
Radit tidak berani mengatakan apapun kepada Elena, bahkan untuk menatap wajah Elena saja dia tidak memiliki keberanian.
"Wanita yang duduk bersama ku di pelaminan ini adalah wanita yang sudah lama aku inginkan, aku akan menjaga dan juga bertanggung jawab atas hidup nya,"
Acara pun telah usai. Kini Elena dan juga Radit sudah resmi menjadi suami istri.
"Kakek ada hadiah untuk kalian berdua," ucap pak Ericsson.
Radit melihat surat yang di sodorkan oleh pak Ericsson.
"Setelah sudah kakek pikir-pikir dan sudah diskusi dengan keluarga yang lain nya, kakek membelikan kamu rumah baru."
Radit dan Elena kaget melihat rumah yang terkenal sangat mahal.
"Kakek tidak pernah memberikan rumah, rumah ku masih ada dan aku juga betah di sana."
Pak Ericsson menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum. Pak Ericsson ingin Radit dan Elena tinggal di rumah baru agar mereka bisa menata rumah tangga mereka dengan baik sampai mempunyai anak dan juga cucu.
Mendengar banyak nasehat dari para keluarga Radit membuat Elena terpaku diam.
Sudah larut malam waktunya untuk istirahat. Untuk malam ini mereka masih tidur di hotel milik keluarga Pak Ericsson.
Radit menarik koper masuk ke kamar pengantin yang sudah di siapkan.
Elena sangat suka melihat dekorasi kamar itu, hanya saja dia tidak nyaman, dia langsung membersihkan semua nya membuat Radit bertanya-tanya.
"Kenapa kamu membersihkan nya? Bukan kah terlihat sangat cantik?"
"Seharusnya ini tidak perlu Pak, kita bukan lah suami istri yang sesungguhnya, malam ini Bapak pilih tidur di sofa atau di kasur."
Radit menunjuk ke arah kasur. "Baiklah kalau begitu aku akan tidur di sofa," namun Radit tiba-tiba menahan tangan Elena.
"Kita sudah suami istri, tidak ada salahnya untuk tidur di kasur yang sama."
Elena menggeleng kan kepala nya, dia tetap ingin tidur di sofa.
Radit menarik tangan Elena memaksa nya untuk tidur di kasur.
"Baiklah-baiklah saya akan tidur di sofa, kamu tidur di kasur kalau kamu tidak ingin tidur di tempat tidur yang sama!"
Elena terdiam, dia heran melihat ekspresi Radit yang terlihat sedikit kesal.
"Kenapa Bapak marah? Bukan kah ini sudah keputusan kita dari awal kalau kita tidak akan saling menyentuh satu sama lain, bahkan tidak ada tugas kewajiban suami atau istri?" tanya Elena.
"Baiklah saya tidak akan menyentuh dan menuntut kamu dengan kewajiban kamu untuk melayani saya, tapi sebagai seorang istri kamu tetap harus melakukan kewajiban kamu."
__ADS_1
Elena mengangguk. "Aku tidak bisa mengatakan tidak karena itu sudah menjadi kewajiban ku, dan aku cukup mahir dengan hal mengurus suami."
Radit tidak mengatakan apapun dia langsung masuk ke dalam mandi membersihkan tubuhnya.
"Dia pikir aku akan menyerah? Cepat atau lambat dia akan tergila-gila kepada ku," ucap Radit.
Tidak beberapa lama dia keluar.
"Kenapa kamu belum mandi?" tanya Radit kepada Elena yang masih sibuk dengan handphone nya dan bahkan belum melepaskan pakaian pengantin nya.
Elena menoleh ke arah Radit dia sangat terkejut melihat Radit tidak memakai baju hanya melilit handuk kecil di pinggang nya.
"Kenapa Bapak keluar seperti itu? Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin bapak telanjang seperti itu!"
Elena berlari ke dalam kamar mandi sambil menutup mata nya.
"Huff pak Radit benar-benar membuat aku tidak nyaman," ucap Elena.
Tiba-tiba Elena mengingat pengakuan Radit kalau Radit menyukai nya.
"Seharusnya aku membuat surat perjanjian agar nanti pak Radit tidak bisa menuntut apapun," ucap Elena.
Keesokan harinya...
Elena dan Radit langsung pindah ke rumah baru mereka.
"Apa yang kakek lakukan?" tanya Radit.
"Lihat lah, Kakek memasang foto pernikahan kalian."
Elena dan Radit sangat kaget karena foto pernikahan mereka sangat besar di pajang di ruang tamu bahkan banyak momen-momen lain nya di pasang di dinding yang kosong.
"Hari ini rumah ini sudah bisa kalian tempati, kakek selalu berharap kalian bahagia dan selalu rukun satu sama lain."
Elena melihat wajah bahagia Kakek Ericsson.
"Siapa sih yang berani mengecewakan pak Ericsson yang asli nya sangat baik, pantesan saja pak Radit mengikuti permintaan pak Ericsson untuk menikah," batin Elena.
"Elena.. Mulai sekarang kamu dan suami kamu tinggal di sini, berhubung ini rumah baru jadi masih belum ada barang-barang. Kamu dan juga pergi lah untuk membeli barang-barang yang di perlukan."
"Apakah Kakek akan pulang?" tanya Elena.
Pak Ericsson mengangguk.
"Tidak baik Kakek mengganggu kalian di sini, urusan kakek di sini juga sudah selesai," ucap Pak Ericsson.
__ADS_1
"Oh iya boleh kah kakek memeluk kamu?" tanya pak Ericsson kepada Elena.
Elena menoleh ke arah Radit karena bingung.
Namun Elena langsung memeluk Pak Ericsson.
"Sekarang kamu sudah resmi menjadi bagian keluarga Kakek dan kamu juga sudah menjadi Cucu Kakek.. Terimakasih sudah mau menikah dengan Radit."
Mendengar itu Radit menghela nafas panjang.
"Huff seperti aku tidak laku saja," batin Radit.
"Kakek percaya kamu bisa menjaga Radit, dia sangat keras kepala tapi aslinya baik dan perhatian."
"Oh iya satu hal yang harus kamu tau, sebenarnya Radit itu sangat penakut, kelihatan nya saja garang tapi dia menakuti banyak hal sepele."
"Sudah kek, sebaik nya kakek kembali dan istirahat," ucap Radit.
"Ya sudah kalau Kakek pergi dulu yah. Kakek akan datang kalau memiliki waktu luang."
Pak Ericsson meninggalkan Rumah mewah yang terlihat sangat sepi namun sangat indah pemandangan di sekitar sana.
Radit masuk membawa koper nya dan juga milik Elena.
Elena sangat kagum dengan rumah yang didesain sangat mewah, keramik nya saja terbuat dari marmer.
"Aku seperti bermimpi akan tinggal di rumah seperti ini, aku rasa aku tidak pantas di sini," ucap Elena.
Radit melihat-lihat ke sekitar, dia sedang memikirkan barang apa yang harus di beli dan di mana letaknya.
Mereka naik ke lantai dua dan melihat dua kamar yang berukuran sama, dekorasi sama semua nya sama, hanya saja satu memiliki balkon dan yang satu nya tidak.
"Boleh kah aku memiliki tidur di kamar yang ada balkon nya?" tanya Elena.
"Baiklah," ucap Radit sambil berjalan menarik koper ke dalam kamar yang ada balkon nya.
"Loh kenapa bapak masuk? Kamar bapak di sana," ucap Elena menahan Radit.
"Kamu ingin kita pisah kamar?" tanya Radit.
Elena mengangguk.
Radit mengingat lagi kalau hanya dia yang mencintai Elena.
"Baiklah saya akan tidur di kamar itu," Radit menarik koper nya ke kamar lain nya.
__ADS_1