Pembalasan Istri Yang Di Khianati

Pembalasan Istri Yang Di Khianati
Episode 8


__ADS_3

Keesokan harinya tepat di hari Senin seperti biasa Elena harus sampai terlebih dahulu ke kantor pagi-pagi namun tiba-tiba Farel menahan Elena yang hendak berangkat bekerja.


"Elena! Aku mau bicara sama kamu."


Elena berhenti dia menoleh ke arah suami nya yang seperti nya baru saja bangun.


"Kenapa?" tanya Elena.


"Akhir-akhir ini setelah kamu bekerja kamu seperti nya cukup bebas sehingga tidak ingat waktu pulang malam setiap hari nya!"


"Aku bekerja sampai malam."


"Bohong! Kamu pasti bekerja yang tidak baik kan di luar sana, lihat saja penampilan mu ini."


"Astaghfirullah Farel, kenapa kamu berfikir aku seperti itu? aku sudah bilang kalau aku bekerja."


"Aku tidak memiliki waktu untuk menanggapi pikiran kamu yang sudah di cuci oleh Jihan, aku pergi dulu."


Elena tau siapa yang mengadukan itu kepada suami nya.


Sampai di kantor dia memeriksa jadwal, dan juga barang-barang Radit sudah lengkap.


"Pak Radit sudah datang," ucap para Staf yang sedang santai.


Mendengar itu Elena menyambut di depan pintu.


"Selamat pagi pak," sapaan setiap hari nya untuk Radit.


"Ikut saya ke ruangan." Elena mengikuti Radit masuk ke ruangan nya.


"Apa malam ini kamu memiliki janji?" tanya Radit.


"Tidak pak."


"Bagus, kalau begitu kamu ikut saya."


"Kemana pak?"


"Mendampingi saya ke acara pernikahan teman saya."


"Tapi Pak."


"Tidak ada alasan, sebagai asisten pribadi kamu harus siap untuk mendampingi saya Kemana pun saya mau."


Elena tidak bisa mengatakan apapun selain menginyakan.


Tiba di malam hari nya Elena heran kenapa tiba-tiba ada mertua dan Ipar nya di rumah, itu membuat nya sulit untuk keluar dari rumah dengan pakaian pesta dan dandan seperti itu.


Akhirnya dia mencari jalan keluar. Dia lewat pintu belakang dan langsung ke depan karena mobil Radit sudah menunggu nya.


"Bapak kenapa harus menjemput saya ke sini? Kenapa Bapak tidak menunggu acara saja?" tanya Elena.


Namun Radit tidak menjawab nya dia malah sangat pangling dengan penampilan Elena.


Tangan Radit tiba-tiba memperbaiki rambut Elena membuat Elena tertegun.

__ADS_1


"Rambut kamu sedikit berantakan."


"Oh iya pak, saya minta maaf."


"Saya juga minta maaf karena tidak bilang kalau saya akan datang menjemput kamu," ucap Radit.


Elena mengangguk mengerti.


mobil Radit segera meninggalkan rumah Farel.


Selama perjalanan tidak ada percakapan apapun, kedua nya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di Hotel yang terlihat sudah ramai.


"Pak, apa Bapak yakin membawa saya ke acara seperti ini?" tanya Elena.


"Apa yang salah?" tanya Radit.


"Sikit banyak nya mereka pasti tau kalau aku adalah istri Farel. Mereka pasti akan membahas pernikahan Farel."


Radit menghela nafas panjang.


"Kenapa kamu dan saya yang harus menanggung nya? Terserah apa yang mereka katakan."


Radit terlihat sangat tegas dan membawa Radit keluar dari dalam mobil.


Kedatangan mereka berhasil mencuri perhatian tamu undangan.


Elena tidak tau apa yang membuat mereka menatap dirinya seperti itu, entah rasa suka atau rasa benci yang jelas sekarang dia benar-benar tidak nyaman sekali.


"Siapa yang ikut dengan mu?" tanya mereka.


Semua pria-pria tampan itu melihat Elena.


"Kenapa wanita itu tidak asing? Kenapa dia terlihat sangat familiar sekali?" ucap teman perempuan nya.


"Dia adalah istri pertama Pak Farel kan?"


Seketika mereka semua tau dan bertanya-tanya kenapa bisa bersama Radit.


Radit menjelaskan kalau dia sekarang menjadi asisten pribadi nya.


"Humm aku yakin dia pasti tidak di pakai oleh suami nya lagi karena sudah memiliki istri baru, yah begitulah kalau wanita mandul, sekarang dia harus bekerja sendiri sementara selama ini dia kuliah di universitas terbaik hanya menggunakan uang suami nya."


Kata-kata seperti itu bukan hal yang aneh bagi Elena, setiap dia keluar pasti orang berfikir kalau dia mau kepada Farel hanya karena uang dan mau di madu hanya karena uang.


Hati terdalam Elena sungguh sakit namun dia hanya bisa diam.


Sepanjang acara Elena sama sekali tidak nyaman karena dia tidak memiliki teman, dia melihat Radit yang sedang bergabung minum bersama teman-teman nya.


"Hai.." sapa pria kepada Elena.


"Mau minum?" tanya pria itu sambil memberikan satu gelas minuman.


Namun tiba-tiba Radit datang dia mengambil gelas itu.

__ADS_1


"Maaf, asisten saya tidak bisa minum alkohol."


Pria itu langsung pergi.


"Apa yang Bapak lakukan? Tidak baik menolak tawaran seperti itu."


"Kalau saya tidak menolak nya, emangnya kamu mau minum ini? Minuman ini dosis tinggi bisa membuat kamu mabuk."


Elena menggeleng kan kepala nya.


"Saya juga tidak bisa minum pak."


Radit menghela nafas panjang. Dia langsung meneguk sambil habis minuman itu.


"Pak.." Elena kaget sekali karena Radit sudah minum banyak.


Hari sudah malam. Elena dari tadi melihat jam.


"Ya ampun Bagaimana ini? Ini sudah hampir jam sepuluh malam, Farel pasti sangat marah kalau tau aku pulang malam lagi."


Elena mau mengajak Radit pulang namun dia tidak enak. Mau pulang duluan namun takut kena marah oleh Elena.


Radit sesekali melihat ke arah Elena yang terlihat sangat panik sekali.


"Maafkan aku Elena, aku sengaja tidak membiarkan kamu pulang agar kamu di marahin," batin Radit.


Radit ingin membuat Elena tidak betah lagi bersama Farel dan meminta cerai karena Farel pemarah dan sudah tidak mencintai Elena.


"Pak, sebaik nya kita pulang, Farel Akan marah kalau dia tau aku pulang malam."


"Kenapa kamu memikirkan suami mu yang sudah tidak memikirkan mu lagi? Dia sudah memiliki istri baru."


"Pak saya masih istri nya, mau bagaimana pun dia adalah suami saya yang harus saya hormati."


Mendengar itu Radit tidak bisa membuat alasan lagi.


Akhirnya mereka pulang. "Apa Bapak tidak mabuk?" tanya Elena.


Radit menggeleng kan kepala nya.


"Bapak sudah sangat banyak minum alkohol, apa Bapak tidak takut kenapa-napa?" tanya Elena.


"Saya sudah terbiasa minum alkohol, kamu bisa melihat setiap hari saya minum alkohol."


Elena mengingat tugas nya harus menyiapkan botol alkohol di meja kerja Radit setiap hari nya, dia berfikir itu untuk klien atau rekan-rekan nya namun ternyata itu untuk Radit.


"Minum alkohol tidak terlalu baik pak, apa Bapak tidak takut? Sebaiknya Bapak berhenti minum."


"Saya tidak akan bisa bekerja dengan baik kalau tidak minum."


Elena terdiam. Tidak beberapa lama akhirnya sampai.


"Berhenti di sini saja pak, saya akan berjalan ke dalam."


Radit berhenti sedikit jauh dari gerbang rumah Farel.

__ADS_1


__ADS_2