
Hans mendaratkan tubuhnya di dalam mobil. Randi sang asisten sudah siap membawa sang tuan ke kantor. Sebelum menggerakkan mobil itu. Randi melirik sinis kepada Ace yang masih berdiri di samping Mobil. Gadis itu mengantarkan Hans dengan membawa tas kerja milik tuannya hingga ke mobil.
"Jalan," perintah Hans ketus. Randi menggerakkan mobilnya. Randi bisa mengerti jika mood tuannya itu kurang baik. Dalam hati Randi menghubungkan pelayanan Ace kepada Tuannya tadi malam.
"Apa pelayan baru itu tidak bisa memuaskan tuan Hans tadi malam?" tanya Randi dalam hati. Dia tidak berani menanyakan langsung karena nantinya dia yang disalahkan tidak bisa memilih pelayan yang tepat.
Tuan Hans memang merasakan mood nya kurang baik pagi hari ini. Pagi ini, hasratnya muncul hanya menatap paha mulus milik Ace. Dia ingin merasakan permainan gadis itu di ranjang tapi waktunya tidak memungkinkan. Dia pun merutuki dirinya sendiri karena bisa bisanya tertidur ketika Ace memijit punggungnya.
Tiba di kantor, wajah Hans masih kurang bersahabat. Duduk di kursi kebesarannya, Hans tidak langsung bekerja. Dia berkali kali memijit kepalanya yang kini terasa berat karena hasratnya tidak tersalurkan.
"Selamat pagi pak."
Inka sang secretaris sudah berdiri di hadapannya dengan beberapa berkas di tangannya. Wanita itu meletakkan berkas itu setelah Hans menatap dirinya sebentar kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas sapaan selamat pagi dari dirinya.
"Mengapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya Hans tajam. Saat ini, Inka berpakaian sangat sexy. Atasannya memang blazers lengan panjang tapi tidak dengan rok bawahan yang diatas paha.
Ditanya seperti itu. Tentu saja, Inka gugup. Hans sudah membuat peraturan di perusahaan itu bahwa semua karyawan wanita harus berpakaian sopan termasuk dirinya. Hari ini, dia sengaja berpakaian seperti itu karena Inka susah lama tertarik dengan atasannya itu.
Hans adalah pria mapan dengan wajah yang rupawan. Semua yang ada pada diri laki laki itu menarik bagi para karyawan wanita di kantor itu. Termasuk statusnya yang masih duda. Hanya karena sikap dingin yang dimiliki oleh laki laki itulah yang membuat para wanita itu tidak berani menunjukkan ketertarikan mereka.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan atasannya. Inka memberanikan diri semakin memangkas jarak dengan atasannya.
"Pak, jam sepuluh ada rapat dengan divisi marketing dan nanti malam ada temu bisnis sekalian makan malam dengan Tuan Gillang."
Inka memberitahukan urutan pekerjaan Hans mulai pagi ini sampai nanti malam.
"Lusa juga Bapak dijadwalkan untuk meresmikan pembukaan hotel di yang di luar Kota Pak," kata Inka lagi. Hans menganggukkan kepalanya. Dia mengingat dengan jadwal untuk peresmian hotel itu esok lusa.
"Coba lihat jadwal ku. Apakah ada waktu luang?" tanya Hans. Terkadang dirinya juga bosan setiap hari terus bekerja. Dia juga butuh hiburan.
"Sabtu kosong Pak. Minggu apalagi," jawab Inka.
Tuan Hans menarik nafas panjang.
"Kalau butuh teman. Aku siap Pak," kata Inka.
"Persiapkan dirimu untuk ikut peresmian hotel itu," kata Hans. Inka bersorak gembira dalam hati. Baru kali ini, dia diikutkan jika ada pekerjaan di luar kota seperti ini. Biasanya hanya Randi sang asisten yang selalu ikut dengan atasannya.
"Siap Pak," jawab wanita itu. Karena senangnya. Entah sengaja atau tidak sengaja dia menyentuh tangan atasannya. Hans tidak memberikan reaksi apapun atas apa yang dilakukan oleh Inka membuat wanita semakin berani.
__ADS_1
"Sepertinya waktu yang tepat jika bapak juga mengambil libur di tempat itu untuk hari sabtu dan Minggu pak. Daripada capek bolak balik kan."
"Aku juga berpikiran seperti itu Inka."
Inka melebarkan matanya. Dia tidak menyangka sarannya diterima oleh sang atasan.
"Apa bapak kurang enak badan?" tanya Inka. Tangan kanan Hans kembali memijit kepalanya. Sentuhan Inka di tangannya membuat darahnya kembali berdesir karena hasratnya tidak sepenuh pergi dari tubuhnya. Tidak bisa dipungkiri jika melihat paha mulus Inka juga membuat hasratnya tidak kunjung padam.
"Tidak. Keluar lah Inka," kata Hans dingin. Inka tidak langsung keluar. Dia sudah menduga jika atasannya itu sedang mode on sejak melihat paha mulutnya dan juga belahan dadanya. Inka memang sengaja membuka tiga kancing teratas kemejanya.
"Jika bapak mau. Aku bisa Pak," bisik Inka. Sebagai laki laki yang terbiasa bercinta tanpa ada perasaan cinta tentu saja, Hans tentu saja tidak menolak daging yang sudah tersedia di hadapannya. Andaikan mereka berada di tempat lain. Mungkin saja, Hans sudah menyeret Inka dan melampiaskan hasratnya. Tapi ini kantor, Dan Hans tidak ingin terlibat affairs dengan siapapun karyawan di kantornya.
"Kembali lah bekerja Inka. Ini kantor tempat kita mencari rejeki," kata Hans. Inka memundurkan dirinya. Dia tidak kecewa karena dia merasa jika Hans menolak dirinya karena mereka berada di kantor. Tapi tidak untuk esok lusa saat peresmian hotel itu. Dia sangat yakin jika Hans akan terpesona dengan kecantikannya.
"Baik Pak. Saya keluar."
Inka sengaja berjalan sengaja membuat bokongnya bergoyang supaya Hans semakin penasaran dengan dirinya. Benar saja, seperti keinginan Inka. Hans menelan ludahnya dengan kasar melihat cara Inka yang berjalan sangat sensual di matanya.
"Ahhh, mengapa kamu tidak seagresif mereka Ace," jerit Hans dalam hati.
__ADS_1
Keluar dari ruangan Hans. Inka tersenyum di mejanya. Dia merasa langkah pertama untuk menggoda sang atasan sudah berhasil. Inka sangat yakin. Secepatnya Hans akan jatuh ke dalam pelukannya.
"Mengapa tidak sedari awal aku melakukan ini. Ternyata dibalik sikap diinginnya. Dia juga butuh wanita yang agresif," batin Inka. Dia merasa menyesal karena menjadi sekretaris yang baik dan sopan selama satu tahun ini bekerja pada Hans. Dia tidak mengetahui jika, Hans sudah mencicipi banyak wanita yang tidak halal baginya.