Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Bayam Touge


__ADS_3

"Apa ini tidak berlebihan mas?" tanya Ace pada tuan Hans. Sepasang suami istri itu tiba di dekat restoran pagi itu ketika para karyawan restoran belum hadir. Hans tidak main main dengan perkataannya. Tidak jauh dari mereka empat orang laki laki bertubuh besar sedang mengawal Hans dan Ace dan nantinya juga akan menjaga ketat restoran itu.


"Tidak. Yang keterlaluan itu Pak Andra. Bisa bisanya menipu istri sendiri dan mengabaikan anak anaknya hanya karena Diara si besi karatan itu," kata Hans. Sejak mengetahui dengan pasti alasan Ace rela menjadi pelayan, Hans sangat kasihan pada istrinya itu. Ace dan Rangga memang bukan lagi anak kecil. Tapi diperlakukan pak Andra dengan tidak baik. Hans bukan hanya kasihan tapi marah.


Ace tersenyum. Dia mempercayai apapun tindakan suaminya. Restoran itu memang masih tertutup tapi bisa dipastikan jika beberapa menit lagi, karyawan restoran akan berdatangan.


Dan sepertinya Pak Andra meremehkan perkataan Hans. Restoran itu sudah dibuka oleh salah satu karyawan yang tidak dikenal oleh Ace.


Posisi Hans dan Ace yang ada dihalaman gedung di sebelah restoran itu membuat para karyawan yang berdatangan tidak merasa curiga jika sebentar lagi akan ada insiden penutupan restoran.


Empat orang pengawal Hans bergerak cepat menahan pintu restoran itu dan merampas kunci dari tangan karyawan itu bersamaan dengan Hans dan Ace yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Jangan takut. Kami tidak berniat untuk mencelakai atau merampok kalian," kata Hans begitu berhadapan dengan karyawan itu. Mereka tentu saja ketakutan melihat wajah empat laki laki bertubuh besar dan berwajah preman itu.


"Sekarang, hubungi pak Andra dan istrinya. Suruh mereka datang secepatnya ke mari."


Karyawan itu patuh dan cepat cepat menghubungi pak Andra. Karyawan itu merasa bahwa pak Andra harus melihat situasi restoran ini secepatnya.


Setengah jam kemudian. Pak Andra dan Diara tiba di restoran itu. Dada Pak Andra naik turun karena melihat restoran itu masih tertutup seperti perkataan Hans tadi malam. Saat ini, Pak Andra baru menyadari bahwa apa yang keluar dari mulut menantunya itu ternyata serius.


"Aku akan menghubungi pihak yang berwajib karena sikap lancang kalian," kata Pak Andra. Jari telunjuknya mengarah pada wajah Hans Dan Ace.


"Silahkan pak. Tapi jika itu terjadi. Maka yang diangkut ke kantor polisi adalah anda sendiri. Kami sudah mempunyai bukti kecurangan anda. Ini dilakukan hanya untuk melihat sejauh mana anda menginginkan perdamaian. Jika masalah ini, ingin diselesaikan baik baik. Silahkan pikirkan untuk mengembalikan restoran ini ke mama Rani secepatnya," kata Hans tenang.


"Dia menyewa preman sayang. Kita juga bisa menyewa preman," kata Diara angkuh.


Hans tertawa mendengar perkataan Diara itu. Diara sudah mengenal dirinya sejak beberapa tahun yang lalu tapi masih bisa berkata seperti itu seakan tidak mengenal dirinya.


"Kamu menyewa Lima preman. Maka kami akan menyewa lima belas preman. Kalian menyewa seratus orang preman. Maka kami akan menyewa tiga ratus orang preman. Mau buktinya?. Silahkan datangkan preman yang kalian mampu maka kami akan mendatangkan tiga kali lipat dari itu."


Diara berkata sombong maka Hans berkata yang dia mampu. Pak Andra seketika ketakutan, dari perkataan menantunya itu jelas mereka akan kalah dari segi apapun.


Diam diam Ace memperhatikan raut wajah papanya itu. Dia berharap penyelesaian masalah ini tidak sampai melibatkan pihak lain termasuk pihak yang berwajib. Pak Andra jelas sangat salah dan sebagai anak. Ace ingin Pak Andra mengembalikan restoran itu kapada sang mama. Ace tidak ingin Pak Andra masuk penjara. Yang diinginkan oleh Ace adalah papanya bisa berubah menjadi manusia yang baik meskipun tidak kembali lagi bersama dengan mereka.


"Kita pulang dulu sayang. Nanti kita pikirkan jalan keluar nya," kata Pak Andra sambil menarik tangan istri mudanya. Tapi di luar perkiraan. Diara menghentakkan tangan pak Andra dengan kasar.

__ADS_1


"Tidak bisa sayang. Bagaimana pun, restoran ini milik kita. Terlepas dari masalah kepemilikan. Restoran ini akan tetap beroperasi hari ini."


Terbiasa menerima setoran keuntungan restoran setiap harinya. Diara berpikir akan rugi jika restoran itu tutup.


Ace tidak bisa untuk tidak bersikap sinis kepada Diara. Entah bagaimana pengaruh wanita itu sehingga laki laki yang awalnya sangat menyayangi keluarganya. Bisa melukai mereka hingga sangat dalam.


"Aku dan Rangga akan memaafkan papa jika bersedia mengembalikan restoran ini kepada mama," kata Ace hampir menangis. Sambil berkata, ingatan Ace mengingat kebersamaan pak Andra bersama mereka dahulu. Hampir setiap pulang bekerja, Pak Andra membawa makanan kesukaan mereka bertiga secara bergantian. Dan sikap itu langsung berubah setelah dekat dengan Diara.


"Pikirkan perkataan Ace pak. Bersedia atau tidak bersedia. Bisa aku pastikan bulan ini, restoran akan kembali ke mama Rani."


Hans berkata sangat yakin karena Surat kepemilikan restoran itu pada nya saat ini. Hans berusaha bernegoisasi dengan Pak Andra supaya tidak ada masalah yang ditimbulkan oleh Diara di kemudian hari. Sebenarnya jika karena kekuasaannya. Pergantian kepemilikan restoran itu hal yang mudah bagi Hans. Tapi Hans berpikir panjang. Masalah ini berkaitan dengan keluarga Ace maka kalau bisa harus diselesaikan dengan kekeluargaan juga.


"Pulang sekarang. Tolong dengar aku Kali ini saja Diara," bentak Pak Andra.


Hans dan Ace terkejut mendengar suara keras Pak Andra. Diara terlihat tidak suka tapi wanita itu tidak mempunyai pilihan. Dengan menghentakkan kakinya, Diara masuk ke dalam mobil.


"Kalian boleh pulang sekarang. Kalian jangan takut. Selama restoran ini diliburkan kalian akan tetap mendapatkan gaji pokok."


Para karyawan restoran itu sangat senang.


Pak, restoran ini tidak ditutup selamanya kan?" tanya salah satu karyawan itu.


Setelah para karyawan itu bubar. Ace mencoba menatap wajah suaminya itu lumayan lama.


"Jangan menatap aku seperti Ce, nanti aku grogi."


Ace membulatkan matanya. Dia tidak menyangka Hans menyadari tatapannya padahal suaminya itu sibuk mengetik di layar ponselnya. Yang membuat Ace terkejut, dia tidak menyangka Hans bisa berkata seperti itu kepada dirinya. Bahkan Ace hampir tidak percaya bahwa laki laki yang ada di dekatnya itu adalah Hans yang tahunya hanya bermain ranjang jika bersama dengan seorang wanita.


"Siapa nanti yang menanggung gaji mereka itu mas?" tanya Ace. Tidak mungkin Diara bersedia membayar gaji pokok para karyawan itu dalam keadaan restoran bermasalah seperti ini.


"Jangan pikirkan itu. Aku bertanggung jawab setiap apa yang aku katakan."


Ace menganggukkan kepalanya. Perkataan Hans tentang tanggung jawab tidak diragukan lagi. Keberadaan mereka di tempat ini adalah salah satu tanggung jawab dari perkataan laki laki itu.


Setelah memerintahkan para preman berjaga di sekitar restoran itu. Hans dan Ace pulang ke rumah.

__ADS_1


"Gio sudah dijemput tuan," lapor Bibi Santi begitu Hans turun dari dalam mobil.


"Biarkan saja bi. Biarkan Anita melakukan hal apapun pada Gio. Sebelum Gio terbukti anak siapa. Aku tidak bisa berbuat apa apa pada anak itu," jawab Hans cuek. Dia semakin muak dengan sikap Anita yang bertindak sesuka hatinya.


Baru saja Hans dan Ace duduk di sofa. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel laki laki itu.


Seketika wajah Hans terlihat sedih dan tubuhnya melemas setelah membaca pesan itu.


"Ada apa mas?" tanya Ace penasaran. Wanita itu menerima ponsel milik Hans yang diberikan kepada dirinya. Ace membaca pesan itu. Ada perasaan lega di hatinya karena pesan itu mengabarkan jika Gio bukan anak kandung Hans. Ternyata diam diam mama Ratih melakukan test DNA pada bayi itu.


"Jangan jangan apa yang dikatakan oleh Diara bahwa aku mandul benar Ce."


Ace sangat kasihan melihat Hans yang terlihat sangat kecewa dan hancur. Sungguh Ace tidak tega melihatnya. Ace ingin membelai rambut suaminya itu atau memeluk nya untuk memberikan ketenangan tapi Ace sangat canggung untuk melakukan hal itu.


"Aku ke kamar dulu," kata Hans sedih. Sadar jika Hans butuh waktu Dan ruang sendiri. Ace hanya menganggukkan kepalanya. Ace membuka ponselnya dan mencari sesuatu di Sana.


"Dapat, langsung ekskusi sekarang. Semoga bahan bahannya ada di dapur," kata Ace dalam hati. Dia berencana akan memasak sesuatu untuk Hans supaya mood suaminya itu kembali membaik.


Seakan keberuntungan berpihak pada Ace. Bahan bahan yang dia inginkan ada di dapur. Ace bersemangat mengelola bahan bahan itu menjadi makanan yang sangat baik untuk suaminya.


Satu jam kemudian. Ace membawa makanan hasil olahannya itu ke dalam kamar. Ace bisa melihat suaminya itu duduk di sofa dengan wajah seperti memikirkan sesuatu.


"Mas, aku buatkan makanan ini untuk mu," kata Ace. Jam makan siang memang masih lama tapi hal itu tidak menyurutkan niat Ace untuk menyajikan makanan itu di hadapan Ace.


Hans melihat mangkok berisi sayuran itu. Kini laki laki itu mengerutkan keningnya.


"Bayam dan touge?" tanya Hans memastikan. Ace menganggukkan kepalanya.


"Tadi aku baca di Gugel. Dua makanan ini sangat bagus untuk kesehatan sp*rma mas."


"Maksud kamu?"


"Aku tidak percaya mas mandul. Mungkin kualitas sp*rma milik mas yang kurang. Kalau mas mau. Nanti setiap hari aku buatkan seperti ini."


Hans mengamati wajah Ace ketika mengeluarkan kata kata itu.

__ADS_1


"Kamu beneran mau mengandung anakku?"


Ace menganggukkan kepalanya dengan tertunduk. Ace sudah berjanji dalam hatinya akan membalas semua kebaikan hati Hans. Dan hanya melahirkan anak laki laki itu yang bisa dia lakukan untuk membalas kebaikan suaminya itu. Seandainya pun dirinya mempunyai uang yang banyak. Hans pasti tidak mengharapkan materi karena dirinya mempunyai materi yang banyak.


__ADS_2