Pembalasan Istri Yang Di Khianati

Pembalasan Istri Yang Di Khianati
Episode 18


__ADS_3

"Humm tapi ini sudah malam, klien apa?" tanya Cika.


Namun tiba-tiba Radit datang, Elena melihat Radit dia jadi sangat takut ketahuan oleh Cika.


"Malam ini saya ada janji dengan Elena, apa ada masalah dengan itu?" tanya Radit.


"Eh om Radit di sini juga?" tanya Cika. Radit mengangguk.


"Kamu sendiri kenapa di sini bersama pria? Siapa Pria itu?" tanya Radit.


"Enggak kok Om, ini teman aku, kalau begitu silahkan masuk, kami pergi dulu," ucap Cika langsung menarik tangan pria teman nya pergi dari sana.


"Huff akhirnya dia pergi,"


"Kenapa kamu begitu takut?"


"Bagaimana aku tidak takut, kalau dia mengadu kepada Farel aku ada di sini bersama Bapak, bisa jadi permasalahan yang begitu besar."


"Cika bukan anak yang seperti itu, dia bukan Fika.


"Iyah juga sih, hanya saja aku khawatir."


"Selamat malam kek, maaf sudah membuat kakek menunggu lama," ucap Radit duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Elena tersenyum melihat Kakek.


"Apa kabar Elena?" tanya pak Ericsson.


"Baik Kek,"


Cukup banyak pembicaraan yang membuat Elena panas dingin menjawab nya, dia hanya bisa berbohong mengenai semua pertanyaan Kakek Radit.


Makan malam pun telah usai, pak Ericsson memilih untuk pulang karena sudah malam. Radit mengantarkan nya ke depan restoran.


Setelah pak Ericsson pergi Elena bernafas lega.


"Arrhh!! Rasa nya mau pingsan, ternyata benar apa kata orang lain kalau pak Ericsson itu terlihat sangat galak dan menakutkan."


"Aslinya Kakek baik, hanya saja kelihatan nya galak seperti itu."


"Lalu selanjutnya apa? Apakah aku belum bisa mendapatkan uang nya?" tanya Elena.


Radit menghela nafas panjang.


"Kamu baru saja bekerja satu kali namun sudah mengharapkan uang."


Elena menghela nafas panjang. Dia menatap pak Radit.


"Apa yang harus saya lakukan lagi pak?" tanya Elena.


"Tidak ada yang perlu kamu lakukan untuk sekarang, kamu hanya perlu memikirkan tawaran saya."


Elena terdiam dia mengingat pembicaraan nya dengan Radit.


"Kalau begitu saya pulang dulu," Radit langsung pergi.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan ku? Kenapa dia malah meninggal kan ku begitu saja?"


Elena merasa sangat kesal karena di tinggal kan begitu saja oleh Radit.


Tidak sengaja dia melihat Suami nya dan Jihan lewat di dalam mobil.


Sesampainya di rumah ternyata Farel sudah menunggu nya.


"Dari mana saja kamu?" tanya Farel.


"Aku ada kerjaan dengan pak Radit di luar."


"Jangan berbohong! Ada orang yang melihat kamu bersama pria di Restoran!" ucap Farel sambil menunjuk kan foto yang di ambil dari bagian belakang.


Elena kaget melihat foto itu. Mau bilang itu Radit namun kelihatan sekali itu bukan Radit karena penampilan Radit yang sangat berbeda tadi malam.


"Itu klien ku!"


"Jangan berbohong! Kamu selingkuh kan?" ucap Farel.


"Aku tidak melakukan hal seperti itu, aku lelah mau istirahat."


"Pantesan saja kamu pulang malam, ternyata kamu bersama pria itu!"


Elena berbalik dia menatap Farel.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak selingkuh!"


"Lalu ini apa? Kamu juga gandengan dengan pria itu!"


"Pantesan saja kamu sudah tidak perduli lagi kepada ku."


"Kamu yang tidak pernah perduli kepada ku, hanya karena aku tidak bisa membantu menaikkan persenan perusahaan kamu kamu mencari kesalahan ku seperti ini!"


"Kamu wanita yang tidak tau diri!" ucap Farel mendorong Elena ke dinding.


"Kalau aku tau kamu akan seperti ini kepada ku, aku tidak akan mau menikah dengan mu dan juga tidak mau di Madu!" ucap Elena.


"Kalau begitu ayo bercerai! aku juga sudah tidak mencintai wanita murahan seperti mu! wanita mandulnya, pria mana yang mau sama wanita seperti mu!" ucap Farel.


"Farel! berhenti berbicara seperti itu! Aku tau kalau aku memiliki kekurangan namun aku sudah melakukan banyak hal untuk mu!"


"Kenapa? Kamu tidak terima dengan kenyataan nya?" tanya Farel.


"Aku capek." ucap Elena dan langsung pergi.


"Wanita murahan, aku akan segera mengurus surat cerai!" ucap Farel. Elena berusaha untuk menutup telinga nya agar tidak mendengar kan kata-kata yang sakit itu.


Sementara Jihan tertawa, dia sedang berbicara dengan Bu Rosa mertua nya. Mereka sangat senang mendengar keributan itu.


"Aku yakin sebentar lagi Farel akan menceraikan istri pertama nya dan akhirnya warisan itu jatuh ke tangan kita," ucap Bu Rosa kepada Jihan.


"Iyah Bu, semoga saja," ucap Jihan.


"Ya sudah kalau begitu, aku matikan dulu yah Bu, seperti nya Farel sudah mau masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Keesokan harinya Radit bangun karena ketukan pintu nya. Dia melihat Elena di balik pintu.


Tidak mengatakan apapun dia langsung langsung ke dalam menyiapkan pakaian Radit dan keluar membuat sarapan.


Radit melihat wajah Elena tampak sedih membuat nya tidak berani mengatakan apapun.


Berangkat ke kantor pun Elena tidak mengatakan apapun selain kata-kata membahas pekerjaan.


Di siang hari nya Radit bertemu dengan Fika.


Fika menceritakan kalau Elena ribut dengan Farel karena Elena selingkuh dan tidak mau membantu Farel untuk kerja sama dengan perusahaan Radit.


Fika menceritakan semua nya berharap dia bisa langsung dekat dengan Radit, karena dia memiliki rasa kepada Radit.


"Baiklah kalau seperti, terimakasih informasinya, ambil lah ini," Radit memberikan uang dan meninggal kan Fika.


"Apa-apaan ini? dia meninggalkan ku begitu saja?"


"Tapi seperti nya setelah ini dia pasti akan memecat wanita mandul itu karena latar belakang nya bisa membuat perusahaan Radit buruk."


Dengan percaya diri dia sangat yakin kalau Elena akan menderita lagi seperti apa yang dia mau.


Malam hari nya Radit sedang menemani Kakek nya menonton televisi di ruang tamu rumah kakek nya.


"Malam ini kamu tidur lah di sini, Kakek tidak memiliki teman."


"Tapi kek, besok aku harus ke kantor pagi-pagi."


"Tidak ada alasan! Salah kamu sendiri kenapa tidak memberikan kakek Cicit!"


Radit menghela nafas panjang. "Baiklah kek kalau begitu," ucap Radit.


Setelah selesai menonton mereka tidur di kamar masing-masing. Radit bersandar di sandaran kasur sambil mengirimkan pesan kepada Elena.


"Apa kamu sudah tidur?" tanya nya.


Elena yang sedang membaca buku dia membuka pesan dari Radit.


"Tumben banget pak Radit chat seperti ini."


"Belum." jawab nya dengan singkat. Radit langsung menelpon nya.


"Halo pak, selamat malam."


"Ini bukan jam kerja berhenti berbicara secara formal."


"Baik lah, kenapa bapak belum tidur? ini sudah sangat malam, apa ada pekerjaan yang harus di bahas?"


"Tidak ada, saya hanya ingin berbicara dengan mu."


"Tumben banget. Apa Bapak merindukan saya?"


"Iyah, saya merindukan kamu," Dimas langsung mengalihkan panggilan suara ke panggilan Vidio.


Elena melihat penampilan nya sangat berantakan namun dia harus segera menjawab nya sebelum singa bos nya keluar.

__ADS_1


__ADS_2