Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Menemui Pak Andra


__ADS_3

"Hans, kamu?" kata Diara terkejut melihat Hans dan Ace berdiri di depan pintu kamarnya. Pandangannya menurun ke arah tangan Hans yang menggenggam tangan Ace. Ace dan Hans memang sudah sepakat untuk bersikap sepasang suami istri yang meyakinkan di hadapan pak Andra dan Diara.


"Kami ingin bertemu dengan pak Andra mertua saya. Apa beliau ada di rumah?" tanya Hans. Caranya berbicara seakan tidak mengenal adik dari mantan istrinya itu.


"Urusan apa?" tanya Diara ketus. Sangat jelas terlihat jika dirinya tidak menyukai kehadiran Ace apalagi bersama dengan Hans mantan suaminya dari saudaranya sendiri.


"Tunggu dulu. Suamiku mertua kamu Hans?" tanya Diara setelah otaknya mencerna kata kata Hans.


Hans tidak menjawab. Laki laki itu hanya menatap Diara dengan tatapan menusuk. Begitu lah Hans. Dia tidak akan mengulang kata kata kepada orang yang dibencinya. Diara termasuk wanita yang dia benci di dunia ini bukan karena wanita itu adik dari Anita Dan bukan Pula karena Diara istri muda dari Pak Andra mertuanya.


Tuan Hans membenci Diara karena perlakuan wanita itu selama menjadi adik iparnya. Diara adalah wanita yang mengetahui perselingkuhan Anita sejak awal dan wanita itu berusaha menutupi dari dirinya. Selain itu, Diara juga pernah menggoda Hans tapi tidak berhasil. Yang membuat Hans sangat marah. Diara membalikkan fakta yang sebenarnya. Dia menceritakan sesuatu yang tidak benar itu kepada mama Ratih dan Pak Anton. Bukan hanya menceritakan. Diara juga meminta kompensasi dan mengancam akan membeberkan hal yang tidak benar itu kepada Anita jika kedua orangtua Hans tidak memberikan sejumlah uang.


Tidak ingin pernikahan putranya hancur, kedua orangtua Hans memberikan apa yang diinginkan Diara. Beruntung perselingkuhan Anita cepat terungkap sehingga dua wanita kakak beradik itu tidak mempunyai akses untuk berkomunikasi dengan Hans dan keluarganya.


Hans tidak heran jika Diara menikah dengan laki laki setengah baya yang seharusnya cocok sebagai ayahnya. Tentu saja alasannya karena uang. Diara tidak jauh berbeda dengan Anita. Di pikirannya selalu hanya uang tapi mereka tidak berusaha keras untuk mendapatkan uang. Mereka menempuh jalan yang sangat instant.


"Pergilah, suami ku tidak di rumah saat ini," kata Diara. Diara sudah bisa menangkap hal yang tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri jika Hans dan Ace bertemu dengan Pak Andra. Dia takut, masa lalunya dibongkar oleh Hans di hadapan Pak Andra.


"Kalau begitu. Biarkan kami menunggu," kata Hans lagi. Ace tidak mau mengeluarkan satu katapun untuk wanita penghancur keluarganya itu. Hatinya sangat marah dan saat ini Ace berusaha menahan diri untuk tidak melampiaskan kemarahannya.


"Tidak boleh. Aku tidak mengijinkan," kata Diara tegas. Diara juga sangat tidak senang melihat kedatangan Hans dan Ace. Tapi untuk saat ini. Dirinya tidak bisa menghina dua orang itu. Dia sadar, jika menghina Ace atau Hans dirinya yang akan malu nantinya. Bayang bayang Ace mempermalukan dirinya dengan menyebut pelakor masih jelas terekam di otaknya.


Hans dan Ace tidak memperdulikan perkataan Diara. Hans menarik tangan Ace dan membantu wanita itu duduk di kursi yang ada di teras rumah itu.


"Dasar orang orang tidak tahu tata krama," umpat Diara pelan. Niatnya mengusir dua orang itu tidak sesuai dengan keinginannya. Dia marah bercampur khawatir pak Andra mendengar suara suara mereka karena sebenarnya pak Andra berada di kamar bersama anak mereka.


Apa yang ditakutkan oleh Diara akhirnya terjadi juga. Pak Andra menghampiri dirinya sambil membawa putra mereka.


"Ada apa sayang. Apa ada tamu?" tanya Pak Andra. Diara gugup. Bersamaan dengan Hans yang sudah kembali berdiri di depan pintu.


"Pak Andra. Perkenalkan saya Hans," kata Hans to the point. Diara semakin gugup dan berusaha menghalangi pandangan Pak Andra.


"Diara, bawa dia ke dalam," kata Pak Andra sambil memberikan putranya ke tangan Diara. Diara tidak bisa protes. Wanita itu membawa putra mereka ke dalam dengan hati yang penuh kekhawatiran.


"Maaf, baru kali ini kita bertemu," kata Pak Andra. Laki laki itu melangkah melewati pintu. Niatnya ingin duduk dengan Hans di teras rumah membuat laki laki itu terkejut. Dia terkejut melihat Ace putrinya juga duduk di teras rumah itu.

__ADS_1


"Ace."


Ace tidak menjawab. Hatinya masih sakit mengingat bagaimana papanya itu menyakiti mama Rani dan juga dirinya dan Rangga.


"Saya adalah suami Ace, Pak Andra," kata Hans lagi. Pak Andra yang tadinya berdiri membelakangi Hans spontan membalikkan tubuhnya dan menatap Hans.


Pak Andra memperhatikan Hans dari kepala hingga ke kaki. Hans memang berpakaian sederhana saat ini tapi pak Andra bisa melihat jika Hans bukan orang biasa seperti dirinya.


"Silahkan duduk," kata Pak Andra akhirnya. Entah apa yang ada di pikiran laki laki itu. Seharusnya dirinya yang menjadi wali nikah untuk putrinya saat pernikahan itu tapi dirinya tidak datang karena pengaruh istri muda.


"Pak Andra apa kabar?" tanya Hans. Laki laki itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Pak Andra dan juga disambut oleh mertuanya itu. Hans menyentuh tangan Ace supaya melakukan hal yang sama. Dengan rasa sedikit terpaksa. Ace juga mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Pak Andra.


Suasana di tempat itu hening beberapa saat. Meskipun Hans sudah mempersiapkan diri untuk berbicara perihal restoran itu tetap saja dirinya harus mencari kata kata yang tepat supaya Pak Andra bisa menyadari kesalahannya.


"Pak, kedatangan kami berdua untuk membicarakan sesuatu yang penting," kata Hans memulai. Pak Andra seketika menatap wajah Ace dan Hans bergantian.


"Hal penting apa?" tanya laki laki itu terdengar kurang bersahabat.


Hans tidak langsung menjawab. Laki laki itu justru menoleh ke arah istrinya. Hans seketika merasa kasihan melihat sorot mata sedih istrinya. Kedatangan mereka terlihat sangat tidak diinginkan oleh pak Andra. Hal itu terlihat dari sikap mertuanya itu kepada Ace yang tidak menunjukkan rasa senang atau kerinduan sebagai seorang ayah.


Hans juga merasa bingung. Rencana awal bicara baik baik kepada mertuanya itu seperti itu tidak bisa. Melihat sikap papa mertuanya memperlakukan istrinya. Hans marah dalam hati.


"Kami membicarakan tentang restoran milik mama Rani. Restoran itu..."


"Jangan ikut campur tentang apapun apalagi dengan restoran itu," bentak Pak Andra memotong perkataan Hans. Wajah laki laki itu seketika memerah karena tidak terima Hans ikut campur.


"Maaf Pak. Saya memang harus ikut campur. Karena saya sangat tahu jika pengalihan kepemilikan nama dari mama Rani ke nama anda tanpa persetujuan mama Rani."


"Diam, kamu tidak tahu apa apa."


"Saya banyak tahu Pak. Termasuk istri muda anda itu. Saya juga tahu. Anda melupakan keluarga anda karena pengaruh Diara. Dia juga pernah hampir berhasil melakukan rencananya kepada Saya Pak. Tapi gagal. Jika pada saudaranya sendiri dia tega, apalagi ke mama Rani yang tidak mempunyai hubungan darah. Saudara kandungnya mantan istri pak. Kami bercerai karena mantan istri saya selingkuh. Sifat mantan istri saya dengan istri anda tidak jauh beda. Atau bisa saja dirinya sudah mempunyai selingkuhan dan dia bertahan karena restoran itu belum menjadi miliknya."


Hans akhirnya mengatakan apa yang menjadi isi kepalanya tentang Diara. Dia berharap dengan mengetahui sepak terjang Diara. Pak Andra menyadari kesalahannya.


"Jangan mencoba menghasut Saya. Sampai kapanpun aku tidak akan bersedia mengganti nama kepemilikan restoran itu."

__ADS_1


Hans dan Ace sama sama menggelengkan kepala melihat keras kepala pak Andra. Mata hati laki laki itu benar benar tertutup untuk anak anaknya.


"Sayang, jangan percaya mereka. Aku benar benar tulus mencintai kamu. Lagipula kita sudah mempunyai anak mana mungkin aku mempunyai pikiran untuk berselingkuh. Mbak Anita berselingkuh karena laki laki ini mandul. Terbukti setelah berpisah dari dia. Mbak Anita mempunyai anak."


Seketika Hans merasakan otaknya blank. Perkataan Diara seperti menampar dirinya dan menurunkan harga dirinya. Benarkah dirinya mandul. Lalu Gio?. Pertanyaan itu seketika muncul di pikirannya sehingga membuat laki laki itu terdiam. Dia tidak tahu, Diara tersenyum puas karena berhasil membuat Hans terdiam.


"Suamiku tidak mandul. Akan aku buktikan dengan mengandung anaknya. Jadi jangan berkata hal yang tidak benar. Yang tidak benar itu adalah kau wanita pelakor," umpat Ace.


Dia tidak terima suaminya dihina mandul oleh wanita ular itu.


"Jadi simpanan saja bangga. Jangan berpikir aku tidak tahu tabiat buruk laki laki ini."


"Diam. Aku bukan simpanan. Kami menikah. Jangan jangan kamu yang simpanan papaku," kata Ace lagi. Rasa hormatnya sama sekali tidak ada untuk wanita yang seharusnya dia panggil ibu tiri itu.


"Jangan menghina istriku wanita kotor. Dia istri sah ku," kata Hans. Ternyata dia juga tidak terima dengan perkataan Diara yang menyebut Ace sebagai simpananya.


Wajah keempat manusia itu bersitegang. Karena marah, Hans seakan lupa akan tujuan kedatangannya ke rumah ini.


"Pergi dari rumah ku sekarang juga, sampai kapanpun restoran itu akan menjadi milikku dan Diara."


Diara tersenyum puas, dia merasa menang. Dia lupa dimana keberadaan sertifikat kepemilikan restoran itu saat ini. Perkataan pak Andra juga mengingatkan Hans akan tujuannya.


"Pak Andra, kedatangan kami bukan meminta persetujuan anda akan pengalihan nama kepemilikan restoran itu. Kedatangan kami hanya untuk memberitahukan. Setuju atau tidak setuju. Nama mama Rani akan segera menjadi pemilik restoran itu. Saya mempunyai bukti jika anda melakukan penipuan untuk mengganti nama pemilik restoran itu. Jadi persiapkan hati kalian menerima kenyataan yang sebenarnya di dalam bulan ini.".


Hans berkata dengan tegas. Niatnya untuk meminta baik baik kepada Pak Andra harus berakhir dengan pertengkaran.


"Kamu tidak mempunyai bukti apapun. Jangan mengancam ku," gertak Pak Andra. Pak Andra sangat yakin jika berkas berkas pengalihan nama itu sangat lengkap dan tidak mencurigakan karena dirinya memalsukan tanda tangan mama Rani.


"Saya tidak mengancam pak. Tanyakan pada istri anda. Siapa saya sebenarnya. Jika dia tidak mau memberitahukan. Anda boleh mencari tahu siapa sebenarnya menantu anda ini. Kami pamit."


Hans menarik tangan Ace supaya berdiri. Berlama lama berurusan dengan pak Andra dan Diara hanya akan menyulut amarahnya. Demi kesehatan hati, pergi dari hadapan dua manusia itu adalah hal yang paling baik.


"Oya satu lagi pak Andra. Mulai besok, Saya dan Ace akan menutup sementara operasional restoran," kata Hans lagi sebelum benar benar berlalu dari hadapan dua orang itu.


"Silahkan bermimpi. Itu tidak akan pernah terjadi," jawab Pak Andra.

__ADS_1


"Lihat saja besok pak mertua yang tidak baik."


__ADS_2