Pelayan Duda Casanova

Pelayan Duda Casanova
Jujur


__ADS_3

"Hans, sampai kapan kamu dalam kubangan dosa ini. Bahkan di malam pertama yang seharusnya dengan istri mu. Kamu justru melakukan dengan wanita yang tidak halal bagimu."


"Ini tidak seperti yang mama dan papa pikirkan pa, ma. Aku tidak melakukan apapun dengan wanita itu."


"Apa kami harus percaya Hans. Maling kalau mengaku, penjara akan penuh."


Mama Ratih sangat kecewa dengan tabiat buruk putranya. Pura pura tidak mengetahui jika pernikahan Hans dan Ace tidak berdampak baik pada Hans.


"Suruh wanita itu pergi sekarang juga. Atau kamu harus bercerai dengan Ace dan kamu tidak akan mendapatkan warisan kami. Dan tentunya, jabatan kamu juga diturunkan."


Pak Anton papa kandungnya Hans tidak main main dengan perkataannya. Mungkin, Hans harus mendapatkan hukuman terlebih dahulu supaya putranya itu bisa mengubah dirinya menjadi laki laki yang baik.


"Tidak pa, jangan lakukan itu," jawab Hans.


Hans ketakutan. Semua kelakuan buruknya selama beberapa tahun ini sudah diketahui oleh kedua orangtuanya. Hari ini, entah mengapa dirinya sangat sial. Setelah Ace keluar dari rumah. Tidak lama kemudian, kedua orangtuanya tiba di rumah ini. Hans, sangat yakin keberadaan gadis pelayan itu diketahui oleh kedua orangtuanya karena laporan Ace. Hanya wanita itu yang berani mengancamnya. Dan kini, sudah sampai tengah hari dirinya masih disidang.


"Kalau hanya karena harta dan takut turun jabatan alasan untuk menikah. Sampai kapanpun kamu tidak berubah Hans. Coba hargai dirimu sendiri. Dengan bermain dengan bermain berbagai wanita. Kamu seperti sampah di hadapan papa."


Hans menundukkan kepalanya. Harga dirinya seperti tidak ada ketika sang papa menyebut dirinya seperti sampah.


"Panggil wanita itu sekarang juga dan suruh dia pergi."


Mama Ratih tidak dapat menahan amanah lagi. Wanita mana yang tidak marah melihat putranya menyimpan wanita ja lang di rumahnya. Mama Ratih tentu saja takut jika Hans tidak bisa lepas dari wanita yang tidak baik. Selama ini, Hans memang bisa terlepas dari wanita wanita bayarannya. Tapi yang namanya perbuatan dosa suatu saat akan kena batunya. Dan sebelum itu tiba, mama Ratih dan suaminya sudah bertekad untuk membuat Hans terlepas dari dosa nikmat itu.


Mau tidak mau, akhirnya Hans memanggil Ussi si pelayan baru yang masih satu malam menjadi pelayannya.


"Aku dipecat Tuan?. Bukan di surat perjanjian satu bulan?" tanya wanita bingung dan terlihat tidak rela pergi dari rumah mewah itu.

__ADS_1


Tatapan tajam Hans sudah menjawab pertanyaannya. Ussi tidak bisa berkata kata lagi. Wanita itu merasa sedikit beruntung karena Hans memecat dirinya dengan memberikan gaji penuh satu bulan.


Hans kembali ke ruang tamu. Hans menatap malas kepada istri pura puranya yang ternyata sudah pulang dan kini duduk bersama dengan Ace di ruang tamu.


"Perbaiki hubungan mu dengan Ace, Hans. Tidak ada wanita satu pun di dunia ini yang rela melihat suaminya tidur dengan wanita lain. Entah dimana otak mu melakukan itu di malam pertama kamu berstatus suami kembali. Atau jangan jangan. Kalian menikah hanya untuk sandiwara."


"Tidak. Tidak pa. Kami menikah karena saling mencintai. Kehadiran pelayan baru itu murni untuk membantu bibi Santi."


Hans berusaha mengelak. Dia tidak tahu dengan perkataannya itu menunjukkan kebohongan sendiri di hadapan kedua orangtuanya. Sedangkan Ace memilih diam. Ternyata dirinya disuruh cepat pulang hari ini karena kedua mertua pura puranya ada di rumah ini.


"Ace, sebaiknya kamu tidak perlu bekerja. Fokus lah menjadi istri Hans," kata mama Ratih. Bagaimana pun pernikahan antara Hans dan Ace sah di hadapan agama meskipun putra dan menantunya berpikir jika pernikahan itu pura pura. Mama Ratih sangat berharap banyak kepada Ace untuk bisa membawa Hans ke jalan yang benar.


"Baik ma."


Ace menjawab tanpa keraguan karena Ace tidak berniat lagi untuk bekerja di restoran papanya. Tujuan sudah tercapai untuk di tahap pertama tinggal menjalankan tahap berikutnya. Lagipula, Ace pasti tidak aman jika Pak Andra mengingat dengan jelas jika dirinya menyimpan berkas di brankas itu. Tadi , dirinya bisa selamat karena pak Andra ragu menyimpan berkas itu di Sana. Hal itu diketahui oleh Ace ketika mendengar pak Andra menghubungi istri mudanya untuk melihat berkas itu di lemari yang di rumahnya Tapi Karena Pak Andra membantu kunci lemari tersebut membuat istrinya tidak dapat membuka lemari tersebut.


"Untuk berjaga jaga. Untuk sementara. Kami akan tinggal di rumah ini."


Tidak seperti Hans yang dengan cepat mengajukan protes. Ace dan mama Rani saling berpandangan. Ace pun sebenarnya tidak terima dengan keputusan papa mertuanya. Itu artinya mereka akan satu kamar. Tapi untuk protes, Ace juga tidak berani. Siapa dirinya yang bisa memprotes mama Rani dan papa Anton. Hans saja merasa takut kepada mereka apalagi dirinya.


"Papa paling tidak bisa dibantah."


Hans menciut dan tidak berbicara lagi. Mood nya mendadak buruk. Merebahkan diri di kamar mungkin itu jalan yang terbaik untuk saat ini daripada duduk berhadapan di hadapan kedua orangtuanya kalau hanya untuk menguliti kehidupannya yang kelam. Untuk ke kantor, Hans juga malas.


"Mengapa kamu harus melapor kepada kedua orangtua ku ce," kata Hans penuh setelah Ace muncul di kamarnya. Ace kemudian duduk di sofa sedangkan Hans berbaring telentang di ranjang.


"Melaporkan apa tuan."

__ADS_1


"Jangan pura pura lupa kamu. Cukup hanya pernikahan kita yang pura pura."


Hans berkata dengan sinis sambil memandangi langit langit kamar. Tidak hanya mata duitan, ternyata Ace benar benar bisa bersandiwara. Setelah mengungkapkan keberadaan si pelayan baru. Kini istri pura puranya itu pura pura bingung.


"Serius tuan, Saya tidak mengerti."


"Mama dan papa mengetahui keberadaan Ussi di rumah ini."


"Ooo itu tuan.. Jangan asal nuduh sembarangan. Bukan hanya says yang mengetahui keberadaan dia. Tidak adil jika Tuan hanya menuduh Saya."


Hans berpikir sebentar. Benar, bukan hanya Ace yang mengetahui keberadaan pelayan. Bukan hanya mereka berdua di rumah ini. Mungkin kah Bibi Santi atau Randi? . Selama ini aman aman saja. Sejak kedatangan Ace di rumah baru hidupnya dihadapkan banyak masalah.


"Dan hanya kamu yang berani mengancam saya."


"Terserah tuan percaya atau tidak percaya. Yang pasti aku buka mulut sama sekali.


Hans dan Ace akhirnya sama sama terdiam. Hans juga tidak memperpanjang karena tidak ada gunanya lagi.


"Tuan," panggil Ace dengan lembut. Hans seketika duduk dan menatap Ace.


"Bolehkah, saya mendapatkan uang tiga ratus juta itu Tuan. Jika tidak ada, dua ratus juta pun tidak apa apa."


Ace berkata dengan takut sedangkan Hans tiba tiba penasaran alasan Ace meminta uang itu terus menerus bahkan sampai memohon untuk memakai tubuhnya asalkan uang itu ada di tangannya.


"Berikan aku satu alasan mengapa kamu membutuhkan uang sebanyak itu."


Ace meremas tangannya yang saling bertautan. Dia ragu untuk jujur. Tapi jika tidak jujur, Ace takut uang itu tidak ke tangannya dalam minggu ini.

__ADS_1


"Kamu tidak mempunyai alasan?


"Sebenarnya, Saya membutuhkan uang untuk menebus rumah yang ditempati mama dan adikku saat ini, Tuan. Batasnya sampai minggu depan," kata. Ace jujur. Dia berharap kejujurannya membuat Hans luluh.


__ADS_2