
Farel dan Jihan seketika langsung tegang ketika melihat Elena masuk namun melihat Elena tersenyum Farel jadi sedikit tenang karena takut pembicaraan mereka di dengar oleh Elena.
"Aku membawa kan kopi untuk kamu," ucy Elena kepada Farel.
Farel berdiri dan mengambil kopi itu dari tangan Elena.
"Terimakasih, kamu kenapa belum tidur? Ini sudah malam."
"Aku baru saja mau tidur setelah membuat kopi untuk kamu, kalau begitu aku pergi dulu yah," ucap Elena dan langsung pergi.
"Lain kali kamu harus berhati-hati kalau membicarakan hal seperti ini, untung saja Elena tidak mendengar kan percakapan kita."
"Kenapa sih kamu selalu memikirkan dia?" ucap Jihan dengan kesal langsung pergi dari ruangan Farel.
Di kamar Elena duduk termenung sambil memikirkan apa yang baru saja dia dengar oleh nya.
Keesokan paginya Ia terbangun karena suara panggilan handphone nya yang sangat berisik, dia menjawab tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menghubungi nya.
"Halo, kenapa menelpon ku sepagi ini?"
"Kau masih tidur? Apa kau lupa jam sembilan pagi ada acara dengan ketua Pimpinan?" tanya Radit dengan sangat emosi.
Mendengar suara Radit Elena langsung bangun dia melihat jam dan langsung mematikan handphone nya.
Radit yang sudah di dalam ruangan nya menunggu Elena merasa kesal karena telpon nya langsung di matikan.
"Oh tuhan kenapa aku bisa bangun kesiangan seperti ini?"
Tidak sempat untuk merias wajah nya setelah selesai dia langsung turun ke bawah.
Namum saat di bawah dia melihat Farel yang sudah menunggu nya. "Kamu sudah siap? Ayo berangkat," ajak Farel.
"Humm, bagaimana dengan..." Elena menoleh ke arah Jihan.
"Oohh Jihan hari ini masih kurang enak badan, mungkin dia masih akan cuti beberapa hari lagi."
Elena mengingat kejadian tadi malam.
"Sebaik nya aku berangkat sendiri saja karena tempat kerja kita tidak searah."
"Kenapa kamu menolak? bukan kah biasa nya seperti ini, aku akan mengantarkan kamu terlebih dahulu setelah itu aku akan berangkat bekerja."
Elena menggeleng kan kepala nya. "Hanya beberapa kali saja, aku juga tidak meminta kamu melakukan nya, aku bisa berangkat sendiri."
Tiba-tiba ada klakson mobil yang berbunyi di depan.
"Seperti nya jemputan ku sudah tiba. Aku berangkat dulu."
Farel menatap nya dengan keheranan.
__ADS_1
"Ck.. setelah bekerja dengan pak Radit dia begitu sombong, baru beberapa hari saja tapi dia sudah menunjukkan sifat nya yang sangat sombong itu!" ucap Jihan.
"Bagus deh kalau dia berangkat Tampa kamu, aku juga tidak mau menggunakan taksi setiap hari ke kantor," ucap Jihan sambil merangkul tangan suami nya.
Elena melihat mobil Radit yang menunggu nya di depan gerbang.
"Maaf pak, saya minta maaf karena membuat Bapak menunggu cukup lama di sini."
"Saya di sini sudah hampir dua jam lebih, pak Radit sudah sangat marah besar."
"Maaf kan saya pak."
Elena sungguh merasa bersalah. Sesampainya di perusahaan dia berlari ke ruangan bos nya.
Namun saat masuk ke ruangan bos nya dia sangat kaget karena pak Radit sudah tidak ada di sana, dia melihat jam ternyata meeting sudah di mulai.
Dia segera menuju ke tempat rapat yang tidak jauh dari perusahaan. Namun ternyata sesampainya di sana rapat sudah selesai.
Semua orang sudah keluar dia melihat Radit duduk sendiri di dalam menatap nya dengan tatapan tajam.
"Saya benar-benar minta maaf Pak."
Radit berdiri dari duduknya.
"Apa kamu tidak bisa menghargai waktu? Kenapa di hari yang penting seperti ini kamu datang terlambat dan tidak ada satu pun yang di setujui oleh ketua pimpinan karena data-data semua ada di tangan mu!"
Elena tidak bisa mengatakan apapun selain maaf, dia menunduk kan kepala nya.
Radit melihat Elena hanya diam, dia juga tidak bisa mengatakan apapun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu dengan Staf nya.
Elena menghela nafas panjang dia memegang kepala nya dan setelah itu mengikuti Radit kembali ke kantor.
Sesampainya di kantor Vivian melihat Elena yang diam berjalan di belakang Radit.
"Elena apa yang terjadi?" tanya Vivian sekertaris Radit.
"Aku telat, sehingga ketua pimpinan mengubah persetujuan untuk menandatangani saham baru dan pak Radit marah."
Vivian menghela nafas panjang.
"Bagaimana bisa kamu telat Elena? Aku sudah menyerahkan semua data-data nya kepada kamu seharusnya kamu bisa konsisten."
"Aku kesiangan, aku minta maaf."
"Sudah-sudah, semua nya sudah terlanjur, aku akan berbicara dengan pak Radit."
Elena mengangguk dia duduk di kursi nya sambil menghela nafas berat beberapa lama.
"Hei.. ambil lah ini."
__ADS_1
Seorang Pria memberikan secangkir kopi kepada Elena.
Pria yang belakangan ini dekat dengan Elena karena satu group.
"Terimakasih Akbar."
Akbar duduk di depan Elena.
"Wajah kamu terlihat sangat lusuh hari ini, apa terjadi sesuatu?" Elena menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum.
"Permisi pak.." Vivian mengetuk pintu ruangan Radit sebelum masuk.
"Saya tidak ingin di ganggu, lanjut lah bekerja!"
"Saya mau membicarakan tentang beberapa pekerjaan Pak."
Radit menghela nafas panjang. Vivian langsung mengerti dan pergi keluar dari ruangan itu.
Radit memeriksa komputernya dan melihat beberapa data-data persetujuan yang harus di tandatangani untuk kerjasama dengan perusahaan Farel.
"Huff mengurus tentang perusahaan suami nya dia begitu lihai sehingga cepat keluar data-data ini," ucap Radit.
Dia memeriksa semua nya baik-baik saja dan sesuai.
Radit mengingat beberapa hari lalu bagaimana Elena membujuk nya agar menaikkan persenan kerjasama dengan perusahaan Farel.
Radit menolak keras hanya saja Elena tidak berhenti memohon, dia lembur agar bisa di setujui dan melakukan pekerjaan dengan baik.
Radit tidak bisa menolak lagi, dia juga iba melihat Elena yang bekerja terlalu keras. Menaikkan beberapa persen bukan lah masalah akhirnya dia menyetujui nya.
Saat Elena tau di setujui oleh Radit dia sangat bahagia sekali, dia segera mengurus semua nya agar segera berjalan dengan baik.
Beberapa kali Radit melihat Elena yang antar oleh Farel di jemput bahkan di jemput untuk makan siang.
Radit tidak tau harus bagaimana dia merasa tersiksa karena menahan perasaan nya yang begitu besar kepada Elena.
Di malam hari nya Elena pulang malam hari dari perusahaan, dia masih terlihat sangat sedih akhirnya dia memutuskan untuk membeli alkohol dari toko yang baru saja dia lewati.
Namun tidak sengaja Radit lewat dan melihat Elena berjalan dan berhenti di toko minuman.
"Nona yakin mau minum alkohol?" tanya penjual itu.
"Kenapa? Apa saya terlihat sangat lemah? Apa saya terlihat sangat bodoh?"
Penjual kaget karena Elena membentak nya.
"Maaf Bu, adik saya sedang mabuk."
Tiba-tiba Radit datang dan membawa Elena dari sana.
__ADS_1
"Dia mabuk sebelum minum alkohol? Aku rasa dia sangat aneh," ucap pemilik toko.