Pembalasan Istri Yang Di Khianati

Pembalasan Istri Yang Di Khianati
Episode 22


__ADS_3

Keesokan harinya Elena melihat foto-foto nya bersama Radit.


"Ini adalah pernikahan yang aku mau, tapi kenapa harus dalam keadaan seperti ini? Dan aku juga menikah dengan pria yang tidak aku cinta," ucap Elena.


Foto prewedding yang bagus sekali di tempat yang bagus. Elena duduk sendirian namun dia mengingat di saat pertama kali mengurus pernikahan nya bersama Farel.


"Ternyata Cinta itu membuat ku menderita," ucap Elena.


"Tapi aku bukan lah Elena yang dulu yang hanya bisa menangis dan diam, sekarang aku akan membuktikan kalau aku bisa hidup tanpa Farel," ucap Elena.


"Ya walaupun aku harus menikah dengan pak Radit, kalau tidak seperti ini tidak ada cara untuk membalas semua kejahatan Farel dan juga keluarga."


Satu hari sebelum pernikahan. Elena sedang berjalan-jalan melihat persiapan pernikahan yang sudah hampir 100%.


"Gedung yang bagus, dekor yang mahal, semua nya di atur dengan sangat baik, aku sangat merasa bersalah kepada pak Ericsson," ucap Elena.


Radit menatap Elena.


"Kenapa kamu merasa bersalah?" tanya Radit.


"Pernikahan ini hanya pura-pura," ucap Elena.


Radit menghela nafas panjang.


"Berapa kali saya harus mengatakannya kepada kamu, kalau saya menikahi kamu karena saya mencintai kamu."


Elena menghela nafas panjang. "Aku tidak percaya, sebaiknya kita jangan membahas itu."


Elena lanjut jalan-jalan melihat gedung itu.


Radit melihat Elena berjalan di depan nya, dia tersenyum membayangkan besok dia akan menikah dengan wanita yang sudah sangat lama dia suka.


Di malam hari nya...


"Aku tidak berfikir kalau kau akan mendapatkan nya dengan semudah itu setelah dia bercerai dengan suaminya," ucap Rendi.


Mereka mengadakan acara kecil-kecilan di sebuah club.


Radit tersenyum. "Wajah mu sungguh berubah, kau tidak berhenti tersenyum."


Hari semakin malam Radit melihat handphone nya berdering.


"Apa itu Calon istri mu?" tanya Rendi.


"Kakek ku," jawab Radit.


Setelah selesai berbicara dengan kakek nya, Radit memilih untuk pulang karena harus istirahat dan juga Elena sendirian di rumah.

__ADS_1


Seperti biasa dia kembali ke rumah namun Elena sudah tidur di kamar nya.


"Kami memang satu rumah, hanya saja sangat jarang berinteraksi. Tapi ini hanya untuk malam ini saja, karena besok dia sudah menjadi istri ku."


"Bapak baru pulang?" tanya Elena tiba-tiba keluar dari kamar nya dan melihat Radit.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Radit.


"Saya menunggu Bapak dari tadi," ucap Elena.


Radit menatap Elena.


"Besok saya baru resmi menjadi suami mu, kenapa kamu seperti nya tidak sabar untuk satu kamar dengan saya?"


Elena menghela nafas panjang. "Berhenti berfikir yang aneh-aneh Pak!"


"Saya bercanda."


"Katakan apa yang membuat kamu menunggu saya, kalau tentang pekerjaan ini bukan jam kerja, kalau tentang pernikahan katakan saja karena besok kita sudah menikah."


"Aku takut Besok, keluarga Bapak Akan curiga kepada keluarga bayaran ku."


Radit menghela nafas panjang.


"Sudah berapa kali saya katakan, tentang itu saya sudah mengatur semua nya, mereka hanya berpura-pura menjadi keluarga jauh kamu."


"Kamu masih memiliki kedua orang tua mu, kenapa kamu tidak mengundang mereka untuk datang?" tanya Radit.


"Aku sudah mengirim kan undangan nya, namun sampai sekarang tidak ada balasan dari mereka."


"Kenapa kamu tidak mengatakan nya lebih awal? kalau seperti ini kita tidak memiliki waktu untuk menghampiri kedua orang tua mu."


Elena menggeleng kan kepala nya. "Tidak perlu pak, Lagian pernikahan ini hanya sandiwara. Mereka tidak mungkin mau datang ke sini," ucap Elena.


Radit mendekati Elena, dia meletakkan tangan nya di pundak Elena.


"Ini sudah malam berhenti lah memikirkan hal yang membuat kamu pusing, sudah beberapa Minggu ini kamu kurang istirahat."


Elena mengangguk dia menatap wajah Radit.


"Kenapa pak Radit baik banget sih?" batin Elena.


Setelah beberapa menit dia kembali ke kamar nya.


"Elena, berhenti memikirkan hal-hal seperti itu, sekarang kamu harus tidur karena besok kamu harus menikah dengan pak Radit," ucap Elena kepada diri nya sendiri.


Sementara Radit di dalam kamar nya tidak bisa tenang sama sekali, dia tidak berhenti memikirkan besok bagaimana pernikahan nya.

__ADS_1


Di shubuh hari dia baru saja bisa tidur, namun pagi-pagi sekali dia sudah harus bangun untuk memakai pakaian pengantin nya di bantu oleh orang bayaran nya.


Dari pagi tadi Radit sama sekali tidak melihat Elena, dia tau kalau Elena pasti sudah bersama keluarga bayaran nya dan bertemu di gedung pernikahan itu.


Namun tetap saja Radit tidak bisa tenang, Rendi dan teman-teman nya datang untuk mendampingi dia.


"Bro beberapa jam lagi, kau akan resmi menjadi seorang suami. Kami ikut berbahagia dan semoga acara nya lancar," ucap Teman-teman nya.


"Wahh cucu Kakek sangat tampan sekali," ucap Pak Ericsson baru saja datang.


Radit memeluk kakek nya. "Kakek sangat senang akhirnya kamu mau menikah."


Radit tersenyum. "Kamu terlihat sangat gugup. Dulu waktu Kakek mau menikah seperti ini juga," ucap pak Ericsson.


Sementara Elena melihat pantulan tubuh nya di cermin.


"Untuk kedua kalinya aku memakai baju pengantin seperti ini."


"Sekarang aku benar-benar tidak merasakan apa-apa, semua nya biasa saja. Hanya ada marah dan dendam di hati ku."


Elena sampai di acara yang ternyata sudah banyak tamu yang menunggu mereka.


"Apa ini semua keluarga pak Radit?" batin Elena kaget.


Radit dan keluarga besar nya menunggu di depan penghulu.


Radit melihat Elena datang dengan gaun pengantin yang putih.


"Ya ampun Dit, walaupun dia sudah pernah menikah sebelum nya namun kecantikan nya tidak pernah luntur, kau sungguh beruntung mendapatkan nya," bisik Rendi kepada Radit.


"Dia adalah calon istri ku," ucap Radit.


"Huff aku hanya memuji nya, aku tidak akan merebut nya!" ucap Rendi dengan kesal.


"Ya Allah kenapa pak Radit tampan banget sih? Ternyata pak Radit bisa tersenyum walaupun terlihat tegang dan gugup," batin Elena.


Elena duduk di samping Radit agar ijab Kabul segera di laksanakan.


Ijab Kabul beberapa kali salah karena Radit gugup.


Tidak beberapa lama akhirnya sah, Elena benar-benar sangat tidak menyangka kalau pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya. Dia benar-benar sangat merasa bersalah namun tidak ada yang bisa di lakukan semua nya sudah terlanjur.


Elena mencium punggung tangan suami nya dan juga Radit mencium kening istrinya.


Semua keluarga Radit termasuk Kakek sangat bahagia sekali.


Radit tidak berani mengatakan apapun kepada Elena, bahkan untuk menatap wajah Elena saja dia tidak memiliki keberanian.

__ADS_1


"Wanita yang duduk bersama ku di pelaminan ini adalah wanita yang sudah lama aku inginkan, aku akan menjaga dan juga bertanggung jawab atas hidup nya," batin Radit.


__ADS_2