Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Kebaikan Tuan Hans


__ADS_3

"Ce, handuk mana?" teriak Tuan Hans dari dalam kamar mandi. Ace yang sedang mempersiapkan pakaian suaminya hanya bisa berdecak kesal kemudian menarik handuk dari lemari. Sejak memutuskan membuka hati akan pernikahan itu. Tuan Hans banyak bicara dan bertanya. Ada ada saja topic pembicaraan yang tidak penting dari tuan Hans supaya mereka berdua terlibat pembicaraan. Seperti saat ini, sebenarnya di kamar mandi sudah tersedia bathrobe tapi untuk berbicara dengan Ace. Tuan Hans sengaja bertanya tentang handuk.


"Tuan, ini handuknya," kata Ace dari luar. Tidak ada sahutan dari dalam. Ace menunggu pintu kamar mandi dibuka dari dalam.


"Tuan, ini handuknya," teriak Ace lebih kencang lagi. Beberapa menit menunggu. Pintu kamar mandi masih tertutup.


"Tuan."


Tidak ada sahutan. Kamar mandi seperti tidak berpenghuni, tidak terdengar aktivitas apapun. Ace merasa khawatir terjadi sesuatu kepada suaminya itu. Ace membuka pintu kamar mandi. Ace berdecak kesal melihat kelakuan suaminya itu. Tuan Hans sedang berendam di bath up dan melemparkan senyuman manis ke arah Ace. Laki laki itu tidak merasa bersalah sama sekali yang sudah membuat Ace sangat khawatir.


"Aku bukan tuan mu ce. Aku suami mu. Berhenti memanggil aku dengan sebutan Tuan. Aku tidak akan menjawab jika kamu masih menyebut aku tuan."


Ace hanya menatap suaminya sebentar kemudian menggantungkan handuk itu di dinding. Untuk mengganti panggilan terhadap suaminya. Lidahnya tidak terbiasa.


"Nanti kita akan menemui Pak Andra. Bagaimana beliau percaya aku adalah suami mu jika kamu masih menyebut aku dengan sebutan itu. Bisa bisa rencana untuk mengambil alih restoran itu akan terkendala."


Tuan sengaja berkata seperti itu supaya Ace bersedia mengganti sebutan Tuan itu. Mendengar sebutan tuan dari Ace. Rasanya Tuan Hans masih berada di masa lalu nya yang kelam. Setelah mengenal Ace, tuan Hans tidak pernah lagi menyentuh wanita lain. Termasuk pelayan yang pernah dipekerjakan tuan Hans setelah menikahi Ace. Tuan Hans tidak sampai bercinta dengan pelayan tersebut di malam itu. Mereka hanya bercumbu. Ketika hendak bermain lebih dalam lagi. Bayang bayang pernikahan yang masih hitungan jam saat itu terlintas di kepala Tuan Hans hingga hasrat laki laki itu meredup.


Termasuk dengan noda lipstick yang ditemukan Ace setelah mereka melakukan malam pertama. Hans sama sekali tidak menyentuh wanita itu. Keadaan mabuk lah yang membuat Hans mendapatkan noda lipstick itu dari wanita yang berada di club malam.


"Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu. Akan aku pikirkan untuk mengganti panggilan," jawab Ace. Dalam hati, Ace membenarkan perkataan tuan Hans. Sebutan Tuan dari dirinya untuk Hans seakan akan hubungan mereka adalah hubungan bawahan dengan majikan.


Tuan Hans tersenyum senang. Dia berharap jika nanti sebutan itu berganti. Komunikasi diantara mereka tidak kaku lagi.


"Pikirkan sebutan yang paling bagus tapi tidak norak Ce."


"Baik Tuan."


"Kok masih ada kata Tuan nya sih."


"Kan masih proses berpikir tuan. Tidak mudah mencari sebutan yang pas untuk Tuan."


"Aku tidak mau tahu. Sekarang kamu harus menemukan pengganti kata Tuan itu."


"Baiklah, aku panggil dengan sebutan bapak saja."


"Bapak kamu pak Andra ce. Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku sadar aku sudah terlalu tua untuk kamu tapi tidak iya juga kamu memanggil aku dengan sebutan bapak."


Perdebatan perkara sebutan itu pun terjadi. Tuan Hans yang sedang berendam sedangkan Ace di pintu kamar Mandi.


"Sadar ternyata," gumam Ace sangat pelan.

__ADS_1


"Apa kamu bilang. Jadi kamu juga beranggapan kalau aku sudah tua?"


"Kan memang sudah tua pak."


"Tidak, aku masih muda."


"Kenyataan pak."


Setelah mengatakan hal itu, Ace berlalu dari pintu kamar mandi membuat tuan Hans merasa kurang puas dengan perdebatan itu. Meskipun begitu, laki laki itu menyunggingkan senyuman manis. Ace sudah mulai berani berdebat dengan dirinya. Itu artinya komunikasi mereka semakin bagus.


Tuan Hans cepat cepat menyelesaikan acara mandi itu. Dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang disediakan oleh Ace tadi.


"Ce."


Ace yang sedang mengoleskan pewarna ke kukunya menoleh kearah tuan Hans bersamaan dengan laki laki itu menurunkan handuknya ke lantai dengan sengaja.


Ace memalingkan wajahnya. Melihat tubuh polos suaminya. Ace sangat malu meskipun sudah pernah merasakan keperkasaan tubuh suaminya. Dengan santai, tuan Hans memakai pakaian yang disediakan Ace ke tubuhnya. Ace menyiapkan pakaian yang dia beli sendiri untuk dipakai suaminya itu saat ini karena mereka berencana ke rumah Pak Andra. Jadi tidak perlu memakai pakaian formal.


"Ce, bawa saja pakaian yang kamu beli untuk mama dan Rangga. Kita akan singgah di rumah mama terlebih dahulu baru ke rumah Pak Andra."


"Benar Tuan?" tanya Indah senang berbeda dengan wajah Tuan Hans yang berubah masam mendengar sebutan tuan yang sangat risih di tellinganya. Dulu, dia memang yang meminta sebutan itu. Dan kini sebutan itu seperti kutukan bagi dirinya.


Indah merasakan hatinya sangat senang karena akan bertemu dengan keluarganya. Tapi rasa senang itu hanya sebentar karena melihat wajah masam suaminya dan dia tahu mengapa suaminya seperti itu. Seketika, hatinya merasa bersalah. Tak sepantasnya dirinya membangkang seperti itu sementara tuan Hans terlihat ingin memberikan yang terbaik untuk dirinya.


"Bagus. Itu lebih bagus daripada sebutan Tuan."


Sepertinya keinginan Tuan Hans memang benar benar tulus untuk menjalani pernikahan itu. Kalau dulu, Tuan Hans selalu menempatkan Ace di belakang tubuhnya jika mereka berjalan bersama. Kini tuan Hans meraih tangan Ace dan menempatkan wanita itu di sebelahnya. Mereka keluar dari kamar itu bersama sama dan berjalan bersebelahan.


Di lantai bawah, Bibi Santi mengembangkan senyumnya melihat pemandangan itu. Tuan Hans dan Ace terlihat seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya. Saat berjalan itu. Tuan Hans juga mengajak Ace berbicara.


"Bagaimana, kalau Kita makan malam di rumah mama Rani saja," kata tuan Hans.


"Makan malam?. Ini sudah jam makan malam. Kalau Kita makan malam disana hanya akan memperlama perut lapar," jawab Ace. Sekarang sudah enam lewat. Perjalanan ke rumah mama Rani hampir setengah jam. Belum lagi jika harus memasak.


"Kamu sudah lapar Ce?"


"Hampir tuan. Eh..Mas."


Tuan Hans tidak berbicara lagi. Tangannya meraih tangan Ace supaya berjalan lebih cepat menuju Mobil. Kali ini, Tuan Hans mengendarai mobilnya sendiri.


Di dalam mobil. Ace tidak berbicara begitu juga dengan Tuan Hans. Dan ketika Tuan Hans menghentikan mobilnya di area atm center. Ace tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Ma...mas. Untuk apa kita turun disini?" tanya Ace bingung. Tidak mungkin orang seperti Tuan Hans akan menarik uang di atm karena semua lewat ponselnya bisa melakukan transaksi keuangan.


"Bukankah kamu berencana memberikan uang untuk mama Rani. Ayo turun. Aku akan menemani kamu menarik uang."


Sebelum turun, Ace menatap wajah suaminya. Hans terlihat tulus. Dan saat itu juga Ace mengingat perkataan Bibi Santi yang mengatakan jika Tuan Hans adalah orang baik.


Tidak lama setelah menarik uang. Hans kembali menjalankan mobilnya menuju alamat rumah Rani.


Ace terkejut begitu turun dari mobil. Sebuah motor terparkir di depan rumah itu. Melihat kondisi motor tersebut. Ace bisa menyimpulkan motor itu baru dibeli.


Ace menatap bingung motor itu bersamaan dengan kurir pengantar makanan tiba di rumah itu. Lagi lagi Ace terkejut karena yang memesan makanan itu adalah suaminya sendiri. Pantas saja, laki laki itu tadi tenang ketika Ace protes jika harus makan malam di rumah mama Rani. Ternyata laki laki itu sudah mempersiapkan makan malam itu dengan caranya sendiri.


"Rangga, motor yang di depan milik siapa?" tanya Ace setelah mengucapkan salam dan dibalas oleh mama Rani dan Rangga.


"Motor aku mbak," jawab Rangga pelayan.


"Motor kamu."


Rangga menganggukkan kepalanya kemudian menunduk setelah terlebih dahulu melirik ke Tuan.


"Jelaskan, darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli motor itu?" tanya Ace tegas. Harga Motor matic itu memang di bawah dua puluh juta tapi tetap saja uang sebanyak itu tidak mudah bagi Rangga maupun mama Rani. Ace takut, Rangga bekerja tidak halal untuk mendapatkan motor matic yang sudah lama dia inginkan.


"Mas Hans yang memberikan motor itu mbak."


Tatapan tajam yang awalnya tertuju ke Rangga kini tatapan Ace tertuju kepada suaminya. Yang ditatap pura pura tidak menyadari jika tatapan Ace tertuju kepada dirinya.


"Sebaiknya kita makan dulu. Mama dan Rangga pasti sudah lapar. Aku juga," kata Tuan Hans supaya masalah motor itu tidak diperpanjang lagi.


"Tunggu mas. Jelaskan dulu. Apa alasan kamu memberikan motor itu untuk adikku?"


"Adik kamu. Adikku juga Ce. Jadi tidak apa apa kan aku memberikan hadiah kelulusan untuk Rangga. Lagipula sebelum memberikan motor itu. Rangga sudah berjanji akan bisa menjaga diri. Jadi tidak ada alasan bagiku tidak memberikan motor yang sangat diinginkan Rangga."


"Tapi ini berlebihan mas."


"Tidak ada yang berlebihan untuk keluarga Ce. Sudah sepantasnya Rangga memiliki sebuah motor."


"Nak Hans, mama rasa juga kamu berlebihan memanjakan Rangga," kata mama Rani. Bukan hanya motor yang didapatkan oleh Rangga dari Hans tapi juga sebuah ponsel yang harganya juga diatas sepuluh juta.


"Jangan berkata seperti itu ma. Apa yang aku berikan untuk Rangga adalah barang yang mendukung pendidikannya kelak. Rangga berencana melanjutkan kuliah sambil bekerja. Motor adalah hal yang sangat penting untuk memangkas waktu. Begitu juga dengan ponsel. Ponsel juga sangat penting kan?"


"Kamu sangat baik nak," puji mama Rani.

__ADS_1


Ace terdiam melihat kebaikan Tuan Hans untuk keluarganya. Dalam hati, Ace khawatir jika Hans terus berbuat baik kepada dirinya dan keluarganya. Dirinya yang terlebih dahulu luluh akan kebaikan laki laki itu dan akhirnya jatuh cinta kepada Hans. Sebagai wanita yang tidak agresif. Ace berharap suaminya itu yang terlebih dahulu jatuh cinta kepada dirinya.


__ADS_2