Pembalasan Istri Yang Di Khianati

Pembalasan Istri Yang Di Khianati
Episode 15


__ADS_3

"Huff seperti nya pak Radit sangat kesal sehingga dia mau mengerjai aku."


"Ya lagian kamu sendiri kenapa harus meminum itu? Minuman itu sangat langka dan juga sangat lah mahal."


"Huff kalau tau aku tidak akan meminum nya," ucap Elena. "Sudah-sudah sekarang semua nya sudah selesai, sebaik nya lanjut bekerja."


Di malam hari nya..


"Elena kamu ikut saya!"


"Kemana pak?" tanya Elena.


"Ke rumah sakit," jawab Radit.


Elena kebingungan.


"Selama kamu belum bisa membayar kompensasi dan juga saya belum sembuh kamu tidak boleh menolak semua ajakan saya."


Elena menghela nafas dia mengangguk. "Baiklah pak."


Sesampainya di rumah sakit Radit di periksa oleh dokter, setelah selesai Elena harus membayar uang berobat nya sendiri.


"Pak Radit seperti nya sengaja membuat aku kesusahan seperti ini, jelas-jelas dia tau aku tidak memiliki uang."


"Apa yang kamu lakukan sehingga lama sekali?" tanya Radit.


Elena memberikan obat dan juga total pembayaran nya.


"Apa bapak tau berapa semua total bayaran nya? Ini sangat mahal sekali!"


"Itu sudah menjadi tanggung jawab kamu!"


Radit meninggalkan Elena. Elena sangat kesal dia mengejar Radit mau memukul nya dari belakang namun tiba-tiba Radit berhenti dan berbalik membuat Elena terkejut.


Elena hilang keseimbangan dan terjatuh ke arah Radit.


"Saya minta maaf pak," ucap Elena. Radit menghela nafas. "Apa kamu mau memukul saya?"


"Bukan seperti itu pak, saya minta maaf. Saya hanya.."


"Ada apa?"


"Huffff..." Elena duduk di kursi sambil memasang wajah sedih dia menunduk kan kepala nya.


"Aku merasa kehidupan ku semakin sulit dan tidak bahagia, aku sangat lelah." ucap Elena bersandar ke dinding rumah sakit.


Radit menarik tangan Elena. "Segera lah pulang kalau kamu lelah."


Elena menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak ingin pulang Pak."


"Malam ini saya tidur di rumah bapak boleh yah?" tanya Elena.


Radit sedikit kaget dengan pertanyaan Elena, namun dia tidak bisa menolak akhirnya dia menginyakan dan membawa Elena pulang ke rumah nya.

__ADS_1


"Bapak pergi lah istirahat, saya akan tidur di sofa," ucap Elena.


Radit mengangguk, tidak beberapa lama dia kembali membawa bantal dan juga selimut. "Ambillah ini dan segera istirahat," ucap Radit.


Elena menerima nya sambil tersenyum dan lanjut tidur.


Keesokan harinya Elena bangun dan melihat Radit yang sudah ada di dapur.


"Kamu sudah bangun?" tanya Radit kepada Elena.


"Bapak masak apa? Emangnya bapak bisa masak?" tanya Elena.


Dia mendekati meja kompor dan ternyata Radit sedang memanggang daging untuk sarapan pagi.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Wahh Wangi sekali, kelihatan nya sangat enak," ucap Elena.


Dia langsung makan bagian nya.


"Kapan kita akan membicarakan tentang kerja sama dengan perusahaan suami mu?" tanya Radit.


Elena yang makan begitu lahap tiba-tiba berhenti.


"Apa yang harus aku katakan? tidak mungkin aku meminta pak Radit menarik kembali, aku sudah tidak ingin melanjutkan kerja sama itu lagi," batin Elena.


"Kalau bisa secepatnya karena jadwal kita sangat padat, dan juga Farel tidak berhenti menghubungi Staf kita," ucap Radit.


"Saya ingin Bapak membatalkan kerja sama dengam perusahaan Farel."


"Kenapa? Bukan kah sebelum nya kamu yang memohon-mohon kepada saya?"


"Tidak perlu menjawab nya, dari awal saya tidak setuju bekerja sama dengan nya, jadi saya akan lebih mudah membatalkan nya."


Elena mengangguk. "Tapi apa kamu tidak akan bermasalah dengan suami mu?"


Elena kaget dengan pertanyaan Radit yang seakan mengerti dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Saya akan mengurus nya sendiri Pak."


Di kantor...


Radit sedang fokus dengan laptop nya bersama Elena yang juga sedang mengerjakan beberapa berkas-berkas, namun tiba-tiba Vivian masuk.


"Ada apa?"


"Pak Ericsson ada di sini," ucap Vivian.


Radit tampak terkejut dia berdiri membuat Elena bingung.


"Radit! Kamu tidak bisa menghindari kakek lagi," ucap Pria tua yang di kawal oleh dua pengawal di belakang nya.


Radit, Elena dan Vivian berbalik menatap pak Ericsson, Vivian langsung membungkuk kan badan nya dan langsung di ikuti oleh Elena.


"Kamu anak yang sangat nakal sekali, bagaimana bisa selama berbulan-bulan kamu mengabaikan telpon dari Kakek."

__ADS_1


"Kakek kenapa bisa di sini? Apa yang membawa Kakek ke sini?" tanya Radit.


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan! Sekarang bawa kakek bertemu dengan kekasih mu," ucap pak Ericsson.


Vivian mendengar itu dia langsung keluar karena takut terlibat, sementara Elena bingung harus ngapain sementara pekerjaan nya belum selesai.


Radit melihat ke arah Elena dia langsung menarik tangan Elena merangkul pinggang nya membuat Elena kaget sekali.


"Ini dia, namanya Elena kakek."


"Aku sudah lama ingin memperkenalkan Elena kepada kakek namun aku sangat sibuk."


"Sungguh kamu memiliki kekasih? Kamu tidak berbohong?" tanya pak Ericsson.


"Tidak mungkin aku berbohong kepada Kakek, aku sudah menjalin hubungan dengan Elena selama enam bulan."


Elena mau berontak namun Radit sama sekali tidak melepaskan nya.


"Apa kamu juga bekerja di sini? Kamu sangat cantik sekali," ucap pak Ericsson kepada Elena.


"Humm Iyah Kakek, perkenalkan nama ku Elena."


"Saya adalah kakek Radit. Kamu sangat cantik seperti ini kenapa Radit menyembunyikan nya dari kakek," ucap pak Ericsson.


Elena sangat bingung harus menjawab apa.


"Humm sebaiknya kakek segera pulang, perjalanan ke sini cukup jauh, kakek akan istirahat di rumah Radit."


"Baik kek, sampai jumpa sore nanti."


"Sebenarnya Kakek masih ingin berbicara cukup banyak dengan kamu Elena, namun seperti nya kamu juga sangat sibuk,"


"Iyah Kakek, kamu sangat sibuk sekali."


Wajah pak Ericsson yang tadi nya sangat marah, mengetahui Elena kekasih Radit membuat wajah nya tersenyum dan membuat Radit dan Elena tidak takut.


"Apa yang bapak lakukan? Kenapa bapak mengatakan hal seperti itu?" tanya Elena.


"Elena saya sangat butuh bantuan kamu, ini sangat mendesak sekali."


Elena menghela nafas panjang.


"Dia adalah kakek saya, namanya nya pak Ericsson. Saya minta maaf sudah melibatkan kamu, karena kalau saya membuat nya marah, tongkat nya itu akan di pukul ke pinggang saya."


"Tapi kenapa Bapak harus mengakui saya sebagai kekasih Bapak? Bagaimana kalau Kakek percaya?" tanya Elena.


"Kamu tidak perlu khawatir, ini hanya sekedar saja, setelah itu semua nya selesai, sebagai bayaran nya kamu sudah mau membantu saya seperempat uang kompensasi lunas."


Elena menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu."


"Saya harus segera pulang, kamu bantu saya mengurus pekerjaan."


Radit langsung meninggalkan Kanta nya. Elena melihat Radit yang terlihat sangat takut sekali kepada kakek nya.

__ADS_1


"Ternyata manusia menyebalkan seperti pak Radit memiliki kelemahan yaitu Kakek nya sendiri," ucap Elena sambil tersenyum.


__ADS_2