Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Ada Apa Dengan ku


__ADS_3

Seorang wanita dengan percaya diri menginjakkan kakinya di rumah tuan Hans. Bisa berada di rumah mewah ini adalah kebanggaan tersendiri bagi wanita itu. Wanita itu adalah Inka sang secretaris tuan Hans. Dia tidak tahu mengapa dirinya disuruh ke rumah ini yang pasti Inka sangat senang.


Inka mengagumi kemewahan rumah itu. Sudah lama dia bermimpi ingin mempunyai suami yang kaya supaya bisa memiliki rumah mewah seperti ini. Inka tersenyum. Mengingat sikap ramah tuan Hans kepada dirinya tadi pagi membuka peluang baginya untuk mendapatkan laki laki pekerja keras itu. Terkadang Inka merasa, tuan Hans tidak seperti bos bos pada umumnya. Sudah hal biasa jika seorang sekretaris cantik akan mempunyai affair dengan bosnya. Tapi tidak dengan Tuan Hans. Laki laki itu seakan tidak menyukai lawan jenis. Secantik apapun wanita yang menjadi karyawan di kantornya. Tuan Hans tidak pernah menunjukkan ketertarikan.


"Inka, tuan Hans meminta kamu ke kamarnya?" kata Randi yang tiba tiba muncul di hadapan Inka.


"Kamar?. Ada keperluan apa tuan Hans memanggil aku ke kamarnya?" tanya Inka terkejut tapi senang dalam hati. Membayangkan berduaan di dalam kamar dengan sang bos. Inka sangat yakin, bisa mendapatkan apapun yang dia mau dari tuan Hans hari ini.


"Saya tidak tahu. Mungkin dia butuh jasa kamu," kata Randi. Bukan tidak mungkin tuan Hans berniat memakai Inka saat ini mengingat dirinya tidak mendapatkan pelayanan dari Ace.


"Jasa apa maksud kamu. Aku wanita baik baik ya," jawab Inka kesal. Meskipun dirinya menginginkan tuan Hans tapi dia tidak suka dianggap rendah seperti ini.


"Santai saja Inka. Saya hanya bercanda. Tapi saya rasa, jika tuan Hans memakai jasa mu. Aku rasa, anda pasti tidak menolak. Yang ada, senang. Pergi Sana!. Jangan biarkan tuan Hans menunggu lama," kata Randi.


Inka semakin kesal tapi Randi tidak perduli. Randi sebenarnya mengetahui jika Inka menyukai tuan Hans. Tapi karena Sikap dingin tuan Hans. Inka tidak berani menggoda Tuannya.


"Dimana kamarnya?" tanya Inka tidak bersahabat.


"Di lantai atas. Kamar paling ujung."


Inka menghentakkan kakinya, berjalan menaiki tangga. Sementara, Randi menatap wanita itu dengan sinis. Keputusan tuan Hans meminta Inka ke rumah ini sangat tidak sukai oleh Randi. Tapi Randi tidak bisa mencegah.


"Masuk."

__ADS_1


Inka mendorong pintu kamar itu setelah memastikan jika tubuhnya masih wangi. Dia juga sudah membuka tiga kancing teratas kemejanya. Seperti perkataan Randi. Jangankan menolak jika Tuan Hans menginginkannya. Yang ada Inka sudah lama menantikan moment itu.


Inka memasang wajah semanis mungkin setelah pintu kamar terbuka. Tatapan tuan Hans yang tertuju ke belahan dadanya. Inka bisa memastikan jika dirinya dipanggil bukan untuk urusan pekerjaan.


"Inka, apakah kamu masih perawan?" tanya tuan Hans setelah Inka di hadapannya. Dia bahkan langsung melabuhkan tangannya menyusuri belahan dada milik Inka membuat wanita itu senang dalam hati.


"Kenapa harus bertanya Pak. Bapak bisa membuktikannya nanti. Kalau pun tidak perawan. Pasti bapak tidak akan kecewa," jawab Inka. Untuk mengatakan yang sejujurnya. Inka merasa tidak mampu.


"Aku hanya mau bermain dengan wanita yang tidak perawan saja," kata Tuan Hans kemudian menghentikan tangannya. Inka dengan cepat menangkap tangan itu.


"Sebenarnya tidak perawan lagi pak."


"Kamu punya suami?. Inka menggelengkan kepalanya. Tuan Hans tidak bertanya lagi. Dia sudah paham. Jaman sekarang, tidak heran lagi jika ada seseorang yang mengaku gadis tapi kegadisannya sudah hilang.


Inka menganggukkan kepalanya tanpa malu. Sudah lama dia menginginkan pria di hadapannya. Dan kesempatan ini, tidak akan disia siakan. Inka tahu memulai darimana untuk memberikan tuannya itu kepuasan. Dengan cepat, Inka Naik ke pangkuan tuan Hans. Gerakannya sangat aktif dan lembut. Membuat tuan Hans menikmati sentuhan sekretarisnya dengan memejamkan matanya.


Dan terjadi keanehan yang dirasakan oleh Hans setelah Inka memainkan tangannya di tubuh Tuan Hans. Tuan Hans tidak antusias untuk membalas. Yang ada, di pikirannya ada perasaan jijik. Dia membayangkan Inka melakukan hal yang sama kepada laki laki lainnya. Tidak seperti biasanya, tuan Hans yang suka dengan wanita agresif kini laki laki itu menahan tangan Inka.


"Kenapa pak?" tanya Inka. Tuan Hans menggelengkan kepalanya dan menggerakkan tangannya menyingkirkan Inka dari pangkuannya.


Hasrat itu masih ada. Tapi mendadak tuan Hans tidak menyukai wanita yang sangat agresif. Sikap malu malu yang ditunjukkan oleh Ace terbayang di kepalanya.


"Ada apa dengan aku," batin Tuan Hans. Dia menyingkirkan tangan Inka yang kini sudah memeluk pinggangnya.

__ADS_1


"Maaf Inka. Sebaiknya kamu keluar," usir tuan Hans tanpa alasan. Inka tidak menyerah. Dia kembali memeluk pinggang tuan Hans dan bahkan melabuhkan bibirnya di bahu tuannya. Kesempatan ini tidak akan dilepaskan begitu saja. Inka akan berusaha supaya Tuan Hans terpuaskan dengan pelayannya sore ini.


Tuan Hans mencoba menikmati. Tapi bayang bayang Ace mengganggu pikirannya. Tangisan, tubuh gemetar dan bahkan ketika Ace bersimpuh di kakinya melintas di kepala tuan Hans.


Hans membalikkan tubuhnya. Dia mendorong tubuh Inka dengan kasar ke atas ranjang. Hans mendekati wanita yang sudah tersenyum dengan posisi yang menggoda itu. Hans mencoba untuk lebih aktif supaya pikirannya teralihkan dari Ace. Tapi setelah dirinya kembali bersentuhan dengan Inka. Bayang bayang Ace kembali menganggu kegiatan yang sudah semi panas itu.


"Ya ampun. Ada apa dengan ku," batin Tuan Hans. Dia tidak berselera melihat Inka yang sudah melepaskan pakaian paling atas.


"Pergilah Inka. Aku tidak bisa melanjutkan permainan ini. Randi akan memberikan bonus untuk mu," kata Tuan Hans. Laki laki itu cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Bukan Inka namanya kalau tidak mendapatkan apa yang dia mau. Dia juga mengikuti tuan Hans ke dalam kamar mandi.


"Tidak semudah itu mengusir aku Pak," kata Inka setelah berhasil masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku bilang keluar," bentak tuan Hans membuat nyali Inka menciut. Dia keluar dari kamar itu dengan menggerutu.


"Inka, sudah selesai?" tanya Randi. Laki laki itu duduk di ruang tamu. Malam ini, Tuan Hans dijadwalkan makan malam bersama klien dan dia harus siap siaga di sisi sang Tuan.


"Apanya yang sudah selesai. Untuk apa aku dipanggil kalau hanya untuk membuat kecewa," kata wanita itu kesal.


"Jadi kalian tidak seperti ini?" tanya Randi sambil menggerakkan tangannya. Gerakan telapak tangan yang bisa diartikan melakukan hubungan suami istri. Inka menggelengkan kepalanya dan berlalu dari hadapan Inka dengan menghentakkan kakinya.


"Sepertinya tuan Hans sudah sedikit oleng," kata Randi pelan. Dia menengadah ke lantai atas dimana kamar tuan Hans berada

__ADS_1


__ADS_2