Pembalasan Istri Yang Di Khianati

Pembalasan Istri Yang Di Khianati
Episode 10


__ADS_3

"Maaf pak, saya tidak sengaja," ucap Elena hendak membersihkan sepatu Radit yang di injak oleh nya.


Namun Radit menghentikan nya. "Jangan lakukan itu."


"Tapi sepatu bapak kotor."


Radit langsung membersihkan dengan tangan nya sendiri.


Tiba-tiba Elena ingat sepatu Farel kotor karena tidak sengaja terkena tumpahan jus nya di meja makan oleh Elena.


Farel memaksa Elena membersihkan sepatu nya dengan baju Elena.


"Kenapa kamu termenung? Apa kamu tidak ada pekerjaan?"


"Baik pak, saya mohon diri." Elena keluar dari ruangan Radit.


Radit menghela nafas berat dan menyandarkan punggungnya di kursi serta memegang dada nya.


"Aku rasa aku sudah gila, bagaimana bisa aku mengalami cinta yang begitu dalam terhadap Elena seperti ini?"


"Tidak ada pilihan lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada aku harus mencari waktu yang tepat untuk mengatakan perasaan ku."


Hari ini Radit memiliki jadwal makan siang bersama klien nya di luar, tentu nya Elena juga ikut.


Selesai makan mereka tidak kembali ke perusahaan melainkan langsung memeriksa beberapa pekerjaan sampai selesai di sore hari.


"Kita mau kemana pak?" tanya Elena karena mobil tidak menuju kembali ke perusahaan.


"Ke rumah saya, saya mau kamu tau rumah saya di mana, sebagai asisten pribadi kamu harus mengurus saya juga di rumah."


"Maksud nya pak?" Elena sangat bingung.


"Kamu sebaiknya tinggal di rumah saya."


"Pak, saya memiliki suami, bagaimana bisa saya tinggal di rumah Bapak?"


Radit menggeleng kan kepala nya.


"Saya tidak perduli!"


Elena terdiam.


"Saya rasa sebaiknya saya mencari pekerjaan di luar saja pak, persyaratan bekerja di sini saya tidak bisa memenuhi nya," ucap Elena dengan sedikit berat.


Walaupun gaji nya tinggi dan tidak terlalu sulit namun dia juga harus menghargai suami nya.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah, Radit menghela nafas panjang dia meminta supir turun terlebih dahulu ia menatap Elena.

__ADS_1


"Apa yang kamu harapkan lagi dari suami mu? Apa dia pernah menghargai mu? sehingga kamu sangat takut tinggal di sini bersama saya?" tanya Radit.


"Maafkan saya pak, saya benar-benar minta maaf kalau membuat Bapak marah, namun saya sudah menjadi seorang istri. Saya tidak bisa tinggal di rumah seorang Pria."


Tiba-tiba Radit mendekati Elena, Elena memundurkan tubuhnya nya karena Radit sangat dekat.


"Pak Radit saya mohon lepas kan saya."


"Apa yang aku lakukan? kenapa aku seperti ini?" batin Radit, melihat wajah Elena yang ketakutan membuat nya merasa bersalah.


"Saya minta maaf, saya tidak ingin kamu berhenti bekerja dengan saya."


"Sebaiknya kamu memikirkan yang saya katakan, karena saya menginginkan asisten pribadi yang bisa mengurus semua tentang saya."


Radit membuka pintu mobil.


"Mulai hari ini supir akan menjemput dan mengantar kan kamu." Radit langsung pergi.


Elena menghela nafas panjang dia menyenderkan kepalanya di sandaran kursi.


Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah suami nya. Ternyata suami nya sudah menunggu nya.


Sebenarnya Elena sudah sangat muak dengan suami nya, dia juga sudah lelah.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau tadi malam kamu dari pernikahan teman nya Pak Radit?" tanya Farel.


"Aku minta maaf karena sudah melakukan hal kasar kepada kamu tadi malam. Aku khawatir karena kamu pulang malam." ucap Farel.


"Aku sudah membeli kan obat untuk kamu, aku sungguh minta maaf," ucap Farel.


Elena tidak mengatakan apapun dia hanya bisa diam dan menerima perlakuan baik suami nya itu. Setelah selesai dia langsung masuk ke dalam kamar nya.


Sementara di kamar Farel dan Jihan.


"Aku tidak bisa tidur Tampa kamu sayang, bagaimana kalau tiba-tiba aku mual dan pusing seperti biasa?"


"Sayang hanya beberapa hari saja yah, kita harus merayu Elena agar kita bisa mendapatkan untung yang banyak kan kamu juga sama anak kita yang menikmati hasil nya.


"Awas saja kalau kamu jatuh cinta lagi kepada dia," ucap Jihan.


"Mana mungkin sayang, aku hanya mencintai kamu."


"Siapa tau, sekarang dia semakin cantik dan terawat."


Farel menyakinkan Jihan.


Elena baru saja selesai mandi namun tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar nya.

__ADS_1


"Farel.." ucap Elena.


Farel tersenyum.


Elena melihat Bantal yang di peluk oleh Farel.


"Boleh kan malam Ini aku tidur di sini?" tanya Farel.


Elena tidak mungkin menolak akhirnya dia mengijinkan nya masuk ke dalam.


"Tidak biasa nya kamu tidur di sini, ada apa?" tanya Elena.


"Mood Jihan sedang tidak baik, biasa lah wanita hamil seperti itu, kalau kamu hamil pasti mengalami hal seperti itu," ucap Farel sambil tersenyum.


Elena sangat bingung dengan sikap Farel. Sangat jarang Farel bersikap lembut dan hangat seperti ini namun Elena tidak ingin mengambil pusing dia membiarkan Farel tidur.


"Elena..." ucap Farel.


Farel menggoda Elena. Elena yang sudah merindukan suami nya tidak bisa menolak, namun saat mau melakukan lebih dari ciuman tiba-tiba Elena mengingat beberapa kali dia melihat suami nya bersama Jihan ciuman membuat nya benci dan tidak mood.


"Kenapa berhenti sayang?" tanya Farel.


"Aku sangat lelah," ucap Elena. Farel tersenyum dia mengangguk dan memeluk Elena.


Namum Elena sama sekali tidak bisa tidur, tidak nyaman bersama di pelukan Farel akhirnya dia berjarak tidur dengan Farel.


Keesokan harinya Elena bangun namun sudah tidak melihat Farel di samping nya, dia menghela nafas panjang, dia memilih untuk langsung ke kamar mandi.


Tidak sempat untuk masak dia hanya menyiapkan roti untuk sarapan Farel setelah itu dia pergi.


"Selamat pagi pak," sapa Elena kepada Radit yang baru saja bangun dan melihat Elena sudah datang.


Radit melihat jam, tapi dia baru sadar kalau dia masih menggunakan baju tidur.


"Saya baru saja bangun," ucap Radit.


"Apa yang harus saya lakukan pak?" tanya Elena.


"Kamu siapkan pakaian saya. Saya akan mandi."


"Apa saya juga harus menyiapkan pakaian untuk Bapak? Saya harus masuk ke kamar Bapak? saya rasa itu tidak sopan."


"Itu adalah tugas kamu."


"Huff tidak apa-apa Elena, ini hanya karena pekerjaan saja, menyiapkan pakaian tidak lah sulit," batin Elena.


Dia masuk ke kamar Radit yang sangat luas, layaknya kamar anak laki-laki semua nya sangat rapi. Elena tidak menyangka kalau Radit pria yang rapi, wangi dan juga bersih.

__ADS_1


Elena sudah tau bagaimana stelan Radit akhirnya dia menyiapkan pakaian Radit. Namun tidak sengaja dia melihat dia botol obat tidur di atas nakas.


"Obat tidur? Siapa yang menggunakan obat seperti ini?" tanya Elena.


__ADS_2