
Ace membulatkan matanya. Gerakan tuan Hans sangat jelas menyuruh dirinya untuk duduk di pangkuan laki laki.
"Maaf tuan. Saya masih perawan," kata Ace. Dia sengaja mengingatkan tuan Hans akan prinsipnya yang tidak ingin merusak gadis yang masih suci.
"Apa kalau kamu duduk di sini. Langsung membuat kamu kehilangan perawan?" tanya tuan Hans tajam. Ace tidak menjawab. Karena sesungguhnya, dia sangat risih duduk di pangkuan laki laki itu.
"Daripada duduk di situ. Apa tidak lebih bagus aku memijit tuan. Sepertinya tuan kurang anak badan."
"Kamu mau menipu aku?. Kamu ingin aku tertidur?. Kemudian melewatkan makan malam dengan relasi bisnis ku?"
"Tapi tuan."
"Jangan membantah kalau masih ingin bekerja di rumah ini."
Dengan tangan yang saling bertautan, Ace akhirnya melangkah. Terlihat, kakinya yang gemetar sedangkan Tuan Hans tersenyum licik melihat tingkah Ace itu. Hans mengulurkan tangannya dengan cepat menggapai tangan Ace. Dengan sedikit kasar, tuan Hans menarik tangan milik Ace hingga wanita itu terduduk di pangkuannya.
Ace menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya berada di dada. Dia melakukan hal itu supaya dadanya tidak bersentuhan langsung dengan dada milik Tuan Hans. Sikap Ace sangat bertolak belakang dengan sikapnya beberapa jam yang lalu yang bersimpuh memohon supaya Tuan Hans untuk memakai dirinya.
Ace memang takut jika dirinya dipecat sebagai pelayan. Tentu saja karena gajinya yang tergolong sangat besar. Otaknya sudah menghitung cicilan yang akan dia bayarkan setiap bulan kepada Randi. Bekerja pada tuan Hans akan membuat Ace bisa menutupi cicilan dan kebutuhan keluarganya.
"Akan aku buat Randi merasa jijik kepada mu," batin Tuan Hans. Tangannya sudah siap mengirimkan pesan kepada Randi supaya pria itu menemui dirinya di ruang tamu.
"Cium aku," perintah Tuan Hans. Ace membulatkan matanya.
Melihat pergerakan Ace sangat lambat. Hans langsung menyambar bibir Ace tanpa ampun. Ace tidak bisa menolak. Tangan kiri tuan Hans sudah memeluk pinggang Ace dan tangan kanannya menahan tengkuk Ace supaya wanita itu tidak bisa berkutik.
Seperti keinginan Tuan Hans. Randi tiba di ruang tamu itu dan melihat apa yang dilakukan oleh tuan Hans kepada Ace. Randi tidak bisa mengajukan protes karena sadar akan posisinya yang hanya sebagai bawahan.
__ADS_1
"Tuan, aku sudah membuat iklan untuk pelayan baru. Dan sudah ada beberapa lamaran yang masuk. Apa besok sudah bisa ada interview tuan?" tanya Randi tanpa basa basi.
Sebenarnya, Randi belum membuat iklan. Dia hanya ingin menyelamatkan Ace dari situasi itu karena dia bisa melihat jika Ace tidak menikmati kegiatan itu.
Tuan Hans melepaskan bibirnya dari bibir Ace. Dia yang meminta Randi untuk datang ke ruang tamu itu tapi dia merasa terganggu karena kehadiran asistennya.
"Apa kamu menemui aku hanya untuk mengatakan itu?.
Randi menatap sang tuan dengan bingung. Masih beberapa menit yang lalu, tuannya itu mengirimkan pesan kepada dirinya tapi saat ini kedatangannya seperti tidak diinginkan.
"Bukankah tuan yang meminta saya ke ruangan ini."
"Diam. Berisik."
Randi tidak berani lagi bersuara. Jika tuannya mengatakan dua kata itu. Itu artinya Tuannya itu sedang kesal. Randi juga menyadari tatapan sang tuan yang tidak biasanya kepada dirinya.
Randi hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Dia sudah paham akan kebiasan tuannya itu yang cepat bosan dan berganti pelayan sesuka hatinya. Jika pelayan sebelumnya yang bisa memuaskan tuan Hans di ranjang hanya bertahan paling lama dua atau tiga bulan. Mengapa dengan sangat yakin tuan Hans akan mempekerjakan Ace selama enam bulan ke depan.
Randi menggelengkan kepalanya menyadari ada keanehan dalam diri tuannya. Hans sendiri yang tidak ingin memakai gadis yang masih suci tapi kini dirinya akan memperkerjakan Ace sebagai pelayannya.
Sedangkan Ace mendengar perkataan Tuan Hans. Ada rasa lega dan ada rasa khawatir. Lega karena masih bisa bekerja dan khawatir karena dirinya hanya bekerja enam bulan ke depan. Randi memang sudah mengatakan akan mencari pekerjaan untuk dirinya jika tidak bekerja di rumah ini. Dan dia tidak yakin akan mendapatkan gaji yang besar mengingat dirinya hanya lulusan sekolah menengah umum dan tidak mempunyai pengalaman bekerja sama sekali.
Ace berusaha turun dari pangkuan Hans. Bergerak sedikit saja. Pelukan tuan Hans di pinggangnya semakin kuat. Ace risih duduk di pangkuan Hans seperti itu dan ada orang lain yang melihatnya.
"Tuan, bisakah saya, duduk disana saja? tanya Ace takut.
"Apakah pelayan pantas duduk di tempat yang sama dengan tuannya?" kata Tuan Hans sinis membuat Ace sadar akan status dirinya. Dia terlalu percaya diri untuk menunjuk sofa.
__ADS_1
"Berikan Ace tiga ratus juta saat ini juga. Dan buat surat perjanjian sesuai dengan point point yang akan aku kirimkan ke ponsel mu."
"Tapi tuan. Bukankah Ace masih suci."
"Diam berisik. Lakukan apa yang aku perintahkan kalau masih ingin bekerja dengan saya. Apakah kamu lupa banyak kandidat yang menginginkan posisi mu?" tanya tuan Hans membuat Randi terdiam. Benar kata Tuan Hans, banyak karyawan di kantor yang ingin mengincar posisinya. Dan untuk saat ini, Randi tidak ingin kehilangan posisi itu. Tuan Hans memang terkadang kejam. Tapi tuannya itu juga sangat menghargai kinerja baik para karyawannya.
Ace melemas mendengar Surat perjanjian. Entah apa nantinya isi surat perjanjian itu yang pasti Ace sudah bisa menebak jika dirinya akan terikat dengan perjanjian itu. Ace hanya bisa berharap tuan Hans tetap memegang prinsipnya untuk tidak merusak kesuciannya. Mengingat apa yang baru saja dilakukan sang tuan kepada dirinya membuat Ace ragu jika Tuan Hans tetap pada prinsipnya.
Ace memberanikan diri menoleh kepada Randi yang sudah melangkah membelakangi mereka.
"Tuan, bukankah tuan tidak menginginkan gadis perawan. Ingat prinsip anda tuan."
"Apa kamu lupa bahwa kamu yang bersimpuh supaya aku melakukan hubungan itu kepada mu?" tanya tuan Santosh.
Wajah Ace memerah karena malu bercampur takut. Baru saja, dia akan mendapatkan bantuan Randi yang tulus kini dirinya harus mendapatkan uang tiga ratus juta dengan terikat sebuah perjanjian yang belum dia ketahui apa isi dari perjanjian tersebut.
Hans menyunggingkan senyum sinisnya. Tidak mungkin dia mau kalah atas Randi. Dia tidak akan membiarkan Randi menang meskipun itu berkaitan dengan tubuh pelayan nya. Baginya, Ace adalah pelayannya. Dan hanya dia yang berhak atas gadis itu sampai enam bulan ke depan.
Untuk menunggu kedatangan Randi di ruang tamu itu. Tuan Hans kembali mengulang kegiatan yang mereka lakukan sebelumnya.
"Anggap saja ini latihan untuk menjadi pelayan yang handal untuk aku," kata Hans ketika Ace berusaha menolak ciuman tuan Hans. Tanpa mendengar jawaban Ace. Pria itu kembali melakukan kegiatan semi panas itu.
Tuan Hans sangat menikmati kegiatan itu. Sepertinya dirinya sudah bisa menahan diri untuk tidak berlanjut ke permainan inti. Hal itu terbukti setelah setengah jam sejak kepergian Randi dari ruang tamu itu. Permainan tuan Hans hanya sekitar bibir saja.
"Ya ampun Hans. Kamu ternyata tidak bermoral."
Hans seketika melepaskan bibirnya dari bibir Ace dan mendorong Ace agak kasar membuat wanita itu terjatuh ke lantai. Suara itu adalah suara yang sangat dia kenal. Hans berdiri. Tidak jauh dari tempat itu. Seorang wanita menatap Hans dengan tajam seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
__ADS_1