Pembalasan Istri Yang Di Khianati

Pembalasan Istri Yang Di Khianati
Episode 19


__ADS_3

Elena melihat penampilan nya sangat berantakan namun dia harus segera menjawab nya sebelum singa bos nya keluar.


"Ha-halo pak,"


Radit melihat Elena yang mengenakan pakaian tidur yang tidak memiliki lengan melainkan hanya satu tali saja yang menyangkut di pundak nya.


"Kamera mu sedikit di naik kan!"


Elena kaget ternyata dia tidak memerhatikan bagian dada nya hampir saja kelihatan karena sangat gugup.


"Seperti nya kamu sudah ngantuk, sebaik nya pergi lah tidur," telpon langsung mati. Radit menghela nafas meletakkan handphone nya.


"Arrghh!!! Jantung tu berdetak begitu cepat lagi," ucap Radit.


Radit mengambil obat tidur meminum nya dan memaksa kan mata nya untuk tidur.


Keesokan harinya Elena berangkat bekerja seperti biasa nya, namun hari ini dia mengabaikan tugas nya di rumah dan sebagai istri.


Elena masih kesal kepada suami nya.


"Sayang..." panggil Jihan kepada Farel yang sedang bekerja di ruangan nya.


"Iyah, kenapa?"


"Kenapa sih kamu tidak menceraikan Elena? Bukan kah lebih cepat kamu menceraikan dia lebih bagus?" tanya Jihan.


"Kalau aku menceraikan dia, tentu nya dia harus mendapatkan bagian milik nya sesuai dengan warisan yang di tinggal kan oleh ayah."


"Tapi kan dia tidak tau tentang warisan itu," ucap Jihan.


"Tetap saja ada pengacara yang akan mengurus itu," ucap Farel.


"Sayang.. Kenapa sih kamu begitu takut? Kita bisa memberikan uang kepada pengacara itu agar dia diam."


Farel terdiam sejenak. "Kamu benar juga," ucap Farel.


"Tapi seperti nya untuk mengurus surat cerai seperti nya jangan dulu, aku harus memanfaatkan Elena."


"Kamu lihat dia sekarang, tidak mungkin dia mau membantu kamu lagi."


"Kamu benar juga sih,"


"Tapi aku punya satu cara lagi," ucap Jihan sambil berbisik ke telinga suami nya itu.


Di malam hari nya Farel bertemu dengan Elena di luar.


"Kalau kamu tidak mau membantu aku. Sebaiknya kita bercerai saja!" ucap Farel langsung kepada Elena yang hanya diam di depan nya.


Elena menatap Farel. "Apa karena pekerjaan kamu menceraikan aku?" tanya Elena.

__ADS_1


Farel mengangguk. Elena menatap wajah Farel yang sekarang benar-benar sudah sangat ia benci.


Wajah polos yang seperti tidak memiliki kesalahan dan juga selalu benar, bertindak sesuka hati, sombong dan juga berbicara tinggi.


"Oke baiklah, aku akan mengurus surat cerai kita," ucap Elena. Farel sangat terkejut dengan jawaban Elena.


"Apa kamu yakin? Kamu akan menjadi wanita mandul yang tidak memiliki siapapun, wanita miskin yang tidak memiliki tempat tinggal dan juga janda," ucap Farel.


Elena menggebrak meja sambil menatap Farel dengan tatapan tajam.


"Aku memang tidak bisa memberikan kamu keturunan dan juga perempuan yang berasal dari keluarga miskin, tapi asal kamu tau, kamu tidak berhak mengatakan itu kepada ku!"


"Aku rela meninggalkan kedua orang tua ku demi kamu, aku meninggalkan semua kehidupan ku demi kamu dan keluarga kamu, namun sekarang aku sangat menyesali itu semua."


"Mulai dari sekarang kita berpisah, aku tidak akan pernah mengganggu kamu lagi."


"Terimakasih, atas suka duka yang aku lewati sendirian, penderitaan yang kamu berikan kepada ku," ucap Elena dengan suara yang gemetar.


"Aku harap kamu bahagia dengan istri baru kamu." ucap Elena.


Elena hendak pergi namun tiba-tiba di hentikan oleh Farel.


"Kalau kamu keluar dari restoran ini, maka aku akan benar-benar mengurus perceraian kita," ucap Farel.


Elena berhenti sejenak karena tangan nya di genggam oleh Farel.


Elena melihat ada Radit yang menunggu nya di luar restoran menatap ke arah nya.


Farel melihat Elena pergi Tampa ragu sama sekali meninggalkan dia.


Farel menghela nafas panjang, tidak bisa mengatakan apapun.


"Hiks... Hikss... Hikss...." Elena menangis sesenggukan di sebuah taman. Radit memberikan sapu tangan nya kepada Elena.


Elena mengambil dan membuang ingus nya menggunakan itu membuat Radit merasa geli.


"Semua orang kini melihat ke sini, mereka berfikir kalau saya sudah melakukan kekerasan kepada mu, berhenti lah menangis ini sudah malam sebaiknya kita pulang," ucap Radit.


Elena menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau harus pulang kemana, aku tidak memiliki rumah lagi."


Radit terdiam sejenak. Elena menatap Radit.


"Farel memutuskan untuk menceraikan aku," ucap Elena.


"Bagus kalau begitu, sekarang kamu fokus pada diri kamu sendiri dan juga kamu harus membuktikan kepada nya kalau kamu wanita yang kuat."


Elena membuka dompet nya. "Aku bahkan tidak memiliki uang sisa untuk menginap di hotel malam ini," ucap Elena.


"Kalau begitu tidur lah di rumah saya, kamu juga bekerja dengan saya."

__ADS_1


"Apa saya bisa tinggal bersama Bapak?" tanya Elena, Radit mengangguk.


"Terimakasih banyak pak, saya akan membantu membersihkan rumah Bapak sebagai ganti bayaran nya."


Elena kembali senang karena mendapatkan tempat tinggal.


Setelah beberapa hari surat dari pengadilan keluar.


"Elena ada surat untuk mu." ucap Vivian memberikan kepada Elena yang sedang makan siang bersama Radit.


"Ini adalah sidang terakhir, sebaiknya kamu hadir agar surat dari pengadilan segera keluar," ucap Vivian.


Elena menatap ke arah Radit.


"Aku akan menemani kamu," ucap Vivian.


"Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri," tolak Elena.


"Oke, baiklah. Aku yakin kamu pasti kuat."


Vivian pun permisi dan pergi dari sana.


Keesokan harinya Elena sudah sampai di kantor pengadilan. Dia melihat ke arah Radit yang baru saja keluar dari dalam mobil nya.


"Terimakasih banyak pak sudah mengantarkan saya ke sini, bapak tidak perlu menunggu saya, bapak bisa pergi ke kantor terlebih dahulu."


"Pergi lah masuk ke dalam."


"Pak tunggu dulu!"


Elena mendekati Radit.


"Saya tidak ingin merepotkan Bapak lagi, tapi saya takut kalau saya tidak kuat sendirian, apa Bapak bisa menunggu saya di sini sampai sidang selesai?" tanya Elena.


Radit terdiam sejenak. "Aku lupa hari ini bapak harus datang ke rapat penting itu, aku tidak bisa menahan bapak di sini, bapak bisa pergi," ucap Elena langsung berlari ke dalam.


Radit menghela nafas panjang. "Sudah satu minggu aku tidak melihat wajah ceria nya, dia selalu menangis sepanjang malam, aku yakin dia wanita kuat dan aku akan selalu ada untuk nya," ucap Radit.


Tidak beberapa lama Mobil Farel datang, dia melihat Radit di sana.


"Selamat pagi pak Radit, kenapa Bapak bisa di sini?"


"Saya sedang mengantarkan asisten saya mengurus surat perceraian nya."


Jawaban itu membuat Farel terdiam seribu bahasa. Dia segera berpamitan masuk ke dalam di ikuti oleh Jihan dengan wajah yang sangat bahagia sekali.


Di dalam Elena melihat Farel, tatapan kebencian yang ia berikan kepada Farel.


Pengadilan pun mengesahkan perceraian mereka.

__ADS_1


Elena menghela nafas berat menutup mata nya berdoa agar pilihan nya ini adalah yang terbaik.


__ADS_2