Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Ketakutan Ace


__ADS_3

"Darimana?"


Ace terkejut, suara dingin suami pura puranya menyambut kedatangannya di kamar itu setelah pintu kamar terbuka. Ace mendengar jelas pertanyaan itu tapi wanita itu mengabaikan. Selama satu minggu ini, Tuan Hans bersikap cuek kepada dirinya ditambah tadi pagi, Hans tidak memakai pakaian yang dia siapkan. Membuat Ace kesal.


"Kamu tidak mendengar pertanyaanku?" tanya Hans lagi. Laki laki itu juga merasa kesal karena Ace seakan tidak melihat dirinya dan seenaknya saja mau ke kamar mandi.


"Aku punya kuping. Jadi aku mendengar. Soal aku darimana. Itu bukan urusan anda tuan. Kita hanya suami istri pura pura. Itu artinya apapun tindakan kita masing masing adalah urusan masing masing juga."


Ace berlalu ke kamar mandi. Sedangkan Hans masih duduk di sofa di kamar itu dengan alis yang saling bertautan. Ace terlalu berani melawan dirinya sangat berbeda dengan pelayan pelayan sebelumnya.


Setelah beberapa menit. Ace keluar dari kamar mandi dengan setelan piyama melekat ditubuhnya yang terlihat lebih segar. Aroma sabun dari tubuh wanita itu tercium di kamar itu hingga ke hidung tuan Hans.


Hans meletakkan ponselnya yang sedari tadi berada di tangannya. Hans bersandar dengan dua tangannya diletakkan di dada sambil melihat gerak gerik Ace di kamar itu. Ace terlihat tidak canggung lagi seperti pertama kalinya mereka satu kamar.


Ace masih bersikap cuek. Wanita itu tidak merasa terganggu sama sekali dengan tatapan Hans yang selalu ke arah dirinya.


"Kembali ke sofa Tuan, aku mau tidur," kata Ace. Ketika dirinya Naik ke tempat tidur. Hans mengikuti dirinya dan kini sudah tidur telentang di sisi kanan tempat tidur itu.


"Ini kamar ku. Dan ranjang ini adalah milikku. Mengapa aku diusir dari milikku sendiri?" jawab Hans tanpa menoleh ke Ace. Tatapan kini lurus ke langit langit kamar.


"Aku tahu ini milik and tuan. Dan perlu anda tahu juga. Bahwa aku di kamar ini. Di ranjang ini bukan karena keinginanku. Tapi tuan lah yang meminta aku menjadi istri pura pura anda."


"Benar dan kamu bersedia karena butuh uang bukan?"


Ace terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh Hans dan Karena kesal kepada laki laki itu. Ace melupakan alasan keberadaannya di kamar itu.


"Dan kita saling membutuhkan. Hubungan ini saling menguntungkan kita berdua. Meskipun pernikahan kita pura pura. Aku tadi sudah memuji kamu di hadapan mantan istriku loh. Tapi apa yang aku dapatkan saat ini. Aku diabaikan oleh kamu."


Ace memalingkan pandangannya. Tidak tahu harus mengatakan apa karena kenyataannya dia juga diuntungkan dengan pernikahan pura pura itu.


"Aku juga sudah bertemu dengan istri muda papa kamu. Namanya Diara. Aku mengenalnya."

__ADS_1


"Anda bertemu dengan pelakor itu Tuan?.


Hans menganggukkan kepalanya.


"Sekarang jawab aku dengan jujur. Satu harian kamu darimana hingga pulang lama?" tanya Hans. Suaranya tidak dingin lagi.


"Dari rumah mama."


"Bagaimana kalau aku tidak percaya. Bisa saja kamu pergi ke rumah mama Rani hanya beberapa jam saja. Tapi setelah itu kamu bersenang senang dengan laki laki yang lain kan?" tanya Hans lagi.


Hans kini duduk dan menatap Ace dengan tajam. Ace tiba di rumah hampir jam sepuluh membuat laki laki itu curiga karena dirinya berpikir jika tidak mungkin mama Rani menahan Ace mulai pagi hingga malam di rumahnya.


"Jika anda menduga seperti itu. Apa perduli anda tuan?. Kita hanya menikah pura pura. Anda tidak rugi bukan?. Jika aku bersenang senang dengan laki laki lain?"


Tuan Hans mengepalkan tangannya dengan tatapan ingin menerkam Ace. Wanita itu selalu membuat dirinya naik darah. Hans menginginkan jawaban menyangkal dari dugaannya itu bukannya membenarkan seperti itu.


"Kamu istriku Ace. Dan seharusnya kamu menjaga harga dirimu untuk aku."


"Ace, di perjanjian kita juga tertulis jika kamu tidak bisa berhubungan dengan laki laki lain."


"Dan Tuan juga berjanji akan berubah jika sudah memakai tubuhku. Tapi apa Tuan. Tuan masih memakai jasa wanita komersil," jawab Ace tidak mau kalah.


"Aku tidak memakai jasa wanita manapun. Dan sudah satu minggu aku tidak dibelai. Noda lipstick kemarin itu adalah ulah gadis gadis nakal di club. Kamu saja yang menanggapi sesuatu yang tidak jelas secara berlebihan."


Hans tidak berbohong tentang noda lipstick itu. Malam itu dirinya memang pergi ke club karena ajakan teman temannya. Dan malam itu. Hans tidak bisa mengusai dirinya hingga akhirnya mabuk.. Sudah hal biasa, di club. Wanita wanita nakal mencari mangsa. Tapi Hans tidak terperangkap bermain dengan wanita wanita itu karena dirinya memang tidak mau bercinta dengan wanita wanita panggilan.


"Bagus, kalau begitu Tuan. Berarti sudah ada kemajuan. Sekarang aku mau tidur tuan. Silahkan ke sofa."


"Aku mau tidur di tempat tidur ini."


"Ya sudah. Terserah tuan. Aku yang tidur di sofa. Selamat malam," kata Ace sambil turun dari tempat tidur tapi secepat kilat. Tuan Hans sudah memegang tangannya.

__ADS_1


"Ce, Aku akan usahakan secepat mungkin mengembalikan restoran itu ke mama Rani. Kita membenci orang yang sama ce."


"Tuan membenci wanita pelakor itu?" tanya Ace.


"Aku membencinya. Karena alasan benci itu juga. Akan aku pastikan restoran itu secepatnya kembali ke mama Rani. Diara adalah wanita yang aku benci."


"Tuan ada masalah dengan wanita pelakor itu."


"Dia adalah adik kandung dari Anita. Aku membenci dia karena sesuatu hal bukan karena bersaudara dengan Anita. Mengganti nama kepemilikan restoran itu. Harus membutuhkan tanda tangan papa kamu. Dan pastinya akan sangat sulit mendapatkan itu. Aku harus berpikir keras untuk itu."


"Terima kasih Tuan," kata Ace tulus. Sungguh Ace berterima kasih karena sikap cuek yang ditunjukkan oleh Hans selama satu minggu ini kepada dirinya tapi juga berusaha untuk menepati janji untuk membantu dirinya mengembalikan restoran itu ke mama Rani.


"Ce, aku harus dicharge supaya bisa berpikir."


"Maksudnya Tuan?" tanya Ace bingung sambil menatap wajah suami pura puranya itu yang terlihat sangat bodoh.


"Itu ce, maksud aku. Kita melakukan seperti satu minggu yang lalu. Main buka bukaan baju."


Pertanyaan Ace yang ingin memperjelas perkataan Hans ternyata bisa membuat Tuan Hans kehilangan kata kata untuk mengungkapkan keinginan. Ace terlihat berpikir. Setelah mengerti maksud perkataan tuan Hans. Ace langsung cepat cepat berjalan ke arah sofa. Sungguh membayangkan kegiatan mereka satu minggu yang lalu membuat Ace mengingat rasa sakitnya.


"Ce, aku janji akan pelan pelan. Kemarin itu khilaf karena terlalu enak."


Hans mengikuti Ace ke sofa sambil membujuk istrinya itu. Sungguh saat ini dirinya sangat menginginkan belaian seorang wanita.


Ace membulatkan matanya mendengar pengakuan suaminya itu.


"Tidak Tuan. Jangan sekarang aku masih takut," tolak Ace.


"Aku janji akan pelan pelan ce. Kalau aku ganas. Aku rela tubuhku, kamu gigit."


"Tuan, bagaimana karena kegiatan minggu lalu itu aku hamil. Apakah tuan bertanggung jawab?"

__ADS_1


Tiba tiba Ace mengingat jika saat itu Hans tidak memakai pengaman. Dan dirinya juga tidak memakan pil pencegah kehamilan. Mengingat itu, wajah Ace terlihat ketakutan. Dia tidak ingin hamil karena masih banyak yang harus dikejar untuk membahagiakan keluarganya..


__ADS_2