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Hingga setengah jam, Ace berada di balkon itu tapi pergerakan di dalam kamar tidak terlihat. Ace kembali ke dalam kamar. Pakaian itu masih di atas ranjang. Dengan perasaan yang tidak menentu. Ace mendorong pintu kamar mandi yang ternyata sudah kosong.
Ace memegang dadanya yang terasa sesak. Tuan Hans tidak bersedia memakai pakaian yang dia siapkan itu artinya keberadaan dirinya tidak diharapkan lagi di rumah itu. Pantas saja selama satu minggu ini, laki laki itu sengaja menghindar ternyata karena tidak menginginkan dirinya lagi sebagai pelayan di rumah itu.
Ace mendaratkan tubuhnya di pinggir ranjang. Dia tidak menyangka jika bersedia menjadi pelayan dan menjadi istri pura pura dari Tuan Hans akan mengalami masalah seperti ini. Ace juga menyesali perbuatannya. Tidak seharusnya dirinya terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi Tuan Hans.
Jika seperti ini. Akankah dirinya pergi secepatnya dari rumah itu. Ace merasakan kepalanya pusing hanya karena memikirkan tindakan yang harus dia lakukan. Kepergiannya memang tidak akan berpengaruh apa apa kepada Tuan Hans. Tapi bagaimana dengan kedua mertuanya. Mama Ratih sangat berharap, dirinya bisa membawa perusahaan positive bagi kehidupan Tuan Hans. Sorot Mata penuh harap dari mama Ratih masih jelas terekam di pikiran Ace.
Ace menghembuskan nafasnya. Baru saja wanita itu hendak turun ke lantai bawah meminta solusi kepada Bibi Santi. Ponselnya berdering.
"Ada apa Rangga?" tanya Ace.
"Cepat kemari kak," jawab Rangga dari seberang. Tanpa bertanya lagi. Ace menutup panggilan itu dan turun tergesa ke lantai bawah. Ace berlari. Pikirannya sudah kemana mana tenang mama Rani. Ace juga lupa pamit kepada Bibi Santi akan kepergiannya.
Tiba di rumah, Ace terkejut melihat keberadaan pak Andra dan istri mudanya di rumah itu. Yang membuat Ace terkejut bercampur marah. Keadaan mama Rani yang terduduk lemah di sofa. Tangan Rangga memijit pundak sang mama. Itu artinya, mama Rani dalam keadaan kurang baik karena kedatangan pak Andra dan istri mudanya itu.
"Mama tidak apa apa kan?" tanya Ace kepada mama Rani. Wanita muda milik pak Andra melihat mama Rani dan Ace dengan sinis.
"Ace, kembalikan sertifikat restoran itu."
Tanpa basa basi, pak Andra menyampaikan maksud kedatangannya. Tidak terlihat sama sekali rasa kasihan di matanya melihat mama Rani yang masih terlihat lemas karena kata kata yang dikeluarkan istri mudanya sebelum Ace tiba di rumah itu.
Ace memejamkan matanya dengan mata yang terkepal kemudian membalikkan tubuhnya hingga mereka saling bertatapan.
"Ace," panggil mama Rani pelayan. Ace menoleh ke arah mamanya dan meminta Rangga membawa sang mama ke kamar. Ace bisa merasakan sakit hati yang dirasakan oleh wanita itu melihat pak Andra dan istri mudanya.
"Terjadi sesuatu dengan mama ku. Aku pastikan tidak akan memberikan ampunan kepada kalian berdua. Manusia yang tidak punya hati."
Ace merapatkan giginya. Andaikan membunuh bukan perbuatan terlarang mungkin pagi ini, Ace akan mengirimkan papa dan istri mudanya itu ke neraka.
__ADS_1
"Jangan sok mengancam kamu. Kamu bisa apa hah?. Lihat dirimu!. Kamu yang bisa aku pastikan masuk penjara karena sudah mencuri sertifikat restoran milikku," kata wanita muda itu. Darah serasa mendidih setelah mengetahui sertifikat itu hilang setelah satu hari Ace bekerja di restoran itu. Pak Andra juga sudah memberikan hukuman kepada Ami dan pak Tomi si manager restoran sebagai pihak yang sudah membawa dan menerima Ace sebagai cleaning service di restoran itu.
Ace tertawa mendengar wanita itu menyebut restoran itu miliknya, tapi hatinya juga dilanda ketakutan. Bagaimanapun tindakannya itu bisa dibawa ke jalur hukum karena nama yang tertera di sertifikat itu sudah menjadi nama pak Andra bukan lagi nama mama Rani.
"Mungkin anda sudah mahir dalam rebut merebut milik orang lain sehingga dengan percaya diri menyebut restoran itu milik anda. Restoran itu masih milik mama ku dan sampai kapanpun akan milik mamaku. Anda boleh merebut papa dari kami tapi tidak dengan restoran itu," kata Ace. Kedua matanya melirik ke arah pak Andra. Laki laki itu masih terdiam dan sesekali menundukkan kepalanya.
"Diam kamu anak sia..."
"Anda yang diam. Ini rumah mamaku. Jangan meninggikan suara di rumah ini. Sekarang, kalian pergi dari rumah ini. Karena rumah ini tidak berkenan menerima kedatangan pengkhianat dan pelakor," kata Ace lagi. Tangannya menunjuk pintu keluar mempersilahkan dua manusia itu keluar dari rumah.
"Kami tidak akan keluar dari rumah ini sebelum kamu menyerahkan sertifikat itu."
Kali ini pak Andra yang berkata. Hati nurani laki laki itu sudah benar benar tertutup hanya karena istri mudanya. Sedikit pun, dia tidak merasa kasihan atau memikirkan kehidupan mama Rani dan kedua anaknya setelah dia tinggalkan tanpa memberikan nafkah.
Ace menatap wajah papa kandungnya itu. Hatinya seperti tersayat pisau mendengar perkataan Pak Andra yang sangat tega kepada mereka.
"Sampai kapanpun. Aku tidak akan memberikan sertifikat itu kepada kalian."
"Kalau begitu siap siap kamu membusuk di penjara," kata wanita itu.
"Silahkan laporkan ke polisi. Aku ingin melihat seberapa besar nyali seorang papa memenjarakan putrinya sendiri hanya karena mempertahankan hak dari mama kandungnya," jawab Ace berani
"Tindakan mu itu adalah mencuri Ace. Papa tidak membenarkan itu. Dan jika kamu tidak memberikan sertifikat itu. Papa tidak bisa menolong kamu dari jeruji besi."
Ace tertawa terbahak bahak mendengar perkataan sang papa kemudian menatap tajam kepada dua manusia itu.
"Lalu tindakan papa yang mengganti kepemilikan nama restoran itu tanpa persetujuan mama itu bukan mencuri namanya?. Lagipula, kami bertiga tidak mengharapkan pertolongan papa bagaimana pun kondisi kami."
"Kamu tidak ada bukti tentang itu. Tetap juga kamu akan tetap di penjara jika tidak menyerahkan sertifikat itu sekarang. Aku kasih kamu waktu sepuluh menit. Jika sertifikat itu belum di tanganku. Orang kepercayaan ku akan membuat laporan atas pencurian yang kamu lakukan," kata wanita itu.
__ADS_1